KESEHATAN MENTAL PRESPEKTIF ISLAM

 

  1. A.    Pengertian Kesehatan Mental

Ketika melihat kata kesehatan mental mungkin di benak kita akan terlintas beberapa gambaran mengenai ini, namun apakah yang kita prasangkakan itu benar sesuai dengan tinjauan keilmuan. Karena itu untuk meyakinkan akan pengetian dan pemahamana kita tentang Kesehatan Mental, kami akan telebih dahulu memberikan pengertian kesehatan mental.

Menurut tinjauan etimologi, mental berasal dari  bahasa latin yang yaitu “mens” atau “mentis”, yang memiliki arti jiwa, roh, dan nyawa. Dalam bahasa Yunani kesehatan diartikan dengan hyegine atau ilmu kesehatan, dan kesehatan mental masuk dalam bagian hyegine mental (ilmu kesehatan mental).[1]

Selanjutnya secara istilah kesehatan mental dipaparkan oleh Dr. Kartini Kartono adalah mereka yang memiliki kemampuan bertindak secara efisien, memiliki tujuan hidup yang jelas, memiliki koordinasi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya, memiliki regulasi diri, intergritas kepribadian, dan memiliki batin yang selalu tenang. [2]

Sedangkan menurut tokoh Psikologi nasional Prof. Zakiya Drajat kesehatan mental adalah mereka yang pertama, terbebas dari neorosis (penyakit jiwa yang sulit disembuhkan), dan terbebas dari psikosis (gangguan dan kerusakan dalam otak yang menyebabkan salah menefsirkan orang lain dan situasi). Kedua,  mereka yang ada harmoni antara pikiran, jiwa, dan perbuatan. Ketiga, mereka yang sehat mental adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri. Dan keempat, mereka yang sehat mental adalah yang mampu mengembangkan minat dan bakat.[3]

Kemudian dalam perkembangannya, para ahli ilmu jiwa melihat gejala kejiwaan manusia yang semakin hari semakin sulit diperkirakan, apalagi gejala tingkah laku manusia yang berbeda sekalipun di satu tempat yang sama membuat para ahli semakin penasaran, untuk menjawab penyebab itu semua- ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia-akhirnya para ahli memunculkan salah satu cabang dari ilmu jiwa yaitu kesehatan mental.[4]

Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan mental dan jiwa, yang bertujuan mencegah timbulnya gangguan dan penyakit mental dan gangguan emosi, dan berusaha mengurangi penyakit dan menyembuhkannya, serta memajukan kesehatan jiwa masyarakat, sebagaimana yang ditulis oleh Dr. Kartini Kartono dalam bukunya Hygene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam.[5]

Sementara itu ilmu jiwa dan kesehatan jiwa juga ada dan dibahas dalam Islam, seperti istilah ilmu nafs, ilmu akhlak, dan irfan. Bila ditelusuri dari beberapa literatur keislaman, sebut saja saja Hadits Nabi, sesungguhnya Nabi pernah menerangkan apa yang dimaksud dengan ganguan jiwa. Misalnya suatu hari seorang sahabat bersama Nabi berkata “Lelaki itu orang gila”, namun Nabi SAW menyanggahnya “Dia bukan orang gila, dia hanya orang sakit.” Lalu Nabi meneruskan “orang gila adalah orang yang senantiasa berbuat dosa.”[6]

Dalam pandangan Islam yang diwakili oleh Nabi Muhammad memang terlihat sekali bahwa kecondongan kepribadian yang abnormal tidak lagi disebut secara negatif, malahan Islam begitu agung dengan menempatkan manusia di tempat yang tinggi, sekalipun pada masalah kejiwaan, bukan gejala neorosis, namun menurut Nabi hanya orang sakit.

 Sedangkan Nabi menegaskan orang yang sakit jiwa adalah mereka yang sering berbuat maksiat, dalam arti lain mereka yang sering mendustkan Tuhan, Tuhan yang sebenaranya-dalam logika orang sehat adalah zat yang memberinya segala nikmat, dari nikmat yang dipinta sampai nikmat yang tidak dipinta. Karena itu orang gila adalah orang yang secara akal waras namun tidak bisa menggunakan akalnya, yaitu untuk orang yang sadar tapi mendustakan Tuhan-Mungkin gambaran yang jelas sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ghazali ketika menjelaskan bahwa tubuh kita adalah amat dan nikat dari Tuhan, namun bagaimana bisa amat dan nikmat dari Tuhan ini malah kita gunakan untuk menentang Tuhan, maka tidakkah ini yang disebut dengan kufurnya kufur.[7] Jelas, inilah yang disebut ketergangguan mental menurut Rasulullah Muhammad SAW.

Maka jelas perbedaan antara pandangan Islam dan ahli kejiwaan apa yang dibahas oleh ahli kejiwaan kontenporer bahwa Islam memberikan definisi kesehatan mental dengan kaitannya kepda penghambaan diri terhdap Tuhannya, berbeda dengan ahli kejiwaan kontenporer bahwa kesehatan mental hanya berkaitan pada tidak adanya gangguan dalam jiwanya.

  1. B.     Islam dan Kesehatan Mental

Agama Islam sepanjang abad telah banyak memikat lebih dari jutaan manusia di dunia. Mereka berasal dari berbagai bangsa yang tersebar seantero jagat. Islam mengubah pola hidup mereka dan membentangkan tujuan paling agung untuk ditempuh. Islampun menegakkan aturannya, baik untuk kehidupan sosial atau kehidupan individu. Tak mungkin dipungkiri, agama yang memiliki kriteria ini pasti memiliki prisnsip-prisip psikologi yang khas. Sebagaimana yang dijelaskan di atas bahwa Islm telah lama mengenal istilah ilm al-nafs, akhlak, dan irfan yang kesemuanya memiliki keterkaitan kepada kejiwaan. [8]

Al-quran sebagaimana disebutkan dalam ayatnya menyebutkan bahwa firman-firman Tuhan adalah penyembuh dan kasih sayang bagi mereka yang mempercayai.[9] Karena itu boleh jadi banyak yang kita tidak tahu apa saja yang sebut sehat jiwa atau normal dalam pandangan al-Qur’an, bisa saja apa yang kita anggap norman tenyata wawasan al-Qur’an mengatakan bahwa termsuk mengidap penyakit jiwa. Dalam sebuah riwayat Mas’adah bin shadaqah meriwayatkan “Mempelajari al-Qur’an menjadi cara untuk menyembuhkan ruhani.” Bahkan Nabi bersabda “al-Quran adalah hidangan Tuhan, sesuai dengan kemampuan kalian, maka nikmatilah hidangan ini.”[10]

Seputar kaitanya dengan muamalah, al-Quran mengajarkan bagaimana sesama manusia untuk saling menghargai dan menghormati sebagaimana yang tercatat dalam surat al-Mujadalah, “Wahai orang yang beriman jauhkan lah diri kalian dari prasangka buruk, karena itu bagain dari dosa. Dan janganlah kalian saling mengumpat antar satu dengan yang lain, dan jangan kalian membenci antar kalian, suka kah kalian memakan bangkai saudara kalian sendiri, pasti kalian tidak akan senang.

Ayat di atas menggambarkan bagaimana kebencian dan segala sifat kejelekan yang ada di dalam hati adalah perbuatan yang sangat pengecut, yaitu memakan daging saudara yang sudah menjadi mayat yang notabennya tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu di samping untuk saling menghormati sesama manusia, Islam juga mengetahui bagaimana dampaknya kesehatan mental bagi pemeluk Islam. Jika mental antar sesama muslim bagus, maka jasmani dan sosialnya akan berjalan dengan baik.

Dalam sebuah hadits Nabi bersabda, “wahai umat muslim janganlah kalian saling membenci, saling menghina, dan saling mengecilkan antar kalian, sesungguhnya Islam itu ada di sini (Rasul mengisyaratkan dengan menunjukkan tiga kali ke dadanya).”[11] Hadits ini menerangkan bahwa Islam bukan sekedar ritual, tapi Islam juga penting dalam menjaga perasaan hati seseorang, Islam itu menjunjung tinggi kejiwaan orang lain dan diri sendiri.

Di dalam al-Quran beberapa ayat yang menunjukka ketenangan jiwa dan ketentraman disandingkan dalam beberapa bentuk. Pertama, ka’bah, disebutkan dalam surat ali Imran ayat 95-96 “Siapa yang mendatangi ka’bah niscaya akan mendapatkan ketenangan.” Juga di surat lain bahwa Nabi Ibrahim berdoa memohon kepada Tuhan untuk menjadikan kota Mekkah sebagai kota yang penuh berkah dan tentram “Dan ingatlah ketika kami menjadikan ka’bah sebagai tempat kembali yang penuh ketntaraman  bagi umat Islam.”[12]

Kedua, ketentraman disandingkan dengan kenikmatan yang Allah berikan sebelumnya sebagaimana disebutkan dalam surat al-Quraisy “Ia yang telah mengenyangkan kalian dari rasa lapar dan memberikan ketentraman dari rasa takut dan bahaya.[13]

Ketiga, al-quran menyandingkan kata ketentraman dan kebahagiaan sebagai ciri dari penghuni surga. “Wajah-wajah itu dihari kelak cerah, ceria, gembira dan bahagia.[14]

Keempat, al-Quran memberikan solusi jika ingin mereguk ketenangan dan kebahagiaan hendaklah bersandar dan bertawakkal kepada Allah.[15]

  1. C.  Tokoh-tokoh Kesehatan Jiwa

Banyak sekali beberapa pemaparan seputar Islam dan kesehatan Jiwa, perlu juga diketahui di sini bahwa Islam banyak memiliki ilmuan dalam bidang kesehatan jiwa sejak lama mereka di antaranya[16];

Ali bin Rabban Thabari (192-247 H)

Imengarang kitab firdaus al-Hikmah tujuh jilid yang berisi tentang persoalan di dalam kedokteran.

Abu Bakar al-Razi (113-251H)

Ia memiliki karya di dalam ilmu psikologi yaitu Tibb al-nufus, ia berpendapat bahwa jiwa dan raga memiliki keterkaitan yang erat. Salah satu pasiennya yang disembuhkan adalah Amir Mansur al-Yamani yang menderita rematik, dia memberi solusi lewat nasehat untuk meredam emosi dan amarah.

Imam Ghazali

Dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan macam-macam penyakit jiwa, yang pada dasarnya akan menyengsarakan manusia di kehidupannya. Juga di dalam karyanya “Kimiyau Sa’adah” al-Ghazali memberikan solusi mendapatkan kebahagiaan.

Ali bin Abbas Ahwazi (318-384 H)

Karyanya al-Shina’ati Tibbiyah yang menjelaskan secara rinci soal penyakit kejiwaan. Sekalipun dia penganut zoroaster, namun ia besar dilingkungan muslim.

 

 

 

Abu Bakar Rabi bin Ahmad Ahkwaini

Karyanya Hidayat Mutallimin fi al-Tibb, ia terkenal karena dapat menyembuhkan penyakit melankolia, karena itu dia dijuluki dokter orang-orang gila.

Ibn Sina (370-427 H)

Karyanya yang terkenal al-Syifa menuliskan dalam bab pertamanya tentang seluk beluk kejiwaan. Ibn Sina menyadari adanya efek penyakit pada kejiwaan dan efek kejiwaan terhadap penyakit. Juga dalam al-nabd dia membahas tentang emosi, dan dalam kitab al-Qanun ia juga menuliskan tentang penyakit-penyakit jiwa.[17]

Nashiruddin al-Thusi (597-672 H)

Pengarang kitab Akhlaq al-Nasiry mengulas banyak tentang Psikologi.

Dan mungkin masih banyak lagi para tokoh-tokoh Islam yang membahas tentang Islam dan kesehatan Jiwa atau mental.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Quran al-Karim, Depag.

Al- Nawawi. Abu Muhammad Zakariya,  Arbain Nawawi, Libanon: Darul Fikr, 2010.

Burhanuddin. Drs. Yusak, Kesehatan Mental, Bandung: Penerbit Pustaka Setia, 1999.

Gazi, M.Si, Psikologi Agama; Memahami Pengaruh Agama Terhadap Perilaku Manusia, Jakarta: Lembaga Peneliti UIN Syarif Hidayatullah, 2010

Kuhsari. Ishaq Husaini, Al-Qur’an dan Tekanan Jiwa, Jakarta: Sadra Press, 2012.

 


[1] Drs. Yusak Burhanuddin, Kesehatan Mental, (Bandung: Penerbit Pustaka Setia, 1999), hlm. 9.

[2] Ibid.,

[3] Gazi, M.Si, Psikologi Agama; Memahami Pengaruh Agama Terhadap Perilaku Manusia, (Jakarta: Lembaga Peneliti UIN Syarif Hidayatullah, 2010), hlm. 121

[4] Drs. Yusak Burhanuddin, Op.Cit., hlm. 10

[5] Ibid.,

[6] Ishaq Husaini Kuhsari, Al-Qur’an dan Tekanan Jiwa, (Jakarta: Sadra Press, 2012), hlm. 5.

 

[7] Abdus Shamad Palembang, ———–,(—–,—–,—-), hlm.

[8]Ishaq Husaini Kuhsari, Op.Cit., hlm. 5.

[9] Q.S Al-Isra: 82.

[10] Ishaq Husaini Kuhsari, Op.Cit., hlm. 13.

[11] Abu Muhammad Zakariya al-Nawawi,  Arbain Nawawi, ( Libanon: Darul Fikr, 2010), hlm. —-.

[12] Q.S. Al-baqarah: 125

[13] Ishaq Husaini Kuhsari, Op.Cit., hlm. 13.

[14] Q.S. ‘Abasa: 38-39

[15] Q.S Al-Falaq

[16] Ishaq Husaini Kuhsari, Op.Cit., hlm, 6-7.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s