HAKIKAT ILMU DAN FUNGSI FILSAFAT ILMU DALAM MEREALISASIKAN MASALAH PENDIDIKAN

  1. A.    Hakikat Ilmu Pengetahuan

Secara pendekatan sitematika, hakikat ilmu masuk dalam bahasan Epistimologi, yaitu satu cabang dalam filsafat yang mengkaji  hakikat ilmu pengetahuan dari  empat segi, sumber pengetahuan, batas pengetahuan, struktur pengetahuan dan keabsahan pengetahuan.[1] Atau dengan kata lain, epistimologi adalah cabang filsafat yang menjelaskan cara bagaimana menyusun pengetahuan yang benar.[2] Beberapah tokoh filsafat mendasari bahwa pengetahuan yang benar haruslah diperoleh lewat cara atau metode yang benar atau disebut dengan metode ilmiah.[3]

Epistimologi dan filsafat ilmu merupakan dua cabang filsafat yang mengkaji seputar pengetahuan. Keduanya merupakan wilayah filsafat yang muncul lantaran Kant bertanya: “apa yang dapat saya ketahui?” untuk membedakan keduanya bisa dilihat melalui objek pengetahuannya, jika Epistimologi mencakup segala pengetahuan termasuk pengetahuan sehari-hari sedangkan filsafat ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah.[4]

  1. 1.      Sumber Pengetahuan

Pada dasarnya manusia menggunakan dua cara dalam memperoleh pengetahuan yang benar, pertama melalui rasio dan kedua melalui pengalaman. Paham yang pertama disebut sebagai rasionalisme sedangkan paham yang kedua disebut dengan empirisme.[5]

Rasionalisme adalah sebuah paham yang menekankan pikiran sebagai sumber utama pengetahuan dan pemegang otoritas terakhir bagi penentu kebenaran.[6] Adapun cara kerja rasio adalah melalui berfikir deduktif, menurutnya bahwa manusia awalnya mengetahui segala sesatu itu bersifat apriori,[7] yang prinsip-prinsipnya sudah ada sebelum manusia berusaha memikirkannya, karenanya bukanlah ciptaan pikiran manusia.[8] Sedangkan indrawi selalu dicurigai karena selalu berubah-ubah tidak dapat menjadi landasan yang kokoh bagi ilmu pengetahuan.

Juga sebenarnya sama yang dihadapi oleh rasio, di mana bebas dari pengalaman dan tidak dapat dievaluasi menjadikan rasionalisme dapat menyimpulkan bermacam-macam pengetahuan dari satu objek dan sulit untuk mendapat konsensus kebenaran dari semua pihak, dalam hal ini Jujun S Suriasumantri menyebut bahwa rasionalisme cenderung bersifat solipsistik[9] dan subyektif.[10]

Sedangkan empirisme adalah paham yang mengatakan bahwa pengalaman indrawi adalah satu-satunya sumber dan penjamin kepastian kebenaran.[11] Adapun metode yang digunkan adalah pengamatan induktif. Seperti besi jika dipanaskan akan memuai, demikian seterusnya dimana pengamatan kita akan membuahkan pengetahuan. Namun empirisme hanya akan memunculkan fakta-fakta tanpa sebenarnya dipikirkan bahwa gejala-gejala itu tidak berifat konsisten atau belum tentu berlaku umum karena mungkin saja terdapat hal-hal lain yang bersifat kontradiktif.[12]

Selain dua hal di atas ada sumber pengetahuan lain yaitu Intuisi dan wahyu. Intuisi adalah  kekuatan yang menurut Bargson merupakan evolusi pengalaman tertinggi manusia di mana menitik beratkan pada pengetahuan yang langusung yang mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi.[13] Sedangkan wahyu adalah pengetahuan yang diterima para utusan Tuhan tanpa upaya dan usaha yang payah. Pengetahuan mereka atas kehendak Tuhan, Tuhan mensucikan jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran.[14]

  1. 2.      Batas pengetahuan

Persoalan pengetahuan tidak sebatas yang dikaji oleh epistimologi dan ilmu pengetahuan. Ada dua cabang filsafat lainnya yang masih berada di wilayah pengetahuan dalam sistematika filsafat, yakni logika dan metodologi.

Logika merupakan cabang filsafat yang memusatkan kajiannya pada problema formal spesifik keteraturan penalaran. Logika hanya berurusan pada pengetahuan formal apriori yaitu hal yang tidak perlu penalaran panjang. Hubungan logika dengan filsafat pengetahuan terletak pada konteks penemuan ilmu pengetahuan dan konteks pembuktian kebenaran ilmu pengetahuan. Keduanya memerlukan ketertiban penalaran untuk mendapatkan kebenaran ilmiah, dan logika yang digunkan adalah logika induksi dan deduksi.

Sedangkan metodologi mempunyai kajian berupa langkah-langkah untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Cabang ini muncul karena kompleksitas problematika seputar metode memerlukan penelaahan filosofis, kritis dan mendalam. Logika mengatur tertib nalar dalam mendapatkan pengetahuan yang ilmiah sedangkan metodologi berurusan dengan langkah-langkah untuk memperoleh pengetahuan ilmiah.[15]

Ilmu membatasi penjelajahannya pada pengalaman manusia, karenanya ilmu memulai pada penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti pada pengalaman manusia, dan itu lah batas ilmu. Diluar itu maka bukan dari batasan ilmu. Juga ilmu hanya berwenang dalam menetukan benar dan salahnya sesuatu, tentang baik dan buruk, indah dan jelek semua kembali pada sumber moral dan estetika.[16]

  1. 3.      Struktur Pengetahuan

Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat pengetahuan yang kemudian disebut pengetahuan atau ilmu. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelasakan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada. Penjelasan kemudian membedakan antara ilmu-ilmu fisik atau alam dengan ilmu-ilmu selainya seperti ilmu sosial dan seni. Penerapan sebagai sebuah ilmu yang dapat dijelaskan melalui misalnya teori dan serangkainya pengujian ilmiah. Oleh karenanaya struktur pengtahuan hanya membatasi dalam ranah pengetahuan yang bisa mampu duiterapkan dalam seuah teroi yang utuh dan umum.[17]

  1. 4.      Keabsahan Pengetahuan

Filsafat ilmu pengetahuan dan epistimologi  tidak bisa dilepasakan satu sama lain. Filsafat pengetahuan mendasarkan dirinya pada epistimologi, khususnya pada persoalan keabsahan pengetahuan. Keabsahan pengetahuan dibagi menjadi tiga teori kebenaran yakni korespondensi, koherensi dan pragmatis. Korespondensi mensyaratkan adanya keselarasan antara ide dengan semesta luar, kebenaranya bersifat empirik-induktif. Koherensi mensyaratkan antara pernyataan logis, kebenaranya bersifat formal-deduktif. Sedangkan pragmatis mensyaratkan adanya kriteria instrumental atau kebermanfaatan, kebenaranya bersifat fungsioal. Korespondensi menghasilkan ilmu-ilmu empiris seperti: fisika, kimia, biologi, sosiologi. Koherensi menghasilkan ilmu-ilmu absatrak seperti matematik dan logika. Sedangkan pragmatis menghasilkan ilmu-ilmu terapan seperti ilmu kedokteran.

  1. B.     Fungsi Filsafat Ilmu dalam Merealisasikan Permasalahan Pendidikan

Jujun S Suriasumantri menjelaskan bahwa salah satu sifat filsafat adalah berani berterus terang, dan mengetahui apa yang kita tahu dan belum tahu. Sedangkan ilmu adalah segala pengetahuan yang telah kita ketahui sejak lama. Berfilsafat ilmu berarti bertanya kembali tentang diri kita, apakah yang sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Keriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah?[18]

Pertanyaan-pertanyan di ataslah yang menjadi dasar dari bahasan filsafat ilmu. Jadi filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang mengkaji ilmu dari segi ciri-ciri dan cara memperolehnya. Objek materinya adalah ilmu pengetahuan dan objek formanya adalah cara dan ciri ilmu pengetahuan.[19] Lantas untuk apa kita mempelajari filsafat ilmu?

Secara umum  filsafat berfungsi sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.[20] Yang sehari-hari menjadi permasalahan ilmu adalah kegunaan dari filsafat ilmu, seperti yang disampaikan oleh Jujun S Suriasumantri bahwa filsafat ilmu berfungsi untuk;

  1. Mengevaluasi segenap pengetahuan yang kita ketahui
  2. Mengetahui cakupan ilmu yang diketahui dalam kehidupan sehari-hari
  3. Mengetahui batasan ilmu
  4. Mengetahui cara berpaling dari ketidaktahuan
  5. Mengatahui kekurangan dan kelebihan ilmu[21]

Pendidikan secara luas diartikan sebagai segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan perpengaruh secara positif bagi perkembangan individu. Sedangkan secara sempit bahwa pendidikan dalam prakteknya identik dengan penyekolahan, yaitu pengajaran formal di bawah kondisi-kondisi yang terkontrol.[22] Kedua definisi di atas kemudian membutuhkan segala perangkat agar apa yang disampaikan dalam pendidkan terlaksana, karenya unsur-unsur yang melibatkan dalam pendidikan sangat dibutuhkan, seperti tujuan pendidikan, pendidk, peserta didik, isi pendidikan, alat pendidikan, lingkungan pendidikan.[23]

Permasalah di atas seputar pendidikan jika dikaitkan dengan fungsi dan hakikat filsafat ilmu akan sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Seperti misalnya dalam filsafat membahas tentang konsep-konsep metodologis  seputar hipotesis teori hukum, paham, tentang sikap dan sikap ilmiah, serta kemungkinan meggali mengenai ilmu-ilmu alam fisik dan problem-problem di dalamnya, dan ilmu tentan hidup.[24]

Filsafat ilmu menurut fungsinya bila dikaitkan dalam pendidikan bisa berfungsi sebagai pengembangan managemen pendidikan. Karena dalam filsafat seorang akan memikirkan dan mencari kebenaran tentang situasi yang berada dilingkunganya, juga filsafat bukan hanya berdasarkan berada dalam ranah ideologi saja tapi juga dalam ranah metodologi. Dengan metodologi seorang akan menemukan keilmuan yang baru  yang dihasilkan dari hasil berfikir tersebut.[25]

  1. C.    Kesimpulan

Fungsi dari filsafat ilmu bila dijalankan dengan baik dengan komponen pendidikan, maka akan jelas pula permasalah yang sebenarnya terjadi dalam pendidikan kita seperti apa. Permasalah-permasalahan seputar komponen tersebut dipertanyakan kembali, digali dan cari kebenarnya, dicari sumbernmya, keabsahanya, dan strukturnya. Dan ini kemudian menjadi solusi bagi pendidikan yang kita hadapi sekarang ini. tujuan pendidikan, filsafat ilmu berfungsi menanyakan seputar tujuan dengan sebenar-benarnya misalnya sejauh manakah tujuan pendidkan efektif diterapkan pada peserta didik, atau mempertanyakan isi dari kurikulum cakupan apa saja yang menyangkut pengetahuan peserta didik di dalam kehidupan  sehari-hari, apakah yang didapatnya sudah sesuai dengan batas-batas pengetahuan mereka, dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akhyar Yusuf Lubis,Pengantar Filsafat Pengetahuan, Depok: Penerbit Koekoesan. 2011.

Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.

Darsono Prawira Negoro, Filsafat Ilmu, Jakarta: Nusantara Cosulting, 2010.

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010.

Tatang Syarifuddin, Landasan Pendidikan, Jakarta: Dirjen Penddikan Islam Depag, 2009.

 

 

 

 

 


[1] Akhyar Yusuf Lubis,Pengantar Filsafat Pengetahuan, (Depok: Penerbit Koekoesan. 2011), hlm.  4.

[2] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010), hlm. 105.

[3] Ibid

[4] Akhyar Yusuf Lubis,Loc.Cit., hlm. 17.

[5] Jujun S. Suriasumantri,Loc.Cit., hlm. 50

[6] Akhyar Yusuf Lubis, Op.Cit., hlm. 41.

[7] Ibid

[8] Jujun S. Suriasumantri, Op.Cit., hlm. 51

[9] Hanya benar dalam kerngka pemikiran tertentu yang ada dalam benak orang yang berfikir tersebut.

[10] 51

[11] Akhyar Yusuf Lubis, Op.Cit., hlm. 46.

[12] Ibid., hlm. 52

[13] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm., 107

[14] Amsal Bakhtiar, Op.Cit., hlm. 110

[15] Akhyar Yusuf Lubis, Op.Cit., hlm. 18.

[16] Jujun S. Suriasumantri, Op.Cit., hlm. 91-92

[17]  Jujun S. Suriasumantri, Op.Cit., hlm. 161

[18] Jujun S. Suriasumantri, Op.Cit., hlm. 19

[19] Akhyar Yusuf Lubis, Op.Cit., hlm. 21

[20] Jujun S. Suriasumantri, Op.Cit., hlm.  91

[21] Ibid., hlm. 20

[22] Tatang Syarifuddin, Landasan Pendidikan, (Jakarta: Dirjen Penddikan Islam Depag, 2009), hlm. 28

[23] Ibid

[24] Darssono Prawira Negoro, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Nusantara Cosulting, 2010), hlm. 418.

[25] ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s