Membentuk Kesalihan Sosial Melalui Surat Al-Asr

Oleh: Djauharul Bar
Pendahuluan
Al-Ashr adalah salah satu surat yang didahului oleh qasam (sumpah), makna yang mendalam serta hikmah yang luas tercakup didalamnya, sebagai mana suratsurat lain dalam al-Quran yang memilki kelebihan masing-masing dan memiliki falsafah mesing-masing.
Tak terkecuali dengan surat al-Ashr ini, dalam kandungannya menggambarkan dengan umum bahwa kerugian manusia jika benar-benar menyia-nyiakan waktu, pertimbangan yang cukup jeli dalam surat ini banyak memberikan inspirasi bagi kebanyakan umat muslim pilihan.
Imam Syafii menilai surah ini sebagai salah satu surah yang paling sempurna petunjuknya. Menurut beliau seandainya umat memikirkan kandungan surat ini, niscaya petunjuk-petunjuknya mencakupi mereka.
Surah ini merupakan surah ke 13 dari segi perurutan turunya. Ia turun sesudah surat Alam Nasrah atau al-Insyirah dan sebelum Surat al-‘Adiyat. Disepakati ayat-ayatnya berjumlah tiga ayat.
Makna dan Kandungan
بسم الله الرحمن الرحيم=
وَالْعَصْرِ- إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ-إِلاَّ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْ بِالصَّبْرِ
Artinya:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasuh lagi Maha Penyayang.
1. Demi waktu 2. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta yang berwasit kepada kebenaran dan saling berwasiat kepada kesabaran.
وَالْعَصْرِ.1
Ayat pertama dalam surat ini adalah diawali dengan sumpah, maka sumpah yang disandarkan dengan al-Ashr memiliki pesan yang sangat penting, namun apakah yang dimaksud dengan al-Ashr di sini?
Terkadang al-Quran bersumpah dengan masa atau bagian dari masa, seperti demi siang, demi malam, demi waktu dhuha dan lain sebagainya, maka dalam waktu-waktu ini ada hikmah dan falsafah tersendiri.
Para ulama bersepakat mengartikan kata al-Ashr pada ayat pertama dengan waktu/masa, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang waktu tersebut. Ada yang berpendapat bahwa ia adalah waktu atau masa di mana ia bergerak dan terapung di dalamnya. Ada pula yang menentukan waktu tersebut dengan waktu Ashar, yang ketiga ialah yang mengartikan dengan waktu pada masa kehadiran Nabi Muhammad saw.
Pada surah ini Allah bersumpah demi waktu dan mengunakan kata AsHr untuk menyatakan, bahwa demi waktu dimana manusia mencapai hasil setelah ia memeras tenaganya, sesungguhnya ia merugi-apapun hasil yang dicapainya itu. Kecuali jika ia beriman dan beramal shalih. Kerugian tersebut mungkin tidak akan dirasakan pada waktu dini, tetapi pasti akan disadarinya pada waktu Ashar kehidupannya menjelang matahari hanyatnya terbenam. Itulah agaknya rahasia mengapa Tuhan memilih kata Ashr untuk menunjukan waktu secara umum.
Waktu adalah modal utama manusia, apabila tidak diisi dengan kegiatan positif, maka ia akan berlalu begitu saja. Ia akan hilang, dan ketika itu jangankan keuntungan diperoleh, modalpun telah hilang, Saidina Ali pernah berkata: “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin dapat kembali esok”.
إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِى خُسْر.2
Artinya:
“Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian”.
kalimat al-Insan اْلإِنْسَان َmenunjukan kepada manusia dan jenis-jenis manusia tanpa terkecuali, baik mukmin maupun kafir, karena melihat bentuknya yang makrifah (difinit). Syekh Muhammad Abduh menambahkan manusia dalam ayat ini besifat umum tetapi tidak termasuk kepada orang yang mukallaf (tidak terkena beban perintah agama) seperti bayi dan orang gila.
kata khusr خُسْر mempunyai banyak arti antara lain rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan dan sebagainya yang kesemuanya mengarah kepada makna negativ, atau tidak disenangi siapapun. Kata tersebut dalam ayat ini berbentuk nakirah (indefinite). Ia menggunakan tanwin. Bentuk indifinit yang menggunakan tanwin itu memberikan arti keragaman dan kebesaran yakni kerugian dan kesesatan, kecelakaan yang besar dan sebagainya.
Kata la fi لَفِى adalah gabungan dari la لَ yang menyiratkan makna sumpah dan fi فِى yang mengandung makna wadah atau tempat. Dengan kata tersebut tergambar bahwa seluruh totalitas manusia berada di dalam satu wadah kerugian,. Kerugian seakan-akan menjadi satu tempat atau wadah dan manusia berada serta diliputi oleh wadah tersebut.
Jika demikian waktu harus dimanfaatkan. Apabila tidak diisi maka kita merugi, bahkan kalupun diisi tetapi dengan hal-hal negativ maka manusia pun akan diliputi kerugian. Di sinilah terlihat kaitan antara ayat pertama dan kedua dan di sini pula ditemukan sekian banyak hadist Nabi yang memeperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin. “Dua nikmat yang sering dilupakan banyak manusia, kesehatan dan waktu”.
.3إِلاَّ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْ بِالصَّبْرِ
Artinya:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal yang saleh serta saling berwasiat tentang kebenaran dan berwasiat tentang kesabaran”.
Ayat yang lalu menegaskan bahwa semua manusia diliputi oleh kerugian yang besar dan beraneka ragam. Ayat d iatas mengecualikan mereka yang melakukan empat kegiatan pokok yaitu : Kecuali orang-orang yang beriman, dann beramal yang salih yakni yang bermanfat serta saling berwasiat tentang kebenaran dan ketabahan.
Iman adalah pembenaran hati atas apa yang disampaikan Nabi. Intinya antara lain dapat disimpulkan dari rukun iman yang enam.Amal shalih ialah pekerjaan yang apabila dikerjakan terhenti atau menjadi tiada suatu mudarat, ataukah dengan pekerjaanya diperoleh manfaat dan kesesuaian.
Apabila seseorang telah mampu melakukan amal shalih disertai dengan iman, maka ia telah memenuhi dua dari empat hal ang harus dipenuhinya dalam rangka memebebaskan dirinya dari kerugan total. Namun dari keduanya seseorang baru terbebas dari setengah kerugian. Ia mesti bertugas dengan dua hal lainya agar ia benar-benar selamat, beruntung dan jauh dari kerugian.
Lalu berwasiat tentang yang hak yang mengandung perintah bahwa seseorang berkewajiban untuk mendengarkan kebenaran dari orang lain serta mengajarkannya kepada orang lain. Selanjutnya yang memebebaskan manusia dari kerugian juga harus saling berwasiat dalam kesabaran yaitu tabah dalam menghadapi cobaan berupa musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran
Kesimpulan
Dari penjelasan singkat mengenai surat al-Ashr ini, maka seseorang dapat membentuk kesalihan melalui iman dan amal salih yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Lalu berwasiat berupa kebenaran dan ketabahan merupakan manivestasi dari iman dan amal, selain membentuk keshalihan individual juga sekaligus membentuk keshalikan sosial dan universal terhadap orang lain.
Daftar Pustaka
Kasir, Ibnu. Tafsir Ibnu Kasir (terj). Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2005
Muthahhari, Murtadha. Tafsir Surat-Surat Pilihan: mengungkap hikmah al-Quran.. Bandung: Pustaka Hidayah. 2000.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian al-Quran. Jakarta: Lentera Hati. 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s