MENYAMBUT NABI MUHAMMAD SAW; sebuah catatan menjelang Maulid Nabi

 

Marhaban Ya Nur al-Ain, Marhaban Jaddal Husain…

Syair di atas mengingatkan kita akan sosok manusia sempurna, Muhammad Bin Abdullah. Kelahirannya bukan hanya sekedar hari yang tak terlupakan sejarah, namun juga memiliki kedekatan khusus di kalangan umat muslim, setiap membaca lantunan syair –terutama risalah riwayat nabi/ rawi- misalnya umat muslim berkeyakinan bahwa Rasul hadir di antara mereka secara ruh. Keyakinan ini yang kemudian diistilahkan dengan peringatan Maulid Nabi.

Sejarah Maulid Nabi (baca peringatan) banyak yang mengatakan adalah ketika terjdinya perang salib, umat Islam dalam merebut kembali Yarussalem dari tentara Romawi menyuntikkan semngat pejuang untuk memenangkan pertempuran.

Cara memperingati maulid Nabi memang berbeda-beda, dari mulai pagelaran rumahan dan mushallahan, sampai dengan peringatan di Istana Negara. Kehadiran Nabi di setiap peringatan maulid haruslah disambut dengan hal-hal yang mebuat Nabi tersenyum dan gembira. Namun, sudah siapkah kita menyambut Nabi dengan baik, menyambutnya dengan kegembiraan dan rasa senyum? atau jangan-jangan kita hanya akan membatnya sedih ketika disambut?

Gembira Nabi tentu bisa dibaca ketika Nabi mengetahui bahwa Islam dilingkungan itu sudah sangat bagus, masyarakatnya yang soleh, adanya pengajian, akifitas Islamnya di kalangan anak-anak, remaja, samapi orantuanya lancar dll.Nah, sudahkah itu ada dilingkungan kita?

Pesan Guru Sejati

Zaman sekarang peringatan Maulid diadakan dengan sangat meriah, mereka biasa memeriahkanya dengan mengundang da’i-da’i kondang ibukota. Dari yang hanya ingin melihat kegantengannya “selebritas” atau juga kadang mendengar lawakan-lawakannya, tak segan-segan mereka berani mengglontorkan jutaan dana.

Guruku (baca Kyai) pernah bergumam begini “Maulid Nabi sekarang mah kudunya orang disuruh kembali kepada guru-guru ngaji di kampung mereka, karena mereka lah yang dengan sangat ikhlas membantu dan memajukan Islam sehari-hari di kampung, karena hanya merekalah yang bakal bisa bikin kita jadi orang beriman”  sambil meneruskan guru berkata “Eh sekarang mah tebalik, malah orang yang cuma datang setaun sekali kita perhatiin banget, giliran guru yang setiap hari nongkrongin anak-anak mereka dicuekin, ga diperhatiin, lihat saja transport guru ngaji dengan da’I ga bisa dibadingin, dai’-dai mah selesai maulid langsung dicium tangannya, dihormati, lihat bagaimana suru ngaji kita,  selesai maulid diamah malah ngegulung tiker bae di pojokan sambil ngisep puntung rokok yang bekas tadi pagi, malah  ga ada yang mao cium tangan, ga ada yang hormatin, ga ada yang peduliin, padahal dia yang selama ini menentramkan kampung kita, menyadarkan orang-orang untuk taat ke Allah, mengenal Nabi, bahkan memberikan kita jalan masuk ke surga. Kalo dai mah, setaun sekali, dia dateng juga orang yang mendengarkan malah susah membekas, karena singkatnya waktu dia, kenapa kita bias demikian terbaliknya.” Benar rupanya hati orang yang suka beribadah dengan yang tidak, dekat sekali dengan kebenaran, nasihat guru memberikan ku inspirasi untuk menyampaikanya kepada pembaca.

Sekali lagi, bisakah maulid menambah keimana atau mensyiarkan agama kita jika hal-hal kecil tadi tidak kita pikirkan? Sudahkah kita siap menyambut Nabi nanti, dan membuatnya puas dengan laporan kita atas kemajuan Islam di lingkungan kita?, maka jawab lah itu dengan hati kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s