RELIGIUSITAS, SPIRITUALITAS, DAN PSIKOLOGI POSITIF

 

  1. A.  Agama dan Fitrah manusia

Beberapa orang mungkin pernah mendengar mengenai kalimat Agama punya seratus atau seribu nyawa, kalimat ini pertama kali dicetuskan oleh Will Durran yang mengatakan bahwa “Agama memiliki seratus jiwa. Segala sesuatu jika telah dibunuh pasti akan lenyap, kecuali agama. Sekiranya ia seratus kali dibunuh, ia akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.”[1] Komaruddin Hidayat yang dikenal sebagai tokoh spiritual modern juga menulis sebuah buku yang berjudul “Agama Punya Seribu Nyawa” ini diambil dari sebuah tulisannya mengenai Psikologi Keagamaan yang menjelaskan bahwa “Agama itu sudah diprediksi oleh para ilmuan sejak ratusan tahun lalu akan menghilang, tapi nyatanya agama sampai detik ini tetap ada, karena agama punya seribu nyawa.”[2] Abdul Karim Soroush pemikir besar Iran berkata bahwa alih-alih agama menghilang, justru agama saat ini menemukan ritmenya yang baru yang lebih logis, dewasa dan menentramkan, memang sekularisasi terjadi tapi profanasi (usaha untuk menjadi segala hal bersifat duniawi) tidak terjadi.[3]

Artinya dari banyak tesis yang mengatakan bahwa agama akan menghilang itu salah besar, karena tidak lain alasannya adalah satu bahwa agama adalah fitrah manusia.

Murtadha Mutahhari dalam buku Manusia dan Agama menjelasakan bahwa agama sebagai fitrah manusia dikarenakan agama merupakan kebutuhan dasar yang alami, sifat ini bisa dilihat dari dua bentuk, pertama bahwa agama sebagai kebutuhan fitri dan emosional, kebutuhan itu juga tidak ada satupun yang dapat menggantikannya. Seperti halnya kebutuahan akan adanya cahaya. Ketika manusia memanfaatkan listrik sebagai cahaya maka lilin, pelita minyak dll tidak akan dibutuhkan, akan tetapi itu semua karena fitrah cahaya yang dibutuhkan bukan lantaran listriknya. Begitupun halnya dengan agama, bahwa fitrah agama yang memang menetramkan dan hanya dialah yang mampu menentramkan menjadi kebutuhan dasar manusia sampai kapanpun.[4]

Muthahhari juga menjelaskan bahwa fitrah manusia itu tidak mampu dilepaskan oleh manusia, seperti kecantikan dan rasa nikmat makan. Kedua kebutuhan ini tidak mungkin dilepasakan oleh manusia, Karena tidak ada sarana lain untuk menggantikannya.

  1. B.  Psikologi dan Spiritulitas

Carl Gustav Jung mengatakan “Dari sekian banyak pasien yang saya hadapi, tak satupun dari mereka yang problem utamanya bukan karena pandangan religius, dengan kata lain mereka sakit karena tidak ada rasa beragama dalam diri mereka, apalagi semuanya sembuh setelah bertekuk lutut di hadapan agama.”[5]

Pernyataan di atas nyata sekali bahwa ada keterkaitan kesehatan jiwa seseorang dengan keberagamaan. Dalam beberapa literatur, Willam  James – salah satu pelopor penyadaran akan psikologi dan agama- mengatakan hidup dibawah naungan agama memiliki dua keistimewaan yang menonjol: aktif aktifitas dan dinamis, seerta sukacita dan ketenangan jiwa. .[6]  Bagi James ada ketenangan jiwa dalam agama, sehingga spiritualitas sebenarnya akan mengantarkan seseorang pada bentuk mental yang sehat.

Dalam ilmu kedokteran misalnya dikenal dengan istilah Psikosomatik, bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa mersa cemas, susah, dan gelisa makan badan ikut menderita.[7] Bahkan lebih rinci lagi sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhammad Mahmud Abd Qodir bahwa ada hubungan antara kesehatan mental dengan pendekatan biokimia, dia berkesimpulan bahwa segala bentuk gejala emosi dalam diri manusia seperti takut, cemas, dan pengecut adalah pengaruh dari persenyawaan kimia hormon, yaitu dalam tubuh seseorang terdapat  kelenjar hormon noradrenalin yang jika cemas maka noradrenalinnya menjadi tinggi, dan begitupun sebaliknya.[8]

Sekarang ini setidaknya ada tiga aliran pemikiran mengenai agama dan piskologi;  

Pertama adalah mazhab trdisional yang bersifat primitif yang menyakini benda dan alam gaib memiliki pengaruh kejiwaan padanya, seperti mitos, sihir, dan hal sejenisnya. Kedua, mazhab yang bersadar pada prinsip filsafat, sebagaimana Budha dan Konfusianisme. Mazhab ini menawarkan adanya hubungan kesehatan manusia dengan penyucian hati, harmoni diri dengan sosial, serta sikap menerima terhadap penderitaan.

Ketiga, mazhab yang berbasis pada tauhid. Mazhab ini berkeyakinan bahwa kesehatan psikis bergantung pada hal yang fundamental, yaitu terhadap pandangan dunia yang logis, representasi ilahi, kembali pada Tuhan dan membenahi prilaku, dan menolak pesimisme dan nihilisme. Mazhab ini meyakini hari akhir dan kenabian sebagaiman yang dianut oleh Islam.[9]

Dengan demikian beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh mental terhadap kesehatan seseorang, Menurut beberapa tokoh, mental yang baik adalah mental yang selalu terjaga dengan jiwa-jiwa agama seperti yang dibahas di atas.

  1. C.  Spiritualitas, Religiusitas dan Psikologi Positif

Istilah agama dan spiritulitas sering digunakan secara bergantian. Menurut para ahli, penegrtian agama lebih jelas dan kongkrit sehingga dapat diukur dan diteliti. Berbeda dengan pengertian spiritualitas yang sifatnya lebih abstrak sehingga sulit untuk diukur dan diteliti.[10]

Pengertian spiritulitas dan agama di atas agak sedikit berbeda, hal yang abstrak  seperti perasaan rindu dan cinta kepada Nabi, kedekatan kepada Sang Pencipta. Sedangkan agama menurut penulis lebih bersifat ritual, seperti ibadah, puasa, dan ziarah. Jadi, agama sudah termsuk spiritualitas, sedangkan spirtualitas belum tentu percaya agama. Sebagaimana yang banyak terjadi di dunia sekarang ini, beberapa orang mengatakan percaya kepada Tuhan, namun tidak percaya dengan agama dalam istilah ini terkenal dengan “Spiritualuty Without Religion” atau agnoistik dan deisme.

Secara tradisional, konsep beragama atau religiusitas tidak membuat nyaman para ahli karena menurutnya tidak pantas untuk diteliti. Para ahli beralasan bahwa konsep beragama tida memiliki dimenis yang jelas sehingga dampaknya terhadap intelektualitas tidak berarti, namun ada yang beberapa psikolog kontenporer yang tertarik tentang kosep agama, karena sifatnya yang berdimensi dan komplek, apa lagi perhatian kepada religiusitas berhubungan erat dengan peningkatan kepuasan hidup dan kesejahteraan psikologi manusia.[11]

Dalam sebuah buku dijelasakan, bahwa beberapa pakar psikologi di Amerika mengatakan, bahwa di Barat sekarang ini mulai meuncul kritik terhadap ekonnomi yang berorientasi pada akumulasi kekayaan dan keuntungan, mulai muncul teori baru ekonomi yang berorientasi pada kebahagiaan. Berdasarkan survey mereka selama 50 tahun terakhir, rata-rata penghasilan penduduk naik sampai dua atau tiga kali lipat. Ternyata, kenaikan tersebut tidak selalu berhubungan positif dengan tingkat kebahagiaan hidup terutama setelah peristiwa 11 september, bahkan masyarakat Amerika merasa dihantui kecemasan, dunia dirasakan tidak lagi ramah dan menetramkan.[12]

Dari kalimat di atas memunculkan sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya manusia modern menginginkan kebahagian yang imateri, seperti perasaan tenag dan sukacita batin. Karenayanya kebutuhan akan ketenangan batin bisa ditunjukka dari kecenderungan dekatnya seseorang terhdapa sang Pencipta.

Dalam sebuah penelitian dari Universitas Sains Louis yang menyebutkan dalam bukunya Faktor-faktor yang terlupakan dalam Kesehatan Jiwa, bahwa Orang-orang yang paling tidak seminggu ke gereja akan paling sedikit mengelami gangguan kejiwaan.” Menurut Murthadha Mutahahari bahawa beribadah dan berdoa adalah penyembuh batin kita, ucapnya “Bila olah raga penting untuk kesehatan kita, dan jika air penting untuk disediakan di rumah, maka begitupula halnya dengan ibadah dan doa. Jika seseorang meluangkan beberapa saat dalam sehari untuk berdoa ke hadirat Allah, maka betapa hatinya akan menjadi bersih.[13]

Bentuk atau aktualisasi dari religiusitas memang berbeda-beda, namun tokoh dan beberapa orang yang mengitkanya denga pengalaman religius, semaca mimpi dan pengalaman mistik.  Bahkan Abraham Maslow mengatakan bahwa pengalaman mistik adalah pengalam puncak manusia. Mereka yang merasakan dan mengalami pengalaman mistik merasa puas dengan dunia yang menurutnya memilki tatanan yang baik, mengagumkan, dan mengasyikkan. Juga tidak pernah menganggap dunia sebagai pusat kejahatan, semua terlihat menarik, menyejukkan, dan indah.[14]

Menurut William James membagi karakteristik pengalaman mistik kepada empat; pertama, pngalaman mistik yang bersifat sementara. Kedua, pengalaman mistik itu tidak mampu diungkapkan dengan bahasa verbal. Ketiga, bahwa setelah mengelami pengalaman mistik akan merasakan benar-benar pelajaran yang berharga dari pengalaman tersebut. Keempat, pengalaman mistik terjadi tanpa kendali kesadaran.[15]

Segala hal yang ada pada penjelasan di atas, menunjukkan adanya, pencarian kebahagiaan melalui agama, baik itu religiusitas ataupun spiritualitas sebagaimana yang dikatakan oleh Abraham Maslow. Perasaan akan kedekatan diri kepada religiusitas bisa memunculkan sebuah pengalaman mistik yang sulit untuk diungkapkan yang menurutnya sangat berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, bahkan William James mengatakan pengalaman religius adalah pencak dari segala pengalaman. Terakhir Dr. Zakiah Derajat mengatakan bahwa agama sangat ampuh untuk menetramkan kejiwaan manusia, terbukti dengan adanya keluhan masyarakat Barat yang banyak meninggalkan kehidupan beragama banyak mengalami kesukaran-kesukaran batin dan harus berkonsultasi pada ahli kejiwaan.[16] Penelitaan itu juga diperkuat dengan adanya hasil penelitian yang mencengangkan, bahwa produksi obat penenang di Eropa menembus angka lima juta dus dan 160 ribu butir obat dikonsumsi, ini menunjukkan kekalutan yang tinggi dengan jiwa mereka.[17]Sudah saatnya kita untuk tetap terus pada pendirian ketimuran yang dekat dengan Tuhan, denkat dengan agama. Karena agama mampu menenangkan respon jiwa yang carut marut, mampu mendekatkan kepada yang Suci, dan mendekat dengan Sang Pencipta, yaitu hakikat dari kebahagiaan.

Psikologi positif yang disebut dengan Psicology Well Being menunjukkan keterkaitanyang erat dengan spiritualitas dan religiusitas.

 

 

 

 

 

                                                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III

PENUTUP

Kesimpulan

Hasil makalah kami menyimpulkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki naluri alamiah dan kebutuhan dasar (fitrah) akan agama, baik itu disebut spiritualitas atau religiusitas. Kemudian religiusitas dan spiritualitas mengandung arti yang abstrak dibanding dengan istilah agama, religiusitas dan spiritualitas lebih bersifat pengalaman beragama sedangkan istilah agama lebih kepada pandangan ritual.

Beberapa tokoh memaparkan tentang efek positif mencari kebahagiaan lewat media agama, karena sudah banyak bukti bahwa Barat justru kini menyadari akan kebagian yang hakiki yaitu kembali kepada jalan Tuhan, bukan kepada kepuasan materialistik. Menurut kami sebagaimana yang disampaikan di atas bahwa kebanyakan tokoh psikologi dan kesehatan mental menyimpulkan perhatian kepada religiusitas berhubungan erat dengan peningkatan kepuasan hidup dan kesejahteraan psikologi manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin. Drs. Yusak, Kesehatan Mental, Bandung: Penerbit Pustaka Setia, 1999.

Gazi, M.Si., Psikologi Agama; Memahami Pengaruh Agama Terhadap Perilaku Manusia, Jakarta: Lembaga Peneliti UIN Syarif Hidayatullah, 2010.

Hidayat. Komaruddin, Psikologi Beragama, Jakarta: Hikmah, 2008.

Jalaluddin. Prof, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.

Kuhsari, Ishaq Husaini, Al-Qur’an dan Tekanan Jiwa, Jakarta: Sadra Press, 2012.

Muthahari. Murthadha, Manusia dan Agama, Bandung: Penerbit Mizan, 2010.

Soroush. Abdul Karim, Menggugat Otoritas, Bandung: Penerbit Mizan, 2005.


[1] Murthadha Muthahari, Manusia dan Agama, (Bandung: Penerbit Mizan, 2010), hlm. 47

[2] Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, (Jakarta: Hikmah, 2008), hlm 43.

[3] Abdul Karim Soroush, Menggugat Otoritas, (Bandung: Penerbit Mizan, 2005), hlm 83.

[4] Murthada Muthahari, Op.Cit., hlm. 47-48.

[5] Ishaq Husaini Kuhsari, Al-Qur’an dan Tekanan Jiwa, (Jakarta: Sadra Press, 2012), hlm. 9.

[6] Ibid., hlm. 8.

[7] Prof. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 166.

[8] Ibid., hlm. 168.

[9] Ishaq Husaini Kuhsari, Op.Cit., hlm. 8.

[10] Gazi, M.Si, Psikologi Agama; Memahami Pengaruh Agama Terhadap Perilaku Manusia, (Jakarta: Lembaga Peneliti UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm. 20.

[11] Gazi, MSI, Op.Cit., hlm.  71.

[12] Komaruddin Hidayat., Op.Cit., hlm. 138.

[13] Gazi, MSI, Op.Cit., hlm.  69

[14] Ibid., hlm. 72

[15]Ibid., hlm.  78

[16] Drs. Yusak Burhanuddin, Kesehatan Mental, (Bandung: Penerbit Pustaka Setia, 1999), hlm. 110

[17]Ishaq Husaini Kuhsari, Op.Cit., hlm. 3.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s