PERIODESASI PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM (FIQH)

I
Pendahuluan
A. Latar belakang
Dalam Tarikh Tasyri’ (sejarah syariat Islam) tema periodesasi perkembangan fiqh sangatlah penting untuk dikaji. Alasannya, karena tidak bisa kita belajar sejarah tanpa melihat periode-periode perkembangan fiqh itu sendiri, maka jika bahsan ini ditinggalkan akan menjadi pertannya besar nanti ketika membahas pada hal-hal lain.
Pemkalaha kali ini akan sedikit membahsa tentang perkembangan fiqh dari segi periodesasinya. Misalnya, periode awal terjadinya hukum biasanya dinamakan dengan periode risalah, yaitu di mana Rasul SAW masih menerima wahyu dari Allah SWT. Lalu perkembangan perikutnya pasca wafatnya Rasul SAW, yang sebelumnya sumber merujuk pada Rasul, setelah wafat para sahabat berhujjah juga dan memberikan beberapa masukan hukum, sampai kemudian masuk pada periode tabi’in dari sini muncul beberapa tokoh terkenal semacam Imam Malik, Imam Abu Hanafi, Imam Syafi’’i, dan Imam Ahmad.
Beberapa sumber yang [emakalah jumpai memenag sangat banyak dengan beberapa istilah periodesasi. Seperti ada yang membaginya dengan periode rasulullah SAW dengan dua pembagian yaitu Makkah dan Madinah, kemudia periode Sahabat dan tabi’in. Dan periode kemunduran. Ada pula yang membagi dengan Masa sebelum muncul Mazhab (pra mazhab) dan masa bermazhab sampai masa sekarang. Ada pula yang membagi dengan enam masa periode, pertama periode Risalah, kedua periode khulafaurrasyidin, ketiga periode pertumbuhan fiqh, keempat periode kemasan, kelima periode ulasan dan perdebatan, dan keenam periode kemunduran.
B. Rumusan Masalah
Pemakalah berusaha menjawab dalam makalah ini sebagai berikut
Apakah yang dimaksud dengan Periodesasi perkembangan Fiqh?
Apa sajakah periodesasi perkembangan Fiqh?
II
PERIODESASI PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM (FIQH)
A. Pengertian
Beberapa tokoh sejarah hukum Islam memberikan gambaran tentang perkembangan hukum Islam dari masa kemasa, untuk memudahkan ada dari berbagai ilmuan membaginya dengan beberapa priode perkembangan hukum Islam yang disitilahkan dengan Periodesasi perkembangan hukum Islam atau proses perekembangan hukum Islam dari masa kemasa. Proses itu kemudian dibagi menjadi beberapa masa, para ulama Hadits misalnya meneliti para perawi juga dari masa kemasa, mereka mengistilahkannya dengan Thobaqot, ada tobaqot shahabat, tabi’in, tabi’in tabi’in, dll. Fiqh pun demikian, perekembanganya berbeda-beda dari masa kemasa, karenanya diperlukanlah yang namnya periodesasisi, gunanya untuk mengenal secara mendetail proses perkembangan fiqh dari masa kemasa.
Seperti Menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa periodisasi Fiqih terbagi menjadi 6, yaitu; periode Risalah, kedua periode khulafaurrasyidin, ketiga periode pertumbuhan fiqh, keempat periode kemasan, kelima periode ulasan dan perdebatan, dan keenam periode kemunduran. Periode ini yang juga berbeda-beda dalam istilah, namun secara umum menurut pemakalah bahwa pembuatan periodesasi tetap sama dari masa kemasa namun itu diserahkan kepada para penulis mengenai pemakaian istilahnya.

B. Periodesasi Perkembangan Hukum Islam
1. Periode Rasulullah
Masa nabi SAW dianggap sebagi masa fiqih terpenting secara keseluruhan, karena penetapan syariah Ilahi terjadi pada masa ini. Penetapan syariah Ilahi, sebagaimana kita ketahui merupakan dasar fiqih dalam seluruh perkembangan dan periodenya di masa lampau, sekarang dan yang akan datang.
Fiqih di masa ini adalah fiqih wahyu saja. Hukum-hukum syariah turun kepada Nabi SAW dengan lafal dan maknanya (Alquran) atau dengan maknanya saja (Assunnah). Dan Nabi menyampaikannya kepada umat manusia secara terang-terangan maupun secara tersembunyi dan berangsur-angsur.
Karena hukum syariah adalah wahyu, bukan lainnya. Adapun ijtihad Nabi SAW dan para sahabatnya, dilakukan dengan merujuk kepada wahyu seperti yang akan kami jelaskan di bawah ini.
A. Hukum Islam periode Makkah dan Madinah
Telah kita ketahui bahwa Nabi SAW dilahirkan dan dibesarkan di Makkah, selain itu Nabi SAW juga pertama kali mendapatkan wahyu yang pertama kali di Makkah yaitu di gua Hirra. Wahyu pada periode ini menekankan pada aspek akidah dan akhlak, dan tidak menyampaikan hokum-hukum praksis kecuali sedikit dan biasanya secara umum (kulli). Hal ini karena akidah merupakan dasar pertama bagi setiap hokum tafshili (terperinci) yang termuat dalam syariah. Dengan diturunkannya Alquran kepada Muhammad mulailah yang dinamakan tarikh tasyri’ Islami. Sumber tasyri’ Islami adalah wahyu (kitabullah dan sunnatullah). Ayat-ayat mengenai hokum kebanyakan ayat madaniyyyah setelah nabi SAW hijrah ke Madinah. Ayat-ayat ahkam berkisar antara 200-300 ayat dibanding 6348 ayat Alquran.
Selain Alquran dan sunnah Rasul, nabi sendiri memberi contoh berijtihad apabila tiada di nash Alquran sedangkan persoalan harus segera diselesaikan, yaitu ketika menyelesaikan masalah tawanan perang badar, walaupun ijtihad Rasul itu dibenarkan oleh ayat Alquran.
Belum lagi kisah seorang sahabat yang diperintahkan oleh Rasul untuk menjadi qadhi di kotsa Kuffah, Rasul bertanya denga apa engkau akan berhukum?, jawaba sahabat dengan al-Quran. Rasul bertanya kembali, jika tidak ada?, maka dijawaba dengan sunnahmu, jika tidak ada?, aku berijtihad dengan pendapatku.” Ini pula sebagai salah satu dalil mengenai perekembangan hukum di msa Rasul SAW.
Pada zaman Rasululloh, beliaulah sebagai imam al-ummah, sebagai hakim dan sebagai mufti akbarnya.
Adat-adat jahiliyyah ada yang dihapuskan, ada yang diakui dan ditetapkan dengan nash sebagai hukum Islam. Adapun yang tidak disebut, dihapus dan diakui, merupakan masalah sunnah taqririyyah, karena Rasul tidak melarangnya.
Pada masa Rosulullah, tasyri’ Islam merupakan peletakan dasar-dasar pokok dan prinsip-prinsip umum (mabadi amah dan qowaid asasiyyah).
Istilah fiqh pada zaman Rosulullah, merupakan pemahaman ilimu agama secara keseluruhan, termasuk tauhid, akhlak, dan hukum-hukum.
2. Periode sahabat
A. Khulafaurrosyidin
Masa kekhalifahan nabi berakhir bersamaan dengan sempurnanya penetapan syariat Ilahi dalam Alquran dan Assunnah. Keduanya adalah pokok besar yang ditinggalkan masa nabi untuk masa sesudahnya dan masa-masa selanjutnya.
Pada masa nabi, ketika terjadi permasalahan yang sulit dipecahkan, maka dapat langsung ditanyakan kepada Rosullullah, jadi tidak ada kesulitan sama sekali dalam penetapan hokum.
Pada masa sahabat, mereka menggali hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah-masalah baru dan kejadian-kejadian baru ini dengan cara berijtihad menggunakan nalar (ro’yu) mereka dengan mengikuti kaidah-kaidah syariat, prinsip-prinsip umumnya dan pengetahuan mereka tentang tujuan-tujuannya.
Ketika terjadi suatu perkara ,fuqaha’ dikalangan sahabat mencari hukumnya di dalam kitab Allah. Jika mereka tidak mendapatkan hukumnya di dalam Kitab Allah,maka mereka beralih kepada as-sunah.jika mereka tidak mendapati hukumnya di dalamas-sunah,maka mereka beralih kepada pendapat dan memutuskn perkara menurut ketentuan ijtihad mereka. Ijithad dimasa Abu bakar dan Umar bin khatab adalah ijtihad jama’I (kolektif) ,dalam bentuk musyawarah. Apabila khalifah menghadapi perkara, maka ia mengundang para ahli fiqih dan pemikir, lalu menyampaikan masalah kepada mereka, kemudian mereka mendiskusikannya. jika pendapat mereka mencapai mufakat, maka keputusan ditetapkan bersasarkan mufakat tersebut. Apabila mereka berselisih, maka khalifah mengambil pendapat yang dinilainya benar. Disamping ijtihad kolektif , ada juga ijtihad individual, baik dilakukan oleh khalifah sendiri atau orang lain. hanya saja, ijtihad kolektif lebih dominan dimasa khalifah pertama dan kedua .kebanyakan berkenaan dengan masalah umum, seperti masalah pembagian tanah pedusunan (ardhus-sawad) di irak para pejuang, dimana umar meminta saran dari para ahli fiqih dan tokoh sahabat dalam masalah ini.
Dari fuqaha’ di masa ini diriwayatkan banyak atsar yang menunjukkan bahwa metode istinbath hukum mereka adalah seperti yang telah kami sebutkan. Mereka mengambil pendapat sekiranya suatu masalah tidak disebutkan secara jelas di dalam nash, dan ijma’ adalah cara yang dikenal dikalangan mereka. Diantaranya :
a. Apabila suatu sengketa atau perkara dihadapkan kepada Abu bakar, maka ia merujuk kepada kitabullah, maka ia memutuskan dengannya. Apabila tidak menjumpainya, maka ia merujuk kepada sunnah Rasul-nya, apabila menjumpainya dalam sunnah Rasul, maka ia memutuskan denagnnya. Jika ntidak, maka ia bertanya kepada para sahabat mengenai keputusan rosululloh dalam masalah yang sedang dihadapinya. Sehingga diharapkan ada orang yang mendatanginya dan menginformasikan keputusan Rosulullah dalam masalah tersebut. Apabila tidak mendapati sunnah Nabi, maka ia mengumpulkan para tokoh dan bermusyawarah, apabila terjadi kesepakatan pendapat maka ia memutuskan perkara tersebut. Umar juga melakukan hal yang sama.
b. Abu bakar pernah berijtihad berdasarkan pendapatnya dan berkata, “inilah pendapatku, apabila ini benar maka itu dari Allah dan apabila itu salah maka itu dariku dan aku memohon ampunan kepada Allah.
c. Umar bin Khattab pernah berijtihad dengan pendapatnya. Beliau berkata kepada penulisnya, “katakanlah bahwa ini adalah pendapat Umar bin khattab. Umar juga pernah menulis surat kepada Sjyuraih.
“jika anda menjumpai sesuatu dalam kitabullah, maka putuskan dengannya dan jangan berpaling kepada selainnya. Dan apabila suatu perkara datang kepadamu tetapi tidak terdapat dalam kitabullah, maka putuskan dengan apa yang telah disunnahkan Rosulullah. Jika datang kepadamu suatu perkara yang tidak terdapat dalam kitabullah dan tidak disunnahkan Rosulullah, makaputuskan berdasarkan keputusan Ulama. Dan apabila datang kepadamu suatu perkara yang tidak terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rosulullah, juga tidak dibicarakan oleh seorang pun sebelum kamu, jika anda suka berijtihad maka majulah, dan jika engkau ingin mundur, maka mundurlah, menurutku mundur itu lebih baik bagimu.”
Umar pernah menulis kepada Abi Musa al-Asy’ari
“kenalilah hal-hal yang serupa (asybah) dan hal-hal yang sama (amtsal) dan qiyaskan perkara-perkara”.
d. Abdullah bin Mas’ud berkata
“barang siapa diantara kamu menghadapi suatu keputusan, maka hendaknya ia memutuskan berdasarkan apa yang ada di dalam kitab Allah. Jika tidak ada dalam kitab Allah, maka hendaknya ia memutuskan berdasarkan kepada apa yang diputuskan Nabi-Nya. Jika datang suatu perkara yang tidak terdapat dalam kitab Allah dan tidak diputuskan oleh nabi-Nya, maka hendaknya ia memutuskan dengan apa yang diputuskan oleh orang-orang sholeh. Jikadatng suatu perkara yang tidak gterdapat dalam kitab Allah dan tidak pernah diputuskan oleh nabi-Nya juga tidak pernah diputuskan oleh orang-orang sholeh, maka hendaknya ia berijtihad dengan nalarnya. Jika ia tidak bisa berbuat dengan baik, hendaknya ia berdiri dan jangan merasa malu.”Adapun riwayat dari fuqoha, sahabat, yang berisi celaan terhadap penggunaan nalar atau ro’yu, hal itu dipahami sebagai celaan terhadap pendapat atau nalar yang rusak, atau pendapat berkenaan dengan masalah yang telah ditegaskan oleh nash, atau pendapat orang-orang yang mampu melakukannya.
3. Periode tabi’in
Pada masa tabi’in, tabi’-tabi’in dan para imam mujtahid, di sekitar abad II dan III Hijriyah wilayah kekuasaan Islam telah menjadi semakin luas, sampai ke daerah-daerah yang dihuni oleh orang-orang yang bukan bangsa Arab atau tidak berbahasa Arab dan beragam pula situasi dan kondisinya serta adat istiadatnya. Banyak diantara para ulama yang bertebaran di daerah-daerah tersebut dan tidak sedikit penduduk daerah-daerah itu yang memeluk agama Islam. Dengan semakin tersebarnya agama Islam di kalangan penduduk dari berbagai daerah tersebut, menjadikan semakin banyak persoalan-persoalan hukum yang timbul. Yang tidak didapati ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Untuk itu para ulama yang tinggal di berbagai daerah itu berijtihad mencari ketetapan hukumnya.
Periode ini disebut juga periode pembinaan dan pembukuan hukum islam. Pada masa ini fiqih Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat sekali. Penulisan dan pembukuan hukum Islam dilakukan dengan intensif, baik berupa penulisan hadits-hadits nabi, fatwa-fatwa para sahabat dan tabi’in, tafsir al-Qur’an, kumpulan pendapat imam-imam fiqih, dan penyususnan ushul fiqih.
A. Metode tabi’in dalam mengenal hukum
Pada periode ini ialah, “Menerima hukum yang dikumpulkan oleh seseorang mujtahid dan memandang pendapat mereka seolah-olah nash syara’ sendiri.” Jadi taqlid itu menerima saja pendapat seseorang mujtahid sebagai nash hukum syara’. Dalam periode taqlid ini, kegiatan para ulama’ Islam banyak mempertahankan ide dan mazhabnya masing-masing.
Sebelumnya perlu ditegaskan bahwa setiap mazhab fiqh mempunyai ushul fiqh. Hanya saja, metode penulisan mereka berbeda. Metode penulisan ushul fiqh yang ada yaitu;
B. Metode mutakallimin
Metode penulisan ushul fiqh ini memakai pendekatan logika (mantiqy), teoretik (furudl nadzariyyah) dalam merumuskan kaidah, tanpa mengaitkannya dengan furu’. Tujuan mereka adalah mendapatkan kaidah yang memiliki justifikasi kuat. Kaidah ushul yang dihasilkan metode ini memiliki kecenderungan mengatur furu’ (hakimah), lebih kuat dalam tahqiq al masail dan tamhish al khilafat. Metode ini jauh dari ta’asshub, karena memberikan istidlal aqly porsi yang sangat besar dalam perumusan. Hal ini bisa dilihat pada Imam al Haramain yang kadang berseberangan dengan ulma lain. Dianut antara lain oleh; Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan Syiah.
C. Metode Fuqaha
Tidak diperdebatkan bahwa Abu Hanifah memiliki kaidah ushul yang beliau gunakan dalam istinbath. Hal ini terlihat dari manhaj beliau; mengambil ijma’ shahabat, jika terjadi perbedaan memilih salah satu dan tidak keluar dari pendapat yang ada, beliau tidak menilai pendapat tabiin sebagai hujjah. Namun, karena tidak meninggalkan kaidah tersebut dalam bentuk tertulis, pengikut beliau mengumpulkan masail/furu’ fiqhiyyah, mengelompokkan furu’ yang memiliki keserupaan dan menyimpulkan kaidah ushul darinya. Metode ini dianut mazhab Hanafiyyah. Sering pula dipahami sebagai takhrij al ushul min al furu’. Metode ini adalah kebalikan dari metode mutakallimin.
C. Keistimewaan pada masa tabi’in
Berkembangnya beberapa pusat studi Islam, menurut Manna’ al-Qatthan telah melahirkan dua tradisi besar dalam sejarah pemikiran Islam. Keduanya adalah tradisi pemikiran Ahl al-Ra’y dan tradisi pemikiran Ahl al-Hadits. Menurutnya, mereka yang tergolong Ahl al-Ra’y dalam menggali ajaran Islam banyak menggunakan rasio (akal). Sedangkan mereka yang tergolong Ahl al-Hadits cenderung memarjinalkan peranan akal dan lebih mengedapankan teks-teks suci dalam pengambilan keputusan agama.
Fiqih sudah sampai pada titik sempurna pada masa ini.
Pada masa ini muncul ulam’-ulama’ besar, fuqoha’ dan ahli ilmu yang lain.
Madzhab fiqih pada masa ini sudah berkembang dan yang paling masyhur adalah 4 madzhab.
Telah dibukukan ilmu-ilmu penting dalam islam. Diantaranya, dalam madzhab abu hanifah : kutub dzohir al Riwayah yang diriwayatkan dari oleh Muhammad bin al Hasan dari Abu Yusuf dari imam Abu Hanifah, kemudian dikumpulkan menjadi kitab al Kafi oleh al Hakim as Syahid. Dalam madzhab imam Malik : al Mudawwanah yang diriwayatkan oleh Sahnun dari Ibnu Qosim dari imam Malik. Dalam madzhab imam Syafi’i kitab al Um yang diimlakkan oleh imam kepada muridnya di Mesir. Dalam madzhab imam Ahmad kitab al Jami’ al Kabir yang dikarang oleh Abu Bakar al Khollal setelah mengumpulkannya dari pere murid imam Ahmad.
Peristiwa pemberlakukan hukum di kawasan pemerintahan Islam tidak hanya terjadi di daerah kekuasaan Daulah Utsmaniyyah saja. Di Mesir, tarik menarik antara penerapan hukum Islam dengan penerapan hukum positif (barat) juga terjadi. Dan hukum Islam pun akhirnya harus puas berkiprah hanya pada tingkat wacana. Sedangkan dalam aplikasinya, pemerintah lebih memilih untuk menerapkan sistem hukum positif. Bahkan, hukum positif yang diberlakukan di Mesir tidak hanya menyangkut masalah pidana, namun dalam masalah perdata juga diterapkan.
4. Periode Perkembangan
Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Dalam masa ini para ulama berusaha untuk mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam mereka. Periode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad di kalangan ulama fiqih. Ulama fiqih lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam madzhab mereka masing-masing, sehingga mujtahid (mujtahid mandiri) tidak ada lagi. Sekalipun ada ulama fiqih yang berijtihad, maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip madzhab yang mereka anut.
5. Periode kemunduran
Masa ini dimulai pada pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majallah al-Ahkam al-‘Adliyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Utsmani) pada 26 Sya’ban 1293. Perkembangan fiqih pada periode ini merupakan lanjutan dari perkembangan fiqih yang semakin menurun pada periode sebelumnya. Periode ini dalam sejarah perkembangan fiqih dikenal juga dengan periode taklid secara membabi buta.
III
Kesimpulan
PERIODE RASULULLAH
1. Sumber hukum bersumber dari Quran / Sunnah
2. Penjelasan al Quran langsung dari Nabi
3. Masih dalam wilayah Makiyah / Madinah
PERIODE SAHABAT
1. Wafatnya Rasullullah
2. Muncul ide membukukan Quran
3. Adanya Ijtihad dari sahabat/ masalah
4. Pemberontakan Muawiyah
PERIODE TABI’IN
1. Ide menulis As Sunnah timbul
2. Timbul sistem monarkhi
3. Mulai ada pembukuan As Sunnah
4. Muncul Imam-Imam besar (Bidang fiqih)
5. Banyaknya gerakan-gerakan ilmiah di Negara Islam
PERIODE PERKEMBANGAN
1. Banyak terjadi diskusi-diskusi dan perdebatan-perdebatan
2. Muncul pendiri Madzhab
3. Timbulnya sikap untuk menguatkan madzhab
PERIODE KEMUNDURAN
1. Negara Islam dikuasai Turki
2. Runtuhnya Baghdad
3. Terputusnya obyek dan subyek kajian fiqih

DAFTAR PUSTAKA
Khudhori, Muhammad, Tarikh Tasyri’ Islami, Surabaya: Al hidayah
Rahiem, Husni, Perkembangan Ilmu Fiqih, Jakarta: Bumi Aksara, 1992
Ramulyo idris, Asas-asas Hukum Islam. Jakarta.Sinar Grafika. 2004.
Zaidan, Abdul Karim, Pengantar Studi Syari’ah, jakarta: Robbani Press, 2008
http://mustain-billah.blogspot.com
http://www.lib4online.com
http://mohfaizinitueachiko.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s