Lembaga Islam; Perubahan Sosial dan Persaingan Global

Djauharul Bar

BAB I
PENDAHULUAN

Lembaga pendidikan Islam, sebagai pelopor pendidikan nasional sudah sepantasanya mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah, guna meneruskan kemajuan bangsa dalam menghadapi perubahan sosial dan saingan global. Dewasa ini lembaga pendidikan Islam masih kurang saing dengan lembaga pendidikan lain. Ini terbuklti dari arang kita dengar misalnya, siswa madrasah
Konsep negara yang dipresentasikan pemerintah mempunyai tugas menciptakan iklim yang kondusif agar keluarga dan masyarakat dapat menjalankan peranya dengan baik akan berlaku bagi konteks membangun generasi muda yang cerdas, dan berbudi pekerti luhur seta mempunyau kepedulian terhadap masa depan bangsa dan agamanya melalui pendidikan. System pendidikan merupakan system yang sangat terbuka. Berbagai factor luar pendidikan yaitu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kinerja system pendidikan.
Perbaikan system pendidikan betaapun mendasarnya, sulit untuk berhasil menghasilkan output yang ideal jika tidak didukung dengan system lain diluar pendidikan yang meliputi system ekonomi, social, budaya, hukm, bahkan politik. Dalam konteks hubungan keluarga, bermasyarakat, dan negara, maka negara mempunyai peran yang sangat menentukan dalam menata seluruh sisitem kenegaraan sehingga system pendidikan dapat berperan menyiapkan generasi muda yang berkualitas. Generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan yang semakin rumit.

BAB II
PEMBAHASAN

Dewasa ini bangsa Indonesia sedang menghadapi gelombang perubahan besar, baik secara internal maupun eksternal. Krisis ekonomi melanda bangsa pada tahun 1997 berkembnag menjadi krisis multidimensi masih belum sepenuhnya bisa di atasi. Lembaga pendidikan Islam sebagai salah satu unsur penting pendidikan nasional juga merasa bertanggung jawab atas perubahan sosial saat ini.
Secara eksternal, kita pun menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi. Globalisasi tidak hanya akan berlangsung daalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya terutama budaya. Globalisasi budaya yang arusnya makin deras akan membawa berbagai perubahan fundamental yanglebih komplkes dibandingkan dengan globalisasi ekonomi. Kompleksitas itu timbul akibat masuknya berbagai budaya dari luar yang berinteraksi secara langsung dengan budaya bangsa kita yang ragamnya begitu besar. Pada gilirannya, transformasi budaya merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dipungkiri. Transforasi tersebut dipercepat oleh perkembangan teknologi. Melalui kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi, penetrasi budaya internasional itu semakin luas dan intensif. Imbasanya lembaga pendidikan Islam perlahan mulai bergeser, mereka yang berhasil mengalahkan globalisasi dengan mengikuti semanagatnya akan selamat, sebaliknya bagi lembaga pendidikan Islam yang tidak mampu menerjemahkan semangat globalisasi akan jauh tertinggal, bahkan tidak mampu bersaing di kancah nasional.
Perkembangan zaman mengakibatkan gaya hidup manusia menjadi berubah yang semula mereka saling membutuhkan menjadi bersikap individualis dan tak peduli dengan orang lain. Globalisasi selain menghadirkan dampak ‘positif’ untuk hidup mudah, nyaman, murah, indah, maju. juga mendatangkan dampak ‘negatif’ yaitu menimbulkan keresahan, penderitaan dan penyesatan.
Bagi masyarakat, Globalisasi merupakan sebuah fenomena yang banyak menimbulkan dampak negatif yang di bawa oleh negara-negara Barat (terutama Amerika Serikat) dengan tujuan agar masyarakat mengikuti cara hidup di negara mereka. efek-efek negatif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pemiskinan nilai spiritual. Tindakan sosial yang mempunyai nilai materi (tidak produktif) dianggap sebagai tindakan yang rasional.
2. Jatuhnya manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material.
3. Peran agama digeser menjadi urusan akhirat sedang urusan dunia menjadi wewenang sains (sekularistik).
4. Tuhan hanya hadir dalam pikiran, lisan, tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan.
5. Gabungan ikatan primordial dengan sistem politik melahirkan nepotisme, birokratisme, dan otoriterisme.
6. Individualistic.
7. Terjadinya frustasi eksistensial seperti hasrat yang berlebihan untuk berkuasa merasa hidupnya tidak bermakna.
8. Terjadinya ketegangan-ketegangan informasi di kota dan di desa, kaya dan miskin, konsumeri

Qodri Azizy menyatakan juga bahwa globalisasi dapat berarti alat. Ketika itu, globalisasi menjadi netral artinya ia mengandung hal-hal positif jika dimanfaatkan dengan tujuan baik dan begitupun sebaliknya. Selain itu globalisasi juga bisa berarti ideologi. Ia sudah mempunyai arti tersendiri dan netralitasnya sangat berkurang menyebabkan terjadi benturan nilai ideologis globalisasi dan nilai agama. Baik sebagai alat atau ideologi, globalisasi menjadi sebagai ancaman sekaligus tantangan.
A. Pengaruh Globalisasi dalam Pendidikan Islam
Globalisasi sering diterjemahkan mendunia. Segala apapun yang terjadi di dunia begitu cepatnya menyebar di seluruh pelosok baik berupa data, temuan-temuan, bencana, peristiwa apapun. Semua orang di dunia bisa mengetahui semua itu melalui berbagai media seperti HP, TV, Radio. Malahan sekarang ada yang lebih canggih yaitu internet.
Azyumardi Azra mengatakan “pendidikan Islam merupakan pendidikan manusia seutuhnya, akal dan ketrampilan dengan tujuan menyiapkan manusia untuk menjalani hidup dengan lebih baik Namun hal itu tidak berjalan dengan lurus, karena pendidikan Islam dipengaruhi oleh arus globalisasi yang terjadi saat ini. Globalisasi merupakan ancaman besar bagi pendidikan Islam untuk mempertahankan nilai-nilai agama yang murni.
“Perubahan dalam bidang pendidikan meliputi isi pendidikan, metode pendidikan, media pendidikan, dan lain sebagainya. salah satu aspek yang amat besar pengaruhnya adalah kurikulum.”
Kurikulum bersifat fleksibel sehingga bisa menerima perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Namun mengakibatkan para guru kebingungan dalam menyampaikan materi. Hal ini tidak dirasakan guru saja tapi juga dialami para peserta didik. Terutama mereka yang berada pada tingkat TK (taman kanak-kanak). Mereka yang seharusnya masih bermain dan bernyanyi, mereka dituntut untuk menghafal angka-angka dengan versi bahasa Inggris, ini berlaku juga di TK Islam.
Pendidikan Islam nampaknya masih terkungkung dalam posisi defensif (untuk tidak mengatakan tertinggal) dan tidak mempunyai posisi tawar yang kuat, apalagi ke arah otensif dalam peradaban dunia. padahal pendidikan Islam sarat dengan muatan moral dan spiritual bisa berfungsi, menjadi terapi tragedi kemanusiaan akibat dampak globalisasi.
B. Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi
Pendidikan Islam di zaman ini menghadapi tantangan-tantangan yang serius untuk tetap eksis di dunia pendidikan. Adapun tantangannya adalah sebagai berikut: “Pertama, orientasi dan tujuan pendidikan. Kedua, pengelolaan (manajemen) sistem manajemen ini yang akan mempengaruhi dan mewarnai keputusan dan kebijakan yang diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan. Ketiga, hasil (out put). Bagaimana produk yang dihasilkan dari sebuah lembaga pendidikan bisa dilihat dari kualitas luaran (out putnya).
Dalam pandangan Haidar Putra Daulay menjelaskan “tantangan globalisasi bagi pendidikan Islam yaitu masalah kualitas. era global adalah era pesaing bebas. Maka akan terjadi pertukaran antar negara baik resmi maupun tidak. pertukaran manusia, barang, jasa, teknologi dan lain-lain adalah hal yang dipersaingan dalam era global ini. Untuk itu perlu dibentuk manusia yang unggul jadi kualitas SDM sangat penting untuk menentukan kualitas lembaga pendidikan, negara dan agama.
Selain tantangan kualitas juga tantangan moral era globalisasi banyak membawa dampak negatif generasi muda sekarang sudah terpengaruh dengan pergaulan yang global. Hal-hal yang tidak semestinya dilakukan oleh generasi muda seperti minum miras, menggunakan narkoba, melakukan seks bebas malahan menjadi kebiasaan bagi mereka. moral mereka bisa dikatakan seperti moral syaitan. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu belaka tanpa memikirkan akibatnya. Berkenaan itu maka pendidikan Islam harus semakin diefektifkan di lingkungan lembaga pendidikan Islam.
C. Peluang Pendidikan Islam di Era Globalisasi
Dr. A. Qodri Azizi (2003 : 19) menyatakan “pada prinsipnya globalisasi mengadu pada perkembangan-perkembangan yang cepat dalam teknologi, komunikasi, transformasi dan informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh menjadi mudah untuk dijangkau. Dari perkembangan yang cepat di berbagai bidang inilah, pendidikan Islam bisa berpeluang besar untuk menyebarkan ajaran Islam dengan cepat pula. Menurut tim penyusun IAIN Sunan Ampel, agar Islam dapat berarti bagi masyarakat global maka Islam diharapkan tampil dengan nuansa sebagai berikut:
Pertama, menampilkan Islam yang lebih ramah dan sejuk, sekaligus menjadi pelipur lara bagi kegarahan hidup modern.
Kedua, menghadirkan Islam yang toleran terhadap manusia secara keseluruhan agama apapun yang dianutnya
Ketiga, menampilkan visi Islam yang dinamis, kreatif, dan inovatif.
Keempat, menampilkan Islam yang mampu mengembangkan etos kerja, etos politik, etos ekonomi, etos ilmu pengetahuan dan etos pembangunan.
Kelima, menampilkan revivalitas Islam dalam bentuk intensifikasi keislaman lebih berorientasi ke dalam (in mard ariented) yaitu membangun kesalehan, intrinsik dan esoteris daripada intersifikasi ke luar (out wad oriented) yang lebih bersifat ekstrinsik dan eksoteris, yakni kesalehan formalitas

Perlunya Sumberdaya Manusia Berkualitas
Berbagai tantangan itu harus kita hadapi untuk mewujudkan masa depan bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wujud masa depan seperti itu jelas tidak akan terjadi dengan sendirinya karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (bangsa) tanpa niat, tekad, dan upaya yang kuat dari bangsa itu sendidri untuk merubah nasibnya.
Berbagai kecenderungan masa depan itu menuntut Lembaga Pensiskan Islam untuk membangun sumberdaya manusia berkualitas dengan menyiapkan generasi muda yang cerdas, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia serta mempnyai kepedulian terhadap masa depan bangsa. Generasi muda yang mempunyai daya tembus dan daya tangkal yang kuat karena kemampuan iptek yang andal, keimanan dan ketaqwaan yang kukuh, etos kerja dan daya juang yang tinggi, serta tanggung jawab kemasyaraktan dan kebangsaan yang tinggi pula. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alamnya saja tanpa meningkatkan kualitas semberdaya manusianya, tisak akan pernah menjadi bangsa yang besar. Sebaliknya, negara yang sumber daya alamnya terbatas tetpai mempunyai sumberdaya manusia yang berkualitas dapat menjadi negara yang maju dan mandiri. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, dengan demikian merupakan suatu prasayarat keharusan yang perlu kita wujudkan. Jika itu tidak terpenuhi, dalam era yang pebuh persaingan, kita akan terlempar ke pinggir, dan bahkan kita akan menjadi orang asing di tanah air kita sendiri.
Peningkatan kualitas sumberdaya manusia dilakukan utamanya melalui pendidikan. Melalui pendidikan sebagai proses budaya dan proses pembentukan karakter akan tumbuh dan berkembang generasi yang mempunyai kematangan intelektual, emosional, spiritual dan moral. Melalui pendidikan akan tumbuh generasi muda yang cerdas, berbudi pekeri luhur serta mempunyai tanggung jawab kebangsaan yang tinggi. Generasi muda yang diperlukan bangsa, juga adalah generasi muda yang sehat sehingga mampu berkiprah secara kreatif dan produktif bagi kemajuan masyarakat dan bangsanya.
Pendidikan yang dilakukan, bukan hanya pendidikan dalam arti sempit di sekolah, tetapi juga dalam arti yang lebih luas mencakup pendidikan dalam keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, keluarga dan masyarakat serta lingkungannya mempunyai peran yang pentingg. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama. Pendidikan di lembaga formal akan berhasil baik jika seorang anak telah dididik dengan baik oleh keluarganya. Sebagaimana disebutkan terdahuku, system pendidikan merupakan system yang terbuka. Berbagai factor di luar system pendidikan meliputi system ekonomi, social, budaya, hokum, hankam dan politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara mempunyai pengaruh yang cukup dominan terhadap kinerja dan output system pendidikan.
System pendidikan nasional adalah suatu system yang kompleks dan sangat dipengaruhi oleh factor eksternal disamping factor internalnya. Seringkali justru factor eksternal itu ysng tidak mendukung, bahkan merusak. Tayangan di TV misalnya. Banyak tayangan yang bertentangan dengan nilai moral dan susila.
Sudah semestianya perubahan sosial dan saingan global harus di awali oleh lembaga pendidikan Islam dengan meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya.
PERAN PEMERINTAH
Pemerintah sebagai representasi negara mempunyai kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka membangun bangsa yang bermartabat. Dalam kaitannya dengan UUD 1945 pasal 31 mengamanatkan bahwa (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; (2) setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdasskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang; (4) negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; (5) pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Selanjutnya, undang-undang no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 11 menyatakan : (1) pemerintah dan pemerintah daerah wajib membrikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi; (2) pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.
Berkenaan dengan pembiayaan, UU sisdiknas menegaskan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sector pendidikan dan minimal 20% dari APBD (pasal 49 ayat 1).
Berdasarkan ketentuan perundangan tersebut, pemerintah mempunyai kewajiban mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu pemerintah pusat dan daerah harus menyediakan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan.
Menyelenggarakan system pendidikan yang berkualitas dapat diartikan tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan pendidikan itu sndiri tetapi juga menciptakan iklim yang mendukung terselenggaranya system pendidikan tersebut guna mencapai tujuannya yaitu menyiapkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mempunyai kepedulian terhadap masa depan bangsa. Menciptakan iklim yang mendukung dilakukan melalui pengaturan (regulasi) dan penyediaan fasilitas.
Karena keberhasilan system pendidikan tidak hanya ditentukan oleh system pendidikan itu sendiri akan tetapi ditentukan oleh berbagai factor lain diluar system pendidikan, maka pengaturan terhadap factor diluar system pendidikan itu pun menjadi sangat penting. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pengaruh media komunikasi dan informasi bias sangat berpengaruh, maka pememrintah mempunyai kewajiban dan peran dalam membuat aturan agar tayangan, penyiaran dan penyebaran informasi di media tersebut tidak mengakibatkan rusaknya atau terganggunya proses pendidikan, baik formal di sekolah maupun informal dalam keluarga.
Peran pemerintah dilakukan dalam beberapa hal, antara lain sebagai berikut :
1. Merumuskan dan menetapkan peraturan perundangan yang memungkinkan penyelenggaraab program pendidikan dapat mencapai tujuannya, terutama keluasan bagia penyelenggaraan Pendidkan Islam.
2. Merumuskan dan menetapkan peraturan perundangan yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan yang adil, luas dan berkualitas.
3. Menyediakan tenaga, sarana dan prasarana bagi pendidikan Islam pendidikan yang memadai baik dalam jumlahmaupun mutunya
4. Memberikan kemudahan bagi berkembangnya peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan Islam yang berkualitas.
5. Membangun kemitraan yang sinergik dengan masyarakat dan dunia usaha (public – private partnership)
6. Memberikan kemudahan agar masyarakat mempunyai keberdayaan untuk menjangkau pendidikan yang berkualitas
7. Menciptakan system pemerintahan yang baik (good govermant)
BAB III
PENUTUP

Lembaga Pendidiakan Islam sudah saatnya menyadari akan perubahan sosial dan tantangan Global, bila ini disadari maka lembaga Pendidikan Islam akan mampu bersaing dan nantianya mampu menelurkan generasi Islam yang sesuai dengan cita-cita luhur agama Islam. Sebaliknya jika perubahan soaila dan persaingan global tidak mampu dihadapi oleh umat Islam, maka lembaga pendidikan Islam akan menjadi sekedar sejara saja bagai generasi mendatang.
Beberapa yang harus dihadapi sekang ini adalah adanya ketidak layakan sumberdaya manusia yang dimiliki oleh lembaga pendidkan Islam, karena itu jalan satu-satunya ialah meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya. Kemudian untuk merumuskan masalah keberlqngsungan pendidikan Islam juga harus ditopang dengan dukungan dariu pemerintah, melalui undang-undanga pendidika yang adali dan merata tentunya. Sehingga tidak terjadi diskriminatif terhadap lembaga pendidikan islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s