Relasi antara Manusia dan Alam dalam Perspektif Agama

Oleh Ngambullah Akram dan Jauharul Bar
“Dunia sedang tidak baik-baik saja.” Belakangan ini kalimat tersebut seringkali kita dengar dari kerabat, rekan sekampus, dosen, dan dari para aktivis lingkungan. Dan ramalan terbaru dari suku yang ada di Brazil menyatakan bahwa “Tahun 2012 adalah akhir dari kehidupan dunia.” Agama sebagai world view dalam aplikasinya bertujuan untuk mempromosikan kemaslahatan hidup, tidak bisa mengelak dari tantangan krisis ekologis kontemporer. Makalah ini hendak menyampaikan bahwa agama secara inheren memiliki sikap menaruh hormat terhadap alam. Bagi agama, alam dan manusia adalah lokus kehadiran Yang Sakral. Dengan demikian, manusia dan alam dalam pandangan agama merupakan suatu hal setara; yaitu sama-sama merupakan lokus Yang Sakral.

I. Pendahuluan
The Day after Tomorrow, sebuah film yang mengupas perubahan siklus cuaca secara drastis akibat pemanasan global, yang ditimbulkan oleh ulah manusia, atau pun knowing yang berbicara mengenai hal serupa. Salah satu yang sedang marak diperbincangkan oleh semua kalangan ialah sebuah film berjudul 2012 akhir dari umur bumi, atau pun film dokumenter yang dibuat politikus Amerika, Algore, mengenai perubahan cuaca secara gradual sebagai dampak dari krisis ekologi. Semua film-film tersebut menunjukan bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja.
Pada 1960-an, Lynn White, Jr. berpendapat dalam artikelnya yang mengundang perdebatan hingga kini yang dipublikasikan pada Science Magazine, yaitu The Historical Roots of Our Ecological Crisis, bahwa krisis ekologis akibat dari eksploisitas sains dan teknologi berakar pada pandangan antroposentris tradisi Yudeo-Kristiani. Di dalam artikel tersebut, White yang merupakan sejarawan abad pertengahan menuduh bahwa Kekistrenan adalah penyumbang utama dalam krisis lingkungan. Dalam tesisnya, White menegaskan bahwa ajaran Yudeo-Kristiani memandatkan kepada manusia untuk mendominasi alam yang bersifat instrumental, bukan yang bersifat menghormati alam.
Sejak itu, banyak para pemikir yang muncul untuk merespons tulisan White, baik itu Pro maupun Kontra. Walaupun demikian, setidaknya White telah memulai diskursus antara Agama dengan Ekologi, di samping itu kritik White terhadap tradisi Yudeo-Kristiani membuat para teolog kembali menengok doktrin teologi yang mereka yakini. Tulisan yang sedang anda pegang ini, hendak mengulas bagaimana relasi antara manusia dengan alam dalam padangan agama-agama dunia.
II. Alam Menurut Agama
Secara tradisional, Yudaisme, Kristiani, dan Islam melihat manusia sebagai pelindung atau penjaga alam. Relasi antara manusia dan alam adalah salah satu kajian yang bersifat perenillis. Artinya kajian yang selalu ada pada setiap zamannya, yaitu sebuah paradigma yang memandang adanya nilai-nilai sakral pada alam. Termasuk juga manusia di dalamnya. Alam tidak dipandang sebagai sebuah benda mati yang dieksploitasi an sich. Alam merupakan sebuah entitas yang hidup dan memiliki nilai-nilai kesakralan yang dibebankan kepada manusia untuk menjaganya.
Semua agama—besar, kecil, kuno, ataupun modern—mempercayai adanya sesuatu yang sakral dibalik entitas alam. Dalam pandangan modern, manusia menganggap alam raya sebagai entitas yang tidak lagi memiliki nilai-nilai sakral. Mereka menganggap alam sebagai benda mati yang bisa seenaknya saja untuk dieksploitasi guna memperoleh keuntungan. Di samping itu, sebagian besar tradisi agama-agama juga memiliki ajaran yang menolak konsumsi secara berlebihan dan mengkritik sikap rakus dan tidak adanya keinginan untuk berbagi terhadap sesama.
II. a. Yudaisme
Seperti yang tadi kita sebut di atas, Tradisi Yahudi sangat dikritik keras atas pandangan antroposentrisnya terhadap alam. Kitab Kejadian pasal 1 ayat 28, seringkali dijadikan landasan dalam melakukan kritik terhadap doktrin Yudaisme. Ayat tersebut dilihat sangat antroposentris oleh para pakar. Ayat tersebut sebagai berikut,
“Allah memberkati mereka (Adam dan Hawa); lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak, dan penuhilah Bumi, dan taklukkanlah (kabbasy)itu; dan berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Pandangan antroposentrik ayat inilah yang digunakan untuk mengkritik dan menunjukan sikap tradisi Yudeo-Kristiani mengenai alam. Bahkan, dalam pandangan Lynn White, Jr., krisis ekologis pada dasarnya berakar pada visi antroposentris Yudeo-Kristiani (White, Jr., 1964). Bagi kalangan Yahudi, pembacaan ayat ini sangat tidak lengkap dan tidak kontekstual. Tidak lengkap dimaksud ialah ayat berikutnya (pasal 29) tidak diperhatikan, “Dan Allah bersabda; “Lihatlah Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah yang akan menjadi makananmu.” Ayat ini menandakan pembatasan sikap manusia mengenai relasinya terhadap alam. Manusia dianjurkan, atau bisa juga dibaca sebagai dibatasi, untuk hidup vegetarian.
Dan perlu diingat bahwa fenomena krisis ekologis tersebut sangat khas modern. Padahal pesan Perjanjian Lama tidak hanya dibatasi zaman pramodern atau modern melulu. Dengan demikian, pembatasan yang dilansir pada pasal 29 tersebut tidak harus dimaknai sebagai pola vegetarian, melainkan bahwa manusia dalam “menaklukkan” (kabbasy) bumi memiliki batasan. Sehingga, hal ini bukanlah suatu dominasi (dominion) melainkan pengurusan (stewardship). Mengutip J. Barr, Martin Harun memaknai kabbasy bumi dalam konteks Kejadian 1 tidak dapat dimengerti menurut maknanya yang keras (menginjaki), tetapi diartikan sebagai “mengerjakan” bumi atau “mengolah” tanah (tilling), sejajar dengan “mengusahakan dan memelihara” taman dalam Kejadian 2: 15. Mengikuti pengertian seperti ini, menaklukkan pada Kitab Kejadian I dipahami sebagai kepengurusan. Hal ini didukung pula oleh Mazmur 24, “TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia yang serta di dalamnya.” Karena bumi adalah milik TUHAN maka sikap manusia terhadap alam adalah kepengurusan. Dari sini kita menemukan kehadiran Yang Sakral terhadap Alam.
Di dalam kitab Torah tertera; “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi.” Dari perspektif tradisi Yahudi, dunia itu bukanlah sebuah kecelakaan kosmik yang bersifat kebetulan, melainkan sebuah ciptaan Tuhan yang bertujuan. Titik awal dari tradisi Yudaisme bukanlah segala sesuatu itu bisa dilakukan, melainkan segala sesuatu adalah Kudus (Sakral).
II. b. Kristen
Dalam sebuah pidato yang diucapkannya di depan para Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan pada 1994, Paus Yohanes Paulus II menyatakan; “Dalam misterinya, manusia jauh melampaui gabungan dari sifat-sifat biologisnya. Manusia merupakan unit fundamental, dimana dimensi biologis tidak dapat dipisahkan dari dimensi spiritual, keluarga dan sosial. Dan jika dipisah-pisahkan, muncul resiko serius akan hilangnya ciri kepribadian manusia dan membuatnya menjadi sekadar objek analisis” Pernyataan Paus Yohanes Paulus II dua di atas, secara eksplisit telah jelas menyatakan bahwa dalam doktrin agama Kristen terdapat dimensi Sakral antara hubungan manusia dengan alam.
Namun menurut Jay McDaniel pendekatan Kristen Barat terhadap alam sangatlah ambigu. McDaniel mengutip The Travail of Nature: The Ambigunous Ecological Promise of Christian Theology karya H. Paul Santmire untuk menunjukkan ambiguitas tersebut, yakni 1) motif “ruhani”, di mana tujuan eksistensi manusia dianggap terletak entah di dalam transendensi terhadap alam ataupun, dalam masa modern, humanisasi alam; dan 2) motif “ekologis”, di mana tujuan dianggap terletak di dalam persekutuan dengan alam, menghargai rahmat alam dan menyadari bahwa alam mempunyai nilai terpisah dari kegunaannya bagi manusia.
Motif pertama menempatkan alam sebagai suatu yang dihormati, akan tetapi secara ruhaniah segala sesuatu selain manusia adalah untuk mewujudkan kepentingan ruhaniah manusia. Motif pertama ini meskipun alam dihargai akan tetapi tetap dilihat sebagai pelayan untuk kesempurnaan ruhaniah manusia. Sedangkan motif kedua melihat bahwa semua benda, alam, manusia memiliki keutuhan, nilai dan peranan sendiri dalam sejarah akbar dari tatanan ciptaan.
Meskipun kedua motif ini bersebrangan atau ambigu, paling tidak memiliki titik temu bahwa alam tidak sekadar suatu entitas yang dijadikan dominasi semata. Peranan ruhaniah di sini menjadi kata kunci untuk membaca tradisi Kristiani. Dimaksudkan dimaksudkan peranan ruhaniah di sini ialah bahwa seluruh entitas harus diarahkan menuju Sang Bapak. Seperti adagium mistisime Kristiani tekankan bahwa “Tuhan menjadi manusia agar manusia menjadi Tuhan.” Hal ini bisa diartikan terdapat batasan dalam relasi manusia akan alam. Batasan itu ialah bagaimana agar kesempurnaan spiritual terwujud. Dan alam memiliki peranan dalam mewujudkan kesempurnaan spiritual tersebut. Jadi, ambiguitas tersebut tetap berakar pada upaya penyempurnaan spiritual.
II. c. Islam
Tidak hanya dua agama Ibrahimi saja yang bisa disalah tafsirkan secara antroposentrisme. Termasuk juga Islam di dalamnya. Salah satu ayat yang bisa dikritisi mengandung nilai antroposentrisme adalah Surah Al-Baqarah [2]: 30:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Di dalam ayat tersebut, Allah hendak menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Menariknya terdapat dialog Tuhan dengan malaikat soal penempatan manusia sebagai khalifah di bumi. Malaikat mengatakan mengapa Tuhan menciptakan manusia yang akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah dibumi itu.
Yang perlu diingat adalah jika Islam dilihat hanya pada tataran form melulu, maka jantung dari Islam itu yakni tasawuf akan terabaikan begitu saja. Padahal pandangan tasawuf inilah yang dapat menjelaskan pengertian khalifah secara baik. Dalam tradisi tasawuf manusia adalah lokus manifestasi diri-Nya. Karena Tuhan tidak terbatas, maka manifestasinya pun tidak terbatas. Sebagaimana manusia, alam pun merupakan manifestasi Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa alam memiliki dimensi spirit atau ruh. Dengan demikian, perlakuan manusia terhadap alam memiliki kesetaraan; sama-sama lokus manifestasi Yang Sakral.
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, ia mampu menggapai kesadaran tertinggi yakni dimana manusia sebagai perpanjangan tangan Tuhan atau khalifah atau insan kamil atau Manusia Sempurna. Yaitu ketika manusia telah mencapai kesadaran yang sempurna dalam Kesakralan yang ada pada dirinya. Manusia melingkupi dan dilingkupi alam. Maksudnya manusia sebagai mikrokosmos dan juga bagian dari makrokosmos.
III. Terpuruknya Alam
Ketidaksadaran manusia akan kewajibannya atas alam, adalah salah satu penyebab terpuruknya alam. Di samping itu, agama yang seringkali ditafsirkan secara antroposentris juga memberikan sumbangsih dalam tereksploitasinya alam oleh manusia.
III. a. Minimnya Kesadaran Ekologis
Ekologi ditafsirkan sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Salah satu komponen terpenting dari lingkungan hidup dan menjadi prasyarat kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia adalah alam. Alam menjamin pemenuhan kebutuhan sekaligus menjadi ruang hidup manusia.
Beberapa decade ini, kondisi alam telah sangat menghawatirkan. Ketahanan Bumi yang merupakan satu-satunya tempat berlangsungnya kehidupan, semakin rapuh. Fenomena yang kerap kali muncul dan menimpa kelangsungan kehidupan; seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan polusi udara tidak terelakkan lagi, hal tersebut merupakan dampak dari ketidak seimbangan alam.
Nampaknya Namun, kesadaran manusia nampaknya tidak data diharapkan lagi kaitannya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sikap dan interaksi manusia dengan lingkungan lebih cenderung engarah pada eksploitasi. Manusia, dengan logika penakluk yang dimilikinya lebih memilih menaklukkan alamdengan mebabi buta, sehingga kurangnya interaksi yang baik ini mengakibatkan bertambah burukya ekologi.
Tidak ayal, keserakahan manusia terhadap alam jika dibiarkan akan menimbulkan dampak yang serius pada eksistensi kehidupan umat manusia. Bumi—yang tidak lain adalah tempat manusia tinggal—akan membusuk dan manusia akan tercover oleh busuknya bumi. Yang seharusnya bumi merupakan tempat yang penuh dengan kesejukan dan kesegaran udara akan tercemari oleh hitamnya asap tebal akibat polusi yang ditimbulkan kebakaran hutan dan kepulan asap dari pabrik-pabrik. Ikan-ikan di laut yang bisa dihasilkan para nelayan akan mengambang akibat tercemarnya air laut dengan gas-gas kimia yang di tumpahkan oknum manusia. Dan hijaunya hutan akan lenyap akibat penebangan kayu liar yang dilakukan manusia atas kepentingan sendiri.
III. b. Krisis Spiritualitas
Penggunaan alat teknologi yang super canggih ternyata belum bisa meredakan krisis lingkungan yang ada, agama yang begitu menentramkan juga “belum” tentu menjawab akan krisis lingkunagan sekarang ini. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada manusia sekarang ini, menurut Husain Nasr adalah krisis spiritualitas. Orang modern baik mereka yang beragama atau tidak, ternyata saat ini mamahami manusia sebagai sesuatu yang terpisah dari makhluk lain, akibatnya tidak ada penghargaan terhadap makhluk lain. Jika manusia meyadari adanya keberadaan yang sama yaitu alam semesta seperti halnya manusia pasti kita tidak akan melakukan hal yang seperti ini. Keserakahan manusia modern untuk mejadi yang paling diakui di dunia juga menaruh peran besar terjadinya kerusakan alam semesta.
Pemahaman ajaran agama juga belum cukup untuk mengatasi alam ini, pengetahuan mengenai kesatuan antara manusia dengan makhluk lain, atau kesaling terikatan antar alam, atau kesatuan Tuhan dengan alam. Tak ayal jika Sayyid Mohsen Miri mengatakan filsafat Mulla Sadra adalah yang paling pas untuk menerangkan keterkaitan manusia, alam, dan Tuhan, jika kita mencintai Tuhan maka mestilah kita mencintai alam, dan sebaliknya. Jika ini dipahamai benar oleh manusia beragama, tidak ada alasan apapun untuk menzalimi makhluk lain, bagaimana pun makhluk lain mempunyai hak yang sama untuk hidup di alam ini.
Manusia modern yang harusnya paling tahu mengenai kerusakan yang ditimbulkan atas kerusakan alam, masih belum bisa mencari alasan yang tepat untuk aksi-aksi eksploitasi alam demi keserakahan mereka. Bagi sebagaian orang seperti Muray Bookchin, mempunyai alasan lain atas terjadinya kerusakan alam ini, karena adanya praktek penindasan manusia oleh manusia, seperti problem structural social yang didasarkan atas relasi kuasa dan dominasi. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah merekonstruksi cara hidup manusia akan keragamanan nilai-nilai keontetikan dan keragaman bioregional. Jadi bukan karena alsan etnosentrik dan ekosentrik tapi memang karena faktor sosial global seperti, ketidakadilan, kapitalisme, dan dominasi kelas sosial.

Penutup
Dalam menyikapi realitas kerusakan alam ini, agama sebagai pemberi pesan damai, baik kepada manusia maupun kepada alam, sudah semestinya turut memberi solusi dan kontribusi yang signifikan bagi kelestarian lingkungan alam. Melihat alam dari perspektif agama akan memungkinkan bagi kita untuk menyelesaikan permasalahan sumber-sumber alam dari akar yang sebenarnya, yakni dari sudut pandang kesadaran manusia. Kesadaran manusia akan realitas yang Sakral. Sikap dan persepsi manusia sangat menentukan cara berhubungan dengan alam. Objek yang hidup, seperti alam atau dunia, tidak akan ada atau berubah kecuali dalam persepsi di subyek.
Setiap agama, memiliki model yang beragam di dalam hubungan mereka dengan alam, mulai dari negasi-dunia sampai dengan afirmasi-dunia. Bagi agama, alam dan manusia adalah lokus kehadiran Yang Sakral. Dengan demikian, manusia dan alam dalam pandangan agama merupakan suatu hal setara; yaitu sama-sama merupakan lokus Yang Sakral.
Kita tidak bisa selamanya berburuk sangka terhadap agama atas krisis ekologi. Perlulah kita menyinggung bahwa isu lingkungan tidak bisa dilepaskan dari persoalan industrialisasi, peradaban, politik, sosial, ekonomi, saintisme, teknologi, dan komodifikasi pelbagai hal. Hal-hal tersebut yang menyebabkan krisis ekologis, di mana pola relasi manusia dengan alam dan manusia dengan manusia bersifat dominatif dan eksploitatif.[]
Bahan bacaan
– Mangunjaya, Fachrudin, Husain Heriyanto, dan Reza Gholami (ed.). Menanam sebelum Kiamat: Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup. Jakarta: Buku Obor & ICAS Jakarta. 2007.
– Audrey R. Chapman, dkk. Bumi Yang Terdesak: Perspektif Ilmu dan Agama Mengenai Konsumsi, populasi, dan Keberlanjutan. Bandung: Mizan. 2007
– Mujiyono Abdillah. Agama Ramah Lingkungan. Jakarta: Paramadina. 2001.
– Nasr, Seyyed Hossein. Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press. 1996
– Tucker, Mary Evelyn & John A. Grim (ed.). Agama, Filsafat, dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius. 2003
– White, Jr., Lynn. “The Historical Roots of Our Ecological Crisis.” dalam Science Magazine, 1964.

2 thoughts on “Relasi antara Manusia dan Alam dalam Perspektif Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s