Hadits dan Karya Ulama

Dari judul di atas penulis maksudkan adalah peran hadits dan karya ulama buat kita orang-orang awam. Karena belakangan ini sedang santer kabar mengenai beberapa ritual ibadah yang kita lakukan sepertinya mulai dipertanyakan dalilnya, dari mana haditsnya dari mana sumbernya.
Saudara muslim kita yang sering disebut dengan “salafi wahabi dll” membuat pola pemikiran yang baru mengenai cara beragama melalui sebuah diktat “setiap yang tidak bersumber dari dan tercatat sebagai omongan Rasul adalah tidak ada dan karena tidak ada maka tidak diperintahkan dan karena tidak diperintahkan maka jangan dilakukan.”
Apakah memang seperti itu yang harus kita pahami dari ajaran Islam, atau kita cukup dengan apa yang didatangkan oleh Ulama dan para ulama terdahulu lewat tulisan dan kitab-kitabnya.
Mengawali tulisan ini ada kisah dari Abdullah bin Umar salah satu sahabat terkemuka, suatu hari Abdullah bin Umar dan beberapa sahabat yang lain berjalan di gurun pasir, di tengah perjalanan Abdullah bin Umar membuat hal yang tidak biasanya, ia mengitari sebuah pohon sebanyak tiga kali. Ketika selesai mengitari pohon tadi, beberapa sahabat bertanya “Wahai tuan guru! apa yang menyebakan engkau mengitari pohon ini sebanyak tiga kali,” dengan biasa Abdullah bin Umar menjawab “Aku melakukan hal tersebut lantaran pernah suatu hari aku melihat Rasul mengitari pohon ini sebanyak tiga kali”.
Dari kisah di atas, sudah dipastikan bahwa Abdullah adalah salah satu sahabat yang sangat ingin mencontoh prilaku rasul sekalipun itu remeh dan takl beralasan. Karena itu, Imam Syafi’i merujuk hadits-hadits dari jalur Abdullah bin Umar. Lalu bagaimana dengan kita? lewat mana kita mencontoh perilaku Rasul?.
Bermazhab dan tidak bermazhab
Akhir-akhir ini banyak mereka yang mengajak kita untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits tok, tanpa embel-embel yang lain. Mereka mengatakan bahwa yang bukan dari Rasul itu tidak valid dan tidak bisa dijadikan sumber dalam Islam. Apakah seperti ini atau boleh kita mengembil sumber selain keduanya seperti cukup dengan bermazhab?
Dalam al-Quran surat al-Isra ayat 71 disebutlakn “Yauma nad’u kullu Unasin biimamihi” pada hari itu (kiyamat setiap manusia kan dipanggil dengan pemimpinnya. Buat beberapa ulama kata bi imamihi bisa berati al-Qur’an dan juga bisa berarti imam yang bertanggung jawab dengan seseorang “ibadahnya”, maka dari sinilah dalil mengenai keharusan mengikuti para imam.
Mengapa kita harus mengikuti para Imam dan tidak merujuk ke hadits, jawabanya karena pada hakekatnya para imam juga merujuk ke al-Qur’an dan Hadits dengan kapasitas keilmuan yang mereka miliki, yang pada masa itu sudah mampu menghafal al-Quran dan mahir dengan seluk beluk bahasa Arab, hafal ratusan ribu hadits beserta sanad dan sifat-sifat perawi (karenanya mereka amat paham mana hadits dan bukan hadits) juga dengan sifat-sifat kesalehan dan ibadah yang amat sangat ketat.
Seperti Imam Syafi’i yang sudah mapan dalam bahasa arab mengetahui kaidah kebahasaan, hafal al-Qur’an dan kitab Hadits al-Mua’tho (kita hadits pertama karya Imam Malik) di umur yang sangat muda, hafal ratusan ribu hadits (diberi gelar sebagai Hujjatul Islam, gelar peringkat kedua setelah Imam Bukari yang diberi Gelar sebagai Khalifah ilmu hadits penghafal di atas 300.000 ribu hadits beserta sanad dan sifat-sifat perawi). Karenanya seluruh perangkat dan tat cara ibadah yang kita lakukan sebenarnya sudah lebih awal diseleksi dengan baik oleh Imam Syafi’i bahkan jarak Imam Syafi’i lebih dekat kepada zaman Rasul dibanding kita di abad 21, lalu bagaimana pendapat anda dengan orang-orang yang sekarang menanyakan hadits dan dalil kepada kita? Yakinkan bahwa mereka telah salah jalur dan terlambat untuk merujuk kepada dalil dan hadits-hadits. bahkan pengetahuan orang yang meminta dalil tidak lebih dari 1 persennya dari pengetahuan Imam Syafi’i apalagi sifat-sifat yang terpercaya lain dari Imam Syafi’i, apalagi ibadah dan ritual amal soleh yang Imam Syafi’i laukukan. Maka pantaskah kita yang awam dan bodoh ini melangkahi Imam Syafi’i sampai-sampai harus menanyakan dalil dan sumbernya. Imam Syafi’i dan jutaan ulama terdahulu telah sepakat bahwa apa yang kita kerjakan dalam solat itu berseumber dari hadits-hadist yamg mutawatir-kwalitas teratas dari hadits shahih- (Abuya KH Abdurrahman Nawi), apa lagi Imam Syafi’i sejak dulu banyak dirujuk ulama mayoritas dunia karena sifat kehati-hatiannya dalam mengambi sebuah dalil, ia dikenal sebagai orang yang pantang untuk membuang hadits, karenanya banyak dari pendapatnya menggunakan dua dalil yang didamaikan. Sehingga percaya dan yakinlah bahwa Imam Syai’i jauh lebih mengetahui dan lebih valid dibanding dengan pengetahuan orang sekarang yang menuntut dalil dan sumber.
Seorang guru mengatakan, bahwa kitab-kitab kuning yang sekarang kita gunakan adalah hadits bil ma’na (makna hadits) yang sudah diperas dari hadits billafzhi (redaksi asli hadits), karenanya isi kita itu seluruhnya adalah hadits, tapi lewat perkataan yang sudah diomongkan oleh para ulama.
Setiap Yang Dilarang, bukan Yang Tidak Ada
Bila ada sebuah ibadah tapi Rasul tidak lakukan, maka jangan memastikan bahwa itu tidak ada. Tapi coba lihat ada tidak keterangan sahabat Rasul yang melakukan dan itu diketahui Rasul. Seperi Shalat Qobliyah Magrib, yang di dalam fiqh sebagai sunnah ab’ad (yang hanya Sahabat mengerjakan, tapi Rasul tidak), mengapa sahabat mengerjakan karena sahabat sangat ingin melaksankan shalat danmendekat kepada Allah sekalipun itu tidak diperintahkan bahwa rasul tidak lakukanan, tapi Rasul mengetahui itu danb rasul tidak melarangnya. Dan menurut ulama itu artinya boleh dilakukan (hadits taqrir), karena bila itu tidak boleh dilakukan pasti rasul larang, karena rasul tidak akan membiarkan sesuatu yang benar-benar diharamkan dan dilarang oleh ajaran Islam, dan karena itu sifat wajib bagi Rasul adalah Tabligh wajib disampaikan prihal amar dan nahy, bila rasul menyembunyikan yang dilarang dan diperintah berarti itu tidak bersifat tabligh, karenanya lagi apa yang dilakukan sahabat shalat qobliyah adalah sudah sesuai dengan pa yang dibolehkan oleh Rasul dan ajaran Islam, bila itu tidak boleh maka rasul sudah melarangnya.
Alhasil hanya yang dilaranglah yang tidak boleh kita kerjakan, adapun yang tidak Rasul kerjakan belum tentu dilarang oleh rasul dan ajaran Islam. Juga seperti yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Umar.
Khatimah
Percayalah dengan kapasitas keilmuan para ulama dan salafushalih, bahwa dalil dan sumber yang selama ini dipertanyakan oleh saudara kita itu ada dan telah lama diseleksi oleh Imam Syaf’i dan ulama-ulama setelahnya. Dan pertanyakan lah apakah mereka mengerti tentang hal ini.
Ku persembahkan tulisan ini untuk Guru-guru
KH. Abdurrahman Nawi, KH Fathurrahman, KH. Ubaidillah Hamdan, KH Yusuf Hidayat, dan KH. Fakhruddin AlBantani dll.
(Kepada para Kyai dan Ustadz yang menemukan kesalahan dalam tulisan ini, dengan hormat untuk membertulkan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s