MOHAMMED ARKOUN; Dekonstruksi dan Taqdis al-Fikr al-Diny*

 

Bila di Barat ada Jacques Deridda yang membokar (dekonstruksi) pondasi pemikiran modern, maka di Islam kita memiliki Mohammed Arkoun yang melakukan hal yang sama (dekonstruksi)  namun dengan objek yang berbeda yaitu pengetahuan agama Islam. Arkoun yang lahir di Aljazair mengenyam pendidikan di Prancis sempat menjadi salah satu dewan kebudayaan di Prancis.

Arkoun yang pada mulanya belajar filsafat rupanya tertarik untuk banyak mengkaitkannya pada bangunan epistimologi Islam. Menurutnya wacana al-Quran yang sebelumnya bersifat fleksibel, terbuka, toleran, dan spiritual-historis di kemudia hari berybah menadi intoleran, kaku, tertutup, radikal dan hanya melihatkan sisi ideologisnya saja ketimbang sisi spiritualitasnya.[1] Karenanya segala ilmu yang muncul dari al-quran yang ditafisrkan pada zaman tertentu dengan konsidi tertentu sebenarnya ada yang disebut Arkoun dengan unthinkable (tidak bisa dipikirkan), thinkable (bisa dipikirkan), dan untaught (yang tidak terpikirkan) yang artinya itu kemungkinan sekarang bisa dipikirkan dan ada yang tidak bisa dipecahkan, dan ada yang terpikirkan. Karenanya kalam, fiqh, tasawuf tidak tertutup dan tidak kaku. Sehingga produk-produk tafsiran itu   cenderung disakralakan yang dalam bahasa Arkuon diistilahkan dengan Taqdis al-Fikr al-diny. [2]

Akibat dari pemikiran yang tidak boleh disinggung, diperdebatkan, dan didiskusikan secaraq terbuka  akan dengan mudah memperoleh pembenaran diri dan menganggap golongan lain yang tidak sealiran sebagai lawan. [3]Mendekonstruksi pemikiran keislaman adalah jawaban atas permasalahan umat se4karang ini, kejumudan dalam pemikiran Islam bisa dilihat dari semakin sedikitnya ulama-ulama sekarang menghasilkan sebuh karya orisinil, yang kebanyakan terjadi adalah bahwa karya mereka adalah pengulangan atau komentar atas karya umala terdahulu seperti model syarah dan hasyiah.

Kritik atas pemikiran yang diajukan oleh Mohammed Arkoun menurut penulis, pertama berkisar sejarah, bahwa ssebenarnya tidak sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Arkoun itu benar dan juga salah bahwa sejarah keislaman juga bermula dari tradisi kritik yang berangsur-angsur dijalankan oleh ulama-ulama. Kritikan atas apa yang terjadi di zaman Imam Ahmad dengan kaum penguasa Mu’tazilah yang dipimpin oleh Ma’mun. belum lagi kisah panjang perjalanan teologi kaum syiah yang muncul dari kritik atas beberapa sahabat. Namun memang benar bahwa konflik dan kepentingan politik juga ada, artinya bahwa ulama-ulma juga terkadang ada yang mengeluarkan ijtihadnya sesuai dengan pesanan pemerintah. Kedua, bahwa Arkoun seharusnya juga menempatkan beberapa tokoh ulama yang sebenarnya mengapa harus dan bisa disebut sebagai Mujtahid Mutlak, sehingga ulama-ulma setelahnya tidak lagi pantas untuk berijtihad tau menjadi mujtahid, persyaratan menjadi Mujtahid tidak segampang yangdipikirkan oleh kita, misalnya saja Imam Syafii yang diakui oleh banyak ulama besar setelahnya ternyata diberi lebel itu lantara keilmuannya yang lauar biasa, hafal al-Quran beserta tafsirnya dan periwayatan mufassirnya. Hafal puluhan ribu hadits bersamaan dengan sanad dan kualitas para perawinya, belumlagi dalam melakukan ijtihad yang belum ada di zaman Nabi Imam Syafii melakukan observasi langsung sebagaimana yang terjadi pada penetuan batas hari Haid bagi wanita, Imam Syafii melakuakan observasi ke setiap kampung dan menanyakan kepada wanita-wanita di kampung-kampung tentang batas haid yang pernah mereka alami, dan akhirnya muncul-lah batas yang sekarang banyak dipraktikan oleh muslimah saat ini.

Pendapat dan komentas saya tentang pemikiran taqdis al-Fikr al-Dini adalah bahwa perlu sekali oerang seperti Arkoun agar bisa mengingatkan para ulama bahwa mereka adah manusia biasa yang juga terkadang salah, sehingga pendapatnya juga tidak sesakral Qur’an yang bebasa dari kesalahan catat.  Sehingga kritik Arkoun itumampu menempatan posis manusia pata tempanya, dan manusia/ulama tidak lagi dapat meposisikan dirinya sebagai Tuhan yang pendapatnya tidak dapat disnaggah oleh siapapun.

 

 


* Oleh Djauahrul Bar (801011000479) Jurusan PAI/Putaran VII/B/7.17

[1]M Amin Abdullah, “Arkoun dan Kritik Nalar Islam”, dalam Johan Henrik Meuleman  (ed.), Membaca al-Quran bersama Mohammed Arkoun, (Yogyakarta: Penerbit LKiS), h. 6.

[2] Ibid., h. 9.

[3] Ibid., h. 10.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s