Sekularisasi dalam Pemikiran Cak Nur

ABSTRAKSI
Sejak abad ke enam belas, agama dan rasio saling mengisi dan menguntungkan. Era ini menunjukkan kedatangan postmodernisme yang memadukan agama dengan akal. Sekularisme modern adalah keterpisahan agama dengan rasio yang akhirnya diartikan dengan pemisahan agama dengan politik. Dampak modernisme bukan hanya dirasakan oleh Barat, Umat Muslim sebagai umat yang memegang perhatian dunia juga ikut merasakan arus modernisme Tak ayal beberapa respon dari kalangan muslimpun berdatangan, setidaknya ada tiga respon yang berbeda untuk hal ini. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa respon dunia modern harus ditangkal dengan cara kembali kepada tatanan Islam yang asli, yaitu al-Qur’an dan hadis. Kedua, kelompok yang berpendapat bahwa Islam harus menerima sedemikian rupa keinginan dan tuntutan dari dunia modern.Ketiga, adalah respon dari kelompok penengah.Kelompok ini menggunakan asas manfaat dari modernitas tanpa mengambil moral buruk modernitas.Kelompok ini juga berusaha untuk tetap menjaga ruh ajaran Islam, sehingga modern memang tak terlelakan dan keimanan harus tetap terlestarikan.Kelompok yang terakhir ini menyakini bahwa sekularisme memang mampu mengurangi aktifitas agama, namun keberadaan agama tidak diyakini menghilang seratus persen.Mereka berdalih bahwa agama muncul dengan dimensi yang baru, baik bersifat individu maupun bersifat kelompok.Cak Nur bisa disebut sebagai salah satu yang mewakili pemikiran sekularisme (sekularisasi) model ketiga ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana konsep sekularisasi dalam pandangan Nurcholis Madjid atau yang akrab dipangggil Cak Nur.
Metode dalam penelitian ini menggunakan studi teks yang bersumber dari sumber primer dengan mengutamakan karya asli dari Nurcholis Majid, dan sumber sekunder yaitu karya lain yang masih berkaitan dengan tema sekularisme. Penulis mencoba mengolahnya lewat metode deskriptif analitik.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep sekularisasi Nurcholis Majid adalah, sifat dari spirit zaman yang berbeda dengan sekularisme.Sekularisasi menurut Nurcholis Madjid adalah mencoba berfikir segala hal yang bersifat duniawi dengan jalan ilmu pengetahuan, dan tidak membawa hal yang duniawi kepada hal yang berifat ukhrawi, seperti kekal atau suci.

I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Islam dianggap oleh penganutnya bukan hanya agama yang menghubungkan diri hanya pada Tuhan saja, tetapi Islam juga merupakan agama yang menyentuh seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali yang bersentuhan dengan masalah politik.Dalam sejarah masa awal agama Islam, salah satu yang menonjol adalah kejayaannya di bidang politik, semenjak Nabi Muhammad sampai jauh sesudahnya.Ini lah yang kemudian menjelaskan bahwa Islam terkait erat dengan urusan politik dan kenegaraan.
Menurut Munawwir Sjadzali upaya untuk menkonsepsikan hubungan Islam dan politik sudah dilakukan sejak masa klasik dan masa pertengahan. Seperti yang dilakukan oleh Ibn Abi Rabi, al-Mawardi, al-Ghazali, Ibn Taymiyah, dan Ibn Khaldun.Dan diteruskan oleh pemikir-pemikir di era kontenporer semisal Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, ‘Ali Abd al-Râziq, Maududi dan Husein Haikal.
Perkembangan pemikiran tentang politik dan agama yang dimulai dari masa klasik sampai kontenporer menyebabkan munculnya tokoh dengan pemikiran yang beragam. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya model dan bentuk kenegaraan dalam masyarakat muslim. Ini tidak lain merupakan respon terhadap masuknya Barat ke dunia Islam. Dominasi Barat di dunia Islam membuat beberapa orang berusaha untuk mencari jawaban atas identitas Islam sebenarnya dan mengintegrasikannya dengan gagasan-gagasan Barat.
Capaian Barat dalam membawa dunia kepada tatanan modern adalah prestasi yang sangat besar dalam sejarah dunia. Lewat pemikiran Descartes, pemikiran filsafat Barat dan ilmu pengetahuan berkembang pesat, sehingga merubah cara pandang dalam seluruh aspek kehidupan. Namun, perlu diingat bahwa sejarah Barat tidak lepas dari hubungan yang tidak harmonis antara ilmuan dan kaum gereja.Resistensi yang dilancarkan oleh ilmuan membuat pola dan pemikiran Barat keluar dari pemahaman tekstual kaum gereja.Demikian halnya, masuknya pemikiran Barat di dunia Islam juga dianggap sebagai hal yang berlawanan.Karena ketika Barat disibukkan dengan rasionalitas ilmiah, Islam justru harus memikirkan kembali keimanan dan segala hal metafisik yang sulit untuk diterima oleh Barat.
Salah satu pemikiran yang menjadi wacana di Barat adalah sekularisme.Sementara wacana ini dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan prinsip keagamaan yang diyakini oleh sebagian pemikiran Islam. Salah satu faktornya dikemukakan oleh Karen Amstrong Dalam The Battle for God: A History of Fundamentalism, fudamentalisme radikal agama hanyalah merupakan sebuah respon irasional terhadap sekularisme dan krisis spiritual dunia modern. Lain halnya dengan pandangan Heriyanto dalam buku Nalar Saintifik Peradaban Islam.Baginya, mereka memilih fundamentalismeagama disebabkan karena keterasingan mereka di tengah hingar bingar dunia modern ditambah oleh himpitan ekonomi, ketidakadilan global, dan marginalisasi, sehingga membuat sebagian dari mereka mencari jalan pintas lewat fundamentalisme agama.
Sebagai salah satu tokoh yang cukup prihatin melihat umat Isxlam di negerinya tidak memiliki taring dan kekuatan, Nurcholis Majid (selanjutnya ditulis Cak Nur) membaca bahwa penyebabnya tidak lain karena banyak dari umat Islam yang masih banyak berfikir bahwa segala hal di duniawi yang tidak mampu dijangkau oleh akal selalu disakralkan, dan sebaliknya melupakan hal yang sebenarnya sacral. Nurcholis merasa penting mengingatkan kembali bahwa hal-hal yang duniawi berfikirlah dengan cara duniawi, jangan membawanya kepada hal yang ukrawi. Ide itu kemudia muncul istilah sekularisasi yang dikumadangkanya di depan para aktivis HMI di era 70an.

B. Rumusan Masalah
Apa makna sekularisme secara umum?
Bagaimana konsep sekularisasi Nurcholis Madjid?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai sekularisasi Nurcholis madjid
2. Untuk mengetahui kebesaran khazanah pemikiran Islam Indonesia

II
PEMBAHASAN
A. Definisi dan Konsep Umum Sekularisme
Sebelum kita jauh mengenal sekularisme, terlebih dahulu kita harus mengetahui istilah sekular dan sekularisasi. Secara bahasa, secular dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa latin “seaculum” yang bermakna this time atau this age, secara arti ini menunjukan spirit zaman. Kemudian kata ini belakangan ditafsirkan sebagai This world, not beyond the world (Dunia ini, bukan di luar manusia). Secara istilah sekular adalah Not concerned with spiritual or religious affair of this world, dengan kesimpulan bahwa sekular adalah hal yang bersifat duniawi dan tidak mempunyai kaitan dengan urusan spiritual dan religius.
Pendapat lain mengatakan bahwa sekular dari segi etimologi berasal dari berasal dari bahasa Prancis Kuno “seculer” yang juga diturunkan kepada bahasa latin “seacularis,” ini menurut Nikki Keddie. Dia yang mengungkapkan bahwa sekular merujuk pada para pendeta yang terikat aturan keagamaan dari kelompok kebiaraan.
Kata berikutnya adalah sekularisasi, kata ini masyhur di Indonesia setelah Nurcholis Madjid berbicara dalam suatu diskusi dan tulisannya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional. Menurutnya, sekularisasi berbeda dengan sekularisme, sekularisasi diartikan sebagai proses sosial politik menuju sekularisme, dengan implikasi kuat ide pemisahan negara dan agama. Sedangkan sekularisme adalah suatu paham yang tertutup, suatu ideologi tersendiri dan lepas dari agama. Inti sekularisme ialah penolakan adanya kehidupan lain di luar kehidupan duniawi ini. Sekularisasi diartikan oleh beberapa sosiolog agama seperti Bryan Wilson. Menurutnya, sekularisasi adalah proses kesadaran, aktifitas, dan institusi agama yang hilang dari signifikansi sosial. Sementara menurut Harvey, dia mendefenisikan sekularisasi itu adalah mendeskripsikan suatu prosesdalamlevelbudayayangsejajarpadasatupolitik,inimenunjukkanketentuanagamatidak tampak dalam simbol-simbol integrasi budaya. Sebagai implikasinya sekularisasi ditujukan sebagai “closed of metaphysical world view.” Bryan menambahkan bahwa sekularisasi itu bergantung secara esensi pada proses gradual aktifitas agama, seperti jalan berfikir dan kepercayaan, juga ketidaksadaran dari proses lain dari sebuah perubahan sosial.
Talcott Person juga mendefinisikan sekularisasi sebagai sebuah proses sosiologis yang menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk membebaskan diri dari takhayul dalam kehidupan. Sementara itu Robert N Bellah menambahkan bahwa sekularisasi adalah dorongan dan proses logis dari bentuk orientasi agama.
Adapun sekularisme dalam Oxford Dictionary didefinisikan dengan “The belief that laws, education, etc sould be base on facts, science, etc rather than religion.” Dan dalam beberapa literatur, sekularisme disejajarkan dengan ideologi atau semacam kepercayaan baru, sebagaimana Harvey Cox membedakannya dengan sekularisasi. Menurutnya, “Secularism on the other hand , is the name for an ideology, a new closed world view which functions very much like a new religion” Bryan Wilson menjelasakan “sekularisme sebagai sebuah ideologi, melainkan pendukungsadarmengecamsegala bentuksupernaturalismedaninstansi yangdikhususkan untuk itu, dengan mengadvokasikanprinsip-prinsipreligiusataunonreligiussebagaidasarbagimoralitaspribadidanorganisasisosial.” Namun begitu, sekularisme juga tidak dapat dilepaskan dari sekularisasi seperti apa yang dikemukakan oleh Bryan Wilson, “Secularism may contribute in some degree to process of secularization.”
Dalam bahasa Arab, Sekularisme diterjemahkan dengan kata al-‘ilmâniyah yang berakar dari kata al-‘ilmy atau ‘alima. Ia mempunyai makna sama dengan science atau scientific. Dalam buku Waraqah tsaqâfiyyah fí radd al-‘Ilmâniyyah, Syaikh Śafr al-Ḥaulanî mengatakan bahwa sekularisme menunjukkan kehidupan tanpa agama.
Jika melihat definisi tersebut menurut Syaikh Śafr al-Ḥaulanî tersirat makna negatif sekularisme yang digambarkan sebagai perlawanan terhadap agama, atau keterpisahan antara agama dan negara. Ini berbading terbalik dengan pandangan ‘Abdullâhi Aḥmed al-Na’ím yang mengartikan sekularisme dengan prularisme, dia dengan tegas mengatakan;
Pemakaian kata pluralisme cocok dengan sekularisme, karena pada dasarnya sekularisme diperlukan bagi terwujudnya pluralisme secara praktis dan berkesinambungan.Yaitu diterimanya berbagai bentuk keragaman agama, budaya, dan yang lainya sebagai nilai-nilai sosial dan politik secara penuh dan terlembagakan.Sesungguhnya baik sekular maupun pluralisme, keduanya menghendaki netralitas agama.

Menurut al-Naim, sekularisme adalah sebuah konsep multidimensional yang menggambarkan elemen-elemen lanskap sejarah, sosial, dan ekonomi suatu negara.
Lain lagi dengan Turki, negara ini telah resmi menghapus kekhalifahan dengan mengganti sistem pemerintahannya menjadi ideologi sekularime.Menurut Dr. Nur Rafiah dalam bahasa Turki sendiri sekularisme disejajarkan dengan kata laiklik yang berasal dari bahasa Yunani Laos, yang bermakna awam.Secara istilah, kata ini mengacu pada hal-hal yang tidak terkait dengan agama, atau segala hal di luar agama.Dr. Nur Rafiah menegaskan bahwa sekularisme Turki lebih pada muatan dan kecenderuangan anti Islam.
Di dunia Islam nama Yúsufal-Qaradlawi tidak asing lagi di telinga. Salahsatu karyanya adalah al-Islâm wa al-‘Ilmâniyah banyak berkomentar seputar definisi sekularisme. Menurutnya, dalam litelatur Arab sekularisme diterjemahkan dengan al-‘Ilmâniyah, bagi al-Qaradlawi penerjemahan istilah tersebut bermasalah. Hematnya, penggunaan terjemahan demikian disebabkan oleh pemakai istilah yang hanya memahami sekularisme sebagai produk Barat saja, lantaran di Barat saat itu agama dianggap tidak ilmiah, dan ilmiah itu bukan bagian dari agama, sehingga posisi agama dan ilmu itu saling berlawanan. Maka yang sebenarnya tepat untuk menterjemahkan istilah sekularisme bukanlah al-‘Ilmâniyyah, akan tetapi al-Lâdíniyyah atau al-Dunyâwiyyah. Al-Qaradlawi mengaku kesimpulanya ini berdasarkan atas tesis mahasiswa Umm al-Qurâ, Śafar bin ‘Abd al-Rahmân al-Hawânî.
Paling tidak, terjemah orang asing dengan lafas al-‘Ilmâniyah, disebabkan si penerjemah itu tidak memahami dua kata “Agama” dan “Sains,” kecuali yang dipahami oleh Barat Kristen.Karena dalam pandangan mereka agama dan sains saling bertetangan dan berlawanan.Sesuatu yang bersifat agamis tidak bersifat Sainstis dan sesuatu yang bersifat saintis tidak bersifat agamis. Sanins dan rasio ditempatkan berhadapan dengan agama. Rasionalitas dan sanstifikasi berada pada jarah yang jauh dengan agama.Semestinya, terjemahan yang benar untuk sekularisme adalah al-lâdîniyyah atau al-dunyâwiyyah. .

Sementara itu definisi lain datang dari Abdelwahab el-Messeri dalam buku Islam and Secularism in The Middle East,ia membedakan sekularisme parsial dan sekularisme komprehensip. Sekularisme parsial menurutnya, yaitu adalah “Pandangandunia yangtidakmengakuitambahanapapun, membatasidiripadabidangpolitikdanekonomi.Pandangansekularismeini adalahdefinisiimplisitsekularisme yang akrabdenganpemisahangereja dannegara.” Sedangkan sekularisme komprehensip adalah sekularisme yangbertujuantidakhanyasebagaipemisahangereja dannegaradanbeberapaaspekkehidupan publik, tetapipadapemisahansemuanilaibahkanjugadalam kehidupanpublik danpribadi.Dengankatalain, usahadaripenciptaandunia yangbebas nilai.” Definisi pertama hanya sebatas aspek publik yang membatasi agama dan negara, sedangkan kedua menandai adanya pemisah antara agama dengan aspek pribadi, atau sekularisme ini ada yang meneyebutnya dengan atheisme.
Bhargava menjelaskan sekularisme dalam bukunya, Political Theory, bahwa ada dua aspek yang meliputi sekularisme.Pertama, sekularisme sebagai pengakuan terhadap keberadaan manusia akan sekular. Maksudnya adalah bahwa manusia siapapun dia harus mengakui dan melibatkan dirinya dalam alam ini dan waktu sekarang, sekalipun itu berhubungan dengan agama dan Tuhan.Kedua, sekularisme adalah mensyaratkan akan membaurnya semua komunitas manusia. Bhargava menuturkan alam ini dan waktu sekarang bukan hanya dimiliki oleh orang-orang sekular, tapi banyak juga di antara mereka beragama dan berprinsip sekular. Ini disebabkan karena kesamaan akan komunitas manusia maka orang beragama mampu menempatkan dirinya sebagai pahlawan anti penindasan, sebagai mana yang dilakukan Budha, Ghandi dan Luther. Sekularisme inilah yang kemudian disebut oleh Bhargava sebagai doktrin normatif.Bhargava juga menambahkan bahwa politik sekularisme dan doktrin sekularisme itu berbeda, bila politik sekularisme adalah pemisahan negara dengan agama, sementara doktrin sekularisme adalah negara bisa bersama dan berpadu dengan agama.Walau begitu Bhargava mengakui bahwa definisi politik sekularisme itu membuka banyak penafsiran mengenai konsep sekularisme. Karena sekularisme itu bergantung bagaimana kiasan pemisahan itu dituturkan.
Perkembangan lain dari sekularisasi dan sekularisme banyak ditanggapi oleh Ihsan Ali Fauzi. Menurutnya, sekarang ini sekularisme harus didefinisikan dengan jelas karena beberapa alasan.Pertama, sekularisme yang dipahami secara sempit sebagai pemisahan agama dan negara sudah ketinggalan zaman, karena perkembangan agama lebih kepada de-privatisasi bahwa agama dan negara mampu berjalan setara dan tanpa saling mengekang dalam satu negara yang demokratis.Kedua, sulitnya mencari klasifikasi umum rezim negara dan agama, karena berbeda pola negara sekular satu dengan negara sekular lainnya. Ketiga, sekularisme sekarang mengarah pada orientasi moral dunia dan kadang dituntut oleh sebuah visi masyarakat politik yang adil bagi seluruh pemeluk agama.Terakhir sekularisme berjalan sangat unik dan hanya bisa dilihat secara kasus perkasus, keberagaman pandangan mengenai sekularisme mendorong terbentuknya evaluasi makna dan kandungan demokratisnya.
Pemikir lain yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu Mohammed Arkoun. Dalam bukunya, dia berbicara tentang masalah sekularisme.Menurutnya, sekularisme adalah pencapaian dan kemenangan spirit manusia. Yang dimaksud dengan kemenangan dan pencapaian spirit adalah bahwa sekularisme merupakan bentukan sebuah pengetahuan mencari kebenaran, dimana tidak lagi dibatasi oleh kultur, historis, bahkan agama. Dengan mengetahui sebuah realitas, Arkoun menambahkan bahwa penting bagi kita untuk membuktikanya dalam sebuah ranah sosial, tanggung jawab yang disebut Arkoun ini adalah bagian dari sekularisasi.Tanggung jawab atas realitas pengetahuan diaplikasikan dalam wahana, tanpa pemaksaan, dan tanpa mengekang kebebasannya.
Nader Hashemi memberikan solusi untuk mempermudah mengenal sekularisme.Dia mengaitkannya dengan tiga disiplin dalam ilmu sosial, yaitu; filsafat, sosiologi, dan ilmu politik. Secara filosofis, sekularisme merujuk pada penolakan terhadap yang transenden dan yang metafisik dengan memusatkan pada yang eksisensial dan yang empiris, atau yang disebut dengan Harvey Cox “pembebasan manusia dari panduan agama dan metafisika, pengalihannya dari dunia lain menuju dunia ini.” Secara sosiologis, sekularisme berkaitan dengan modernisasi: sebuah proses bertahap yang menuju kepada penurunan pengaruh agama dalam institusi-institusi sosial, kehidupan masyarakat, dan hubungan antar manusia. Ini yang biasa digunakan oleh kalangan luas dan disebut juga oleh Pitter Berger dengan “sebuah proses di mana bagian-bagian dari masyarakat dan kebudayaan dipindahkan dari dominasi institusi-institusi dan simbol-simbol agama.” Secara politik, sekularisme adalah mengenai pemisahan ruang publik dan privat, khususnya pemisahan antara agama dan negara.
Menurut Nader Hashemi, keberagaman pandangan sekularisme bisa dikatakan bahwa sekularisme adalah sesuatu yang bersifat jamak (secularisms) ketimbang kata tunggal yang monokromatik. Lantaran sifatnya yang jamak menandakan perlunya melihat sekularisme dari masayrakat non-Barat, karena masyarakat ini mampu membangun sekularisme versinya sendiri. Boleh dikatakan bahwa apa yang telah penulis paparkan mengenai definisi sekularisme, menunjukkan bahwa perbedaan itu sah-sah saja terjadi, karena masing-masing tokoh mampu membangun sekularisme dengan kecondongan mereka masing-masing. Hashemi juga mengatakan dalam desertasinya, ada definisi sekularisme yang lengkap yang ditulis oleh John Ruedly dalam bukunya Islamism and Secularism in North Afrika, sebagai berikut;
Sekular adalah istilah yang digunakan untuk membedakan dunia dan kefanaan dengan hal spiritual.Cakupan ini meliputi urusan-urusan kemasyarakatan dan pendidikan.Sedangkan sekularisme adalah sebuah filsafat yang mengutamakan domain yang fana dan mengurangi domain yang spiritual.Berbeda dengan sebelumnya yang hanya bersifat umum.Kali ini, sekularisme dibatasi pada wilayah kepercayaan, ibadah, dan prilaku yang personal. Walaupun sekularisme merupakan bagian dari pengalaman filsafat di Barat, namun harus diingat bawa konsep tersebut telah mengalami perkembangan sepanjang sejarahnya dan bahwa ia masih terus berkembang. Sehingga apa yng dipikirkan manusia abad kelima belas, akan berbeda dengan abad sembilan belas, dan bahkan akhir abad kedua puluhan. Dan kemudian harus diingat bahwa ketegangan untuk menentukan batas sekular dan religius akan berlaku sampai sekarang, yang garis batasnya belum disepakati. Kita juga harus mengakui bahwa di Barat kaum sekularis tidak pernah bersepakat sebagai sebuah kelompok dan antara kaum agamis sebagai sebuah kelompok, dan di mana seharusnya ada batas-batas itu.
Bila kita perhatikan bersama dari awal sampai berakhirnya bab ini, penyebab nyata dari sekularisasi adalah proses dan implikasi yang tidak langsung dari sejarah manusia dan agama. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bryn Wilson bahwa keduanya membutuhkan eksistensi, dimana tren sejarah mengharuskan perubahan sistem kepercayaan.Hal ini karena keberadaan agama harus tetap ada dan berkesesuaian dengan kehidupan sehari-hari, seperti kolaborasi institusi agama dengan otoritas sekular.Sehingga pemicu langsungnya bisa saja muncul di Barat lewat kekristenan dan gereja, sebagaimana yang diulas panjang oleh Nuquib al-Attas dan Harvey Cox.
Meskipun banyak yang mengatakan sekularisme berasal dari tradisi Eropa, hal itu tidak berarti sesuatu yang tunggal.Ada lebih dari satu sejarah sekularisme politik, dan beragam modelnya telah muncul dari masa ke masa.
Dari beberapa definisi sekularisme, mayoritas yang penulis dapatkan adalah sekularisme yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dalam segala bentuknya.Artinya bahwa agama tidak lagi dijadikan sandaran atas segala rumusan publik dan privasi. Walaupun demikian sekularisme juga tidak serta-merta ditandai dengan permusuhan terhadap agama dan spitualitasnya, karena semakin kedepan, pola ini berbeda satu sama lain.
B. Nurcholis Majid Mengartikan Sekularisme dan Sekularisasi
Bila kita pernah hidup di tahun 70an mungkin kita pada saat itu akan membaca tulisan dan komentar beberapa tokoh mengenai ceramah Nurcholis Majid dalam sebuah forum silaturrahmi di Jakarta bersama Persami, HMI, GPI, dan PII di Jakarta 3 Januari 1970. Dalam ceramahnya tersebut Cak Nur mengeluarkan tulisan yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Islam dan Masalah Intergrasi Umat”, tulisan itu memuat salah satu tema yang ditulisnya dengan sebuah proses liberalisasi y bagi ajaran-ajaran dan pandangan Islam. Proses itu memuat ide sekularsasi, kebebasan berfikir, sikap liberal, dan perlunya kelompok pembaruan yang liberal.
Makalah itu kemudian menjadi kontoversi yang luas di kalangan umat muslim saat itu bahkan sampai sekarang, bahkan ada catatan bahwa lebih dari 100 artikel muncul selama satu dekade hanya untuk membahas ide sekularisasi gagasan Cak Nur. Di bawah ini penulisan akan memberikan beberapa kutipan langsung dari tulisan Cak Nur mengenai sekularisasi yang keseluruhanya bersumber dari bukunya yang berjudul Islam Kemodernan dan Keindonesiaan.
1. Sekularisasi bukan Sekularisme
Nurcholis Majid menegaskan bahwa ada perbedaan prinsipal antara sekularisme dan sekularisasi. Sekularisme adalah suatu paham yang tertutup, suatu sistem ideologi tersendiri dan lepas dari agama. Inti sekularisme ialah penolakan adanya kehidupan lain di luar kehidupan duniawi ini. Dari perspektif Islam, sekularisme adalah perwujudan modern dari paham dahriyyah, seperti diisyaratkan dalam Al-Quran, surat Al-Jâtsiyah/45: 24: Mereka berkata, “Tiada sesuatu kecuali hidup duniawi kita saja—kita mati dan kita hidup—dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa”. Tapi mereka sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Mereka hanyalah menduga-duga saja. Jadi jelas, sekularisme tidak sejalan dengan agama, khusunya agama Islam.
Kemudian menurutnya lagi bahwa sekularisasi memang dapat diartikan sebagai proses sosial politik menuju sekularisme, dengan implikasi paling kuat ide pemisahan (total) agama dari negara. Tapi, ini bukanlah satu-satunya arti istilah sekularisasi. Arti lainnya ialah yang bersifat sosiologis, bukan filosofis, seperti yang digunakan oleh Talcott Parsons dan Robert N. Bellah. Parsons menunjukan bahwa sekularisasi, sebagai suatu bentuk proses sosiologis, lebih banyak mengisyaratkan kepada pengertian pembebasan masyarakat dari belenggu takhyul dalam beberapa aspek kehidupannya. Hal ini tidak berarti penghapusan orientasi keagamaan dalam norma-norma dari nilai kemasyarakatan itu. Bahkan, proses pembebasan dari takhyul itu bisa semata-mata terjadi karena dorongan, atau merupakan kelanjutan logis dari suatu bentuk orientasi keagamaan, khususnya monoteisme. Ini menjadi panda¬ngan Robert N. Bellah, misalnya ketika ia mengemukakan ciri-ciri masyarakat Islam Klasik (zaman Nabi dan al-Khulafâ al-Rasyidûn) yang ia nilai sebagai sebuah masyarakat modern. Bellah menye¬butkan beberapa unsur struktural Islam Klasik yang relevan dengan argumennya (bahwa Islam Klasik itu modern), yaitu monoteisme yang kuat, tanggung jawab pribadi dihadapan Allah, devaluasi radikal, atau sekularisasi pranata kesukuan Arab Jahiliyah, dan, akhirnya, sistem politik demokratis. Untuk jelasnya, mengenai sekularisasi itu ia mengatakan bahwa Islam Klasik telah melakukan “devaluasi radikal, dan orang dibenarkan menyebut¬nya sekularisasi atas semua struktur sosial yang ada berhadapan dengan hubungan antara Allah dan manusia yang sentral itu. Di atas segalanya, hal ini berarti pencopotan pranata kesukuan atau perkeluargaan (kinship), yang telah menjadi pusat kesucian Arabia sebelum Islam, dari makna sentralnya”. Dengan kata lain, proses “devaluasi radiakal” atau “sekularisasi”, dalam pandangan sosiologis Bellah, berpangkal dari monoteisme yang antara lain berakibat penurunan nilai pranata kesukuan dan perkeluargaan yang di zaman Jahiliyah pusat rasa kesucian hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa belaka.
Jadi, penggunaan kata “sekularisasi” dalam sosiologi mengandung arti pembebasan, yaitu pembebasan dari sikap pensucian yang tidak pada tempatnya. Karena itu, ia mengandung makna desakralisasi, yaitu pencopotan ketabuan dan kesakralan dari obyek-obyek yang semestinya tidak tabu dan tidak sakral. Jika diproyeksikan kepada situasi modern Islam sekarang, maka “sekularisasi”-nya Robert N. Bellah itu akan mengambil bentuk pemberantasan bid`ah, khurafat dan praktek syirik lainnya, yang kesemuannya itu berlangsung di bawah semboyan kembali kepada Kitab dan Sunnah dalam usaha memurnikan agama. Maka saya pernah mengajukan argumen bahwa sekularisasi serupa itu, seperti telah dikemukakan, berkenaan dengan pandangan sosiologis Bellah, adalah konsekuensi dari tawhîd. Tawhîd sendiri menghendaki pengarahan setiap kegiatan hidup untuk Tuhan, demi ridlâ-Nya, dan hal ini, bagi sementara orang, justru merupakan bentuk sakralisasi kehidupan manusia. Hal ini tidak salah, bahkan sesuai dengan pengertian sosiologis Bellah tersebut—yang juga saya anut—sebab, pengertian itu mengandung makna pengalihan sakralisasi dari suatu obyek alam ciptaan (makhluq) ke Tuhan Yang Maha Esa. Pranata kesukuan, seperti disebut Bellah, hanyalah salah satu dan merupakan yang terpenting dari rasa kesucian Jahiliyah. Tetapi sesungguhnya, orang-orang Arab Jahiliyah yang mensucikan atau menyembah obyek lain, kesemuanya itu, dalam pandangan Islam, termasuk manifestasi politeisme (syirik). Sedangkan yang Maha Suci hanyalah Tuhan (subhân-a ‘l-Lâh). Karena hanya Tuhan yang sakral, maka seluruh kegiatan, untuk bisa mendapatkan maknanya yang hakiki, harus hanya ditunjukan kepada-Nya semata, dengan implikasi orientasi kegiatan demi kebenaran (al-Haqq), secara tulus dan ikhlas.
Kesimpulannya, terdapat perbedaan cukup prinsipal antara pengertian “sekularisasi” secara sosiologis dan secara filosofis. Dan karena sedemikian kontroversialnya istilah “sekular”, “sekularisasi” dan “sekularisme” itu, maka adalah bijaksana untuk tidak menggunakan istilah-istilah tersebut, dan lebih baik menggantikannya dengan istilah-istilah teknis lain yang lebih tepat dan netral.
2. Sekularisasi
Sekularisasi tidaklah dimaksud¬kan sebagai penerapan sekularisme, sebab secularism is the name for an ideology, a new closed world view which function very much like a new religion. Dalam hal ini, yang dimaksudkan ialah setiap bentuk liberating development. Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islami itu, mana yang transendental dan mana yang temporal. Malahan, hirarki nilai itu sendiri sering terbalik, transen¬dental semuanya, bernilai ukhrawi, tanpa kecuali. Sekalipun mungkin mereka tidak mengucapkannya secara lisan, malahan memungkirinya, namun sikap itu tercermin dalam tindakan-tindakan mereka sehari-hari. Akibat hal itu, sudah maklum cukup parah: Islam menjadi senilai dengan tradisi, dan menjadi Islamis sederajat dengan menjadi tradisionalis.
Karena membela Islam menjadi sama dengan membela tradisi inilah, maka timbul kesan bahwa kekuatan Islam adalah kekuatan tradisi yang bersifat reaksioner. Kacamata hirarki inilah, di kalangan kaum Muslimin, telah membuatnya tidak sanggup mengadakan respon yang wajar terhadap perkembangan pemikiran yang ada di dunia dewasa ini.
Jadi, sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum Muslimin menjadi sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya. Dengan demikian, kesediaan mental untuk selalu menguji dan menguji kembali kebenaran suatu nilai di hadapan kenyataan-kenyataan material, moral ataupun historis, menjadi sifat kaum Muslimin. Lebih lanjut, sekularisasi dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai “khalifah Allah di bumi”. Fungsi sebagai khalifah Allah itu memberikan ruang bagi adanya kebebasan manusia untuk menetapkan dan memilih sendiri cara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan-perbaikan hidupnya di atas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanya tanggung jawab manusia atas perbuatan-perbuatan itu di hadapan Tuhan.
Tetapi, apa yang terjadi sekarang ialah bahwa umat Islam kehilangan kreativitas dalam hidup duniawi ini, sehingga mengesankan seolah-olah mereka telah memilih untuk tidak berbuat dan diam. Dengan kata lain, mereka telah kehilangan semangat ijtihad. Sebenarnya, pandangan yang wajar dan menurut apa adanya kepada dunia dan masalahnya, secara otomatis harus dipunyai oleh seorang Muslim, sebagai konsekuensi logis dari tauhid. Pemutlakan transen¬den¬si semata-mata kepada Tuhan, sebenarnya, harus melahirkan desaklarisasi pandangan terhadap selain Tuhan, yaitu dunia dan masalah-masalah serta nilai-nilai yang bersangkutan dengannya. Sebab, sakralisasi kepada sesuatu selain Tuhan itulah, pada hakikat¬nya, yang dinamakan syirik, lawan tauhid. Maka, sekularisasi itu sekarang memperoleh maknanya yang konkret, yaitu desakralisasi terhadap segala sesuatu selain hal-hal yang benar-benar bersifat Ilahiah (transendental), yaitu dunia ini.
Yang dikenai proses desakralisasi itu ialah segala obyek duniawi, moral maupun material. Termasuk obyek duniawi yang bersifat moral ialah nilai-nilai, sedangkan yang bersifat material ialah benda-benda. Maka, jika terdapat ungkapan Islam is Bolshevism plus God (Iqbal), salah satu pengertiannya ialah bahwa pandangan Islam terhadap dunia ini dan masalah-masalahnya adalah sama dengan kaum komunis (realistis, dilihat menurut apa adanya, tidak mengadakan penilaian lebih dari apa yang sewajarnya dipunyai oleh obyek itu), hanya saja Islam mengatakan adanya sesuatu yang transendental, yaitu Allah. Justru Islam meletakkan pandangan dunia (weltanschauung) dalam hubungannya antara alam dan Tuhan itu sedemikian rupa, sehingga wajar bagaikan badan dengan kepala di atas dan kaki di bawah (istilah Marx), artinya kepercayaan kepada Tuhan mendasari pandangan pada alam, dan tidak sebaliknya, seperti pada ajaran materialisme dialektika.
BAB III
KESIMPULAN
Makna sekularisme secara umum sebagai berikut;
a. Sekular adalah istilah yang digunakan untuk membedakan dunia dan kefanaan dengan hal spiritual. Cakupan ini meliputi urusan-urusan kemasyarakatan dan pendidikan.
b. Sedangkan sekularisme adalah sebuah filsafat yang mengutamakan domain yang fana dan mengurangi domain yang spiritual. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya bersifat umum. Kali ini, sekularisme dibatasi pada wilayah kepercayaan, ibadah, dan prilaku yang personal.
Sekularisasi dalam pandangan Nurcholis Madjid meliputi;
a. Sekularisasi mengandung makna desakralisasi, yaitu pencopotan ketabuan dan kesakralan dari obyek-obyek yang semestinya tidak tabu dan tidak sakral.
b. Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum Muslimin menjadi sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk meng-ukhrawi-kannya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Na’im. Abdullâhi Aḥmed, Islam dan Negara Sekuler, Terjemah ole Sri Murniati ,Bandung : Penerbit Mizan, 2007.
al-Qarad̦awi. Yúsuf, al-Islàm wa al-‘Ilmàniyyah Wajhan li Wajh, al-Qàhirah: Maktabah Wahbah, 1998.
Arkoun. Mohammed, Islam Agama Sekuler, Yogyakarta:Belukar Budaya, 2003.
Bhargava. Rajeev dan Ashok Acharya (ed), Political Theory: an Introduction, New Delhi: Dorling Kindersly, 2008.
Fauzi. Ihsan Ali, Sekularisme, Demokrasi, Islam, Jakarta: Diskusi Salihara, 2010.
Harvey Cox, The Secular City (New York: The Macmillan Company, 1966.
Hashemi. Nader, Islam, Sekularisme, dan Demokrasi Liberal, Jakarta: Penerbit Gramedia.
Heriyanto. Husain, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, Jakarta: Penerbit Mizan Publika, 2011.
Horby. AS, Oxford Advanced Learners Dictionary, New York: Oxford University Press, 1995.
L. Esposito. John, et al., Islam and Secularism in Middle East, United Kingdom: C. Hurst and Co Publishers, 2002.
Madjid. Nurcholis, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, Bandung: Penerbit Mizan, 1987.
Nur. Rofiah, Islam dan perempuan dalam perspektif Said Nursi, Jakarta: International Seminar of Said Nursi Thought, 2007.
Rachman. Budhy Munawar, ed., Ensiklopedi Nurcholis Madjid, Bandung: Penerbit Mizan, 2006.
Urbaningrum. Anas, Islamo-Demokrasi Pemikiran Nurcholis Madjid, Jakarta: Penerbit Republika, 2004.
Yaḥya. Muḥammad, Waraqah tsaqâfiyyah fí radd al-‘Ilmâniyyah, Egypt: Mu’assasah al-zahrâ li ‘ilâm al-‘urf, 1985.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s