E B Taylor: Animisme dan magis

Diringkas oleh Djauharul Bar dari “Seven Theories”
Primitive Culture
Salah satu karya Taylor yang timbul di tengah-tengah masyarakat inggris Victoria yang menghadapi ancaman dari kaum anti agama. Karya ini juga bisa melihat bagaimana Taylor terpengaruh dengan konteks historis dan religious, misalnya bagaimana respon dia terhadap karya Darwin the origin of species yang banyak mengagetkan banyak pemeluk kristiani, karena terang-terangan menentang isi Injil. Buku Darwin selanjutnya yang menjelaskan tentang evolusi binatang yang kemudian menjadi manusia, di sini ide perkembangan dan evolusi manusia diambil oleh Taylor sebagai salah satu bentuk pengujian dia terhadap objek penelitannya.
Dan terbitnya karya Primitive Culture menjadi teori baru tentang asal-usul agama sekaligus menjadikan masyarakat semakin ragu atas agama mereka. Pendekatan agama yang mulai dicoba oleh Taylor adalah melalui etnologi dan etnogrfi, etnologi berarti studi mengenai masyarakat dan etnografi membicarakan mengenai bentuk masyarakat. Agama Kristen paling tidak menurut Taylor adalah agama yang ajaib karena berasal dari wahyu Tuhan dan kemudian tercermin dalam tradisi gereja. Apa yang Taylor lakukan tidak seperti pendekatan naturalistic, seperti pendekatan bahasa yang dilakukan oleh Max Muller. Menurut Muller kunci untuk mendekati agama adalah bahasa, dan membangun teorinya dari tradisi bahasa dan deveriasi kata. Taylor berpendapat bahwa agama adalah suatu sistem yang sangat komplek, sehingga tidak cukup mendekatinya hanya dari perbedaan dan kesamaan bahasa saja seperi yang dicontohkan Muller dengan Dewa Apollo dan Dewi Daphne, yang malah hanya menjelaskan kisah-kisah mitologi belaka.
Menurut Taylor, agama harus didekatkan dari semua unsur dan aspek yang melekat dengan agama seperti tradisi, ritual, dan ide masyarakat. Dan melakukan pendekatan agama dari segala aspek budaya adalah lebih baik dari mereka yang mencari akar kata dan analogi-analogi.
Tujuan dan asumsi-asumsi agama
Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal bahwa agama harus diasumsikan sebagai masyarakat yang harus dilihat secara keseluruhan, seperti pengetahuan, kepercayaan, moral, bahasa, seni, legenda, mitos, dan adat istiadat, yang dengan istilah Taylor sendiri sebagai bentuk etnologi. Melalui etnologi akan menemukan asal-usul kebudayaan manusia dengan pasti dan meyakinkan. Maka jika dilihat secara seksama, unsur kebudayaan akan memunculkan dua hukum besar budaya. Yang pertama kesatuan dan keseragaman fisik segala bentuk ras manusia, kedua evolusi pemikiran manusia.
Perbedaan dan persamaan antara beberapa budaya bukanlah sesuatu yang bersifat kebetulan, akan tetapi adalah bentuk kesamaan fundamental ras manusia. Perubahan yang terjadi merupakan tahapan perkembangan manusia. Perbedaan budaya masyaraat adalah faktor mental manusia antara tinggi dan rendah. Dan menurtnya sejarah peradaban manusia dapat menceritakan sejarah kemajuan manusia.
Doktrin “keberlangsungan hidup” (survivals)
Dalam penjelasan doktrin keberlangusungan hidup Tayor ingin menjelaskan bukti-bukti atas asumsi-asumsinya tadi. Baginya tidak semua kebudayaan dan tidak semua aspek-aspek kebudayaaan berkembang dalam fase yang sama, beberapa kebudayaan tertentu masih tertinggal (ada) dibeberapa kebudayaan yang telah maju, misalanya pengobatan kuno, kuburan, dan adat istiadat yang memiliki pengaruh hampir di semua kehidupa manusia.
Contoh lainya, dahulu busur panah digunakan untuk mencari dan berburu binatang, sekarang busur panah masih tetap dipakai namun untuk kegiatan lain seperti hobi dan olahraga. Atau di belahan dunia lain, seseorang dilarang untuk menyelamatkan orang yang tenggelam di laut, menurutnya siapa yang menghalangi dan menyelematkannya maka akan mendapatkan balasan dari raja laut. Walaupun gejala evolusi manusia kian santer di masyarakat, namun kenyataannya sebuah jejak kebudayaan yang tertinggal masih terapung di permukaan gelombang evolusi.
Maka menurut Taylor Jika prinsip evolusi memperlihatkan proses keberlangsungan hidup manusia itu ada, maka prinsip ini akan menjadi pasangan dan keseragaman yang memungkinkan kita memahaminya. Orang-orang primitive yang hidup di zaman modern ini, memang memiliki pengetahuan yang lebih rendah dari manusia modern, tetapi menurut Taylor bahwa mereka tetap berpikir dalam mekanisme mental yang sama dengan kita sekarang, walaupun saling berbeda-beda, namun kesatuan mekanisme mental telah menyatukan ras manusia.
Aspek-aspek kebudayaan manusia
Menurut Taylor Contoh yang paling tepat utuk menghubungkan rasio dengan evolusi social manusia adalah magis. Magis bisa ditemukan dihampir semua masyarakat primitive, magis adalah simbol dari kecenderungan ide-ide yang dipahami sebagai sebuah betuk kongkrit. Jika seseorang dalam pemikirannya mengaitkan ide satu dengan ide lain, maka logika akan menuntut mereka untuk menyimpulkan bahwa hubungan yang sama juga terdapat dalam realitas di luar pikiran. Seperti tradisi mengganti nama seseorang setelah lama menginap banyak penyakit sewaktu kecil, mereka berkeyakinan bahwna nama tersebut terlalu berat untuk si anak karenanya sering mendapat penyakit, maka jika ingin terhidar dari peyakit si anak harus ganti nama. Cerita bagaimana fenomena alam ketika gempah bumi masih diyakini sekarang sebagai bentuk dari raksasa bawahtanah yang mengamuk berjalan tak karuan sehingga menggetakan bumi, atau mungkin fenomena hujan pada siang hari menandakan seekor anak singa baru lahir, kicaun burung gagak menandakan orang meninggal. Kesemua mitos-mitos yang terjadi dalam masyarakt primitive dan masih berbekas hingga zaman modern adalah sama-sama mengikuti hukum-hukum perkembangan. Walaupun cerita-cerita tadi memang murni imagenasi, tapi personifikasi-personifikasi ini dengan jelas merupakan contoh pikiran rasional yang bertujuan menjelaskan kenapa sesuatu bisa terjadi. Mereka menerangkan fakta-fakta alam dan hidup dengan bantuan analogi dan komparasi, dan ini menandakan penggabungan ide-ide yang logis dengan evolusi sosial masyarakat.
Asal-Usul agama
Penjelasan Taylor mengenai magis sangat lah penting untuk bisa mencari asal usul agama, Karena menurt Taylor kita tidak akan mengetahui sesuatu sebelum kita mengetahui hakikat sesuatu tadi. Mendefinisikan agama dan mengetahui agama tidak cukup lewat pengetahuan pribadi kita mengenai Tuhan. Pengetahuan sepeti ini tidak akan mencakup sejumlah seku yang mempercayai beberapa Tuhan yang berbeda seperti yang diyakini kita. Maka definisi agam menurut Taylor adalah “Keyaina terhadap sesuatu yang spiritual”, spiritual menurut Taylor adalah sesuatu yang memilki kekuatn di luar kekuatan manusia. Pada dasarnya spiritual adalah karekteristik yang dimiliki oleh setiap agama di dunia. Maka boleh dikatakan bawa hakikat dan esesnsi agama adalah animisme. Animisme adalah bentuk pemikiran paling tua, yang dapat ditemukan dalam setiap sejarah peradaban manusia.
Maka bagi Taylor, jika ingin menjelaskan agama, pertanyaan pertama yang mesti kita jawab adalah “bagaiman dan kenapa awal mulanya manusia mempercayai keberadaan sesuatu sebagai sebuah roh?”.
Jawaban ini harus di jauhkan dari hal yang bersifat pribadi dan subjektif, makanya Taylor mencarinya melaui dalam sebab-sebab alamiah, seperti yang dia lakukan dengan melihat kebelakang, memandang jauh ke dalam masa pra sejarah.
“Manusia dalam kebudayaan yang paling dasar sangat dipengaruhi oleh dua persoalan biologis. Yaitu persoalan hidup dan mati yang banyak dipertanyakan oleh manusia di masa-masa awal sejarah, kedua adalah penampakan yang diperolehnya dalam mimpi. Jawaban atas kedua pertanyaan tadi adalah, pertama bahwa manusia memilki dua hal yaitu jiwa dan roh, dan keduanya berbeda dengan badan. Kedua bahwa keterpaduan jiwa dan roh tadi memunculkan konsepsi tentang jiwa yang memiliki pribadi.
Dengan kata lain penalaran mereka tentang kematian dan mimpi menyebabkan masyarakat primitive mampu menalar untuk kali yang pertama suatu teori sederhana tentang kehidupan mereka, bahwa setiap kehidupan disebabkan oleh prinsip roh atau spiritual. Melalui penalaran awal masyarakat primitive tentang alam kemudia menemukan bentuk kepercayan religious yang pertama. Lebih lanjut lagi Taylor berargumen bahwa melalui teori animistik akan menjelaskan kepada kita varian-varian kepercayaan dan adat istiadat masyarakat purba. Seperti kepercayaan mengenai hari akhir, surga dan neraka. Melalui sistematika yang seperti ini Taylor mencoba menelusuri seluruh kehidupan , pemikiran dan adat-istiadat masyarakat primitive. Dalam segala kesempatan ia menjelaskan bagaimana doktri animisme menciptakan prilaku-prilaku dan ide-ide, yang barangkali akan dianggap sebagai sesuat yang irasional belaka.
Perkembangan pemikiran Keagamaan
Perkembangan masyarakat primitive mengenai roh dan magis menurut Taylor berkembang seperti elemen-elemen lain. Awalnya masyarakat primitive hanya mempercayai satu roh individual sebagai seabgai sesuatu yang keci dan spesifik, menyatu dengan pepohonan, binatang seperti yang mereka temukan. Kemudian kekuatan roh itu mula berkembang dari yang hanya pohon saja menjadi roh hutan, kemudia roh tersebut memilki karakter tersendiri yang berbeda dengan abjek pertamanya.
Menrtu Taylor satu masa di masyarakat Yunani kuno yang dia sebut dengan Barbar, yang menggantikan masa sebelumnya yaitu masa vage (liar). Dalam peradaban liar masyarakat primit hanya melakukan perburuan sehari-hari untuk kelangsungan hidupnya, dan karenanya dalam pemikiran mereka tidak ada pemahaman mengenai roh-roh. Kemudian masuk masa Barbar di mana peradaban masyarakatnya sudah mulai tumbuh maju yaitu tidak hanya berburu tetapi juga bercocok tanam. Maka dengan adanya kemajuan yang didapat oleh kaum barbar, mereka juga mengkondisikan dengan suasana yang harus menguntungkan mereka. Pertanian sangat berpengaruh dengan kondisi dan cuaca alam, sehingga apa yang dia lakukan untuk mempertahankan cocok tanam mereka yaitu dengan memohon agar matahari, langit, bulan ikut memberinya keuntungan berupa hujan, cuaca yang bersahabat dan lain-lain. Sehingga muncul pemahaman mengenai dewa-dewa, dan roh-roh.
Sampai pada bentuk terakhirnya dari kepercayaan dengan banyak tuhan dan dewa akhirnya percaya hanya kepada satu Tuhan atau monotaisme. Dan bentuk terakhir dari animisme ini bisa diwakili oleh agama Yahudi dan Kristen. Mereka telah membentuk formula akhir yang sangat logis dari seluruh perkembangan proses yang dimulai berabad-abad sebelumnya.
Kemunduran animism dan kemajuan pemikiran
Agama mengalami perkembangan yang sangat menarik, mulai dari keyakinan terhdap roh-roh, sampai kepada tingkat yang paling tinggi yaitu monoteisme. Menurut Taylor pandangan-pandangan mengenai animisme akan sangat mengesankan jika dibandingkan dengan pengetahuan sains sekarang. Seperti penjelasan sains mengenai fenomena alam matahari, bulan dll. Lebih masuk akal dan bisa diterima dibandingkan dengan kepercayaan masyarakat primitive dengan matahari dan bula yang mereka yakini sebagai bagian dari petualangan dewa Apollo dan Poseidon. Dan Taylor berpendapat bahwa peradaban primitive harus ditinggalkan, dengan alasan kurangnya dan lemahnya mental mereka sehingga apa yang mereka pikirkan lebih bersifat asal-asalan dan tidak efisien. Makanya apa yang mereka lakukan adalah sebuah betuk kekeliruan.
Oleh sebab cara berfikir mereka sepert itu, manusia modern dengan ilmu pengetahuan dan penalaran yang sama harus mampu menyelamatkan masyarakkat dari cara berfikir primitif. Akan tetapi, ajaran dan pemahaman animisme memiliki kesamaan dengan sains pada masa sekarang, yaitu agama dan sains sama-sama mucul dari usaha manusia untuk mencari pemahaman tentang dunia. Walaupun agama sama kunonya dengan sains, namun agama lebih primitive dan kemampuannya memberikan penjelasan kalah jauh dengan sains.

Disinilah etnologi sebagai “pembaharu ilmu pengetahuan “memilki tugas ganda, sebagai progresifisme juga sebagai penyembuh dari paham animism. Dalam analisis Taylor yang terakhir ia menjelaskan bahwa ide-ide tentang animism adalah kumpulan ide-ide yang yang tergolong ke dalam ide-ide masa kanak-kanak, dan di saat manusia sudah dewasa maka harus meninggalkan ide kekanak-kanakan tadi.
Frazer
The Golden Bouhg
Cara yang cukup menarik yang dipakai oleh Frezer untuk menemukan jejak-jejak dunia lama, yang dipakai oleh masyarakat primitive, cara itu ialah salah satunya membaca karya-karya Yunani dan Romawi kuno dari filsafat, puisi, dan sastra. Dengan cara memadukan studi sastra klasik dan antropologi Frezer yakin berhasil menawarkan sebuah revolusi dalam memahami dunia primitive.
Dan prespektif demikian yang akhirnya mendorong Frezer untuk melakukan proyek besar-besaran yang kemudia menghasilkan buku The Golden Bouhg. The Golden Bouhg diawali dengan kisah dan teka-teki yang rumit yang menggambarkan tempat dan peristiwa-peristiwa yan rumit yang telah lama dilupakan. Dan sebenarnya yang ingin Frezer jelaskan adalah gambaran kemanusiaan masa lampau yang beraneka ragam, yang bercampur dipermukaan budaya. Namun pada selajutnya Frezer bertanya mengenai cerita yang ia buat.
Nah dan kuil yang indah menjadi tempat yang diwarnai oleh keberutalan dan kebiadaban, atau bagaimana mungkin tempat yang diperuntuhkan untuk kenyamanan agama berubah menjadi ajang pembantaian ritual?.
Jawaba atas pertanyaan tadi tidak akan kita temukan apabila kita hanya terkonsentrasi pada bukti-bukti atas peradaban Yunani dan Romawi saja. Tentu saja hal ini membutuhkan banyak perbandingan dan pengamatan, karena masyarakat pra sejarah tidak mewarisi kita catatan-catatan. Maka satu-satunya yang harus dilakukan adalah mencari dan mengumpulkan cerita rakyat, legenda, kepercayaa, dan tradisi masyarakat primitive dimana saja kita ketahui, dan kemudia apakah ada diantara legenda tadi yang ocok dan sama dengan legeda-legenda romawi dan Yunani. Jika kita bisa memasukan masyarakat primitive yang ada dibalik legenda dan cerita, teka-teki tadi bisa terjawab.
Dan pemikiran primitf ternyata tidak sedarhana, melainkan memilki dua sistem yang berbeda. Pertama magis dan yang kedua adalah agama, pemahaman dan hubungan antara kedunya adalah kunci untuk masuk ke dalam masyarakat primitive.
Magis dan agama
Magis adalah bentuk ketidak berdayaan manusia menghadapi alam ini, maka ketidak mampuannya dengan alam dia lampiaskan melalui segala bentuk dan upaya mereka untuk memahami alam dan mengubahnya. Dan jauh melampaui Taylor , Frezer mengatakan bahwa segala fenomena yang bisa disatukan secara mental, maka mereka akan berusaha menghubungkannya dengan dunia luar yang nyata. Dan hubungan yang diciptakan oleh sihir didasarkan pada dua tipe, Pertama imitative, penghubungan antar dua hal magis yang sama, dan kedua keterhubungan, yaitu magis yang dihubungkan karena alasan keterkaitan. Contohnya di Amerika, di mana masih ada tradisi mengoleskan perkaskas pertanian dengan darah wanita perawan untuk melancarkan benih-benih yang mereka semayamkan. Dan masih banyak lagi contoh yang menerangkan keterikatan dan persamaan dalam fenomena yang diyakini oleh masyarakat primitive. Prilaku dan kepercayaan mereka tadi dengan mudah menjelaskan kepada kita bahwa prinsip-prinsip alam bekerja dengan tetap, universal, dan tidak bisa diubah. Jadi menurut Frazer magis itu dibangun berdasarkan asumsi bahwa ketika satu ritual dilakuka secara tepat, maka akan sesuai dengan yang diharapkan. Keyakinan masyarakat primitive mengenai magis menandakan bahwa dalam masyarakat primitif telah ada ilmu pengatahuan, dan telah menerapkan hukum-hukum tentang cara kerja alam dan berusaha mengontrolnya.
Mengenai agama, Frazer sangat setuju dengan definisi agama yang dibuat oleh Taylor. Bahwa agama adalah kepercayaan terhadap kekuatan spiritual. Namun Frazer lebih setuju dengan perbedaan antara agama dan magis, ketimbang persamaan keduanya, sebagaimana yang Taylor buat. Bahwa kekuatan magis bukanlah sesuatu hal yang prinsip, kekuatan nyata yang ada di alam merupakan kekuatan yang berasal dari sesuatu yang supranatural, yaitu Tuhan. Bagi Frazer Kepercayaan terhadap kekuatan dan upaya untuk memperoleh pertolonganNya dengan cara berdoa telah membebaskan manusia dari belengguh magis, dan membawanya kepada keyakinan beragama.
Perbedaan lain antara agama dengan magis adalah bahwa agama tidak pernah memaksakan untuk dikabulkan atau tidak dikabulkan, berbeda dengan magis yang memaksakan kehedaknya untuk serta merta bisa dan terjadi. Dan bukankah pandangan kita tentang agama seperti ini lebih dekat dengan keadaan eksistensi kita, sebagaimana yang kita alami.
Magis, agama, dan penuhanan Raja
Kedatangan agama banyak memunculkan perubahan-perbahan, baik langsung atau tidak langsung dalam masyarakat primitive. Secara bertahap para rohaniawan mengaku sebagai utusan dan representasi Tuhan di Dunia, raja-raja ikut dalam pengakuan tersebut bahwa dia memiliki dimensi ketuhanan, dan mampu berkomunikasi dengan baik kepada Tuhan. Sebagaimana yang telah terjadi ketika zaman magis, dimana raja dan para dukun begitu memiliki kedudukan yang sangat terhormat di mata masyarakat.
Frazer mengingatkan bahwa evolusi budaya tidak berjalan dengan lancer dan merata. Walaupu masyarakat primitive telah mengganti keparcayaan magis dengan keyakinan terhadap dewa-dewa, namun mereka masih tetap menggabungkan dua sistem tersebut, magis dan agama.
Di tempat lain, kebanyakan masyrakat primitf masih menganggap raja-raja mereka sebagai dewa. Sehingga banyak yang melakukan ritual pembataian raja, di saat sang raja dilihat sakit atau sudah tua, untuk menjaga kesempurnaan ilahiyah maka ia harus dipidahkan ke raja yang baru, walaupun ritual tersebut boleh budak atau binatang sebagai ganti raja. Bagi mereka tindakan tersebut bukanlah tindakan yang kejam dan amoral, tapi merupakan tindakan sakral yang diperlukan dalam magis. Atau contoh lain berlaku ketika binatang-binatang diartikan sebagai makhluk yang mewakili Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s