Rumi Sang Pujanga Cinta

Oleh Djauharul Bar
SI ICAS-Paramadina, Jakarta
Muqadimmah
Sebagai seorang pujangga cinta Maulana Jalaluddin Rumi adalah salah satu tokoh yang sangat populer di dunia Islam, melalui puisi dan syair dia mengungkapkan dengan segala kekaguman diri akan hakikat cinta. Dengan semangat baru melalui kekuatan perasaan dapat mengendalikan akal dan nafsu dan mampu meletakkan asas bagi pembicaraan baru tanpa benturan akal.
Sungguh suatu magnet yang sangat luar biasa. Maulana Jalaluddin Rumi mengibaratkan cinta seperti yang dia ungkapkan ”Cinta dapat menghancurkan segala keraguan, dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih menjadi emas, kering menjadi bening, sakit menjadi sembuh, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakan besi, meghancurleburkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya, seta membuat budak menjadi pemimpin”.
Lebih dahsyat lagi dia menambahkan bahwa cinta adalah “sayap yang dapat menerbangkan manusia yang membawa beban yang sangat berat ke angkas raya, dan dari kedalaman mengangkatnya ke tinggian, dari bumi ke bintang Tsurayya”.
Syair dan puisinya dapat menghangatkan hati yang terluka, menghembusakan perasaan yang rindu kepada sang yang dicintai. Cinta adalah obat yang paling mujarab bagi segala penyakit jiwa. Walaupun kini ia sudah tidak ada tetapi syair dan puisi cintanya sangat melekat di hati dan sanubari sang pencari cinta.
Riwayat Sang Pujangga
Maulana Jalaluddin Rumi sebagai nama kebesaran memiliki nama lengkap Jalalauddin Muhammad bin Muhammad al-Rumi yang menjadi cikal bakal mengapa dinamakan Jalaluddin Rumi. Lahir pada 6 Rabi’ al-Awwal 604 H/30 September 1207 di Iran Utara tepatnya kota Balkh oleh sebab itu orang-orang Parsi lebih suka memanggilnya dengan sebutan Jalalauddin Balkhi ketimbang Jalalauddin Rumi (Rum=Bizantium).
Ayah Jalaluddin bernama Bahauddin Walad yang mempunyai julukan sebagai Sulthan al-Ulama (rajanya para ulama) karena memang dia bertugas sebagai hakim dan khatib, juga dikenal dengan keluasan ilmunya yang banyak dikagumi oleh para ulama di kota Wakhsy. Di kota ini pula Jalaluddin Rumi tinggal bersama ibunya Mu’min Kahtun. Ketika Jalaluddin berumur lima tahun ia terpaksa hijrah ke Naisyapur bersama ayahnya, karena mendengar akan adanya agresi militer oleh tentara Kahwarizmsyah.
Di Naisyapur ayahnya bertemu dengan seorang sufi yang terkenal, Fakhruddin Razi sekaligus memberi tahu bahwa Jalaluddin akan menjadi tokoh spiritual besar di zamannya. Antara tahun 1215-1220 setelah menunaikan ibadah Haji mereka tinggal beberapa waktu yang lama di Aleppo atau Damaskus, di kota inilah Jalaluddin belajar kepada beberapa guru ahli bahasa Arab yang sangat mashur dan pandai dalam mencitakan bait-bait syair, mulai dari sinilah Jallaluddin mempelajari penulisan syair sehingga ia dapat menuliskan sejumlah syair yang membuat banyak orang terkenang dengan syair-syairnya
Untuk kesekian kalinya Jalaluddin berhijrah dari satu tempat ketempat lain, namun kali ini dia menuju Konya dari Khurasan. Ketika itu Jalaluddin berumur 18 tahun. Di tahun itu pula dalam perjalanannya menuju Konya itu ia menikahi seorang gadis dari rombongan yang pergi bersamanya. Di Larada pada tahun 1226 putra pertama Jalaluddin lahir dan diberi nama seperti nama kakeknya Sultan Walad. Lalu, keluarga itu mengadakan perjalanan kembali menuju Konya. Jauh perjalanan yang mencapai 100 km ternyata membuahkan hasil karena ayah Jalalauddin yang sudah berusia 80 tahun diberi kepercayaan untuk mengajar madrasah. Dan sebuah anugerah kembali menghampiri Jalaluddin ketika masa-masa itu (1228/9) putra keduanya lahir dan diberi nama Alaudin, yang merupakan nama saudara laki-laki Jalaluddin yang meninggal di Larada. Pada tahun 1231 sang ayah Bahauddin Walad meninggal dunia. Sehingga Jalaluddin menjadi penerusnya dan mengajarkan kepada murid-murid ayahnya akan ilmu teolog.
Bahauddin Walad Seorang Sufi
Ketika sang ayah meninggal dunia secara otomatis Jalaluddin menggantikan posisinya. Akan tetapi, Jalaluddin belum mengetahui secara pasti bahwa ayahnya adalah seorang mistikus bahkan sufi, tetapi sulit dijelaskan apakah Bahauddin Walad ini diakui secara sanad atau tidak.
Seorang yang banyak mengetahui Jalaluddin adalah anaknya sendiri Sultan Walad yang menuliskan Biografi lengkap mengenai kehidupan Jalaluddin mengatakan bahwa sang kakek adalah “Sultanya para ulama…. Yang lebih tinggi dari Fakhtuddin Razi dan seratus orang seperti Ibn Sina”. Kitab Ma’aarif buah tangan ayahnya sendiri yang belakangan baru diketahui oleh Jalaluddin setelah seorang murid ayahnya Burhanuddin Muhaqqiq mengkisahkan di dalam kitab tersebut sebuah catatan, komentar-komentar seperti layaknya buku harian dan rangkuman khutbah-khutbanya yang telah banyak mengejutkan orang yang membacanya, karena pengalaman mistik yang merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa. Kebebasannya dalam mengungkapkan pengalaman cinta spritualnya sangat menakjubkan. Sesungguhnya dia telah mengalami tahapan mistik tertinggi, sesuatu yang sensual, suatu cinta yang sempurna kepada Tuhan, sampai ia berada dalam pelukan-Nya. Ditunjukkan dari salah satu baitnya yang berbunyi
Pergilah kepangkuan Tuhan
Dan Tuhan akan memelukmu dan mencintaimu dan menunjukkan
Bahwa ia tidak akan membiarkanmu lari dari-Nya.
Ia akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya,
Siang dan malam. (Ma’arif, h.28)
Bertemunya Jalaluddin dengan Syamsuddin Tibriz Dan Karya-karya Maulana
Pada tahun 1230 dan awal 1244 adalah masa-masa di mana Jalaluddin memiliki banyak murid dan cukup berepengaruh di tingkat pemerintahan, sebagai seorang yang alim, mengajar dan bermeditasi. Dia mengunakan pengaruh kebesarannya untuk membantu orang miskin dan para murid-muridnya.
Sebelum menjadi orang yang termashur di Konya, Jalaluddin adalah orang yang sudah terbiasa dengan syair dan puisi. Dan ketika membaca karya-karya Sanai, terkagum-kagumlah Rumi. Kekagumannyapun pada tokoh inipun ia salurkan dalam bait Kitabnya Diwan al-Kabir.
Seorang berkata:”Wahai, Tuanku Sanai telah meninggal dunia!”
Aduhai, kematian orang itu bukan hal yang sepele!
Ia bukan sekedar benang yang terbang bersama angin,
Ia bukan air yang membeku karena dingin,
Ia bukam sisir yang patah di rambut,
Ia bukam butiran yang hancur di dalam tanah.
Ia adalah emas yang ada dalam debu….(Diwan al-Kabir 1007)
Hal yang mungkin sama terjadi ketika itu terulang kembali. Namun, ini merupakan sesosok orang yang ia temui secara fisik di perjalanan menuju pulang dari tempat ia mengajar. Oktober 1244 /Jumad al-Akhir 642 H tepatnya, sosok yang tidak ia kenali itu menanyakan satu hal, walau masih perdebatan, akan tetapi dari sumber yang terpercaya mengatakan orang yang tak dikenal bertanya kepada Maulana Jalaluddin. “Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah atau sufi Persia, Bayazid Bisthami yang mengatakan Subhani, Maha Suci diriku?” Sebuah pertanyaan yang singkat tapi mengagetkan Jalaluddin, sampai-sampai ia jatuh pingsan. Orang yang menanyakan itu adalah seorang sufi dari Tabriz Iran bernama Muhammad bin Ali bin Malik Daad, lebih dikenal dengan Syamsuddin Tabriz.
Pertemuan ini pun akhirnya menjadikan Jalaluddin dan Syamsuddin Tabriz bersahabat, bahkan keduanya tak terpisahkan lagi, mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Dan anaknya pun Sultan Walad berkata mengenai persahabatannya “Sesungguhnya seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataanya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiadatara”.
Syamsuddin yang berarti “matahari agama”, bagi Rumi, Syams adalah matahari yang luar biasa, matahari yang mengubah seluruh hidupnya, membakarnya, membuat menyala, dan membawanya ke dalam cinta yang sempurna. Sebuah syair berbunyi mengenai Syams
Citra impiananmu ada di dada kami
Sejak fajar kami sudah dapat merasakan sang surya. (Diwan al-Syams 2669)
Wajahmu bak sang mentari, Wahai Syamsuddin
Yang dengan hati berkelana bagai cawan!
Kemesraan yang tampak dari kedunya ternyata tak diamini oleh keluarga dan muridnya. Karena bagaimana mungkin seorang guru mengabaikan tugas mengajar dan keluarganya?
Situasi yang yang kurang mengenakan ini terbaca oleh Syams, akhirnya ia memutusakan untuk pergi meninggalkan Maulana secara misterius; semisterius kedatangannya.
Jalaluddin merasa patah hati, yang dapat dilakukannya dari perpisahan dengan mataharinya adalah dengan merubah dirinya menjadi penyair, mulai mendengarkan musik, bernyayi, menari berputar-putar berjam-jam. Dan mencoba menulis surat kepada Syams, tetapi darwis itu menghilang tak tentu rimbanya dan jawabanpun tak kunjung tiba.
Aku menulis seratus surat,
Aku menilis seratus jalan
Tampaknya tak kau baca selembar surat pun,
Tampaknya tak kau ketahui satu jalan pun. (Diwan al-syams)
Pada suatu saat akhirnya diketahui kalau Syams berada di kota Damaskus, dengan senang sekali ia langsung mengutus anaknya Sultan Walad untuk menjemputnya dan tinggal bersamanya. Sekembali Syams dari kepergiaanya, rupanya kecemburuan kembali lagi, kali ini anaknya Alauddin yang merasa terganggu. Maka suatu malam ketika Syams berbincang dengan Maulana, dia dipanggil lewat pintu belakang. Dia melangkah keluar dan tak pernah kembali.
Syam tak pernah kembali: Dan apalah hidup ini tanpa sang matahari? Semesta alam tampaknya turut berduka cita bersama Maulana. Dengan harapan yang tak mungkin terjadi, Maulana pergi ke Suriah. Akan tetapi, kemudian “dia menemukannya dalam dirinya, bersinar bak rembulan”.
Ia Berkata: “Karena aku adalah dia. Apa gunanya mencari? Aku sama dengan dia, zatnyalah yang berbicara! Sebenarnaya yang kucari adalah diriku sendiri, itu pasti.Yang mencari dalam tong, bak air anggur.”
Begitulah Sultan Walad menceritakan ayahnya dalam Waladnama, karyanya. Karena memang dahulu ketika hijrah ke Damaskus banyak belajar dengan para ulama-ulama yang mashur dengan karya-karya puitisnya maka itulah yang banyak ia pelajari dan ia banyak cipta dalam hasil karyanya. Namun apa yang lantas melatar belakanginya untuk membuat syair itu, jawabanya ada dalam Fihi ma Fihinya, yang mengatakan bahwa dia menulis syair guna menghibur sahabat-sahabatnya, Jalaluddin mengibaratanya seolah-olah seseorang harus mencuci dan membersihkan daging karena tamu-tamunya menginginkan makanan tersebut. Benar-benar sangat menakjubkan, karena bagaimanapun ia telah menulis lebih dari empat puluh ribu syair lirik dan lebih dari dua puluh lima ribu baris syair didaktik.
Walau perlu diingat puisi dikalangan Islam taat sama sekali tidak bersahabat, mengingat dahulu puisi di zaman pra Islam berhubungan dengan sihir dan umumnya sering berhubungan dengan hal-hal yang diharamkan.
Ghazal-ghazal Rumi, secara formal dan teknis berasal dari pengalaman pribadi langsung, seperti ketika mencari seorang sahabat yaitu Syams, Maulana berkata:
Bila orang itu mengatakan,
“Aku telah melihat Syams!”
Maka tanyakanlah,
“Kemanakah jalan menuju surga?”
Syair-syairnya pun banyak lahir dari hasil meditasinya mendengarkan musik dan taran berputar, yang sering berlangsung selama berjam-jam. Jumlah karnyanya sebanyak enam buah kitab yang seluruhnya berkekuatan sastra yang memikat.
Diwan al-Kabir sebuah kitab berisi tentang pengalamanya bersama sang guru yang menghilang. Maka belakangan kumpulan syair ini lebih dikenal dengan sebutan Diwan al-Syams. Kemudian Maqalat al-Syams Tibriz Bunga rampai dari catatan dan nasihat-nasihat Syams kepada Maulana Jalaluddin Rumi. Kitab yang sangat monumental dan fenomenal adalah Masnawi Ma’nawi yang Maulana susun selama 15 tahun ketika ia bersahabat dengan Hisamuddin Hasan dan juga sebagai ucapan terimakasih kepada Sanai’ karena memang kitab kumpulan ini mirip sekali dengan kitabnya yang berjudul Hadiqah al-Haqiqah. Al-Masnawi yang dikarang Maulana berjumlah kurang lebih 25.700 bait syair berirama, terbagi dalam enam jilid. Dalam karyanya itu mengkisahkan tentang ajaran-ajaran Tasawwuf dalam bentuk anekdot, legenda dan apologi. Karya lainya Rubaiyyat, sajak empat baris yang berjumlah 1600 bait. Fihi ma Fihi yang Maulana tulis dalam bentuk prosa, merupakan himpunan ceramah-ceramah Tasawufnya. Dan yang terakhir adalah Maktubat yaitu himpunan surat-surat kepada para sahabat dan para pengikutnya. Kesemaunya itu adalah merupakan karya puitis Maulana Jalaluddin Rumi.
Manifestasi Cinta
‘Isyq, ‘asyiq, ma’syuq.
“Cinta, sang pencinta, yang dicintai”.
Ungkapan maulana Jalaluddin Rumi dalam Masnawi. Maulana Jalaluddin Rumi seketika mengajak kita untuk merasakan cinta, mengungkap rahasia cinta, mengungkapkan keajaibanya dan bagaimanakah sebenarnya cinta itu.
Bagaimanakah keadaan sang pencinta?”
Tanya seorang laki-laki
Kujawab,”jangan bertanya seperti itu, sobat:
Bila engkau seperti aku, tentu engkau akan tahu;
Ketika dia memanggilmu,
Engkaupun akan memanggilNya (Diwan 2733)
Maulana tahu bahwa dirinya tak pernah berbicara tentang cinta dengan benar, tetapi segenap karyanya adalah upaya untuk menjelaskan cinta, cinta yang telah memindahkan dirinya dari hidup normal dan telah mengubahnya menjadi sseorang penyair. Penyair yang kata-katanya tak lain adalah ulasan yang tak pernah ada artinya tentang misteri illahi.
Menurut Maulana Cinta itu pra-abadi, cinta itu magnet; sejurus lamanya cinta benar-benar menyinarkan jiwa, kemudian ia pun menjadi perangkap yang menjerat burung jiwa, yang kepada burung, jiwa inilah cinta menawarkan realitas, dan semua ini hanyalah permulaan cinta, tidak ada manusia yang mencapai ujungnya!
Salah satu pujian di mana Maulana mencoba menemukan apa cinta itu, dimulai dengan pernaytaan
Duhai Cinta, siapa yang bentuknya lebih indah,
Engkau atau tanaman dan kebun apelmu? (Diwan 2138)
Dan syair itu dilanjutkan dalam irama yang menari-nari, menuturkan tindakan-tindakan cinta yang luar biasa, yang mendorong setiap atom dan pepohonan menari-nari dan mengubah segalanya.
Tanpa cinta, dalam kehidupan tidak akan ada kebahagiaan karena kehidupan akan menjadi hambar yang tiada batasnya itu. Visinya memanggil pulang si pengelana:
Aku berkelana terus, aku melangkah dari akhir ke awal
Dalam mimpi, gajah ini melihat gurun luas Hindustanmu!
Rumi pernah mendengar Cinta bertutur kepada dirinya, bahwa dia sendiri itu api, yang dinyalakan oleh angin cinta, tetapi perumpamaan menggambarkan situasi itu sebaliknya.
Cinta itu api yang akan mengubahku menjadi air,
Seandainya aku batu yang keras,
(Diwan 2785)
Dalam sebuah amsal yang bagus, Rumi menyamakan cinta dengan kilat yang cahayanya membakar awan yang menyembunyikan rembulan hancurlah apapun yang kiranya tetap menyirnai wajah sang tercinta yang seperti rembulan itu.
Cinta adalah oven untuk menghangatkan segala yang membeku di dunia materi, dan juga api di bawah tempat melebur logam di mana baja menjadi meleleh menanti dirinya diubah menjadi emas murni oleh alkemi cinta. Karena cinta menuntut agar semua yang mencarinya harus masuk ke dalam tempat peleburan logam.
Cinta seperti menara cahaya
Di dalam menara itu api!
Seperti burung-burung unta,
Jiwa-jiwa yang mengitari menara itu
Makanan mereka api yang sangat lezat (Diwan 2690)
Cinta itu samudra yang gelombangnya tak terlihat
Air samudra itu api ssedangkan ombaknya itu mutiara.
(Diwan 1096)
Daftar Pustaka
An-Nadwi, Abul Hasan. Jalaluddin Rumi Sufi Penyair besar. Pustaka Firdaus. Jakarta: 2004.
Harun Nasition dkk. Ensiklopedi Islam Indonesia. Djambatan: 2002.
Schimmel, Annemarie. Akulah Angin Engkaulah Api: Hidup dan Karya Jalluddin Rumi. Bandung: Mizan.2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s