Eliade: Hakikat yang Sakral

Diringkas oleh: Djauharul Bar dari “Seven Theories”
Titik Tolak Eliade:Dua Aksioma
Ada dua dasar yang melaratbelakangi teori Eliade: Pertama, Membuang jauh-jauh metode-metode yang banyak digunakan oleh peneliti sebelumya, yang menurut Eliade hanya mereduksi agama. Agama menurut Eliade adalah sesuatu yang independent yang menjadi sebab bagi segala bentuk tindakan sosial, psikologi, dan ekonomi. Dan otonomi agama serta anti reduksionis lebih kepada produk realitas lain, yaitu sakralitas agama. Kedua, kelanjutan dari prinsip yang pertama, yaitu sesuatu yang bisa menjelaskan agama. Menurutnya yang hanya bsia menjelaskan agama adalah Phenomenology yaitu studi perbandingan tentang bentuk yang nampak dari sesuatu yang datang kepada kita. Karena menurutnya hakikat ilmu adalah fenomenologi. Semisalnya warna merah yang muncul dalam fenomena diri kita adalah kemunculan yang terjadi karena kita mengetahui bentuk yang berbeda dari warna merah, biru misalnya. Oleh karena itu manusia yang hanya kenal satu hal, berarti dia tidak tahu apa-apa. Seseorang bisa mengenal agamanya jika dia kenal dengan agama-agam lain, dan yang hanya bisa melakukan ini adalah fenomenologi.
Kebanyakan yang dilakukan oleh para peneliti agama ialah melihat rekaman-rekaman masyarakat masa lalu, bagi Eliade ini merupakan bentuk pengulangan sejarah, hanya melihat dari salah satu segi jasa yaitu historis.Sehingga yang dihasilkan hanya sama dengan para sejarahwan murni. Agama tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, yang bisa dikumpulkan, dianalisis dan akhirnya menyimpulkan sebab dan akibat. Tapi agama harus dilihat dari dua sisi yang berbeda. Kelebihan lain dari fenomenlogi ialah pola dan bentuk umum fenomena agama bisa ditarik dari tempat dan waktu di mana ia berasal sehingga bisa dibandingkan dengan agama-agama lain. Artinya bahwa fenomenologi bisa diterapkan kapanpun dan di manapun.
Sebagai satu contoh Dewa Zeus adalah dewa yang paling kuat, bertahta di bukit Olympus, menurut Eliade Feomena ketuhana bukan hanya ada di Yunani tapi fenomena tuhan ada pada setiap budaya yang berbeda.
Seanjutnya kedua dimensi ini akan banyak dibahas melalui buku-buku Eliade, seprti The secred and the profhane, The Pattrent in the comparative Religion, dan The myth of the Eternal Retrune.
Yang sacral dan yang Profan
Bagi Eliade bagian sacral dan profa hanya bisa ditafsirkan oleh para sejarahwan yang menjauh dari penelitian peradaban modern mereka, karena tidak bisa mengetahui banyak melalui peraban modern kelakuan masyarakat arkhais. Karena masyarakat arkhais adalah kelompok yang melakukan kegiatan sehari-hari secara alami, yaitu bercocok tanam, memburu, dan memancing. Kegiatan kaum arkhais dengan segala kebiasaan alamiahnya adalah kehidupan yang berada di dua wilayah, yaitu profan dan sacral.
Yang profan adalah bentuk dari kehidupa sehari-hari, bersifat kurang penting, mudah hilang dan terlupakan, dan di mana manusia berbuat salah dengan mengalami perubahan, dan sering kacau. Yang sacral, wilayah supranatural, tidak terlupakan, tidak megalami perubahan, tempatnya kesempurnaan. Setiap kali kita menemui masyarakat arkhais, maka agama yang berada di tengah masyarakat arkhais.
Menurut Eliade fokus perhatian agama adalah yang supranatural, dan agama berpusat pada dan dari yang sacral. Walaupun istilah yang digunakan oleh Eliade sama dengan yang digunakan oleh Durkhem, namun berbeda dalam pengertian. Durkhem mengartikan yang sacral dengan segala tindakan social dan yang profane dengan bentuk tindakan individual manusia. Dalam hal ini Eliade nampaknya lebih setuju dengan pendapat Taylor dan Frazer yang mendefinisikan agama dengan kepercayaan terhadap yang supranatural. Rudolf Otto, pembimbing Eliade dalam meneliti agama nampaknya menjadi sumber inspirasi baginya. Menurut Otto sacral adalah pengalaman manusia tentang sesuatu yang misterius, mengagungkan dan menakutkan.
Sakral dalam pandangan Eliade bukan hanya bentuk tuhan personal, tetapi juga dewa dewi, roh yang suci yang mengatur alam raya. Untuk memahi yang sakral manusia harus keluar dari kebiasan alam serta melupakan sejarahnya, lalu menempatkannya kepada sesuatu yang berbeda, yang sangat transenden dan suci. Yang sacral bukan hanya milik umum, tapi dianggap sebagai yang absolute dan amat penting bagi kelangsungan eksistensi mereka, dan akan selalu mempengaruhi kehidupan mereka, terlebih hal-hal yang mendasar. Seperti menentukan tempat dan waktu menetap, mereka pasti akan menyerahkan pilihannya kepada yang sakral.
Berbagai macam bentuk dan cara yang dilakukan oleh masyarakat arkhais menunjukan bahwa mereka sangat mementingkan mitos kosmogenik, bahwa semua penciptaan di alam ini merupakan sebab akibat dari wahyu Tuhan ataupun betuk dari kekacauan dari penyelesaianya melawan kejahatan, untuk kesalamat dan keberlangsungan alam dan manusia. Seperti yang terjadi dalam mitos orang India, bahwa naga, moster penunggu laut adalah simbol dari kekacaun laut maka harus ada seorang dewa yang bisa mengalahkan kejahatan monster tersebut.
Dari kesemua dimensi sacral masyarakat arkhais menujukan bahwa mereka memiliki rasa “kejatuhan” yaitu sebuah tragedi besar dalam sejarah manusia, di mana manusia telah memilki kecemasan sejak terlahir di dunia. Mereka telah tercekam oleh rasa kehilangan, jauh dari tempat yang seharusnya mereka milki-dunia sacral, Eliade menamakan gejala ini dengan “nostalgia surga firdaus”.
Agama Arkhais: Simbol dan Mitos
Untuk merasakan dan menemukan yang sacral tidak bisa dengan hanya mendeskripsikan semata, ataupun tidak bisa hanya dibentuk dengan sesuatu yang profan. Menurut Eliade masyarakat arkhais merasakan yang sakaral melalui “pengalaman tidak langsung” terhadap bahasa yang sacral yang dapat ditemukan dalam simbol dan mitos-mitos. Prinsip simbol-simbol didasarkan pada kemiripan, kualitas, bentuk, dan kareakter yang bisa menyebabkan kita berkesimpulan bahwa sesuatu itu sama dengan alam supranatural. Begitu pun dengan mitos, adalah simbol dari perwujudan narasi dan imajenasi yang dimuat dalam cerita-cerita dewa dewi, leluhur, kesatria atau dunia supranatural lainya.
Dalam buku Pattern in comparative religion, Eliade mengatakan bahwa segala bentuk yang profan bersifat sementara dan biasa-biasa saja, namun dalam beberapa hal tertentu yang profan bisa menjelma menjadi hal yang sacral. Seperti, benda-benda, binatang, batu, api, goa dan sungai yang diyakini manusia sebagai sesuatu yang sakral, maka itu juga bagian dari yang sacral.
Seperti Ka’bah bagi umat muslim, dar dahulu sampai sekarang Ka’bah adalah hanya seonggok tumpukan batu. Namun ketika ka’bah itu objek yang diyakini sebagai sebuah bentuk sentuhan yang sakral, maka objek profan tersebut berubah menjadi sesuatu yang sacral. Bukan lagi sekedar batu dengan tumpukan yang rapih, tapi juga menjadi objek yang suci dan menakjubkan. Eliade menyebut istilah ini dengan “dialektik yang sacral”. Dialektik ini bisa saja terjadi karena dalam beberapa hal rasio manusia tidak bertangung jawab atas proses pertukaran tersebut. Dalam suatu pengembaraan intuisi, imajenasi religius melihat hal yang biasa-biasa saja dan profan sebagai hal yang lebih dari itu, yaitu yang supranatural dan sacral. Dan yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat arkhais di dunia ini akan mereka simbolkan dalam berbagai bentuk simbolisasi. Langit yang bisa menurunkan hujan dan mencerahkan dunia serta kemabali dengan kegelapannya akan mereka simbolkan dengan bentuk dewa-dewa langit. Begitu juga dengan Matahari dan bulan, air dan bebatuan, dan tanah dan pertanian . Semuanya dianalogikan oleh masyarakat Arkhais dengan bentuk dewa-dewa.
Struktur dan karakter simbol-simbol
Selajutnya menurut Eliade, ada dua hal yang berkaitan dengan bentuk pemikiran simbolik, pertama struktur dan karakter simbolisme dan mitologi. Seperti masyarakat Mesir zaman Akhenaton. Peristiwa kemunculan untuk pertama kali sesuatu hal yang sacral, bertemu dengan Tuhan di matahari. Kemudia system tatasurya dijadikan sebagai simbol ketuhanan. Kondisi ini memberi kesempatan masyarakat untuk berfikir tentang matahari, kemudian mensakralkan, temapat, waktu, dan orang-orang dimana pertama kali peristiwa betemu dengan Tuhan terjadi.
Kedua, Mengenai hirarki simbol-simbol tersebut. Yaitu simbol dan mitos selalu dihubungkan dengan image dan mitos-mitos yang lain, sehingga membentuk satu pola tertentu. Seperti sistem peredaran bulan menjadi bagian yang sangat sakral dan masuk ke dalam segala sistem kehidupan, walaupun hal yang sepele. Seperti kesuburan dan perempuan. Kesemuanya adalah bentuk logika simbol yang secara definitf dan imajenatif memungkinkan terjadinya hubungan-hubungan ini. Menurut Eliade logika imagenatif religious mereka tidak pernah berada dalam bentuk yang terpecah belah, malah sebaliknya yaitu terlepas dari ruang dan waktu dan budaya tertentu. Masyarakat arkais memperlihatkan keteguhan yang luar biasa dalam menerapkan simbol-simbol yang sama serta logika universal dalam simbol dan mitos-mitos tersebut.
Sejarah dan waktu Sakral
Sebagaimana yang telah disinggung, bahwa masyarakat akhais mengalami “nostalgia surga firdaus” di mana manusia telah memilki kecemasan sejak terlahir di dunia. Mereka telah tercekam oleh rasa kehilangan, jauh dari tempat yang seharusnya mereka miliki-dunia sacral. Pendapat selanjutnya dari Eliade adalah apa yang dilakukan dengan nostalgia surga firdaus adalah upaya masyarakat arkasi untuk mengakhiri sejarah dan ingin kembali kepada titik dunia mulai diciptakan. Apa yang dilakukan oleh masyarakat arkhais tak bisa ditawar-tawar dalam jiwa mereka, karena dunia ini merupakan bagian dari tangan sang pencipta. Dan oleh karena pemahaman mereka seperti itu, segala bentuk penciptaan sangat berperan penting dalam masyarakat arkhais.
Dan dalam hal penciptaan, menurut Eliade ada hal yang harus diperhatikan. Bahwa dalam setiap ritual-ritual penciptaan mengandung pegulangan kembali apa yang Tuhan lakukan pada waktu itu, yaitu pada saat alam semesta mendapatkan wujudnya. Lajut Eliade, kita harus tahu motif sebenarnya di balik mitos kembali ini. Motif ini menurut Eliade karena masyarakat arkais ingin mendapatkan nilai dalam kehidupannya, serta jauh dari rasa takut. Perasan yang demikian diistilahkan Eliade dengan “Teror sejarah”.
Tantangan bagi agama-agama arkhais
Bagi Eliade kesakralan yang ditunjukan oleh agama arkhais ternyata mendapat tantangan dari Yahudi dan Nasrani. Bermula dari agama Yahudi, mereka mendapatkan pemahaman keagamaan yang baru. Dimana yang sacra bukan lagi berada di luar sejarah, tapi juga berada dalam sejarah mereka. Kesakralan ini dicirikan dengan munculnya dimensi kenabian. Kejadian perjumpaan manusia dengan “pribadi Tuhan sejarah” babak baru bagi pemahaman dunia sakral dalam agama-agama dunia. Sebagai contoh penyebelihan putra Ibrahim yang dikisahkan dalam Bible.
Selanjutnya Kejadian-kejadian sosok-sosok kenabian dikisakan lebih lanjut dengan sebuah pengharapan terhadap keselamatan dunia di akhir zaman, boleh dikatakan ini juga yang terkait dengan kembalinya unsur-unsur kesakralan sebagaimana yang telah masyarakat arkhais pahami.
Namun akan mencengangkan kita dengan terjadiya evolusi manusia kepada sesuatu yang sacral, dari yang masyarakat arkhais kepada Yahudi dan Nasrani, dan evolusi kedua adalah datangnya pemahaman orang-orang anti nilai-nilai sacral, yaitu di pertengahan abad modern, tepatnya di kalangan filosof barat. Dan menurut Eliade perubahan ini menyebabkan agama-agama historis berubah menjadi filsafat sejarah dan manusia religius melepaskan agama dari kehidupan. Eliade menyebut ini dengan historisisme yaitu suatu pemikiran yang hanya memandang hal yang profan saja dan meninggalkan mentah-mentah keterhubungan dengan yang sacral da supranatural.
Kembalinya agama arkhais
Kenyatan yang diperlihatkan oleh filosof modern tidak membuat agama arkhais menghilang, justru semakin kesinian agama arkhais lebih diberi tempat. Sebagai contoh kegiatan dan perlombaan atletik, merupakan bentuk modern dari kebiasan yang diperlakukan oleh agama arkhais dahulu. Atletik adalah jenis kegiatan yang terkonsentrasi kepada pusat tunggal dalam permainan waktu, dan masih banyak lagi contoh-contohnya. Terakhir, kecondongan-kecondongan yang dilakukan eliade bernada positif kepada yang sacral. Dan karenanya Eliade sangat terang-terangan mendukung gagasan masyarakat Arkhais dan agama kosmik kuno.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s