Terminologi Terorisme

Oleh Djauharul Bar
Dalam buku Filsafat Dalam Masa Teror, Hebermas dan Derida memberikan pemaparan yang komplek mengenai Terorisme. Bagi mereka khususnya Hebermas Terorisme adalah sebuah istilah yang tidak cukup hanya dikaikan oleh sebuah peristiwa, baik ruang atau waktu. Mereka masih meragukan apakah terorisme ada kaitannya dengan situasi politik atau juga murni sebuah perbuatan kriminal. Kedunya langsung menjawab ia dan tidak, Herbernas misalnya menjawab bahwa kata itu dikaitkan dengan aksi-aksi para teroris ditingat nasional yang tujuan akhirnya adalah merebut kekuasaan, namun tidak untuk peristiwa teririsme 11/9 di New York, inilah yang seterusnya dinyatakan sebagai ciri khas terorisme dimensi baru, dimana segala perhitungan tidak lagi bisa menduga serangan-serangan yang dilancarkan oleh teroris. Lanjutnya bahwa terorisme sekarang memang banyak dilatarbelakangi oleh mereka yang merasa ter-zholimi secara psikologis oleh orang lain, kekecewaan tersebut yang akhirya bahasa agama lebih meyakinkan secara subyektif untuk orientasi-orientas politis.
Karakteristik serangan teroris adalah memberikan dampak psikologis kepada mereka yang menjadi objek serangan, bahwa masyarakat dibuat takut, dan kesan yang dimunculkan adalah sebuah trauma besar. Dan sekarang bisakah ini disebut sebuah kriminal biasa atau perang bagi lawan. Bagi mereka yang dijadikan lawan oleh terorisme akan meyatakan perang terhadap segala bentuk terror, namun Hebermas menegaskan perang seperti apa yang dilakuka militer sangatlah berbeda dengan perang melawan teroisme, terorisme adalah bentuk yang sangat susah dimaknai oleh lawan maka target dan musuh utama perang belum dan sama sekali tidak jelas dan apakah ini yang disebut perang melawan terorisme. Lain halnya dengan Deridda, Ia mengatakan bahwa perang dan terror adalah dua kata yang mempunyai makna sama, perang dalam setiap kelakuan dan perbuatannya adalah meneror apapun yang menjadi target keberhasilan suatu pemerintahan sekalipun rayatnya sendiri.
Sisi lain dari yang ada di atas ternyata terorisme yang selama ini diramalkan oleh Amerika serikat dan media-media Barat masih belum bisa menangkal aksi-aksi brutal terorisme di tempat-tempat lain, apa yang bisa dilakukan oleh koalisi dan kesepakatana antar Negara terhadap terjadinya serangan terorisme pasca 11/9, di India, Turki, Inggris, Spayol, dan Indonesia. Diskripsi yang dilakuakn oleh media-media Barat belum bisa mengurangi terror, bahkan sebaliknya pernyataan mereka di media malah menunjukan bahwa sang Adidaya tidak mampu menerjemahkan apa lagi menumpas perilaku sebenarnya dari terorisme, dampaknya adalah masyarakat semakin resah, takut, dan cemas dengan aksi terorisme yang tiba-tiba dan tanpa diduga melancarkan aksinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s