Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

Abstaksi
Latar Belakang Penulisan
Sejarah umat Islam di Indonesia mungkin belum banyak yang mengetahui, kapan dan dari mana asal usul Islam di Indonesia pasti membuat rasa penasaran kita bertambah. Banyak ilmuan dari dalam dan luar negeri memberikan perhatiannya seputar asal usul umat Islam Indonesia. Nama-nama seperti Muqquete, Fatimi, Marrison, dan Arnold kerpa menjadi bahan rujukan dalam mencari kaitan Islam Indonesai dengan asal-usulnya, belum lagi seperti Slamet Mulyana, Hamka, Hussein Jayadiningrat, dan Azumardi Azra tak kalah dengan penjelasan dan analisis nama-nama sebelumnya.
Pendapat mereka beragam, dari mulai Mekkah, Gujarat, Persia, sampai Cina. Sebelumnya harus diketahui bahwa Islamisasi yang ada di Indonesia kedatangannya berbeda-beda antar pulau, kedatangan Islam di pulau Jawa misalnya akan tidak sama dengan Islamisasi di Pulau Sumatra dan Kalimantan, begitupun seluruhnya. Bahkan, sampai hari ini proses Islamisasi masih terus berjalan di beberapa kepulauan di Indonesia.
Sehingga menurut kami pembahasan “Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia” menjadi sangat penting, terlebih sebuah kehormatan dan beban keilmuan bahwa penulisan ini harus penuh dengan tanggung jawab ilmiah, mengingat sejarah bukan sebuah dongeng atau cerita rakyat yang asal muasalnya sulit dilacak, namun harus dengan pijakan dan rujukan yang ilmiah dan memiliki dasar.
Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan sejauhmana kita bisa mengetahui keterkaitan budaya pembawa Islam dengan budaya lokal di Indonesia. Selain itu makalah ini bertujuan untuk memenuhi beberapa persyaratan penilaian dalam mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. di sampaing kedua tujuan tersebut, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk menambah pengetahuan Penulis dan pembaca.
Metode Penelitian
Selanjutnya, guna kepentingan ilmiah di atas, kami akan mencoba mengangkat penulisan ini melalui metode deskriptif analitik, dengan menggunakan pendekatan Library Research atau “Kepustakaan”.
Sistematika Penulisan
Dan untuk lebih sistematik, makalah ini akan disusun pembahasannya pertama yaitu asal usul dan kedatangan Islam ke Indonesia, kedua teori Islamisasi, ketiga pola pembentukan budaya Islam, keempat kerajaan-kerajaan Isam di Indonesia, dan kelima sebab-sebab runtuhnya kerajaan-kerajaan Islam.

Masuk dan Berkembang Islam Indonesia
Kedatangan Islam Indonesia
Dalam bahasan awal ini kami akan menjelaskan mengenai kapan dan dari mana asala usul Islam di Indonesia. Berbicara mengenai “kapan” kita pasti akan merujuk pada konsep waktu, yaitu keterangan tahun berapakah Islam di Indonesai mulai merangsek masuk ke pulauan di Indonesia. Lalu mengenai “dari mana” adalah kata yang menunjukan konsep mengenai tempat, bahwa menjelaskan berasal dari negeri mana Islam Indonesia. Dan mengenai kata Indonesia sebuah negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, yang bila dijelaskan bahwa Indonesia secara geografis terletak di bagian ujung dunia Muslim. Sehingga penting untuk dijelaskan bahwa jauhnya Indonesia dari pusat dunia Islam membuat islamisasi di Indonesia berbeda dengan Islamisasi di kawasan umat Islam lainnya.
Dengan jumlah kepulauan Indonesia yang lebih dari sepuluh ribu pulau, kiranya tidak akan ada yang sepakat mengenai teori tuggal tentang islamisasi atau periodisasi umum untuk semua kawasan. Dengan kesimpulan bahwa asumsi yang salah bila kedatangan awal Islam sebuah pulau disamakan dengan pulau-pulau lain di Indonesia.
Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam menurutkan bahwa awal tumbuhnya Islam di Indonesia pada abad ketujuh Masehi, yaitu pada tahun 674-675 M saat datang utusan Raja Arab yang sebut oleh orang China dengan nama Ta Cheh di kerajaan Kalingga. Hamka menduga pada tahun tersebut Muawiyah sedang berkuasa di Arab sehingga yang dimaksud utusan Raja Arab tidak lain adalah utusan dari kerajaan Islam Bani Umayah yang mengirimkan utusan-utusannya untuk menyelidiki kekuatan serta susunan pemerintahan dan agamanya, namun karena jarak dan kekuatan agamanya sangat teguh daerah sejauh itu tidak menjadi rencana untuk ditangi secara besar-besaran.
Azumardi Azra banyak mencatatkan beberapa tokoh yang mengkui bahwa asala usul Islam Indonesai berasala dari Gujarat, salah satnya adalah Pijnappel. Pria berekbangsaan Belanda ini beralasan bahwa banyak orang Arab bermazhab Syafi’i yang berimigrasi ke Gujarat dan Malabar dan menetap di sana kemudian membawa Islam ke Nusantara. Selain itu, alasan yang lain dipaparkan oleh Moquette yang menemukan corak batu nisan Maulana Malik Ibrahim Gersik (1419 M) sama dengan corak nisan produksi, dengan demikian orang Indonesia bukan hanya mengambil batu nisan dari Gujarat, tapi orang-orang Indonesia mengambil Islam dari wilayah tersebut.
Menurut bebrapa tokoh yang tidak setuju dengan pendapat bahw Islam Indonesia dibawa melalui jalur Gujara memberikan alasan. Morrison menuturkan bahwa di tahun 1297 M ketika raja pertama Pasai wafat, Gujarat masihmerupakan wilayah hindu yang menunjukkan sikap permusuhan terhadap orang-orang muslim. Maka tidak mungkin Gujarat merupakan asal dari Islam Indonesia. Yang lebih memungkinkan adalah Islam diperkenalkan ke kepulauan Melayu oleh juru dakwah Muslim dari Coromendel pada akhir abad ke 13. Yang mendukung pendapat ini antara lan adalah Arnold, ia beralasan Coromendel merupakan wilayah dengan mayoritas penduduk bermazhab Syafi’i yang juga sama dianut oleh umat Muslim di Indonesia yang dikuatkan oleh ucapan Ibn Batutah saat kunjungannya ke Pasai. Para pembawa agama Islam tersebut tidak lain dari pada pedagang India yang banyak mengunungi pelabuhan-pelabuhan dagang di Melayu.
Pulau pertama di Indonesia yang terislamisasi adalah pulau Sumatra, indikasi ini berdasarkan catatan sejarah bahwa di sana berdiri kerajaan Islam Petama yaitu Kerajaan Perlak di akhir abad 12, tepatnya pada tahun 1161. Dari logika linear inilah bahwa Islam pertama kali mendarat di Indonesia di kepulauan Sematra, tepatnya di Aceh. Juga dipastikan bahwa sedari Abad 12 Islam telah masuk di Sumatra. Prof. Slamet Muljana dengan jelas menerangkan dalam bukunya Runtuhnya kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara bahwa Islam dibawa oleh orang-orang dari Gujarat, Maroko, Persia, serta Mesir yang telah menetap sejak awal Abad 12 sampai akhirnya mereka berhasil mendirikan kerajaan Islam Perlak, itu juga tidak lepas dari dukungan Dinasti Fatimiyah yang berkuasa di Mesir, sehingga dalam kesimpulannya juga Islam beraliran Syiah lah yang pertama masuk di Sumatra. Menurut Slamet Muljana bahwa adanya para pedagang di kawasan Sumatra tak lepas dari keberadaan Pelabuhan Melayu yang diperkirakan terletak di Jambi yang banyak melakukan aktifitas perdagangan dari berbagai tempat di dunia Islam. Pelabuhan Melayu dilansir oleh sejarah bertahan sampai abad ke 15 bersamaan dengan dibangunnya pelabuhan Malaka
Selain Gujarat dan Coromendel pendapat lain adalah bahwa Islam di Indonesia masuk melalui jalur langsung dari Arab. Teori ini dicatatkan oleh Arnold yang meyakini bahwa di abada ke 7 dan ke 8 jalur perdagangan Barat dan Timur di kuasai oleh Pedagang Arab dan patut diduga mereka ikut menyebarkan Islam kepada masyarakat pribumi. Ini dikuatkan dengan catatatn Cina bahwa di perempat abad ke 7 sudah ada komunitas Arab Muslim di Pesisir barat Sumatra mereka juga melakukan perkawinan campuran.
Perlu diketahui, pada tahun 1963 dab 1968 diadakan seminar tentang kedatangan Islam ke Indonesia. Hasilnya para ahli bersepakat bahwa Islam secara langsung masuk keindonesai dari tanah Arab bukan dari India. Dan kedatanganya pun pada tahun pertama hijriyah atau Abad ke7 Masehi. Dalam sebuah perkuliahan umum, Dr Amani Lubis menegaskan bahwa jalur perdaganganlah yang mampu menembus penjuru dunia, jalur laut diyakini sebagai jalan yang mampu menghubungkan informasi dari benua ke benua, sebelum tumbuh Islam jalur perdagangan bagsa Arab telah lama berlangsung sehingga memungkinkan arus informasi dan kedatangan Islam ke Nusantara di Abad pertama Hijriah atau abad ke 7 Masehi. Selain itu, kenapa mesti Arab, bahwa kedatangan Islam di Nusantara melalui jalur langsung dari Arab adalah sebuah jaminan akan keaslian dan kemurnian Islam yang datang dari tempat asalnya. Alasan alain bahwa Islam bukan berasal dari Gujarat melainkan Arab dipaparkan oleh Nuquib al-Attas. Al-Attas memberikan fakta literature Melayu dari abad 16 sampai 17 bahwa tidak ada satupun karya yang berasal dari India atau pun asli tulisan orang India, tapi kebanyakan berbahasa Arab dan pengarang berasal dari Timur Tengah. Selain ke tiga pendapat di atas, masih ada beberapa pendapat lagi yang mengatakan bahwa Islam Indonesia datang bukan dari Gujara, Arab, atau Coromendel, melainkan juga Persia. Muhammad Ja’far Iqbal dalam Desertasinya yang diterbitkan dengan Judul Kafilah Budaya mengatakan adanya keterkaitan budaya antara Indonesai dengan Persia, seperti kata serapan Indonesia yang berasal dari bahasa Persia sejumlah 400 kata, kesustraan Melayu dan budaya keislaman lainnya. Selain Persia, Slamet Muljana memberikan thesis yang cukup mencengangkan bahwa penyebar agama di pulau jawa yang dikenal dengan Wali Sanga tidak lain dari sekumpulan orang-orang Cina. Mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini mengambil data dari babad tanah Jawi, Serat Kanda, dan naskah-naskah yang berasal dari Poortman yang diambil dari kelenteng Sam Po Kong. Kedua pendapat terakhir tersebut memang asing didengar, namun baik Persia dan Cina haruslah menjadi tambahan yang berharga dalam hazanah kebudayaan Indonesia.
Teori Islamisasi
Jauhnya Indonesia dari pusat dunia Islam membuat islamisasi di kawasan ini berbeda dengan Islamisasi yang terjadi di kawasan islam lainya di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan. Dalam banyak hal wilayah-wilayah tersebut mengalami islamisasi seteah ekspanis militer dan kekuatan politik Islam. Maka praktis tidak ada satupun islamisasi di wilayah Indonesia yang mengalami hal yang serupa, dan para sarjana dan peneliti tentang proses kedatanganya Islam di Indonesia hampir sepakat bahwa islamisasi di kawasan ini berbeda berlangsung dengan jalan damai. Jalan damai ini lah yang banyak ditafsirkan oleh banyak peneliti, mulai dari perdagangan, pernikahan, ajaran sufi, dan teori balapan.
Jalur dagang sebagai mana yang banyak dianut oleh sebagian besar peneliti Barat bahwa masuknya Islam ke Indonesia melalui para pedagang yang berlayar mencari kebutuhan dari masing-masing tempat keberangkatan mereka. Menurut Slamet Mulajana ini tak lepas dari jalur dagang iternasional yang melewati kawasan Sumatra, yaitu melalui pelabuhan Melayu di Jambi jauh sebelum adanya Pelabuhan Malaka. Teori perdagangan ini kemudian berelaborasi dengan kawin campur yang dilakukan pedangang muslim dengan wanita-wanita pribumi. Sejumlah pedagang diykini menikahi para puteri kerajaan yang memeungkinkan mereka dan keturunan mereka mendapatkan kekuasaan politik sehingga berguna dalam penyebaran Islam, ini terbukti sebagaimana yang dikatakan oleh Slamet Muljana tentang terbentuknya Kerajaan Perlak yang berasal dari perkawinan campur.
Lebih jauh lagi motif ekonomi para penguasa pribumi untuk meluaskan legitimasi atas usahanya dan kekuasaannya juga menurut Van Leur berpengaruh dalam usaha peyebaran Islam di Indonesia. Lebih rinci lagi Reid mengatakan bahwa “Masa Perdagangan” yang melibatkan kerajaan-kerajaan Islam dalam perdagangan internasional, Islam diasosiasikan oleh penduduk nusantara dengan paham kebangsaan sehingga menarik mereka untuk masuk Islam.
Schrieke mendidkusikan motif-motif penyebaran Islam di Indonesia. Scharieke meragukan motif perkawinan campuran atau motif penguasa yang mengakibatkan masuk Islamnya pribumi. Schrieke meyakini bahwa yang menyebabkan masuk Islamnya pribumi secara besar adalah persaingan anatara Islam dan Kristen untuk memenangkan pemeluk baru di Nusantara. Menurutnya bahwa di abada masuknya Islam ke Nusantara berbarengan persaingan dankonflik yang semakin sgit antara Portugis da pedagang muslim serta penguasa Arab, Timur Tengah, Persia, dan Asia Tenggara. Maka dengan itu Scharieke meyimpulkan semangat ekspansi Islam dianggap sebagai suatu tandingan terhadap misi Kristen yang agresif.
Lain Schrike lain pula Anthony Johns, Johns mengemukakan bahwa peran para sufi penegmbaralah yang mampu secara luas mengislamnkan secara luas dakwa Islam. para sufi berhasil mengislamkan banyak penduduk Indonesia semenjak abad ke 13. Keberhasilan sufi menyampaikan pada penduduk pribumi dikarenakan kemampuan kaum sufi yang mampu menyajikan Islam dalam bentuk yang menarik penekanan kontiuitas Islam dengan kepercayaan dan praktik tradisional daripada perubahan.

Pola Pembentukan Budaya
Dalam buku Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, Azumardi menjelaskan proses islamisasi di Indonesia. Menurutnya ada yang disbut dengan konversi dan juga adheisme. Bahwa Nock menurutkan kemasukan Islam di Indonesai lebih cocok dikatakan dengan “adheisme,” yakni konversi kedalam Islam tanpa meninggalkan kepercayaan kepercayaan dan praktik agama yang lama. Islam masuk ke Indonesia bukan dengan cara esklusif, dan pada umumnya orang-orang setempat menerima Islam karena mereka percaya bahwa Islam akan memuaskan kebutuhan materi dan alamiah mereka.
Sebagaina para penjuru dakwah yang terkenal di nusantara adalah wali sanga. Merka mengenalkan islam kepada penduduk local dalam bentuk kompromi dengan kepercayaan-kepercayaan lokal yang mapan yang banyak diwarnai takhayul atau kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik banyak orang dengan menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian, dan trik-trik supranatural lainnya.
Di dalam “Sejarah Umat Islam” Hamka menuliskan, bahwa salah satu siasat mendekati penguasa Majapahit, beberapa sunan yang memilki keahlian memainkan seni membuat alat kesenian dan tembang-tembang yang disukai oleh masyarakat Majapahit, sehingga dengan sendirinya ajaran-ajaran Tauhid mampu dimasukan ke dalam kerajaan Majapahit.
Kerajaan Islam Nusantara
Kerajaan Perlak
Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.
Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M).
Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Semawe sekarang (pantai timur Aceh).
Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai adalah seperti berikut.
(1) Sultan Malik Al-saleh
(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326.
(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M).
Kerajaan Aceh
Kerajaan Islam berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh. Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka.
Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku.
Giri
Sebelum berdiri kerajaan Demak di Jawa, Sunan Giri telah membentuk sebuah kekuaan Islam di sekitar Giri. Daerah itu meliputi Gresik, Tuban, dan Jeratan, lama sebelum Demak bersiri negeri-negeri tersebut telah dipimpin oleh bupati yang kebayakan telah muslim. Mereka mengaji bahwa merka memerintah sebagai wakil Majapahit namun mereka berusaha untuk merdeka secepatnya dari Majapahit. Giri memilki posisi yang penting dalam beririnya kerajaan Demak, terbukti Giri digunakan sebagai tempat merancang siasat untuk melawan kuasa Majapahit sekaligus memberikan bantuannya kepada Demak. Sebenarnya Majapahit mengetahui keberadaan Giri dan kota-kota sekitarnya yang warganya sudah banyak menganut agama Islam, namun Majapahit sendiri tidak memiliki kesanggupan untuk menghapuskan kuasa itu, suatu hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi bila Majapahit masih di bawah kuasa Pati Gajah Mada.
Demak
Demak didirikan oleh Raden Fatah (1518), raden Ftah tidak lain adalah putra dari salah seorang Raja Majapahit, yaitu Raja Barwijaya. Keberhasilan Raden Fatah merebut kuasa Majapahit tidak lain dari pada pengaruh tokoh-tokoh penyebar Islam di dekatnya, semisal Raden Husein saudara sesusuannya yang sejak kecil bersama dalam pengasuhan di Palembang. Raden Husein diberi kuasa oleh Brawijaya untuk memimpin wilayah Bintoro yang juga markas umat Islam saat itu. Kemudian sunan Ngampel, Sunan Kudus,dan Sunan Giri sebagai tokoh spiritual yang berhasil merayu Raden Fatah untuk secara damai menguasai Majapahit yang saat itu dikuasai oleh ayahnya sendiri.
Menurut catatan sejarah, Majapahit yang dikuasai oleh Brawijaya telah direbut oleh Prabu Udara. Sehingga yang dilakukan oleh Raden Fatah tidak lain adalah untuk merebut Mahkota kekuasaan yang seharusnya jatuh pada dirinya. Keinginan Raden fatah untuk menyerang Majapahit yang saat itu dikuasai oleh Prabu Udara karena Prabu Udar telah salah bertindak dengan sengaja bekerja sama dengan Portugis untuk menghancurkan Islam di Pulau Jawa.
Penerus Raden Fatah ialah Raden Muhammad Yunus atau Pati Unus, yang disebut juga Pangeran Sebrang Lor adalah panglima perang tetara di masa kuasa ayahnya. Kehawatiran Pati Unus terhadapa raja-raja Hindu yang telah memberi jalan kepada Portugis membuatnya ingin mengusir Potusis dari tanah airnya. Terlebih Malaka telah dikuasai oleh Portugis. Dengan kekuatan 12.000 tentara Pati Unus menyerang Portugis di Malaka, namun karena cuaca dan aingin laut yang tidak sesuai dengan perkiraan membuat pasukan Demak tepecah dan berhasil ditarik mundur oleh Portugis. Pati Unus (1518-1521) hanya tiga tahun bekuasa dan kebanyakan masanya dihabiskan dalam medan perang.
Selain kedua nama itu, yang pernah meminpin Demak antara lain Sultan Terenggono (1521-1546). Tewasnya Sultan Terenggono ketika menaklukan Padjadjaran, membuat kondisi Demak tak tentu arah. Perebutan kekuasaan di antara keuarga membaut Demak dengan segala kejayaannya harus berpindah ke Pajang. Keberhasilan Sultan Terenggono menaklukan Padjadjaran (1527) membuat seluruh daerah ekuasaannya jatuh ke tangan Demak, yaitu Sunda Kelapa dan Banten. Dari sanalah muncul nama panglima yang amat terkenal Sayyid Syarif Hidayatullah.
Kerajaan Pajang
Kerajaan Pajang merupakan pecahan darikerajaan Demak, akibat sengketa kepemimpinan antar keluarga yang berakhir dengan pertikayan antar saudara yang dimenagkan oleh Arya Adiwijoyo atau Joko Tingkir. Selain memindahkan pusat kerajaan dari Demak yang terletak di pesisir kepada Pajang ata Solo yang di padalaman, Adiwijoyo yang dekat dengan mistisisme Hindu juga merubah corak keislaman pada saat itu.guna menyesuaikan dengan ajaran Islam, Adiwijoyo memasukan paham Wahdatul Wujud atau Manunggaling kawula Gusti.
Dalam tradisi dan kepercayaan sebelumnya, di mana raja-raja Majapahit disebut sebagai titisan Syiwa dan Budha, Adiwijoyo juga menkonversinya dengan istilah penjelmaan sang “Nur Muhammad” atau dengan bahasa “Paku Dunia” atau Pakubuwono. Selain dua hal tersebut, Adiwijoyo juga berhasil menghasut beberapa Bupati yang masih di bawah kuasa Deak sebelumnya untuk melepaskan diri dari Demak. Daerah-daerah tersebut adalah Sedayu, Geresik, Pasuruan, Tuban, Pati, Demak, Pemalang, Madiun, Blitar, Krapyak, Mataram.
Kerajaan Mataram dan Peninggalannya
Berdiri kerajaan Mataram adalah hasil dari cita-cita yang tinggi seorang anak dari pengwal dekat Raja Adiwijoyo, yaitu Raden Bagus alias Senopati. Senopati mengantikan ayahnya Ki Gede Pamenahan yang sangat dipercayaai oleh Adiwijoyo. Sehingga tidak butuh waktu lama Senopati mendapat kepercayaan untuk memimpin Mataram. Lantaran ingin membebaskan Saudara Iparnya yang ditangkap oleh Adiwijoyo, Senopati akhirnya mengiim pasukan untuk mebebaskanya, dana pasukan Adiwijoyo mampu dikalahkannya. Pemuda nan gag ini akhirnya mampu membentuk kerajaan Mataram dengan mengambil kekuasaan dari Kerajaan Pajang.
Sutawijaya yang mendapat limpahan Kerajaan Pajang dari Sutan Benowo kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke daerah kekuasaan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram. Sutawijaya kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.
Pemerintahan Panembahan Senopati (1586-1601) tidak berjalan dengan mulus karena diwarnai oleh pemberontakan-pemberontakan. Kerajaan yang berpusat di Kotagede (sebelah tenggara kota Yogyakarta sekarang) ini selalu terjadi perang untuk menundukkan para bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, seperti Bupati Ponorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan bahkan Demak. Namun, semua daerah itu dapat ditundukkan. Daerah yang terakhir dikuasainya ialah Surabaya.
Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon
Kerajaan yang terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Banten direbut oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah adalah salah seorang wali yang diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah di Cirebon. Syarif Hidayatullah memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean dan Pangeran Sabakingkin. Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun 1522, Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin diangkat menjadi Raja Banten.
Kerajaan yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah didirikan oleh salah seorang anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah.
Syarif Hidayatullah membawa kemajuan bagi Cirebon. Ketika Demak mengirimkan pasukannya di bawah Fatahilah (Faletehan) untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah memberikan bantuan sepenuhnya. Bahkan pada tahun 1524, Fatahillah diambil menantu oleh Syarif Hidayatullah. Setelah Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.
Syarif Hidayatullah kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Pasarean. Riwayat lain mengatakan bahwa yang dimaksud Fatahilla tidak lain adalah Syarif Hidayatullah yang berhasil membebaskan Sunda Kelapa dari Portugis dan padjajaran, sehingga Raja Demak yang saat itu bernama Terenggono menjulukinya dengan Fatahillah. Kekuasaan Banten setelah tuanya Syarif Hidayatullah dipimpin oleh anaknya dan keturunannya Hasanuddin, Maulana Yusuf, dan Maulana Muhammad. Syarif Hidayatullah sendiri mengabdikan dirinya di Cirebon sebelum akhirnya wafat pada 1570.
Kerajaan Gowa-Tallo
Kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan sebenarnya terdiri atas dua kerjaan: Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu. Raja Gowa, Daeng Manrabia, menjadi raja bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo, Karaeng Mantoaya, menjadi perdana menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat di Makassar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makassar.
Karena posisinya yang strategis di antara wilayah barat dan timur Nusantara, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur yang kaya rempah-rempah. Kerajaan Makassar memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama dari daerah Bugis. Mereka inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut Makassar.
Raja yang terkenal dari kerajaan ini ialah Sultan Hasanuddin (1653-1669).

Kerajaan Ternate dan Tidore
Ternate merupakan kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Giri di Kerajaan Demak. Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya dengan Sultan Mansur sebagai raja.
Kerajaan yang terletak di Indonesia Timur menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah terutama cengkih.
Kemunduran dan Keruntuhan Kerajaan Islam
Sekian banyak kerajaan Islam di Indonesia, memastikan bahwa kemunduran di berbagai macam kerajaan berbeda-beda penyebabnya, begitupun dengan kehancurannya. Namun ada bebrapa penyebab yang enonjol sehingga akhirnya kekuasaan pemimpin local ini tidak memiliki pengaruhnya di wilayahnya sendiri.
Penyebab-penyeb keruntuhan kerajaan-kerajaan itu antara lain:
Masuknya pihak asing dengan persenjataan yang lebih modern. Masuknya pihak asing terutama dari Barat yang mengawali dari perjanjian perdagangan, sampai pada perjanjian hak istimewa dan kedatangan para pihak asing dengan tentara-tentaranya. Walaupun tidak sedikit yang melawan datangnya pihak asing dalamkerajaan, namun dengan persenjataan yang minim kerajaan hanya mampu menjadi boneka di negerinya sendiri ketimbang menjadi penguasa.
Bukan maslah senjata saja, keterlibatan pihak asing yang telah jauh memasuki kerajaan ternyata membawa petaka pagi kerjaan. Siasat busuk untuk meruntuhkan kerajaan pun dilakukan, dengan cara mengandu domba para keluarga kerajaan.
Namun, masuknya pihak asing ke dalam kawasan kerajaan tidak akan terjadi bila saja para raja mampu menahan nafsunya dalam menerima bujukan duniawi berupa hadiah dan harata yang ditwarkan oleh pihak asing. Ini menunjukan bahwa raja-raja memang sudah jauh dalam bertindak sesuai dengan hati nurani. Kebiasaan mengumpulkan harta dan hidup berwewah-mewahan lah yang akhirnya mampu dimanfaatkan oleh pihak asing untuk perlahanmenguasi daerah-daerahnya.

Daftar Pustaka
Azra, Azumardi, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, Bandung: Penerbit Mizan, 2002.
Muljana, Slamet, Runtuhnya kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Jakarta: Penerbit LKiS, 2008.
Hamka, Sejarah Umat Islam (Singapura: Pustaka Negara, 2001),
Rahmi, Syamsul, Pegaruh Persia ke Indonesia. Dalam http://www.syamsulrahmi.wordpress.com
Nikmah, Safitri Malikhatun, Kerajaan Islam di Indonesia. Dalam http://www.blog.unnes.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s