Kekuatan Nahwu dan Fatwa KH Abdurrahman Nawi

“Suara rendah keluar dari dialog dari balik telepon. Setelah menjawab kyai pun berkata pada santri, barusan kyai ahli Nahwu Jakarta nelpon.” Ini lah kesan KH Syafii Hadzami dengan seorang kyai di balik teleponnya, yaitu KH Abdurrahmna Nawi. Bila orang biasa yang megatakan demikian, mungkin kita akan terasa biasa-biasa saja, namun bila itu keluar dari mulut seorang yang besar tentu rasanya berbeda, dan nilai dari kebenaran itu juga akan berbeda.
KH Abdurrahman Nawi, yang dikenal akrab dengan Abuya memang sejak muda sudah menjadi andalan kawan-kawannya dalam memecahkan masalah seputar nahwu ini. “Bila muzakaroh bisa menghabiskan waktu tiga jam untuk nahwu saja,” ungkap Abuya pada penulis di Tebet. Kehebatan Abuya dalam Ilmu Nahwu bisa dibuktikan dengan karya tulisnya berjudul “Pelajaran Ilmu Nahwu” atau yang dikenal dengan Nahwu Melayu, karya ini sering digunakan oleh pemula dalam mengetahui dasar bahasa Arab. Sayang, bila boleh penulis berpendapat belum banyak dari kita yang mau memanfaatkan kitab tersebut sebagai karya yang dilestarikan secara profesional oleh kalangan santri.
Dalam pribahasa Arab dikenal “al-Ina’ yamdhau bima huwa fih” Bejana itu merembes dengan apa yang ada di atasnya.bila orang itu ahli Nahwu, maka yang keluar dari dirinya adalah segala hal yang menyangkut nahwu. Abuya contohnya, kebanyakan fatwa dan pendapat yang keluar darinya berdasarkan Nahwu, atau bila di dalam tafsir sering dikenal dengan Thariqah al-Lughawi yaitu metode bahasa, melalui ilmu nahwu Abuya maju untuk menganilasa apa yang sebenarnya maksud dari ayat, hadist, atau maqolah. Sehing tidak ssalah ketika Abuya berkata “Al-Nahw ka al-Milh” ilmu nahwu itu bagaikan garam, Abuya member I contoh garam dengan nahwu sebagai ilustrasi kegunaan yang snagat penting, bila makanan tanpa garam akan teras hambar, maka bahasa Arab tanpa Nawu akan sama terasa rancu. Sehingga Abuya berkesimpulan bahwa dengan Nahwu ibadah yang terlihat sulit, akan terasa ringgan dengan pemahaman Nahwu. Di bawah ini beberapa contoh pendapat Abuya dengan analisi nahwunya.
 Athof Muttasil dan Athof Munfasil
Di dalam al-Quran Allah berfirman:
إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزلو عليهم الملائكة
“Sesunguhnya mereka yang berkata Tuhan kami adalah Allah, kemudia mereka Istiqamah maka turun malaikat kepada mereka.” Pendapat Abuya tetang ayat ini, bahwa istiqamah adalah hal yang menempuh proses yang lama, tidak singkat dan tidak cepat. Karena yang dipakai dalam ayat tersebut adalah kata stumma (kemudia), yang berfaidah Athof Munfasil, ada rentan waktu yang lama dan panjang.
Dalam Hadist, Nabi Muhammad bersabda:
من صام رمضان ثم أتبعه ست من شوال كان كصوم دهر
“Siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti enam hari di bulan syawal, maka ia telah berpuasa satu tahun penuh.” Menurut Abuya, pelaksanaan puasa syawal sebaiknya dilakukan senggang beberapa hari setelah lebaran, tidak langsung setelah ramadhan. Abuya menambahkan, bahwa lantaran kita tahu ilmu ibadah bisa lebih longgar.
Nah, berbeda halnya dengan fa yang berfaidah Athof Muttasil, yang artinya berlangsungnya sebuah pekerjaan secara langsung, tanpa tahapan-tahapan. Seperti firman Allah
ثم أماته فأقبرة
“Kemudian mati, maka dikuburkan” Abuya berpendapat mengenai hal ini, pertama fa itu menadakan segera setelah mati, cepat dikuburkan. Namun tidak mesti jika meninggal malam, maka harus dikuburkan malam. Karena makna fa aqbarah adalah selambat-lambatnya 24 jam.
 Isim Nakiroh
Dalam kitab Nasoih al-Diniyah
من تقرب إلى الله بفربضة من رمضان كأنه يفعل بسبعين فريضة
“Siapa orang yang mendekatkan diri di bulan ramadhan dengan amalan fardu, maka Allah lipatkan itu dengan 70 kali fardu.” Menurut Abuya, kata faridoh itu nakiroh, bermakna umum. Jadi ibadah fardu apapun itu, akan dilipat gandakan pahlanya dengan 70kali fardu, misalnya mencari rizki untuk keluarga, shalat, dan zakat.
 Taukid
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة
“Sungguh telah ada dalam diri rasul suri teladan yang baik bagi kalian.” Kata Abuya, salah satu fungsi taukid ( lam dan qod) adalah mengutkan dan meberi yakin bahwa hal tersebut benar adanya. Maka ketika ayat-ayat taukid itu diingkari, hukumnya kafir atau murtad. Seperti halnya kalimat lain yaitu “Anna” adalah harus diyakini sepenuhnya.
أشهد ان لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Anna dalam kalimat di atas, benar dan pasti bahwa Nabi Muhammad utusan Allah.
 Takdir al-Lafz
أشهد ان لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
Takdir kata asyhadu, yaitu a’lam wa a’taqid wa ubayin, an la wujud bi haqq illa Allah, Aku mengetahui, dan meyakini, dan jelas bahwa tidak ada wujud yang benar kecuali Allah. Kata a’lam berfaidah yakin “Tufid al-Yakin.” Sehingga bisa diartikan bahwa Aku yakin tidak ada Tuhan selain Allah.
Selain fatwa yang bergenre Nahwu, ada beberapa pendapat-pendapat Abuya yang jarang dikomentari oleh ulama-ulama lain, semisal pernah suatu hari Abuya berkata kepada Ust Kayadi bahwa Musalla-nya harus diganti menadi masjid. Abuya meberi alas an, bahwa yang dianjurkan di al-Quran itu memakmurkan masjid buka memakmurkan musalla, maka jadikan masjid gair al-Jami saja. Penulis secara langsung pernah mendengar tenatang perdebatan bolehkan wanita dan laki-laki campur dalam aqad nikah, pendapat Abuya adalah harus dipisah antara calon mempelai laki-laki dan perempuan saat akad nikah, bahkan proses aqad nikah hanya disaksikan oleh kaum laki-laki saja, sedangkan perempuan di tempat lain. Dengan sangat hati-hati Abuya beralasan, itu semua untuk menjaga saksi nikah supaya tidak fasik lantaran melihat yang bukan mahramnya. Karena saksi yang fasik bisa mengakibatkan tidak sahnya aqad nikah.
Bila kalian pernah mendengar pendapat dan fatwa Abuya seputar hukum, maka silahkan tambah di kolem komentar. Tulisan itu dibuat untuk seluruh yang berharap mengamalkan ajaran guru-guru mereka, yaitu Abuya KH Abdurrahman Nawi.

3 thoughts on “Kekuatan Nahwu dan Fatwa KH Abdurrahman Nawi

  1. Menurut saya apa yang digembar gemborkan sementara saudara kita yang “lain” mengenai, “KEMBALI KE AL QUR’AN DAN AS SUNNAH” sudah benar adanya. namun permasalahannya adalah adakah kita memilki kemampuan yang baik dalam memahami atau menangkap pesan dari Al Qur’an dan As Sunnah tersebut. menurut hemat saya yang lebih tepat adalah kembali kepada Ulama, karena merekalah yang paling memahami Al Qur’an dan As Sunnah tersebut, sedangkan hak kita sebagai orang awam adalah “BERTANYA KEPADA PARA ULAMA”. Semoga Allah senantiasa menjaga Abuya KH Abdurrahman NAwi. Amin.

    1. betul sekali bung… Abuya adalah ulama yang sangat disegani di era 70an… Habib ALI Bungur saja sempat menyerahkan sebuah pertanyaan haji kepada Abuya, KH Hasbiallah Klender dan KH Mursyidi kerap menyuruh Abuya untuk menggantikan pengajiaannya jika kedua ulma tersebut berhalangan.
      mengenai Nahwu, Abuya adalah ulama ahli nahwu jakarta, julukan ini pernah dilontarkan oleh KH Abdullah Syaffi dan Muallim Syafii Hazdami. seorang pernah berkomentar juga bahwa adanya penafsiran yang fundamentalis dala alquran di karenakan merka memahami teks al-quran yang jauh dari pendekatan Nahwu, bebrbeda dengan ulma yang memilki pandangan yang dalam dalam nahwu merreka lebih lembut dan bersahabat. sabtu kemarin kami masih mengaji dengan Abuya, beliau berpesan bahwa mempelajari Nahwu hukumnya fardu ain bagi merka yang inigin menafsirkan AL-quran dan hadist. maka pelajari dengan benar ilmu nahwu. semoga kita diberi manfaat dari ilmu-ilmunya. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s