Gus Dur: Saya setiap hari hidup dengan Syariat

Oleh Djaharul Bar
Mungkin di antara pembaca memiliki kenangan khusus dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau yang popular dengan Gus Dur. Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan pesantren, sosok Gus Dur memang tidak asing di telinga penulis. Tak ayal, cerita Gus Dur dari mulai berojol sampai sepak terjanganya di dunia Modern hafal diluar kepala. Gus Dur memang sosok yang luar biasa, dibesarkan di kalangan pesantren mampu merambah menjadi orang nomer satu di Indonesia. Bahkan, gagasan dan pemikirannya banyak diakui oleh dunia internasional.
Di dunia internasional nama Gus Dur terkenal karena gagasannya mengenai demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia. Khusus untuk pemikiran pluralismenya, membuat Gus Dur dianggap tokoh yang anti Syariat. Ucapan demikian memang banyak dilontarkan oleh orang-orang yang ingin memaksakan syariat dalam hukum positif negara, sedangkan Gus Dur banyak mengatakan sebaliknya bahwa syariat harus sadari sebagai hukum normatif.
Dalam sebuah seminar di tahun 2004 yang didihadiri oleh Gus Dur dan Mustafa al-Azhami sorang ulama besar hadis dari Saudi, penulis sempat merekam beberapa ucapan Gus Dur. Dalam seminar tersebut, Gus Dur menyatakan bahwa dirinya selalu menjalankan syariat imbuhnya “Saya ini sehari-hari hidup menggunakan Syariat.” Pernyataan tersebut menjawab tudingan beberapa orang yang mengatakan bahwa Gus Dur orang yang anti Syariat. Ini sekali lagi menegaskan bahwa selama ini kata syariat selalu dikesankan hanya pada penyatuan agama dan negara saja atau khilafah, padahal istilah tersebut tidak sesempit itu. Lantaran penyempitan istilah syariat itu, banyak orang yang berbeda pendapat dengan gagasan negara Islam dianggapnya anti syariat. makanya penyempitan istilah memang selalu banyak membawa masalah.
Selain ucapan tersebut, Gus Dur banyak menyampaikan kekagumannya terhadap Prof. Mustafa Azami, lantaran karyanya umat Islam mampu menyakinkan kembali hadis dan sumber-sumber Islam lainnya. Memang Mstafa Azami bukan ulama yang asing di mata Gus Dur, terbukti ketika masih aktif di Pesantren Tebuireng Gus Dur sempat mengulas karya Mustafa Azami dalam pengajiannya. Bahkan, Gus Dur sangat menghormatinya, ini ditandai dengan kerelaan Gus Dur (bahkan keinginan pribadinya) untuk menjempur langsung Mustafa Azami di Bandara Soekarno Hatta, saking menghormatinya Gus Dur mau mencium tangan Prof Mustafa Azami.
Menjalankan syariat memang tidak bisa dipaksakan dari atas, tapi harus dari kesadaran menjalankanya. Untuk apa dijalankan jika masih merasa dipaksa dan terpaksa, memang tidak sia-sia tapi tidak malu kah kita dengan Tuhan bahwa penghambaan kita masih bukan karena cinta, bukan karena sadar, bukan karena Dia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s