Sue Morgan: Pendekatan Feminis

Diringkas oleh Djauharul Bar

Pendekatan agama melalui Feminisme adalah studi kritis bagaimana agama dipandang dari sudut pandang gender, sebagai kategori utama. Anne carr seorang peneliti agama dan feminis mengatakan bahwa keduanya sangat bergantungan bagi kehidupan perempuan, bahwa feminisme juga seperti agama yang memberi perhatian terhadap kehidupan kaum wanita di dunia kontenporer, identitas manusia dan totalitas manusia yang didasari atas banyak disiplin ilmu, sosiologi, antropologi, teologi dan filsafat. Tujuan dari pendekatan feminisme adalah mengukur sejauhmana agama sesuai dengan kepribadian, dan interaksi yang menguntungkan antara keduanya.
Kritisisme yang dibangun dalam pendekatan feminis ditunjukkan kepada agama dan dogma-dogamanya yang selalu memojokan kaum perempuan dalam bentuk symbol, ritual, dan teks. Meletakan perempuan pada posisinya dianggap adalah hal yang mesti dan harus. Terminologi feminisme bukanlah dipakai untuk hal yang tunggal, akan tetapi memilki cakupan yang luas. Salah satunya adalah David Boucher menggambarkan feminisme adalah sebuah bentuk pertemanan kaum perempuan dari ketidakadilan politik, ekonomi, dan sosial dimana perempuan tediskriminasi karena jenis kelaminnya. Istilah yang menjadi basis kritikan kaum feminis adalah Patriaki, dimana kaum lelaki menginsitusikan sistem dominasi mereka terhadap perempuan.
Perkembangan Sejarah pendekatan Feminis
Priode pertama di abad 19 saat seorang wanita bernama Anglo menentang dua kebijakan otoritas agama di Amerika, perbedaan terhadap jabatan pendeta dan kritisisme injil. Keikutsertaan kaum perempuan dalam berbagai kegiatan gereja hanya bertepuk sebelah tangan. Kemajauan kaum wanita sekuler berdampak sangat kepada kaum wanita religius. Seperti menolak ikut bertanggung jawab atas keputusan gereja. Kaum feminis juga ikut dalam menafsirkan Tuhan sebagai sosok yang sangat berbeda dari penafsiran laki-laki, dan juga bagaimana hanya laki-laki yang diizinkan untuk berkhotbah, feminis berdalih bahwa pesan universal Yesus bukan hanya untuk laKi-laki dan perempuan. Pengorbanan Yesus sesungguhnya adalah pengorbanan untuk laki-laki dan perempuan. Bukan pengorbanan satu pihak saja
Setelah itu ada sekelompok biarawati yang nekat menjalankan misi tanpa disetujui oleh umatnya, yaitu Jerena lei dan Amanda B Smith. Perjalanan mereka berkeliling adalah usaha atas ketidakpuasanya terhadap kepemimpinan laki-laki. Terpinggirnya akses perempuan di kependetaan ditanggapi serius oleh Catherien Booth yang terpengaruh dengan gerakan suci phoebe Palmer. Satu lagi gerakan perempuan yang menentang posisi perempun dalam pewahyuan juga ditanggapi oleh dua kelompok seperti shakers dan Sains Kristen Marry Bakery edy.
Maraknya isu feminisme memang dilatarbelakangi oleh agama, seperti yang terjadi di Inggris dan Amerika. Baik secara politik, perbudakan dan kesetaraaan gender, kesemuanya direspon dengan cara yang konservatif dan liberal. Seperti Evanglis yang sangat memperhatikan isu kewarganegaraan perempuan, kesanggupannya dan pengorbanannya untuk kepentingan orang lain. Atau yang liberal dengan menentang ide-ide injil yang belum mensetarakan politk dan social, padahal jenis kesamaan adalah hak yang diberikan Tuhan. Salah satunya adalah Matilda J Gege yang berkata bahwa perempuan diciptakan dalam image yang sama oleh Tuhan, sehinga representasi simbolik dunia juga sama. Di injil, dasar –dasar injil dalam agama adalah sebab inferioritas peremnpuan. Senecca falls berbeda, bahwa kemajuan sosial dan politik sangat ditentukan oleh pembebasan perempuan dari dominasi imsge skriptual. Proyek pertama kaum feminis ialah pembahasan yang menyeluruh terhadap misoginotas agama barat. Sebagaimana yang terjadi dalam sejarah Yahudi dan Kristen. Ketidakwajaran yang terjadi dalam dogma agama ataupun tradisi memberikan pertanyaan, apakah yang harus menjadi tujuan kaum feminis, apakah kesetaraan atau pembedaan.
Kaum reformis mengatakan bahwa kesetaraan yang diperlukan antara laki-laki dan perempaun sebagi bentuk dari kerangaka pembebasan perempuan yang lebih luas. Radikal feminis menyerukan untuk membedakan dengan jelas antar jenis kelamin, tujuannya adalah mencari jalan yang lebih bijak atas agama bible, yaitu menumbuhkan kesadaran teologis dengan merombak simbolisme agama terhadap perempuan.
Pendektan feminis bukan hanya sebagai bentuk perlawan kaum perempauan terhadap domga agama, akan tetapi juga menjawab asumsi-asumsi akademis tentang bebas nilai dengan melakukan pengujian kembali atas materi dan konsep-konsep dari sudut pandang gender dan relasi kekuasaan. Kesumuanya yang terjadi dalam pengalaman perempuan harus teruji dan valid, maka kesadaran diri secara pasti tidak akan cukup tanpa adanya metodoligi pendekatan yang sistematik.
Karakteristik Dasar Pendekatan Feminis
Kaum Feminis yang masih menganut paham religious ingin mengoreksi kembali simbol-simbol agama. Yang paling jelas bagi mereka adalah gambaran Tuhan dalam agama mereka yang sangat kelaki-lakian. Penelitian Daly tentang hubungan simbolisme agama yang bersifat maskulin, baik tingkat kemampuan atau metafora bahasa teologis. Seperti pemahaman bahasa Tuhan Bapak, Bagimanapun mereka mangatakan bahwa telah kehilangan arti metaforis yang benar dan tidak semestinya dipahami secar parsial.
Feminis religius berupaya untuk membentuk image Tuhan sebagai mana adanya, tidak esklusif dan lebih merefleksi dua jenis gender. Salah satu yang mereka lakukan adalah dengan menelaah sember-sember budaya kuno, atau disebut transhistoris, yaitu sember-sumber agama-agama kuno, yahudi dan kristiani dan agama-agama timur. Phillis Tribel dan Elizabeth Jonshon meneliti bahwa dalam tradisi agama Kristen terdapat pluralitas gender, dimana Tuhan diceritakan dalam bible memiliki kesan-kesan yang feminis, seperti keibuan, rahim, dan melahirkan (SI:42:14). Akan tetapi apa yang dilakukan feminis religious menafsirkan keTuhanan dengan sifat perempuan justru malah akan banyak merubah antromorfosis bahasa watak gender Tuhan.
Aspek yang paling kental ketika feminis dalam definiis keTuhanan kaum feminis adalah personifikasi perempuan dalam kearifan Tuhan. Banyak agama yang menggambarkan hal seperti itu, misalnya tradisi Shekina dan Kabbalisme dalam agama Yahudi, prajhaparamita dalam Budisme Mahayana dan Holy Spirit dalam agama Kristen. Namun menurut sarah Coekley tradisi holy spirit memang benar-benar menunjukan kelonggaran dalam menyimpulkan dari pada sebagai bentuk feminis, karena bagian itu tak sedikitpun menggoyahkan Trinitas keTuhanan. Dari kalangan Yahudi, Plaskow setuju dengan konsep Shekhinah karena menguntungkan bagi perlawanan sebenarnya kepada patriarkis.
Maka yang selamjutnya adalah penggunaan istilah baru dan definisi baru Tuhan kaum feminis, yaitu sebagai bentuk yang suci –sacred-, bukan lagi Tuhan yang transenden sebagaimana yang dipahami oleh patriarkis. Gambaran baru Tuhan ibu yang pengsih adalah pentasbitan akan relasi terdalam manusia, mengkominasikan keperempuanan dan non gender, dan menunjukan adanya model relasi baru.
Ursula King mengatakan”Barangkali bukan hal yang bijak dan pantas untuk meninggal kan image Tuhan Bapak….tetapi keyakinan tentang yang hidup juga tidak semestinya melihat simbol yang sudah tidak lagi berbicara dengan mudah kepada kita”. Artinya bahwa Konsep Tuhan Bapak tidak perlu hilang, namun idealnya jangan juga mementingkan simbol. Perkataan King juga menunjukan akan adanya pemahaman teradap simbol yang berlebih oleh kaum feminis, muatan-muatan yang diambil oleh kaum feminis terlihat naratif, padahal yang terpenting menurut pengarang adalah muatan normative. Begitupun Milieu yang memiliki kesimpualan bahwa teks-teks injil pada akhirnya adalah membebaskan kaum perempuan. Karena kaum feminis banyak mencurigakan teks-teks injil yang menurtnya dibuat oleh laki-laki. Namun seperti yang dikatakan oleh feminis reformis tidak ikut dalam pemahaman teks yang membenci perempuan sebagai suatu persoalan yang sangat menentukan.
Koreksi yang lain terhadap fenomen perempuan dalam injil, seperti bagaimana tokoh-tokoh Deborh dan Miriam dan perempuan-perempuan disekeliling Yesus memperoleh perhatian, semaentara sejarah khas yang diteliti oleh teolog Afrika dan Amerika menunjukan paradigma perbudakan kaum perempuan. Tidak salah kalau kemudian kaum feminis mengambil sebagai penafsiran atas kehilangannya infrioritas kaum perempuan, dan kesetaaran gender yang sesungguhnya. Atau cerita tentang penciptaan perempuan dan lai-laki oleh Tuhan secara bersama-sama. Atau juga Hawa da Lilith keakraban dan kerjasama perempuan.
Kedua, kasus kenabian Yesus dalam injil. Unsur kenabian Yesus yang dimuat dalam injil menurut Feminis adalah bagian yang sangat telak mengangkat patriarki dari sumber injil sendiri. Keadilan sosial dan kaitanya dengan kenabian adalah suatu sejata untuk menentukan perubahan bagi kaum feminis. Namun Elizabeth meragukan kalau pewahyuan injil, adalah hasil sejarah kaum gereja. Dari asalnya di mana perempuan ditempatkan dalam aktifisme Kristen awal dan kemudian pergeseran dimulai dari mulai penghianatan terhadap anjuran Yesus, sehingga Patrialkal menguat dan berkurangnya aktifisme wanita dalam gereja muncul. Sebagaimna juga yang terajadi dalam Islam, dalam Women and gender in islam Leila Ahmad melacak kematian aspirasi perempuan secara bertahap dari priode Muhammad sampai Abbasiah.
Diskursus femInisme dalam injil adalah bagian yang terisolasi, dan hal yang termarginal seperti ini akan mendapat pertanyaan apakah bisa pengalam kaum perempuan yang marginal dalam injil menjadi satu basis hermenetik bagi mereka. Mary ann Tolbert, menurutnya bagaimanapun feminism akan menjadi paradok dengan peafsiran mereka karena dimana injil telah dijauhkan dari otoritas asalnya yaitu kaum patrialkal. Theology and Feminisme Daphen Hampson menjelaskan, apa yang dikejar selam ini oleh kaum feminis adalah hal yang sangat jauh dan terbatas, bahkan bukan bagian yang mengancam. Maksudnya selama ini kaum feminis telah salah sasaran dalam mengkritisi kenabian dan injil.
Tapi, usaha kaum feminis adalah merupakan bagian yang diakui oleh injil, bahwa kitab suci berhak dikonstuksi oleh masyarakat. Maka apa yang dilakukan kaum feminis adalah bagian dari penafsiran, yang memiliki ciri khas dalam melakukan transpormasi agama.
Ketiga, yaitu penemuan kembali sejarah keagamaan perempuan. Ini adalah hal yang berbeda dari dua hal sebelumnya, karena masalah ini tidak menyinggung injil dan kitab suci. Sejarah-sejarah dahulu sering mengangkat sosok perempuan-perempuan besar, perempuan kecil religius tidak pernah diangkat dalam sejarah. Feminis sekarang beusaha untuk mengingatkan kembali bahwa pengalaman keagamaan perempuan-perempuan awam adalah penting, bukan hanya ratu dan perempuan suci. Peranan para sufi wanita yang ribath di tempat yang asing, inisiatif dan partisipasi perempuan Israel kuno dalam persoalan ekonomi, dan biarawati-biarawati kulit hitam katolik yang berkhotbah di inggris.
Sebagaimana yang dikatakan oleh King bahwa penemuan kembali sejarah perempuan adalah bukan persoalan masa lalu, akan tetapi adalah masalah tentang identitas personal dan kelembagaan. Permasalahan bagaimana wanita kulit hitam memperjuangkan hak-hak mereka atas rasisme orang amerika. Sojourner Truth dab Maria S swart merupakan sumber otoritatif bagi konstruksi etika, kristologi, dan teologi feminis kulit hitam beberapa waktu terakhir.
Telaah kaum feminis terhadap bahasa yang digunakan oleh agama seperti secred, litalatur dan sejarah membawa dampak positif dialog yang saling menguntungkan antara agama dan feminis, Kedudukan agama dan feminis dihargai dan disejarakan dengan tradisi yang mereka respon melalui pertanyaan-pertanyaan kontenporer. Teori yang ditawarkan oleh kaum feminis tidak hanya sekedar omongan tetapi juga praktis mereka jalani, walaupun teori dan praktis kaum feminis selau mengalami perubahan. Dampak besar datang dari luar, di mana kaum feminis menjadi modal bagi kelompok yang sama mengalami situasi yang sulit dalam cacat religius dan social yang dialami oleh kaum perempuan.
Seruan yang mendasar bagi misi feminis dalam tradisi agama ialah menempatkan perempuan dalam posisinya yang sama dengan laki-laki, yaitu menjadi pemimpin. Tradisi yahudi yang menghadang kaum perempuan dalam halakhik peribadatan public. Komunitas perempuan dalam agama bukan hanya sebagai penggerak hak-hak perempuan, tetapi juga sebagai kajian ulang atas tafsir kependetaan laki-laki. Ritual-ritual baru yang berorientasi pada perempuan adalah hasil dari perkembangan kembali pemahaman secred yang dilakukan kaum feminis. Atau juga menghilangkan bahasa androsentris dalam peribadatan dan pengalaman perempuan.
Penekanan lain yang dilakukan oleh feminimisme adalah keterikatan hubungan perempuan dan laki-laki, saling ketergantungan satu sama lain. Ciri tersebut adalah bentuk moral etis kaum feminis. Moral feminis sering dicirikan dengan metaphor kepedulian, ketergantungan, dan kesaling berhubungan. Ontologi Women’s conscience :Women’s consciousness, menggambarkan realisasi dinamika tersebut dalam beberapa wilayah, seperti gerakan perempuan, anti semitik, kekerasan seksual, keadilan rasial, dan pertemanan perempuan.
Rasionalisasi tersebut (etika) sangat terkait dengan ekofeminisme, yaitu etika lingkungan feminis. Menurutnya persoalan pencemaran lingkungan adalah persoalan krisis spiritualitas. Pemahaman kita telah gagal menjadikan bumi sebagai relasi yang sangat kuat dalam jaringan kehidupan. Persamaan ideologis antar agama, seksualitas perempuan dan pencemaran alam dilihat oleh ekofeminisme adalah bentuk patriatikal yang teralienisasi kepada kebudayaan manusia sebagai bentuk fisik alam. Seperti yang dijelaskan oleh Plaskow: pencemaran lingkungan dan perusakan alam adalah bagian dari penolakan manusia atas terciptanya pengejawantahan yang sama dengan alam. Irene Diamond dan Gloria Feman mengatakan dalam pengantar reweaving the world:The emergence of ecofemism, bahwa pengakuan atas kesucian intristik alam, dan ketergantungan manusia terhadap planet merupakan prinsip pluralisitik kaum ekofeminis, menuntut distribusi kehidupan yang wajar tanpa kekerasan terhadap bumi. Sarjana barat lain yang memilki ketertarikan atas konsep lingkungan kaum ecofeminis mencari dalil dalam kitab injil bible. Ruthe dan anne misalnya mengatakan bahwa bumi adalah sesuatu yang hidup dan organisme yang satu, yang mengesankan pesan monotistik agama Kristen. Atau Carol Christ dan Charlene yang juga tergabung dalam fenemisme radikal mengatakan bahwa kesesuai alam dan perempuan dalam bentuk penyembahan kembali dewi. Definisi maskulin yang ditafsirkan kembali adalah bentuk yang sering dianggap bahwa dewi adalah simbol dari kekuatan perempuan “kekuatan dan kematian, kehidupan dan kematian, adalah kekuatan-kekuatan yang dipantulkan oleh alam.”
Persoalan dan perdebatan
Berkembangnya Isu feminism di dunia sekarang ini adalah buntut dari gencarnya kontekstualitas yang dibawa oleh kaum feminis. Melalui sumber-sumber empiris yang dilakukan secara sintetis dan relektif, dan analisis dalam agama, sosial dan politik. Seperti bagaimana Jean Zaru menyuarakan anti kekerasan terhadap perempuan intifadah. Juga yang dilakukan Swarnalata Devi yang menggambarkan perjuanangan wanita Kristen yang pemberani, dll.
Tapi sebenarnya kemajuan yang terjadi di kalangan feminis masih belum menunjukkan sesuatu yang benar-benar baik. Ini bisa dilihat dari bagaimana pengalaman beberapa perempuan di tempat yang berbeda, yang meruntut juga pada perbedaan wanra kulit, ras, dan status ekonomi. Antara feminis Afrika dan Amerika bisa dilihat dari penggunaan kata yang berbeda untuk kedua istilah metode feminis yang dipakai, mijerista dan womenist. Absolutisasi pemahaman dari metode masing-masing banyak membawa dampak yang buruk “pengalaman perempuan” yang berbeda-beda, di Barat para feminnis mengkritik wanita muslimah berjilbab, yang akhirnya feminism barat dipertanyakan oleh feminism muslim. Maka yang terpenting bagaimana mempersatukan pengalaman perempuan tadi, ditambah lagi pemahaman pengalaman perempuan yang hanya menunjukkan kepada definisi kelamin atau diskriminasi yang dilakukan terhadap perempuan adalah bagian yang tidak wajar atas pemahaman yang kompleks pengalaman perempuan, sebagaimana dellores katakana.
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan kedua adalah separatisme feminis. Perbedaan yang fundamental antara laki-laki dan perempuan, dan menghalangi keikutsertaan laki-laki dalam perempuan adalah merupakan rasisme yang tersembunyi dari kalangan feminis. Maka apa yang terjadi merupakan pemahaman subjektif mereka yang tidak sejalan, dan bisa dipastika tujuan awal yang dinginkan tidak akan tersentuh, yaitu patriarkal. Pendekatan feminis telah dan terus sebagai suatu percobaan terhadap agama mendefinisikan kebermaknaannya sendiri dalam konteks pluralis, kontenporer, dan juga post modern.

Walloh a’lam Bi al-shawaab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s