AJARAN TASAWWUF SUNAN BONANG DAN GUSDUR

A . AJARAN TASAWUF SUNAN BONANG
1. Sejarah Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.
2. Ajaran Tasawuf Sunan Bonang
Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta'(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Dalam suluk-suluknya tidak jarang beliau menggunakan kiasan, perumpaan dan simbol-simbol yang diambil dari budaya lokal, sangat kontekstual.
Menurut Prof.Dr.Abdul Hadi WM, lazim berlaku pula dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindi, Melayu dan lain-lain. “Sebagaimana puisi para sufi secara umum, jika tidak bersifat didaktis, suluk-suluk Sunan Bonang ada yang bersifat lirik. Pengalaman dan gagasan ketasawufan yang dikemukakan, seperti dalam karya penyair sufi di mana pun, biasanya disampaikan melalui ungkapan simbolik (tamzil) dan ungkapan metaforis (mutasyabihat)”. Lantaran tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk) dengan Yang Maha Esa, dilukiskan atau diumpamakan sebagai hubungan antara Sang Pencinta dengan Sang Kekasih.
Pada bad 21 ini ada Prof.Dr.Abdul Hadi yang mengkaji serta mengulas hasil-hasil penelitian. Berikut adalah beberapa kutipan atas ulasan terhadap sejumlah suluk Sunan Bonang:
1. Gita Suluk Lastri, yang ditulis dalam bentuk tembang wirangrong, menggambarkan seorang pencinta yang gelisah menunggu kedatangan Kekasihnya. Semakin larut malam kerinduan dan kegelisahannya semakin mengusiknya, dan semakin larut malam pula berahinya (‘syq) semakin berkobar. Tatkala Sang Kekasih tiba, dia menjadi lupa segalanya, kecuali keindahan wajah Sang Kekasih. Demikianlah, setelah itu sang pencinta akhirnya hanyut dibawa ombak dalam lautan ketakterhinggaan wujud.
2. Suluk Khalifah, menceritakan kisah-kisah kerohanian para wali dan pengalaman mereka mengajarkan kepada orang yang ingin memeluk Islam. Dalam suluk ini Sunan Bonang menceritakan pengalamannya selama berada di Pasai serta perjalanannya menunaikan ibadah haji.
3. Suluk Gentur atau Suluk Bentur. Gentur atau bentur dalam ulasan di atas berarti lengkap atau sempurna. Namun penulis (Tasawuf Djawa), lebih memilih mengartikan tekun dan bersemangat, sebagaimana penulis selama ini menghayati makna “gentur topone”. Suluk ini menggambarkan jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk mencapai kesadaran tertinggi. Dalam perjalanannya itu ia akan berhadapan dengan maut dan akan diikuti oleh sang maut ke mana pun ia melangkah. Ujian terbesar sang penempuh adalah syahadat “dacim qacim”, yaitu kesaksian tanpa bicara sepatah kata pun dalam waktu yang lama, sambil mengamati gerak-gerik jasmaninya dalam menyampaikan isyarat kebenaran dan keunikan Tuhan. Garam jatuh ke laut dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Pun tidak hilang dalam kekosongan (suwung). Demikian pula apabila manusia mencapai keadaan fana’, maka tidak lantas tercerap dalam Wujud Mutlak. Yang lenyap ialah kesadaran akan keberadaan atau kewujudan jasmaninya. Syahadat dacim qacim adalah kurnia yang dilimpahkan Tuhan kepada seseorang sehingga ia menyadari dan menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan.
Dalam suluk ini Sunan Bonang juga menyatakan bahwa pencapaian tertinggi seorang penempuh ialah fana’ ruh bidafi, yaitu “keadaan dapat melihat peralihan atau pertukaran segala bentuk lahir dan gejala lahir, yang di dalamnya kesadaran intuitif atau makrifat menyempurnakan penglihatannya tentang Allah sebagai Yang Kekal dan Yang Tunggal. Dalam fana’ ruh idafi seseorang sepenuhnya menyaksikan kebenaran hakiki ayat Al Qur’an 28:88,”Segala sesuatu binasa kecuali Wajah-Nya (Allah)”
4. Gita Suluk Wali, merupakan untaian puisi-puisi yang memikat . Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu bagaikan laut pasang yang menghanyutkan, atau seperti api yang membakar sesuatu sampai hangus. Untaian puisi ini diakhiri dengan pepatah sufi “ Qalb al mukmin bait Allah, hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan”. Subhanallah.
5. Suluk Jebeng, ditulis dalam tembang Dhandanggula yang merdu, dan dimulai dengan perbincangan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, dan dicipta menyerupai gambaran-Nya. Hakekat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perbuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculannya tidak mudah diketahui:
“ Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketahuilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahasia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?

Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah jasad sebenarnya ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wal
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengaku tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan

Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna”.

6. Suluk Wujil. Diantara sejumlah suluk Sunan Bonang, yang paling dikenal ialah Suluk Wujil. Wujil adalah nama dari salah seorang cantrik Sunan Bonang. Suluk ini benar-benar menggambakan suasana peralihan zaman Hindu ke Islam, dan sekarang naskahnya sudah berada kembali di Indonesia serta disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta.
Sebagai karya zaman peralihan, pentingnya karya Sunan Bonang ini tampak dalam hal-hal seperti berikut:
Pertama, menggambarkan suasana kehidupan budaya, intelektual dan keagamaan di Jawa pada akhir abad ke-15, yang sedang beralih kepercayaan dari Hindu ke Islam. Di arena politik, peralihan itu ditandai dengan runtuhnya Majapahit, kerajaan besar Hindu terakhir di Jawa, dan berdirinya Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama.
Di lapangan sastra, peralihan itu dapat dilihat dari berhentinya kegiatan sastra Jawa Kuno setelah penyair terakhir Majapahit, Mpu Tantular dan Mpu Tanakung meninggal dunia pada pertengahan abad ke-15 tanpa penerus yang kuat Bahasa sastra secara bertahap bergeser, dan muncul bahasa Jawa Madya atau Tengahan. Sunan Bonang tidak sertamerta meninggalkan suasana dan sastra Jawa Kuno, melainkan melakukan perubahan secara bertahap, sehingga kehadiran karya-karyanya tidak dirasakan sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai suatu kesinambungan. Bukankah ini sungguh luar biasa, seseorang yang bukan asli Jawa, memahami, menghargai serta menghayati sastra dan budaya Jawa secara total, bahkan menjadi pondasi kebudayaan Jawa Madya yang terus berkembang menjadi seperti sekarang.
Kedua, Suluk Wujil merupakan perenungan tentang masalah hakiki di sekitar wujud dan rahasia terdalam ajaran agama, memuaskan dahaga kaum terpelajar Jawa yang pada umumnya menyukai mistisme atau metafisika, dan seluk-beluk ajaran keruhanian. Suluk ini dimulai dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman, di Timur maupun Barat.
Mengingat kebiasaan-kebiasaan membaca naskah di jejaring sosial terutama yang menggunakan telpon genggam, berikut ini kami kutipkan 3 (tiga) bait saja terjemahan Suluk Wujil sebagai berikut:
“ Ingatlah Wujil, waspadalah
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haq
Dan yang Haq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal-usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati (bait 11).

Oleh karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindungi dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya (bait 22).

Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar (bait 23).

Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni (bait 39).

B. AJARAN TASAWUF GUSDUR

Ajaran tasawuf Gus Dur, proses pembentukan ajarannya tidak asal jadi, melainkan melalui proses ruang dan waktu yang sangat panjang, bahkan sejak masih di pesantren Gus Dur sudah dikenalkan dan bergesekan dengan dunia Tasawuf.
Gus Dur memang diakui banyak kalangan memiliki fenomena spiritual yang langka dibanding kiai-kai lain di Jawa, karena harus muncul dalam gebrakan sejarah yang penuh warna. Dari sosoknya sebagai budayawan, seniman, kiai, politisi, pemikir, pembaharu, dan seorang yang mampu mengangkat khazanah tradisional dalam dialog kosmopolitan yang aktual. Dan spirit yang membawa sosoknya sedemikian kuat itu, dilandaskan pada spiritualitas yang sangat kaya dengan kebebasan, kemerdekaan, penghargaan kemanusiaan, sekaligus askestisme yang tersembunyi dalam jiwanya: Dunia Sufi. Sufisme Gus Dur yang selama ini hanya difahami oleh masanya, melalui kebiasaan ziarah ke makam para wali, ungkapan-ungkapan yang kontroversial, dan spontanitasnya yang inspiratif, serta garis keturunan seorang Ulama dan wali yang terkenal, Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Namun, laku Sufistik Gus Dur justru terletak pada sikap dan konsistensinya terhadap nilai-nilai tasawuf yang sama sekali tidak terpaku pada simbolisme tasawuf sebagaimana gerakan kaum Sufi modern saat ini.
Komunikasi Ilahiyah yang selama ini terjalin adalah “hubungan rahasia” yang sunyi di tengah-tengah hiruk pikuk dunia, dan melakukan gerakan terlibat dengan kehidupan nyata, dengan keberanian mengambil resiko bahaya, demi mempertahankan prinsip utamanya. Namun di sisi lain, ada konser kebahagiaan yang berirama indah dalam musikal dzikrullah, saat Gus Dur sedang sendiri, menyepi (khalwat) dalam jedah kesehariannya. Dua sisi hiburan spiritual yang boleh disebut sangat langka: Ramai dalam sunyi, dan sunyi dalam ramai.
Namun seluruh dinamika gerakan Gus Dur tidak lepas dari nilai-nilai tradisional Sufistiknya yang transformative. Semisal Gus Dur yang begitu kental dengan hikmah-hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandary yang tertuang dalam kitab Sufi Al-Hikam – bahkan hafal di luar kepala – dalam membangun masyarakat Islam dalam konteks ke-Indonesiaan.
Kitab Al-Hikam sangat dikenal oleh para Ulama Sufi sejak abad tujuh hijriyah, menjadi manual bagi “Sufisme Pesantren” tingkat tinggi, sebagai kajian sufi paska Ihya’ Ulumaddin, Al-Ghazaly, Ar-Risalatul Qusyairiyah karya Abul Qasim Al-Qusyairy, maupun Al-Luma’, karya Abu Nashr as-Sarraj.
Kekentalan Gus Dur dengan Al-Hikam memberi warna kuat, terutama dua wacana disana yang berbunyi: “Janganlah engkau bergabung atau berguru dengan orang yang kata-kata dan perilaku ruhaninya tidak membangkitkan dirimu dan menunjukkan padamu menuju Allah.” Konon, nama Nahdhatul Ulama mendapatkan inspirasi dari hikmah tersebut, sekaligus menjadi standar apakah Ulama NU kelak konsisten dengan kebangkitan menuju Allah atau menuju dunia?
Kemudian, hikmah lain yang begitu kental, adalah, “Pendamlah dirimu di tanah sunyi, karena biji yang tak pernah terpendam tidak akan tumbuh dengan sempurna.” Sebuah wacana yang sangat kuat tekanannya dalam menggugat kemunafikan beragama, dan segala gerakan industri ekonomi dan politik atas nama agama, yang akhir-akhir ini begitu menguat beriringan dengan gerakan formalisme keagamaan.
Menyembunyikan hubungan antara hamba dan Allah sebagai rahasia kehambaan adalah mutiara Sufi yang agung. Sebaliknya pamer pengalaman beragama, bahkan menjurus pada riya’ adalah bentuk syirik yang tersembunyi. Karena itu, dalam Al-Hikam juga disebutkan, “Nafsu dibalik maksiat itu nyata dan jelas, tetapi nafsu di balik taat itu, sangat tersembunyi, dan terapi atas yang tersembunyi sangatlah sulit.”
Harmoni dan toleransi menjadi bagian penting dalam sikap dan tindakan Gus Dur dalam Islam, sikap seperti inilah yang sering dilakukan kaum sufi. Kepentingannya bukan untuk dirinya sendiri akan tetapi demi kemanusiaan seutuhnya.
Gus Dur menyatakan bahwa agama itu pandangan terhadap sesuatu yang dasarnya itu moral, baik itu moral keTuhanan, Moral sosial, dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja tidak berbeda jauh dengan ajaran tasawuf, memberikan pengertian terhadap agama.
Bagi Gus Dur, sebagai manusia agar dapat menselaraskan kebenaran Tuhan dan agama, ia mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan, perjuangan sosio-kultural untuk membangun sistem yang mensejahterakan rakyat (hablum minannas) secara keseluruhan merupakan jalan tertinggi dan lebih cepat sampai kepada Tuhan daripada melalui jalan ritual-individualistik (hablum minallah) semata. Oleh karena itu, sebagaimana kita tahu Gus Dur perlunya umat Islam segera melengkapi sistem Rukun Iman dan Rukun Islam yang sudah sangat mapan itu dengan merumuskan dan mengajarkan Rukun Sosial yang masih sangat rapuh di kalangan umat Islam. Dengan kata lain, baginya merekomendasikan suatu rekontruksi sistem etika sosial dalam Islam dan memberikan status sejajar atas Rukun Iman dan Rukun Islam, dapat menjadi Rahmat bagi manusia yang beragama.
Seperti dikatakan Abdul Karim ibn Hawazin al-Qusyairi dalam kitabnya ar-Risalah al-Qusyairiyah, seorang sufi adalah mereka yang melihat alasan-alasan untuk memaafkan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Sufi adalah seperti bumi, selalu bersikap baik terhadap keburukan yang dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan apapun selain kebaikan. Sufi juga seperti awan, memberikan keteduhan kepada semua makhluk, dan seperti air hujan, mengiri segala sesuatu. Dalam banyak kasus, Gus Dur seorang sufi. Ia seorang pemaaf, meski kepada musuh yang sangat jahat sekalipun. Gus Dur sering dicaci, dituduh zionis, murtad karena membela non-muslim, dan sebagainya. Meski demikian Gus Dur tidak pernah kecil hati, juga tidak menaruh dendam. Meski sering dipuji pun tetapi tidak pernah sombong. Itulah ajaran tasawuf dalam beragama, begitulah sifat seorang sufi sejati
Hal yang amat tidak disukai oleh Gus Dur manakala menjadikan agama sebagai industri ekonomi maupun politik. Agama yang sakral, memang harus dijaga oleh politik, tetapi politisasi, apalagi menciptakan agama sebagai dagangan bisnis adalah melukai agama itu sendiri. Agama menjadi murah, dan agama menjadi duniawi, bahkan agama ditukar dengan kepentingan nafsu yang sangat memuakkan. Dengan tasawuf, nafsu harus ditundukkan bahkan ditekan agar dapat mengalahkannya. Begitulah Gus Dur dengan ajarannya mampu menjadikan agama sebagai sesuatu yang pantas untuk dijunjung tinggi, bahkan dengan agama lain pun mampu menjaga koridor toleransi, itulah tasawuf bersama-sama menuju Tuhan Yang Esa

DAFTAR PUSTAKA

http://www.pesantren.net/sejarah/wali-20001114003536-bon.shtml
http://islamjawa.wordpress.com/2012/05/30/memahami-suluk-suluk-sunan-bonang/
http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/30/sebuah-ajaran-gus-dur-tasawuf-dalam-beragama-473591.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s