Abuya KH Abdurrahman Nawi dan Amaliah Individu (Kembali ke Akar kembali ke Asal)

Kapan terakhir kita membaca surah al-Insyirah setelah shalat!!!

Kapan terakhir kita membaca ya fattah setelah Shalat Subuh atau membaca doa Sulaiman

setiap munajat! atau lain-lain!!!

Tradisi di Pontren Al-Awwabin adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sosok KH

Abdurrahman Nawi, tradisi seperti menempelkan tangan di dada sebelah kiri

sambil membaca al-Insyiroh akan sulit ditemukan di tempat-tempat lain. Dan bisa

dikatankan perjuangan Abuya dalam mendapatkan amalan tersebut bukan hal yang

mudah, mungkin saja Abuya harus “naik dan turun gunung” untuk

mendapatkan amaliyah ini, karena senaki sulit itu didapat semakin tidak bisa diragukan dampak itu

sangat berpengaruh dalam hidup kita.

Penulis secara pribadi adalah orang yang sangat dipengaruhi oleh amaliyah tersebut. Di

awal perjumpaan dengan Abuya sekitar tahun 1999 saat mendaftar di

Pontren Al-Awwabn Depok, ayah penulis meminta langsung supaya penulis didoakan

oleh Abuya-kebetulan ada di Kantornya waktu itu- dengan ihklas Abuya memegang

dan membacakan alamnasyarah pada diri penulis. yah walaupun kurang dikenal oleh

Abuya saat menjadi santri, namun dampak al-Insyriroh sangat besar sampai saat

ini.

Di al-Awwabin selain amalan al-Insyiroah juga ada satu lagi yang yang sangat khas,

yaitu doa Sulaiman (Fafahamnaha sulaimana…) yang cukup panjang namun memilki

arti yang sangat dalam. ini juga dianjurkan oleh Abuya agar santri kerap

membacanya dikala sehabis shalat lima waktu. waktu itu penulis ingat saat doa

ini diperintahkan oleh santri. waktu itu di Masjid Abuya bertanya tentang

pelajaran sekolah (Abuya juga sangat perhatian dengan hal ilmu umum), waktunya

ujian sekolah saat itu. “Nah biar gampang ngapal ni baca doa Sulaiman

setiap habis shalat” ujar Abuya di depan ratusan santri.

Dari dua amiyah (al-Insyirah dan Doa Suaiman) tersebut penulis menemukan makna dari

anjuran Abuya, adanya dua hal yang tidak boleh diabaikan oleh para penuntut

ilmu, yaitu hati dan akal. al-Insyiroh berfungsi sebagai “Tahzib al-Qulub”

pelunak hati dan Doa sulaiman sebagai “penajam akal”. dua hal

tersebut lah yang selama ini menjadi rahasia dari keberhasilan Abuya menjadi

seorang ulama yang bukan hanya suci hati, tapi juga cerdas akalnya. kedua hal

tersebutlah juga yang sangat diinginkan Abuya kepada santri dan murid-muridnya,

bahwa menjadi manusia bukan hanya dibutuhkan kecerdasan akal tapi juga

kelembutan hati, ini yang sangat penting dalam kelestarian ilmu Islam. Barat

lewat dualisme Cartesiannya memisahkan Body and Soul (akal dengan intuisi)

telah banyak berdampak pada ketidak berhasilan Barat menyikapi krisis

kemanusiaan saat ini.

Secara tidak sadar, Abuya telah berupaya menangkis modernisme lewat ajaran yang sangat

bijak, bahwa hati akan lembut jika setiap hati diacakan sebuah Kalamullah dan

akal akan bertambah tajam jika dibantu dengan doa pilihan Nabi Sulaiman. walau

pun penulis agak sedikit mengarang, namun tulisan ini mencoba mengungkapkan

tentang sebuah proses dalam mencari kebenaran hakiki. Apa yang telah diajarkan

oleh Abuya setidak nya bisa kita amalkan terus dalam kegiatan kita sehari-hari,

penulis mencatat bahwa seluruh yang Abuya berikan berupa amalan ajaran dll,

adalah Ijazah A’mmah (Ijazah Umum) untuk ummat muslim seluruhnya (bisa dilihat di semua karya

Abuya, bahwa apa yang ditulis dan diajarkan dari pemberi Ijazah, musnid

al-Dunya Habib Ali bin Husein al-Attas). Sehingga bisa disimpulkanbahwa yang dikeluarkan Abuya adalah

amalan yang Mu’tabaroh dan Mu’tamad. Ironi memang di saat kita yang secara ruh

pernah dekat dengan Abuya harus sempat lupa dengan amalan-amalan yang penting

tesebut. berikut amalan yang penulis ingat…

Al-Insyirah setiap sehabis shalat fardu + ya fattah 71 kali di usai shalat subuh

Doa Sulaiman setelah seusai sholat

Qashidah ya rabbibil Mustafa sebelum mengaji

Ya Rabbana Tarafna seusai mengaji

Wajhifat al-Awrad wa al-Azkar setiap kamis sore

Setiap doa dan tata cara dalam kitab-kitab amaliyah karya Abuya

kalau ada yang lebih dekat, mengapa harus mengejar yang lebih jauh, bukan kah yang dekat itu lebih nyata di

banding yang jauh, bukan kah dekat itu lebih aman ketimbang yang jauh, dan bukan

kah yang dekat lebih cepat sampai daripada

yang jauh…Maka kembali lah ke akar kembali lah ke asal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s