Filsafat Helenisme dan Romawi

Oleh Djauharul Bar
Filsafat Yunani menurut catatan sejarah terdiri atas tiga bagiaan. Pertama, masa perkembangan yaitu sejak Thales sampai Sokrates. Kedua, masa gagah dan bijaksana yaitu era filsafat klasik yang puncaknya pada masa Aristoteles. Dan ketiga, masa tua yaitu setelah wafat Aristoteles sampai ditutupnya sekolah filsafat oleh kasisar Bizantin, Justinus yaitu sekitar 322 sebelum masehi hingga 528 sesudah masehi. Masa setelah Aristoteles tidak lagi mencapai puncaka pikiran yang tinggi akan tetapi lebih kepada peninjauan alam. Tingkat padangan filsafat menurun dan berkembangnya ilmu-ilu spesialis yang berdiri sendiri keluar dari pangkuan filsafat.
Meningkatnya ilmu-ilmu spesialis dan berkurangnya ajaran filsafat disebabkan oleh Alexsandros yang Besar, murid dari Aristoteles menyatukan seluruh dunia Grik termasuk Asia Minor sampai India kedalam kerajaan Macedonia. Kesatuan terseut mengakibatkan proses saling mempengaruhi peradaban semakin luas lingkungannya. Bangsa Yunani menjadi guru di daratan Eropa. Mereka mencari tujuan praktis dari fisafat yaitu adanya ajaran ilmiah tentang tuuan hidup manusia. Perbincangan negara yang dahulu banyak di Yunani lama sudah tidak ada lagi. Agama rakyat yang menjadi ikatan bangsa Yunani/Grik sudah tinggal tradisi saja. Sehingga pokok dari ajaran filsafat sesudah Aristoteles adalah mencapai hidup yang baik, salah satunya dengan mengganti kepercayaan agama rakyat. Msalah pokok yang pertama adalah sikap hidup orang seorang, atau bisa dibilnag dengan ajaran etik.
Baru di masa kedua dari perekmbanan filsafat Helenisme Roma tibul lagi perbedaan pandangan. Orang berpaling kembalii kepada sistem metafisika yang bercorak keagamaan, bersatu kepada kerajaan roma yang besar. Oleh karena itu masa filsafat setelah Aristoteles dalam garis besarnya dapat dibagi enjadi dua: masa etik dan masa religi. Masa etik ini terdiri dari tiga macam pemikiran, Epikuros, Stoa , dan Skeptis.

Mazhab Epikuros
Epikurus sebagai pendiri mazhab Epikurus ini lahir di Samos pada tahun 341 sebelum masehi dan meninggal di Athena pada 217 sebelum masehi. Ia adalah seorang guru filsafat di Mytilen dan Lampsakos, sebelum tahun 300 sm ia dating ke atena dan mendirikan sekolahan filsafat “Taman Kaum Epikuros.” Titik berat ajaran filsafatnya pada etik, soal tertib sosial sopan dalam penghidupa, dan soal moral. Menuru pendapatnya ketakutan agama itulah yang menjadi penghalang besar untuk memperoleh kesenangan hidup.
Logika
Logika disebut oleh Epikuros dengan istilah “Kanonika.” Menurutnya logika harus melahirkan norma untuk pengetahuan dan kriteria untuk kebenaran. Norma dan kriteria itu diperoleh dari pemandangan, pandangan menurut Epikuros seputar yang dilihat oleh mata, juga fantasi dan gambaran dalam angan-angan. Segala macam pandangan itu adalah benar, benar dalam jiwa yang memandang. Kemudian pandangan kita tidak lain adalah reproduksi dari barang-barang yang sudah ada.
Ia menolak segala macam metode untuk menyatakan kebenaran yang menurut logikanya tidak dapat disangka. Ia tidak mau tahu dengan silogisme yang disusun oleh Aristoteles. Bagi Epikuros semuanya itu tidak perlu, karena dalil-dalil itu tidak dapat menggantikan pemandangan yang diperoleh dari pengalaman.
Dalam hal tertib sosial Epikuros menolak segala etik sosial, segala hubungan kemasyarakatan. Supaya tidak terpengaruh oleh orang lain ia sering berkata” “hidup tersembunyi.” Uraiaan Epikuros menunjukan dalam waktu yang singkat seseudah Aristoteles tinggi sekali pandangan filsafatnya. Uraiannya menggambarkan perasaan ukuran filosofi ilmiah. Manusia yang mempunyai perasaan sekarang menjadi perhatian filosofi bukan lagi manusia yang mempunyai pikiran.
Fisika
Menurut Epikuros bahwa dunia ini bukan dikuasasi dan bukan dijadikan oleh dewa-dewa, melainkan digerakan oleh hokum fisika. Jiwa manusia akan lenyap setelah mati, dan tidak pula menderita siksa dalam tanah dan langit. Maksud dari ajaranya adalah untuk melepaskan manusia dari kekuatan agama, dan melepaskan ketakutan dari kekuasaan dewa-dewa. Ia itu bisa dilakukan, maka ia akan memperoleh ketenangan jiwa. Menurtnya perbuatan saleh yang sebenarnya ialah melatih diri untuk berfikir yang benar.
Etika
Ajaran etiknya berdasarkan pemikiran fisika Epikuros, di mana kondisi setempat waktu itu adalah masa keruntuhan bangsa Grik sekaligus kegoncangan dalam agama. Sebab itu etikanya mencari kepada kesenangan hidup, baginya itu adalah barang yang paling tinggi nilainya.
Tujuan etiak Epikuros tidak lain didikan memperkuat jiwa untuk menghadapi segala rupa keadaan. Dalam suka dan duka hendaknya manusia dalam perasaannya sama, tetap berdiri sendiri dengan jiwa yang tenang, pandai memelihara persahabatan. Pengikut Epikuros tidak bersedih ditinggal kematian, menurutnya mati adalah suatu “tidak ada.” Yang tidak ada itu tida bernilai, maka tidak perlu dirindukan.
Mazhab Stoa
Sekolah ini berdiri hamper semasa dengan Epikuros, pendirinya bernama Zeno dari Kition. Ia seorang saudagar, namun karena kecelakaan dalam pelayarannya seluh harta niaganya habis. Dan ia mengabdikan diri kepada filsafat. Menurutnya kecelakaan itu membawanya pada pelajaran yang baik. Zeno belajar filsafat kepada murid Plato yang terkenal yaitu Xenokrates. Stoa yang berarti ruang yang penuh ukiran itu dipakai sebagai nama bagi mazhabnya, karena memang pusat kegiatan filsafatnya di Stoa itu. Zeno hamper mirip dengan Epikuros, namun pemikirannya lebih condong kepada Hereklitos disbanding Epikuros yang condong kepada Demokritos. Menurut mzahab pemikiran ini, tujuan utama dari filsafat ini adalah menyempunaan moral manusia. Filsafatnya terbagi menjadi tiga, logika, fisika, dan etika.
Logika
Logika dimaksudkan yaitu memperoleh keriteria kebenaran. Bagi kereka sama sebagaimana yang dipahami oleh Demokritos tentang “Teori Reproduksi.” Namun yang menjadi pertimbangan adalah masalah adalah, apa kriteria untuk memperoleh pandangan yang benar?
Kaum Stoa berbeda dengan apa yang dipahami oleh Aristoteles, bahwa yang benar bila itu dilihat dari kesesuaian alam nyata. Kaum Stoa berpendapat bahwa kebenaran kriteria sesuatu itu sebenarnya adalah paksaan dari alam pikiran, ketika sesuatu itu dipandang dengan terang dan tajam, maka sesuatu itu dipaksakan membenarkan dan menerima sesuatu itu.
Begitupun dengan idea nya Plato, kamu Stoa mengatakan bahwa penegertian umum itu tidak ada realitanya, semuanya itu hanya cetakan subyektif untuk mudah menggolongkan barang-barang yang nyata saja, dan hanya barang yang nyata yang mepunyai realita, nyata adanya.
Fisika
Fisika kaum Stoa meliputi alam dan teologi. Penciptaan alam diawali oleh api yang berubah menjadi udara dan air, air mebentuk tanah dan udara, dan udara tersebut kembali mejadi api. Air dan apai adalah unsure aktif yang membentuk materi, sedangkan udara dan tanah adalah unsure pasif, yang aktif dan pasif saling mrnaga dan mengisi. Api yang menjadi awal terbentuknya alam merupakan wujud lain dari Tuhan. Tuhan bagi kaum Stoa sama halnya dengan materi lain, yaitu berbentuk atau dalam bahasa lain ialah mempunyai tubuh.
Bagi mereka unsur itu terbagi dua, yang bekerja dan yang dikerjakan. Tuhan sebagai yang bekerja dan materi sebagai yang dikerjakan. Prinsip yang bergerak adalah Tuhan, materi yang sangat halus. Peredaran yang ada di dunia adalah kemestian yang tetap, yaitu hokum alam serupa dengan akal Tuhan. Kemestaian tetap itu tidak bisa dielakan, menurutnya kemestian tersebut pun untuk keselamatan manusia. Sehingga pandangan hidup mereka optimis, bahwa semuanya terjadi dengan edaran yang tetap, maka terima dengan sabar dan gembira.
Etik
Bagi kaum Stoa, dasar segala etik adalah kemerdekaan moril.kemerdekaan moril itu yang menjadi alasan bertindak dan hidup yang tepat. Namun alam menurut mereka bersifat kausalitas, sebuah kejadian yang mesti dan tidak dapat dirubah. Ini yang menyebabkan adanya pertentangan, apakah kemerdekaan itu bisa dengan adanya kemestain alam ini?
Bagi kaum Stoa kemerdekaan dan kemestain tidak berlawanan, bahkan kedua kata itu adalah dua serangkai. Hidup yang baik dan setinggi-tingginya adalah hidup menurut hukum alam. Mengkuti hokum kausalitas, bahwa segala sesuatu pasti memiliki sebab. Sebab bagi tindakan manusia terletak pada kesadaran, dan kesadar yang tepat adalah sebuah kemestian pula. Dan mereka yang hidup dengan kesadarannya akan sehat, dan sebaliknya.
Mazhab Skeptis
Skeptis artinya ragu-ragu, yang dimaksud disini adalah sekelompok kaum yang meragukan ajaran kaum klasik, bahwa kebenaran itu dapat diketahui. Kaum Skeptis ada dua, hanya yang menjadi perbedaan adalah sikap ragu yang seperti apa yang dimaksud. Kedua sekolah itu adalah Skeptis Pyrrhon dan Akademia.
Mazhab Skeptis Pyrrhon
Pyrrhon mengajarkan bahwa kebenaran itu tidak dapat diduga. Bahwa setiap orang harus mewaspadai sesuatu yang dikatakan benar. Yang dipikirkan oleh akal tidak ada yang dapat diketahui dengan pasti, apa yang diterima sebagai kebenaran hanya berdasarkan kebiasaan yang diteria dari orang ke orang. Menurut mereka dari dua ucapan yang bertentangan tentang sesuatu, pasti yang satu benar dan yang lainnya salah, dan menentukan benar dan salah harus ada sebuah kritaria tentang kebenaran, dan kriteria itu lah yang tidak ada. Oleh karena itu kebenaran tidak dapat diketahui. Dimana manusia tidak dapat mencapai pengetahuan yang sebenarnya, sehingga orang yang cerdik dan pandai seharusnya menguasai diri jangan sampai memberi keputusan.
Mazhab Skeptis Akademia
Berbeda dengan apa yang sebelumnya, dengan menolak total adanya benar dan salah, serta menjauhkan mengabil keputusan. Mazhab Akademia yang didirikan oleh Arkesilaos ini masih mengatakan bahwa ada kemungkinan untuk mencapai pengetahuan. Yaitu dengan berbudi baik dan sungguh-sungguh dapat juga didapat” norma pengetahuan,” yaitu yang disebut sebuah “kemungkinan.” Bagi mereka pikiran adalah bayangan saja, barang-barang yang ipikrkan itu pad dasarnya tidak dapat dikenal. Sekalipun kebenaran yang sebenar-benarnya itu tidak dapat diketahui dengan pasti, namun manusia harus tetap mengembil keputusan. Untuk pegangan dalam kehidupan seharihari Karneades (tokoh Akademia) mengemukakan tiga tingkat kemungkinan. Pertama, pemandangan itu mungkin benar. Kedua, pemandangan itu tidak mungkin benar. Ketiga, kemungkinan itu tidak dapat dibantah dan telah ditinjau dari segala sudut.
Neo Platonisme
Neoplatinosme adalah sebuah ajaran dari Plotinos yang mengembangkan ajaran filsafat Plato. Pokok ajaran mereka adalah tentang Yang Satu adalah asal segala-galanya atau Yang Asal. Maka Yang Asal adalah permulaan dan sebab yang pertama dari segala yang ada.
Jiwa
Jaran Plotinus tentang jiwa adalah dasar teorinya tetang hidup yang praktis dan ajaran moral. Menurut pendapatnya, benda itu karena tidak terpengaruh oleh Yang Satu dan Yang Baik adalah menjadi pangkal yang jahat. Benda yang ada di sekitar manusia hendaknya ditinggalkan sama sekali, dan jiwa itu semata-mata hidup dalam lingkungan rohaniah dan alam pikiran. Hanya dalam alam rohaniah dan pikiran itulah jiwa dapat melatih diri untuk mencapai langkah terakhir, yaitu bersatu dengan Tuhan. Ini hanya bsa dicapai dengan megembangkan perasaan yang luar biasa, yaitu rasa keluar dari diri sendiri degan extase.
Moral
Ajaran moralnya adalah mempraktekan apa yang ada dalam ajaran jiwa, karena sebagai dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai persamaan dengan Tuhan. Budi yang tinggi adalah menyucikan roh, dan itu adalah satu-satu jalan menuju cita-cita kemurnian.
Daftar Pustaka
Hatta, Mohammad, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s