PENILAIAN PADA RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTORIK*

 

Dalam rangka mengevaluasi peserta didik haruslah dilihat secara bulat, artinya evaluator dalam melaksanakan evalusi hasil belajar dituntut untuk memberikan penilaian yang menyeluruh kepada setiap aspek peserta didik. [1]

Menurut Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan bahwa taksonomi (pengelompokan) tujuan pendidikan haruslah mengarah pada tiga ranah yang melekat pada diri peserta didik, yaitu: Ranah proses berfikir (cognitive domain), ranah sikap (affectife domain), dan ranah keterampilan (psychomotor domain). Maka dalam konteks evaluasi belajar ketiga ranah tersebutlah yang menjadi sasaran dalam setiap evaluasi hasil belajar, yaitu: apakah peserta didik sudah dapat memahami semua materi pelajaran yang diberikan?, Apakah peserta didik sudah dapat menghayatinya?, Apakah meteri belajar yang sudah diberikan dapat diamalkan secara kongkrit dalam kehidupan sehari-hari?[2]

 I.      Tahap-Tahap Pada Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik

  1. A.    Ranah Kognitif

Menurut Bloom ranah kognitif adalah segala upaya yang menyangkut aktivitas mental (otak)[3], dalam bahasa lain dijelaskan bahwa perilaku kognitif berarti segala perilaku siswa dalam upaya mengenal dan memahami materi pelajaran.[4] Dalam ranah kognitif terdapat enam tahap kecakapan, yaitu: Pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), menguraikan (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).

Tahap pengetahuan adalah tahap dimana seorang anak mampu mengingat kembali tentang fakta, nama, istilah, proses, prinsip, teori dll. Tahap ini merupakan tahap terendah dalam ranah kognitif.[5]

Tahap pemahaman adalah tahap diamana seorang anak mampu mengerti dan memahami setelah pelajaran itu diketahui dan diingat.[6] Dalam hal ini siswa dapat mengorganisasikan pelajaran yang diterima dengan bahasa sendiri.[7]

Tahap penerapan adalah kesanggupan siswa dalam menerapkan ide-ide umum, teori, rumus, prisnsip atau segala meteri ajar dalam situasi yang baru dan kongkrit.

Tahap analisis adalah kemampuan seorang siswa dalam menguraikan dan merinci ke dalam bagian-bagian terkecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian satu dengan bagian lainnya.[8]

 Tahap sintesis adalah tahap dimana siswa mampu memadukan  atau menyatukan bagian-bagian secara logis menjadi struktur yang menunjukkan keseluruhan.[9]

Tahap evaluasi adalah kemampuan siswa untuk mempertimbangkan suatu ide, situasi, nilai-nilai, dan metode berdasarkan suatu aturan dan kriteria tertentu.[10]

  1. B.     Ranah Afektif

Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.[11] Dengan arti lain bahwa siswa dapat menghayati nilai-nilai yang terkadung dalam sebuah pelajaran sehingga menyatu dengan dirinya. Atau siswa mampu menginternalisasikan sesuatu yang dikomunikasikan dengannya. Aspek prilaku ini biasanya berkenaan dengan materi pelajaran yang berbasis nilai, norma, moral, dan aturan prilaku lainnya.[12] Ciri-ciri dari tahap ini behasil bila siswa kedisiplinanya meningkat setelah diberikan materi agama tentang kewajiban sholat lima waktu. Adapun tahap-tahap dalam ranah kognitif ini mencakup lima aspek (menurut Krathwohl, pengembang ranah kognitif), yaitu: penerimaan (receiving), respon (responding), penghargaan (valuing), pengorganisasian (organization), dan karekterisasi (characterization).

Tahap penerimaan adalah tahap dimana kepekaan siswa dalam menerima atau menyadari akan suatu fenomena yang datang dari luar dalam bentuk masalah, situasi dan gejala.

Tahap merespon mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menaggapi adalah kemampuan berpartisipasi aktif terhadap sesuatu yang menjadi stimulus baginya.[13]

Tahap penghargaan, pada tahap ini siswa sudah memberikan nilai teretentu pada sesuatu yang diterimanya. Bila suatu materi telah mampu dinilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka peserta didik telah menjalani proses penilaian.[14]

Tahap pengorganisasian, setelah peserta didik mampu memberi nilai dan makna tertentu terhadap sesuatu yang dia terima, kemudian peserta didik menyelarasakannya ke dalam sistem dan struktur yang sudah ia miliki.[15]

Tahap karakterisasi, pada tahap ini pesrta didik menetapkan suatu nilai menjadi bagian terpadu dalam dirinya (mengintegrasikan). Hal itu tercermin pada pola perilakunya.[16]

  1. C.    Ranah Psikomotorik

Ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan atau kemapuan bertindak setelah seseorang menerima materi pelajaran. Prilaku ini lebih kepada keterampilan secara fisik. Aspek-aspek ini mencakup tahapan: menirukan, memanipulasi, artikulasi dan naturalisasi.[17]

Tahap menirukan adalah siswa berupaya untuk menirukan suatu tindakan seperti yang diajarkan. Tahap memanipulasi, dalam tahap ini siswa sudah dapat meragakan suatu keterampilan seperti yang diajarkan.

Tahap artikulasi merupakan tahap dimana siswa mampu mengkoordinasikan tindakannya secara teratur dengan menempuh langkah-langkah secara tepat. Sedangkan tahap naturalisasi dmana siswa sudah mempu melakukan tindakan secara alami dengan menggunakan energi yang minimum, sepeti seorang sopir yang sudah mahir mengendarai, atau pemain bola professional.

  1. II.      Instrumen Penilaian pada Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
  2. A.    Ranah Kognitif

Kata kerja oprasional atau instrumen yang dapat mengukur kemampuan ini adalah sebagai  berikut:[18]

Tahap Pengetahuan

Instrumennya

Menyebutkan, mendefinisikan, melukiskan, mencocokkan, mengidentifikasikan, memberi nama, membuat garis besar, dan menyatakan kembali

Tahap Pemahaman

Instrumennya

Menjelaskan, merumuskan dengan kata-kata sendiri, mengubah, menyatakan secara luas, memberi contoh, memperkirakan, membedakan, dan mengubah dan menarik kesimpulan.

Tahap Penerapan

Instrumenya

Menghitung, menggunkan, mengapresiasikan, mendemonstrasikan, memodifikasi, menghubungkan, memecahkan, dan menghasilkan.

Tahap Analisis

Instrumennya

Menguraikan, mengkategorikan, merinci, memilih, memisah-misahkan, membuat diagram, membuat skema, dan membeda-bedakan.

Tahap Sintesis

Instrumennya

Menggabungkan, menghimpun, menyusun, mengorganisasikan, merancang, menyusun kembali, merevisi, menceritakan dan membuat modifikasi.

Tahap Evaluasi

Instrumennya

Membandingkan, menilai, mempertentangkan, mengkritik, mengintrepretasikan, menyimpulkan

 

  1. B.     Ranah Afektif

Kata kerja oprasional atau instrumen yang dapat mengukur kemampuan ini adalah sebagai  berikut:

Tahap Penerimaan

Instrumennya

Mengikuri, meperhatikan, bertanya, menunjuk, melokalisir, melukiskan, mengidentifikasi, dan memberi nama

Tahap Merespon

Instrumennya

Menyambut, memperbincangkan, menyesuaikan, menyetujui, memberitahukan, melukiskan, menjawab, mempraktekkan, menghimpun.

Tahap Penghargaan

Instrumenya

Mengusulkan, memprakarsai, mengidentifikasi diri, melengkapi, menjelaskan, mempertimbangkan kebenaran, melaporkan, bertukar pengalaman, bekerja sama, dan mengikuti

Tahap Mengorganisasikan

Instrumennya

Mengintegrasikan, mempertahankan, menyelaraskan, mengkombinasikan, menarik kesimpulan umum, mengorganisir, membuat organisasi dan sintesa.

Tahap Karakteristik

Instrumennya

Teguh dalam pendiriannya, konsisten dalam bertindak, mempunyai keyakinan diri, dan memperbaiki diri.

  1. C.    Ranah Psikomotorik

Kata kerja oprasional atau instrumen yang dapat mengukur kemampuan ini adalah sebagai  berikut:

Tahap Menirukan

Instrumennya

Mengikuti, mengulangi, dan meniru

Tahap Memanipulasi

Instrumennya

Mengikuti petunjuk dan mencoba sendiri

Tahap Artikulasi

Instrumenya

Melakukan dengan harmonis dan meragakan secara teratur

Tahap Naturalisasi

Instrumennya

Bertindak secara alamiah, dan mahir.

Daftar Pustaka

Sudijino. Prof. Drs Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Grafindo Persada. 1998.

Wahyudin, Drs. H Uyu, Evaluasi Pembelajaran Sekolah Dasar, Bandung: UPI Press, 2006.


* Makalah ini dipresentasikan oleh Kel II (Dajauharul Bar, Zakiya, Hj. Masu’dah) Jur/Putr/Kls/Ruang: PAI/VII/B/7.01

[1] Uyu Wahyudin, et al., Evaluasi Pembelajaran Sekolah Dasar, Bandung: UPI Press, 2006, hlm. 30.

[2] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998, hlm.  49.

[3] Ibid., hlm. 50.

[4] Wahyudin, Loc. Cit.

[5] Sudijono, Op. Cit., hlm. 50.

[6] Ibid.

[7] Wahyudin, Op. Cit., hlm. 30.

[8] Sudijono, Op. Cit., hlm. 51

[9] Wahyudin, Op. Cit., hlm. 31.

[10] Ibid.

[11] Wahyudin, Op. Cit., hlm. 54.

[12] Wahyudin, Op. Cit., hlm. 31.

[13] Ibid.

[14] Sudijono, Op. Cit., hlm. 55

[15] Wahyudin, Op. Cit., hlm. 32.

[16] Ibid.

[17] Wahyudin, Op. Cit., hlm. 32.

[18] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s