Perbandingan Ilmu Alam dan Ilmu Sosial

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kejayaan Barat dari penguasaan ilmu tidak lepas dari peran kaum terdidik mereka, salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah perkembangan ilmu dan klasifikasinya. Perkembangan ilmu dari teoritis kepda empiris menjadi salah satu kunci keberhasilan Barat. Kaum Positivistik yang menguasai konsep keilmuan Barat memulai pemikirannya dari pengokohan ilmiah dengan non-ilmiah. Dari yang mampu diuji coba dengan tidak diuji coba. Sampai pada akhirnya pemberian lebel adaya ilmu-ilmu sosial alam dan ilmu-ilmu sosial.

Beberapa ahli dan ilmuan mencoba memaksakan menyamakan metodelogi ilmu sosial kepda metodelogi ilmiah ilmu alam, namun juga tidak sedikit dari mereka yang bersikeras dengan metodelogi yang berbeda dengan ilmu alam, di bawah ini beberapa pembahasan kecil mengenai Ilmu Alam dan Ilmu Sosial serta tinjauan perbedaan metodelogis keduanya.

B. Rumusan Masalah

Pembasan makalah ini hanya akan mencari jawaban seputar;

1. Apa pengertian Ilmu Alam dan Ilmu Sosial?

2. Perbedaan Metode apa antara ilmu alam dan ilmu sosial?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ILMU ALAM DAN ILMU SOSIAL

A. Ilmu-Ilmu Alam dan Ilmu Pengetahuan

1. Pengertian Ilmu Alam da Ilmu Sosial

Terlalu luasnya jangkauan ilmu di kemudian hari dan ketidakmungkinan manusia untuk merangkuh semuanya membuat penting adanya klasifikasi ilmu, atau pemisahan ilmu-ilmu, gunanya untuk mempermudah setiap orang mengetahui jenis pengetahuan yang diinginkan sesuai dengan minat dan kecenderungan dirinya.[1] Beberapa tokoh filosof akhirnya membedakan ilmu pengetahuan kepada dua, yaitu ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial.

Ilmu pengetahuan alam membatasi dirinya dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati. Sedangkan ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu yang membatasi diri pada gejala kehidupan manusia, baik itu gejala yang bersifat fisik atau bukan. Yang termasuk dalam bagian ilmu alam adalah fisika, kimia, biologi, matematika, dan ilmu medis. Sedangkan yang masuk pada ilmu sosial adalah sosiologi, antropologi, psikologi, politik,[2] dll. Secara mendasar bahwa landasar ontologis, epistimologis, dan aksiologis kedua imu tersebut adalah sama. Beberapa perbedaannya terdapat dalam pendekataan dan metodologi.[3]

Pemunculan istilah ilmu-ilmu alam dan non-alam sebenarnya tidak lepas dari peran kaum Positivisme yang sangat mendominasi di Abad 20. Positivisme mengajukan sebuah doktrin yang dinamakan kesatuan ilmu, doktrin ini yang mendasari bahwa keabsahan suatu ilmu harus didasarkan pada kesatuan metode dan bahasa. Singkatnya, menurut kaum positivis bahwa ilmu sosial, secara epistimologis, metodologis, dan ontologis , wajib mengikuti ilmu alam.[4]

Memang, beberapa tokoh ada yang sepakat dan tidak mengenai hal pemisahan ilmu alam dan ilmu sosial, beberapa dari merka mengatakan bahwa perlu rasanya membawa ranah ilmu-ilmu sosial kepada ranah yang lebih bias diandalakan, seperti halnya ranah ilmu alam. Ilmu alam begitu maju pesat dibaning dengan ilmu sosial, mereka mengklaim bahwa ilmu sosial lambat karena berbeda hal dengan ilmu alam, ilmu sosial memilki objek yang statis, yaitu sentiasa tidak pasti, hal demikianah yang membuat ilmu-ilmu sosial lebih mengikuti jalur teoritis disbanding praktis, atau lebih bersifat kualitatif dibading kuantitatif. Sehingaa ilmu sosial berjalan sendiri terpisah dengan ilmu alam.[5]

Namun, belakangan ada beberapa ilmuan sosial yang ikut dalam saran untuk mendekatkan ilmu sosial pada hal yang bersifat kuantitatif. Merekamengmembangkan apa yang mereka sebut dengan ilmu-ilmu prilaku manusia (behavioral sciences), tujuan mereka hanya ingin menjadikan ilmu tentang manusia sebagai ilmu yang bias lebih diandalkan dan kuantitatif.[6] Tahap paling awal dari gagasan menjadikan ilmu sosial sebagai kualitatif dipelopori oleh ekonomi, kemudian ilmu psikologi dan sosiologi.[7]

B. Perbandingan Metode Ilmu alam dan Ilmu Sosial

Metode yang diterapkan pada ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan oleh positivistik adalah menyamakan segala bentuk pengambilan dasar epistimologis, metodologis, dan ontologis. Karenanya secara umum kedua nya sama dalam hal tadi, yaitu ilmu sosial sama dengan ilmu alam dalam segi epitimologi dari keterpisahan subjek dengan objek, dari segi metodologi ilmu alam dan ilmu sosial memiliki prosedur yang terkontrol dan structural agar menghasilkan pengetahuan yang objektif, dan secara ontologis semesta sosial harus sam dengan semsta alam yang bekerja berdasarkan keteraturan mekanis dengan hukium-hukum yang deterministik.[8]

Ilmu alam adalam kajiannya hanya membatasi diri pada hal yang dapat diamati, beberapa pemikir memberikan penjelasan yang sukup banyak seputar aturan dan pokok-pokok ilmu alam. B. Suprapto mengatakan bahwa ada tiga aturan yang melandasi keberhasilan ilmu alam.

Pertama, bahwa ilmu alam itu memiliki pengamtan yang berulang-ulang. Ilmu alam mengamati gejala-gejala alam dengan panca indra, dan juga bahwa pengamatan itu bias diulang oleh orang lain dengan pengamatan berulang kali hingga tidak diragukan lagi kebenarannya.

Kedua, jalinan antara teori dengan pengamatan. Ilmu alam bukan hanya berupa kumpulan lukisan gejala alam. Ada keyakinan bahwa masing-masing gejala alam itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dalam suatu pola sebab dan akibat yang dapat dipahami degan penalaran yang seksama. Seperti teori Newton yang muncul dari proses begitu saja, namun teoori ini muncul dengan proses yang panjang, melalui pertama didahuliu oleh  revolusi pemikiran Copernicus, didahului oleh teori dan pengamatan Galileo. Begitu pula teori relativitas Enstein, juga teori kuantum yang kesemua proses itu berjalan dengan lama.  Dengan kata lain, teori-teori yang besar dalam ilmu alam pada umumnya lahir sebagai karya bersama dari rentetan pengamatan dan teorI yang saling menopang.

Ketiga, adanya kemampuan meramalkan gejala alam yang lain. Ilmu yang hanya sanggup mengumpulkan informasi dan merangkaikannya  akan berupa ilmu yang pasif. Karenanya ilmu dituntut untuk bias aktif, dengan cara membuat pedoman untuk menuntut suatu teori ilmu-ilmu alam agar tidak hanya sanggup merangkaikan segala gejala-gejalA yang diketahui tetapi juga sanggup meramalkan gejala alam lain yang belum dikenal, gejal itupun harus dirumuskan dalam bentuk oprasional  sehingga memungkinkan untuk diuji dengan eksperimen.[9]

Dibadingkan dengan ilmu alam yang tumbuh pesat, ilmu sosial justru tumbuh secara lambat. Beberapa hal ditenggarai ada perbedaan metodologis di atara keduanya.  Seperti penemuan gelombang radio yang dalam peemuannya sudah diramal bahwa akan ada gejala seperti suatu getaran lisrik akan memancarkan pengaruh sekelilingnya secara berantai tanpa memerlukan media.[10]

Dalam perkembangannya ada banyak pilihan dalam mengembangkan ilmu-ilmu alam pun demikian dengan ilmu-ilmu sosial, namun beberapa tokoh posivistik yang sangat menginginkan penyatuan metodologi ilmu alam dan ilmu sosial. Mereka ingin ilmu sosial bersifat kuantitatif dan maju sebagaimana keberhasilan dan penjelasan di atas. Namun ada juga yang ingin menentukan jalannya sendiri yang mengatakan bahwa ilmu sosial memiliki kajian yang berbeda dengan ilmu alam,[11] beberapa sifat dan ranah kajian yang berbeda tentu akan menggunakan metode yang berbeda, tokoh seperti Kal Popper, Kuhn, dan Feyereben yang kemudian mendahuli dan mengacak-acak sistem yang telah diajukan oleh kaum positivis. Pengaruh dan pemikiran itu kemudian menyebar kepada tokoh-tokoh lain.

Di bawah ini disebutkan oleh Deobold bahwa ada hal yang berbeda dari system dan kajian ilmu alam dengan ilmu sosial. Bahwa ada beberapa alsa yang meungkin bias dijabarkan dan dicermati secara bersama sebagai berikut;[12]

Pertama, Ilmu-ilmu sosial terlihat lebih luas dan komplek dibanding dengan ilmu alam. Sehingga keluasananya membuat daya jangkau subjek kepada objek menjadi terasa jauh. Seperti halnya stinggkat kejaidan sebiah prilaku sosial akan berbeda bila bila objek kajiannya berbeda. tidak seperti Ilmu alam yang hanya mendasarkan kepada objek yang diamati secara berulang-ulang.

Kedua, bahwa yang membuat ilmu sosial lambat adalah kesulitan dalam pengamatan. Tidak seperti halnya ilmu alam yang mampu mengamati gejala alam secara dekat dan langsung lewat media indra., ilmu sosial sangat sulit mengunakan pengamatan langsung., bahwa benar ahli ilmu sosial mengamati gejalanya lewat meraba, mencium, atau mengecap gejala yang sudah terjadi dimasa lalu.

Ketiga, objek penelaahan yang tidak terulang. Bahwa benar imu sosial tidak seperti ilmu alam yang dalam penelaahannya bersifat seraqgam dan  gejala tersebut dapat diamati sekarang. Jelas, bahwa gejala sosial banya yang bersifat unik dan sukar untuk terulang kemabali. Keempat, hubungan antara ahli dan objek sosial. Benar, bahwa objek ilmu sosial adalah manusia, yang sifatnya berubah-ubah sesuai dengan keingina dan pilihan manusia, karenanya gejala sosial berubah secara tetap sesuai dengan tindakan manusia. Berbeda halnya dengan ilmu  alam, yang meneliti benda mati yang berbeda dengan manusia yang begerak dan senantiasa berubah. Ilmu alamnmemiliki keterpisahan antara subjek peneliti dengan objek yang dteliti, adapu ilmu sosial jtidak demikian. Terakhir bahwa ilmu alam memiliki jalinan kesatuan antara teori dan pengamatan, karenanya mampu untuk diprediksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Beberapa hal yag telah kami bahas dalam makalah ini menyimpulkan bahwa yang dimaskdu dengan ilmu alam adalah ilmu yang membatasi dirinya dengan hanya membahas gejala-gejala alam yang dapat diamati. Sedangkan ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu yang membatasi diri pada gejala kehidupan manusia, baik itu gejala yang bersifat fisik atau bukan.

 Adapun perbandingan beberapa metode anatara ilmu alam dan ilmu sosial adalah, pertama ilmu alam mempunyai objek wilayah adalah alam raya yang sifatnya tetap atau  tidak berubah. Adapun silmu sosial memiliki sifat objek kajian yang senatiasa sulit diprediksi karena sifatnya yang berubah-ubah, yaitu manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Lubis. Akhyar Yusuf, Pengantar Filsafat Ilmu,  Depok: Koekoesan, 2010

Suryasumantri. Jujun S (ed), Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Penerbit Obor, 2001

Suryasumantri. Jujun S, Pengantar Filsafat Ilmu, Jakarta: Penerbit pustaka Jaya. 2010.

Yazdi. Taqi Mizbah, Buku Daras Filsafat Islam, Bandung: Penerbit Mizan, 2003

 


[1]Taqi Mizbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 2003), hlm. 303.

[2] Akhyar Yusuf Lubis, Pengantar Filsafat Ilmu, ( Depok: Koekoesan, 2010), hlm. 100.

[3] Ibid.,

[4] Ibid.,

[5] Jujun S Suryasumantri, Pengantar Filsafat Ilmu, (Jakarta: Penerbit pustaka Jaya), hlm. 284.

[6] Ibid., hlm. 285

[7] ibid

[8] Akhyar Yusuf Lubis, Op. Cit., hlm. 100.

[9] B. Suprapto, “Aturan permainan dalam ilmu-ilmu alam,” dalam Jujun S Suryasumantri (ed), Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta: Penerbit Obor, 2001), hlm. 130-131.

[10] Ibid.,  hlm 129-132.

[11] Akhyar Yusuf Lubis, Op. Cit., hlm. 102.

[12] Deobold B. Van, “ Ilmu-Ilmu Alam dan Ilmu Sosial suatu Pembahasan”, dalam  Jujun S Surya Sumantr, Op.Cit., hlm. 135.

One thought on “Perbandingan Ilmu Alam dan Ilmu Sosial

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s