Cliford Geertz: Agama Sebagai Sistem Kebudayaan

Diringkas dari “Seven Theories” oleh Djauharul Bar

“Analisa kebudayaa bukanlah penelitian yang mecari hukum, akan tetapi adalah suatu penafsiran ayang mencari makna”

The interpretation of culture
Cliford Geertz antoplog budaya asal Amerika, semasa hidupnya sangat aktif menulis. Geertz bukan hanya mahir dibidang antropologi, akan tetapi seluruh bidang ilmu sosial ia kuasai. Keahliannya sebagai antropolog bisa dibilang sejajar dengan Evan Pritchard seorang antroplog utama Inggris. Keduanya disejajarkan bukan karena sama hebatnya dalam ilmu sosial, tapi juga keduanya memilki ketertarikan yang sama dalam bidang agama. Selama ini esai-esai yang dibangun oleh Geertz adalah seputar kehidupan manusia, mulai dari agriculture, ekonomi, politik, seni, estetika, sastra, filsafat dan sains, maka pantas saja jika Geertz bisa disebut sebagai Renaissance Man, Walau kebanyakan orang sekarang memberi nama untuk peneliti yang hanya terjun dalam satu bidang saja. Fokus utama Geertz adalah bagaimana menelaah ulang terhadap hal mendasar dalam antropogi dan ilmu-ilmu social, yang kemudia akan dikaitkan dengan persoalan agama.
Menurt Geertz aktifitas kebudayaan manusia adalah hal yang sangat menarik di antara yang lain, maka seandainya kita meneliti aktifitas kebudayaan manusia tidak bisa kita teliti melalui imu-ilmu eksakta sebagaimana ia meneliti alam. Hal yang paling mungkin ialah dengan cara interpretation, seperti halnya ilmuan alam yang meneliti lebah. Dia meneliti tidak dengan metode penjelasan, akan tetap dengan metode interpretation tadi.
Pendekatan yang dilakukan Geertz adalah merupakan kelanjutan dari apa yang dilakukan oleh Eliade dan Evans Prichard, yang mendekati agama melalui pemeluknya langsung. Pendekatan yang sungguh berbeda dari pendekatan fungsionarisme dan reduksionalisme, yaitu pendekatan yang menuju sebuah apresiasi dan pendekatan terhadap kekhasan-kekhasan dan dimensi agama, dari mulai ide-ide, sikap sampai dengan tujuan.
Riwayat Cliford Geertz
Geertz dilahirkn pada tahun 1929, di kota San Fransisco California. Pendidikan akedemianya yang pertama dihabiskan di Antioch Collage di bidang filsafat, kemudia ia melanjutkan studinya di bidang antropolog Harvard University, dan tentunya studu lapangan menjadi kajian yang ia pilih dalam proses belajarnya. Tahun 1956 ia berhasil menggambil gelar doktonya di Havard berkat penelitian yang ia lakukan dua tahun pada sebuah kota kecil di pulau Jawa. Setelah meneliti di pulau Jawa Geertz juga meneliti di pulai Bali. Yang dilakukan Geertz dengan penelitian keagamaaanya adalah meneliti secara deskriftif, terperinci dan sitematis dari sebuah masyarakat untuk mengungkapkan kesatuan dari keragaman yang terjadi dalam kehidupan masyarkat.
Dari hasil penelitiannya di pulau jaawa dan Bali, Geerts kemudian banyak menyimpulkan hasil-hasil penelitian atas dasar yang ia dapat di Jawa dan Bali. Menurut Geetz kebiasan masyarakat bisa dilihat dari agama yang mereka anut, berbeda dengan metode fungsionaisme yang menyatakan bahwa suatu agama akan tergambar dari kondisi pemeluknya. Sekelarnya Geertz melakukan riset di Bali, ia bergabung sebagai pengajar di Universitas California dan kemudian selama 10 tahun di universitas of Chicago 1960-1970. Di tahun 1960 ia mengeluarkan sebuah karya yang berjudul The Religion of Java yaitu sebuah buku yang menjelaskan hasil risetnya selama di pulau Jawa, termasuk kebudayaan Jawa, Islam dan Hindu tergabung dalam satu sistem sosial.
Berbicara mengenai karya tulis Geertz tidak terlepas dari penelitian-penelitianya yang ia lakukan di berbagai tempat, dari penelitiannya di Jawa dan Bali menghasilkan karya seperti Agricultural Revolution sebuah bahasan mengenai lingkungan dan ekonomi Indonesai paska koloniaisme, Peddlers and Princes mengenai perbandingan ekonimi di Jawa dan Bali, keduanya sama terbitnya tahun 1963. The social Histor of an Indonesian Town menceritakan tentang perubahan sosial, politik dan ekonomi masyarakat dari zaman colonial higngga merdeka yaitu hasil penelitian dia di Mujokuto. Islam Observed yaitu buku yang Geertz hasilkan setelah penelitiannya di Maroko, penelitian yang hampir mirip dengan apa yang dilakukan Evans di Libia. Penelitian Geertz atas masyarakat Maroko juga menghasilkan buku yang berjudul Meaning and Order in Morrocean kumpulan tulisan Geertz bersama beberap penulis lain.
Gelar Profesornya ia dapatkan dari Princeton University. Gelar ini diberikan kepadanya karena pada tahun 1960 penelitian Geertz melalui study etnografi telah banyak memancing para ilmuan untuk mengkritik pemikiranya atas antropoligi. Yang dilakukan Geertz adalah perombakan dan ketidak setujuannya terhadap ilmu sosial kuno yang dianggapnya salah mengambil jalan sejak awal. Melalui jalan yang sama akhirya Geertz menemukan konsep barunya, yaitu antropoligi interpretative. Satu lagi karnya Geertz The Interpretation of Culture kumpulan tulisan Geertz yang banyak dibaca oleh kalangan di Amerika. Aspek yang akan kita bahas dari pendekatan Geertz atas agama akan dititk berat kan melalui: aspek ernografi dan aspek teoritis.
Antropologi dan Teori Sosial
Apa yang menjadi landasan antropolgi Cliford Geertz dalam meneliti? Geertz sangat yakin akan perihal antroplogi, sebelum berlanjut pada masalah berikutnya harus terlebih dahulu didasarkan oleh unsur etnografi, fokus utamanya adalah tempat dan masyarakat, maka kesimpulan general akan terlihat apabila terpusat pada Culture “Budaya”. Dan sekaligus menyatakan bahwa obek antropologi juga adalah Budaya bukan masyarakat. Dia percaya bahwa gerbang untuk meneliti akan terbuka jika kita telah mengetahui sistem hukum setempat. Dan proses ini semua harus dilakukan karena struktur sosial dan sitem hukum adalah hal yang saling berkaitan erat, dan ide, motivasi dan aktivitas merupakan kumpulan yang sebenarnya dari unsur kebudayaan.
Namun, terhadap metode baru ini Geertz lebih tertarik dengan peneltian yang dicapai melalui pendekatan sosiologi prancis. Dalam bahasa Amerika bahwa kebiasaa seseorang adalah cerminan masyarakat, sebab budaya adalah sumber keseharian mereka. Jika memang kebudayaan menjadi bagian dari sumber riset ilmiah, maka haruslah kebudayaan tersebut merujuk hal yang objektif, bukan sekedar tahapan psikologis manusia. Untuk hal yang seperti ini Geertz dibantu oleh karya-karya talcot Person.
Jauh dibelakang pemikiran Geertz tentang kebudayaan, ternyata nama-nama seperti Boas, Krober dan Benedict cukup mempeagruhi perspektif antropologinya. Seperti Franz Boas yang berasal dari Jerman menyatakan bahwa Suatu teori general harus didasarkan dengan studi etnografi yang benar-benar mendalam dan memusatkannya dalam satu budaya serta butuh waktu yang cukup lama untuk menuntaskanya. Termasuk mempelajari bahasa dan bergaul secara langsung dengan masyarakat yang ditelitinya. Boas, Kroeber, dan lowie bersepakat bahwa kunci dari studi antropologi adalah kebudayaan. Studi lapangan yang dilakukan mestilah mencakup seluruh aspek budayanya, seperti, ide, adat, prilaku, symbol dan institusi masyarakat, bukan sekedar meneliti masyarakaynya saja. Sedangkan Benedict menambahkan, bahwa untuk mengetahui suatu masyarakat dan individu seseorang harus mengetahui kebudayaan mereka. Contohnya temperament suku pueblo Indian dengan suku pima dan kwakiult yang suka berperang. Aspek psikologi sangat menetukan, karena akan memperlihatkan kebudayaan yang utuh yang dilihat dari perasaan dan kepriadian masing-masing.
Teori Sosial Amerika: Parson dan Weber
Pengaruh Parson terhadap Geertz bisa dilahat dari dua hal, Pertama, Parson adalah orang yang sangat akrab dengan pemikiran sosiologi Max Weber, yang banyak membahas tentang hubungan agama dengan masyarakat. Yang dilakukan parson adalah menterjemahkan karya-karya Weber semasa berada di Amerika. Salah satunya adalah The Protestant Ethic and the spirit of Capitalism, buku yang mengkaji hubungan ekonomi kapitalis dengan protestanisme ini adalah satu-satunya buku yang memberikan bentuk ide studi sosiologi lapangan dan perbadingan agama. Ide ini akhirnya akan memunculkan budaya yang menurutnya adalah hasil atas tindakan manusia, kebudayaan lahir karena manusia melakukan satu tindakan tertentu berdasarkan nilai. Maka jika kita memahami makna seluruh tindakan seseorang, maka kita bisa memahami dan menjelaskan apa yang terjadi. Dan apa yang dilakukan Parson melalui Weber bisa memelihara bagaimana Geertz menemukan pendekatan interpretatif Geertz terhadap kebudayaan. Hal lain yang berpengaruh terhadap Geertz adalah pengembangan atas level-level manusia, 1 individu yang dibangun oleh, 2 sistem sosial yang dikontrol oleh, 3 sistem kebudayaan yang terpisah. Nilai, simbol, dan sistem kepercayaan adalah kesatuan yang tak terpisahkan dari individu dan masyarakat. Akan tetapi, bisa dipisahkan dengan tujuan analisis. Parson ingin menyatakan bahwa sistem kebudayaan yang dipilihnya sebagai pusat penelitian merupakan hal yang objektif yang eksis di luar pemikiran seorang individu. Maka Kebudayaan adalah hal yang permanen dan riil , yang bisa diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat sekalipun tidak mengetahui antropologi sama sekali. Sebagaimana yang akan terlihat, Geertz akan menggunakan sistem kebudayaan sebagai sebuah sistem simbol-simbol yang objektif. Atau dalam bahasa yang sering dipakai oleh ilmuan adalah” antropologi simbolis”.

Deskripsi selanjutnya yang dibangun Geertz adalah melalui antropologi interpretative secara umum dan tujuan penerapannya adalah agama. Istilah lain yang kemudai muncul dari deskripsinya adalah perkataan Gilbert Ryle yang mengatakan Tick Description ,bahwa kita melakukan penelitian tidak hanya yang sedang actual, tetapi juga pemahaman seseorang tentang kejadian tersebut. Walaupun kebudayaan diartikan berbeda-beda oleh banyak antropolog, tapi kesemua kunci untuk memahami kebudayan hanyalah satu yaitu makna (meaning, significance), Kata Geertz manusia menurut Weber adalah hewan yang terkurung dalam jaring-jaring makna, Maka jika kita ingin menjelaskan kebudayaan orang lain, kita harus memakai metode tadi, Thick Description.
Seperti makna dua hal yang sama dalam symbol, tetapi beda dalam substansinya, kedipan mata tanpa sengaja berbeda makna dengan kedipan seseorang kepada wanita, melalui tick description bisa kita pahami bahwa kedipan pertama tidak memilki makna, sedangkan yang kedua mememilki makna. Artinya adalah objek bukan hanya dilihat dari luar saja, tapi juga harus melihat dari sisi yang terdalam. Tugasnya adalah mencari makna yang berada di balik kehidupan seseorang, pemikiran, struktur, dan kepercayaan mereka. Penelitian mengenai masyarakat bukan saja hal pencarian makna, tapi juga ada adat istiadat dan prilaku manusia yang harus diamati, karena kebudayaan menemukan alur artikulasinya pada tingkah laku sosial.
Antropologi interpretative memfokuskan kajian mereka melaui mikroskopis. Yaitu hanya sebuah miniature etnografi, subjek dalam skal kecil seperti suku, marga atau sebuah desa yang system kebudayaannya bisa dilukiskan sedetail mungkin karakteristiknya serta perbedaan kebudayaan fakta yang terjadi dalam kebudayaan tersebut. Berbeda dengan peneliti-peneliti sebelumnya yang membuat terori umum tentang seluruh manusia, atau juga sama halnya dengan test case yang dilakukan dengan membandingkan dua kebudayaan dalam labolaturium. Yang terakhir ini menurut Geertz adalah hal yang sia-sia karena bagaimana bisa jika objek tersebut tidak bisa dikendalikan oleh peneliti. Karena era dahulu berbeda dengan era sekarang, yang menganggap bahwa analisa kebudayaan bukanlah sains eksperimental yang ingin menemuka suatu hukum, akan tetapi adalah penafsiran yang ingin menemukan makna-makna. Namun apakah dengan demikian kita tidak bisa menyimpulkan sebuah penelitian kebudayaan sebagai tafsiran yang general?
Menurut Geertz tidak sepenuhnya demikian, tapi kesimpulan kebudayaan bisa kita lihat paling tidak seperti perlakuan dokter yang mendiagnosa gejala penyakit yang diderita pasiennya, dokter tidak bisa dengan pasti penyakit campak yang diidap oleh seorang anak. Akan tetapi, diagnosa dokter bisa dan mampu mengantisipasi apa yang akan terjadi. Begitupun halnya dengan Kebudayaan yang tidak bisa dipastikan oleh antropolog akan apa yang terjadi dalam kebudayaan. Para antropolog sebenarnya punya ide-ide general dalam penelitian mereka, hal ini akan memungkinkan seorang teoritikus mengaitkan satu semple kepada satu ide yang bisa diterapkan kepada kasus-kasus lain.
Tafsir kebudayaan dan agama
Jika menggunakan antropologi iterpretatif untuk menelaah kebudayaan dengan makna dan nilai-nilainya, maka kita juga akan tertarik pada permasalahan agama yang menjadi bagian dari kehidupan sosial. Dalam bukunya The religion of Java Geertz sangat yakin dengan apa yang ia lakukan terhadap penelitian di jawa, studi particular Geertz secara mendalam dan terlibat langsung dengan bahasa dan kehidupan mereka. Dia membahas secara detil bagaimana kompleksnya tradisi keagaman Islam dengan Hindu dan kepercayaan setempat. Dan selanjutnya Geetrz melihat agama sebagai fakta cultural sebagaimana dalam kebudayaan Jawa, bukan sekedar ekspresi kebutuhan sosial dan ekonomis saja.
Melalu symbol, tradisi dan ide Geertz menemukan pengaruh agama dalam setiap lini kehidupan masyarakat Jawa. Studinya sangat mendetai dan hati-hati terhadap apa yang dilakukanya dengan generalisasi dalam Thick Descrition nya, makanya kita tidak akan menemukan aspek teoritis pendekatan agama dalam buku The Religion Of Java.
Geertz sangat tertarik dengan dimensi kebudayaan, menurutnya kebudayaan adalah Pola makna yang termuat dalam symbol, yang melaluinya masyarakat menjalani kehidupan dari ekpresi mereka.
Yang Geertz maksud dengan agama sebagai suatu sistem kebudayaan adalah satu sistem yang bertujuan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar, dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang dengan cara membentuk konsepsi tentang sebuah tatanan eksistensi dan meletakan konsepsi ini kepada pancaran-pancaran faktual dan pada akhirnya perasaan dan motivasi ini akan terlihat sebagai realitas yang unik.
Yang Geertz maksud dengan sebuah sitem simbol adalah sesuatu yang memberi seseorang ide-ide. Misalnya al-Quran dan hadist yang memberi dampak kekhusuan seorang muslim mebacanya. Walaupun simbol tersebut tertanam dalam individu secara privasi namun juga bisa simbol-simbol dilepaskan dari indivudu. Lalu perasaan dan motivasi tersebut tertanam kuat dan tidak mudah hilang dan inilah yang disebut Geertz bahwa agama menyebabkan seseorang merasakan dan melakukan sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s