Modernisasi Pendidikan Sayyid Idrus al-Jufri

By Djauharul Bar
Mahasiswa ICAS-Paramadina, Jakarta
Maju dan mundurnya salah satu kaum sangat bergantung kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dikalangan mereka.
Suatu pernyataan yang pasti dibenarkan oleh setiap orang yang ingin menghendaki kemajuan. Ilmu sebagai prasyarat mutlak untuk memulai segala hal, tanpa ilmu orang sekarang mungkin tidak bisa berbuat apa-apa semua yang ada di zaman ini kerena peran ilmu pengetahuan . Tidak pernah tercatat dalam sejarah kemajuan satu bangsa lantaran pendidikannya yang rendah. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi hebat, melainkan mereka memperbaiki anak didik dan pemuda mereka dengan pendidikan yang layak.
Bangsa Jepang, salah satu bangsa timur yang sekarang sedang menjadi buah bibir orang di seluruh dunia lantaran kemjuannya, masih akan terus tinggal dalam kegelapan jika saja mereka tidak mengatur dan memperbaiki pendidikan bangsa mereka. Sebaliknya ada suatu bangsa yang tidak bisa malakukan apa-pun lantaran negarannya tidak lekas memperbaiki kualitas pendidikan para penerusnya.
Lantas bagai manakah dengan kita, apakah ingin menjadi bangsa yang maju seperti Jepang ataukah malah sebaliknya menjadi bangsa yang mundur akibat dari para pemuda yang tak memiliki semangat memajukan kualitas pendidikan bangsanya. Tentunya yang pertama yang kita inginkan, tapi bagaimanakah dengan realitasnya sekarang, bangsa ini masih saja berlari ditempat, karena kurang partisipasinya pemerintah dalam peningkatan pendidikan.
Dengan melihat pelajaran penting dari Sayyid Idrus al-Jufri seorang guru dan ulama asal hadrami yang membangun isnstitusi pendidikan modern dengan semangat pengorbanan demi pendidikan disaat banyaknya tekanan dari pihak kolonial Belanda, maka setidakanya kita dapat melihat bagai manakah semangat memeperjuangkan pendididkan dalam keterbatasan sehngga kita juga bisa mengikuti jejak dan perjuangan nya.
Riwayat singkat kehidupan Sayyid Idrus al-Jufri.
Sudah dipastikan dari segi penamaan Sayyid Idrus al-Jufri terlihat sangat kental sekali dengan budaya Arab, patas dia bukanlah keturunan murni indonesia. Lahir dan besar di Tarim, Hadramaut salah satu kota yang terkenal di dunia Muslim, pada tanggal 14 Sya’ban 1309 H/1889 M lahir ia dari keluarga Ba’alawi yang silsilah nenek moyangnya sampai kepada Ali bin abi Thalib menantu dan sepupu Nabi Muhammad SAW. Ayahnya bernama Salim bin alawi al-Jufri dari ibunya berasal dari Wajo Sengkang, Sulawesi Selatan yang keluarganya telah hijrah ke Yaman.
Setelah banyak mempelajari ajaran agama dari ayahnya sendiri baru lah ia belajar dari beberapa guru yang tidak lain teman ayahnya. Karena mersa haus dengan pelajaran Islam maka ia bertekad untuk menutu ilmu di kota suci Mekkah dengan para ulama-ulama besar dia menimba ilmu agama, sekaligus safari religius menunaikan rukun Islam ke lima menunaikan ibadah Haji. Ketika muda ayahnya mengajak Idrus ke tanah nenek moyang ibunya yaitu Nusantara-tepatnya di sulawesi-untuk mengunjungi sejumlah kerabat dan keluarga ibunya yang telah tinggal di sini. Akan tetapi, tidak ada penjelsan mengenai tahun berapa kedunya datang ke Indonesia dan siap-siapa saja yang ditemuinya.
Karena sang ayah salah seorang mufti terkemuka, maka setelah kepulangannya dari Nusantara sayyid Idrus yang ketika itu berumur 17 tahun diangkat sebagai sekretaris mufti. Sepeningal ayahnya dengan sendirinya ia menempatkan diri sebagai Mufti pengganti ayahnya. Karena situasi politik Yaman yang kurang mendukung akaibat dari a Konflik yang tidak kunjung berakhir di kalangan penguasa lokal, Inggris dan Dinasti Usmaniah pada perang Dunia ke I, telah menjadikan hidup semakin lebih sulit bagi orang-orang Hadrami.
Pada tahun 1925 akhirnya ia membulatkan diri bertekad untuk hijrah ke Nusantara, tepatnya Batavia yang menjadi perantauannya. Dikisahkan bahwa beliau tinggal beberapa tahun di Batavia sebagai seorang guru di beberapa madrasah jami’ah al-Khair. Karena beberapa hal beliau berpindah ke Jombang, sebuah kota pusat Islam tradisioal di Jawa Timur, disinilah ia bertemu dengan hadratusshaikh Hasim Asy’ari, Selama dua tahun ia tinggal di Jombang lalu hijrah ke kawasan terpenting komonitas Arab di Jawa Tenggah yaitu Solo. Di sini, selama tiga tahun mengabdikan diri sebagai guru di sebuah pendidikan Islam al-Rabithah al-Alawiyah.
Pada tahun 1930 setelah kepulangannya dari Ternate Sulawesi Utara beliau menuju Palu. Untuk ke dua kalinya ia kesisni ketika pertama sewaktu muda bersama ayahnya ke Palu untuk mengunjungi kerabat ibunya, di Palu lah ia merasa Puas membangu karinya bersama lembaga penidikanya al-Khairat al-Islamiyah yang menjadi cikal bakal pendidikan modern di Timur Indonesia.
Cikal bakal al-Khairat
Madrasah al-Khairat didirikan oleh Sayyid Idurs hanya beberapa bulan setelah kedatanganya di Palu. Sebelum mendirikan madrasah, dia menggunakan waktunya untuk kegiatan dakwah Islam dan pengajaran sejumlah murid di rumahnya. Tidak lama setelah itu ia membangun bangunan khusus untuk para santrinya yang diresmikan pada 14 Muharram 1349 H/30 Juni 18930 M, dengan nama resmi al-Khairat al-Islamiyyah.
Pada awalanya, Pengajar di madrasah tersebut hanyalah sayyid Idrus namun karena semakin banyak muridnya yang tersebar bukan hanya di Palu tapi juga dari luar Palu maka ia memutuskan untuk memanggil dua orang keponakannya, Sayyid Muhammad bin Syekh al-Jufri dan sayyid Saggaf bin Seikh al-Jufri. Dalam waktu empat tahun, madrasah al-Khairat suah dapat menghasilkan banyak alumni sehingga dengan cepat mereka membangun dan mendirikaan cabang al-Khairat di daerah mereka masing-masing sebagai media dakwa dan pendidikan.
Karena sebagian besar wilayah Nusantara masih dikuasai oleh kolonial Belanda maka keberadaan dan perkembenagan perguruan ini sedikit tersendat terutama pada dekade 1942. Ketatnya pengawasan Belanda dan tidak kondosifnya suhu politik pada saat perang dunia II dipastikan menjadi penyebab lambanya perkembangan perguruan ini. Jadi, hanya setelah revolusi Indonesia pada priode kedua 1940-an al-Khairat dapat berkembang dengan sangat pesat.
Menurut catatan kongres pertama al-Khairat pada tahun 1956 sudah memiliki cabang mencapai 45 madrasah, kongres kedua yang diadakan pada tahun 1963 bertambah menjadi 246 madrasah. Total pada kongres ke tujuh tahun 1996 sudah berjumlah sekitar 1.268 madrasah yang tersebar antara lain 891 madrasah di Sulawesi Tengah, 167 madrasah di Sulawesi Utara, 19 madrasah di Silawesi Tenagh, 2 madrasah di Sulawesi Tenggara, 28 madrasah di Kalimantan Timur, 1 Madrasah di Kalimatan Selatan, 146 madrasah di Maluku, dan 11 madrasah di Irian Jaya.
Dapat digambarkan dari keterangngan tersebur bahwa al-Khairat memiliki dua jenis lembaga pendidikan, pertama yang berbasisi keIslaman, dibawah pengawasan Departemmen Agama dan yang kedua berbasis pendidikan umum, berada dibawah pengawasan Departemen Pendidikan Nasional. Sebagai mana yang kita ketahui bersama bahwa pendidikan di Indonesia ada dua bentuk, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam dan pendidikan yang berlandaskan umum, keduanya diadopsi dari perguruan al-Khairat. Namun, tidak ada catatan mengenai berapa banyak madrasah al-Khairat yang menggunakan kedunya. Akan tetapi, pada umumnya memiliki tiga jenjang pendidikan, Pertama Madrasah Ibantidaiyah dan yang kedua Madrasah Tsanawiyah dan yang terakhir Madrasah Aliyah.
Penting untuk diketahuai bahwa pada tahun 1974 al-Kahirat mendirikan universitas swata yang bernama “Universitas al-Khairat”. Kini Universitas Al-Khairat sudah memiliki lima fakultas yang terdiri dari Fakultas Pertanian, Fakultas Kelautan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sastra, dan Fakultas Agama Islam.
Selain itu, data pada tahun 1996, al-Kahirat mempunyai 21 pesantren. Ini merupakan tambahan yang signifikan karena dibandingkan dengan jumlah pesantren pada lima tahun sebelumnya hanya lima pesantren, tambahan itu juga menunjukan bahwa pendidikan pesantren tidak hancur selama periode perubahan yang sangat cepat sebagai sebagai konsekuensi sistem pendidikan Indonesia sekarang.
Menurut cendikiawan muslim ulama teradisional Ali Yafie, keberhasilan al-Khairat memasuku daerah pedalaman sangat erat dengat sikap moderatnya, bahkan tidak pernah bertentangan dengan kebudayaan lokal setempat. Mereka al-Khairat selalu mengakomodasi kepercayaan dan praktek lokal di daerah pedesaan yang dirasa tidak sejalan denagn Islam sekriptural. Al-Khairat cenderung memperbaiki kehidupan keagamaan penduduk melalui pendekatan evolusioner daripada pendekatan revolusioner atau radikal.
Apa yang dilakukan oleh al-Khairat semata karena sang pendidik dan tokoh dibelakangnya Sayyid Idrus al-Jufri adalah orang yang protagonis, tidak pernah radikal, baik politik ataupun agama.
Dalam kongres keduanya tahun 1963, al-Kahairat menjelaskan bahwa organisasi ini tidak berkaitan dengan unsur-unsur politik, dan tidak berafiliasi pada partai poltik manapun. Ini bisa dilihat dari ketidak terlibatanya dalam konflik politik agama di ere 60-an pada saat rezim soekarno yang mengeluarkan pernyataan mengenai koalisi Nasakom.
Penutup.
Sistem pendidikan tidak boleh kaku, ia harus dapat disesuaikan dengan modernisasi, dengan demikian ini merupakan salah satu uapaya mencegahnya kekeliruan dalam sistem pendidikan. Makin tetap hasil pendidikan, maka makin luas perobahan yang dihasilkan.
Hampir dalam setiap teori modernisasi ditafsirkan bahwa modernisasi hanya mungkin dilaksanakan dengan memperbaiki dan memperluas pendidikan. Oleh karenanya, banyak para pemimpin negara-negara berkembang amat menekankan sekali peran pendidikan ini, karena beberaphal termasuk, harus memiliki pendidikan yang tinggi sebelum mencamai kemajuan teknoligi dan ekonomi, pendidikan adalah upaya mempersatukan suku, budaya, ras, dan agama yang berbeda menjadi satu nation, penididikan memberian keterampilan dan kecakapan kepara para aparatur pemerintahan dalam mengkordinasikan pemanfaatan wilayahnya.
Apa yang diperlihatkan sayyid Idrus merupakan wujud semangat dalam keterbatasan dengan mampu menciptakan tatanan intelektual, sehingga bisa memungkinkan untuk mengulang kembali tradisi ilmiah Islam,dan kini siapa lagi kalau bukan kita penerus jejek mereka.
Bacaan
Gazalba. Sidi, Islam dan Perubahan Sosiobudaya. Jakarta: Pustaka al-Husna. 1983.
Azra. Azumardi, Islam Nusantara Jaringan Global dan Lokal. Bandung: Mizan. 2002.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s