PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL KONFLIK

Oleh Djauharul Bar
Abstaksi
Teori konflik adalah pengkritik teori fungsional, dinyatakan bahwa teori fungsional tidak mampu memberikan gambaran situas masyarakat yang sebenarnya, teori fungsional melihat masyarakat secara seimbang, padahal sesungguhnya masyarakat penuh ketegangan dan selalu berpotensi melakukan konflik. Bagi pendukung teori konflik, teori fungional tidak lain hanyalah koalisi dari kaum dominan. Tokoh gerakan ini tidak lain adalah Karl Marx.
Karl Marx dan Latar Belakang Pemikirannya
Karl Marx lahir di Berlin 1818, jejang pendidikannya diawali di sekolah menengah atas, dilanjutkan pada Fakultas Hukum Universitas Bonn dan Berlin, lewat Desertasi berjudul “The Difference between the Democratian and Epicuareant and Philosophy of Nature” Marx memperoleh gerlar Ph.D, kemudian ia menjadi jurnalis di Kohn dan pindah ke Paris1842. Setelah itu Marx berpindah-pindah dari mulai Brusel, London, Jerman, dan kembali untuk selamanya di London sampai kematiannya di tahun 1883. Marx hidup dalam lingkungan revolusi industri Eropa abad 19, Marx melihat kondisi yang amat timpang antara buruh yang hidup sengsara dengan para pemilik alat produksi yang hidup bermewahan (Sistem kapitalis) ini mempegaruhi pemikiran Marxis awal, dan kemudia dari sana lah ketimpangan sosial terjadi dan akhirnya memperburuk hubungan sosial yang mengakibatkan alienasi invidual dan massal. Marx memberikan solusi bahwa untuk mebentuk sistem kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, maka sistem kapitalis harus diubah menjadi sistem sosialis, dengan jalan revolusi.
Pengaruh filsafatnya dilatarbelakangi oleh pemikiran Hegel mengenai dialektika ide, Hegel menjelaskan bahwa perubahan sosial itu ditandai dengan adanya negativitas dan positivitas, yaitu sebuah ide kesadaran akan harmoni dan kesengsaran yang dalam dua hal tersebut mengantarkan individu memiliki diri sendiri di tengah-tengah sesama. Namun Marx menarik dialektika Hegel itu dalam level materi yang dikenal dengan dielektika materialistik.
Pengaruh lainnya adalah Feuerbach yang berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya ditentukan oleh material termasuk penciptaan manusia terhadap ide Tuhan. Marx menambahkan mengapa ide tersebut bisa muncul dalam diri manusia, menurut Marx tidak lain karena dorongan penderitaan, tekanan struktur sosial, ekonomi yang menguras dan mengeksploitasi dirinya sehingga manusia membutuhkan candu obat bius yang diasimilasikannya sebagai agama.
Asumsi Dasar Teori Marx dan Konsep Main dan Body.
Asumsi dasar dari teori Marx adalah pertama perubahan merupakan gejala yang melekat dalam gejala masyarakat, kedua bahwa konflik adalah gejala yang melekat dalam setiap masyarakat, ketiga setiap unsur dalam masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial, terakhir setiap masyarakat terintegrasi di atas pengusaha atau dominasi yang dilakukan sejumlah orang terhadap sejumlah orang lainnya.
Dalam kaitannya dengan tubuh dan jiwa (Body and Mind) Marx berkeyakinan bahwa manusia adalah subjek dari sejarah. Itu sebabnya Marx menyimpulkan bahwa kehidupan masyarakat yang menentukan kesadaran mereka. Dalam arti yang luas “Apa dan bagaimana manusia itu didasarkan oleh produk yang mereka hasilkan sebagai objek atau proses”.dengan demikian keberadaan individu bergantung pada objek material. Maka dapat dinyatakan bahwa sistem ekonomi, sosial, hukum, pendidikan, budaya, bahasa, seni, dan politik merupakan refleksi kondis material (bangunan bawah). Sehingga Marx menyebut material (body) lebih menentukan mind.

Teori Konflik dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Memahami Marx menegani startifikasi sosial tidak lain harus melihat teori klas yaitu “Sejarah peradaban umat manusia dari dahulu sampai sekarang adalah sejarah pertikaian dan konflik antar klas.” Marx selalu melihat bahwa hubungan manusia terjadi dari adanya hubungan posisi masing-masing terhadap sarana produksi. Marx berkeyakinan bahwa posisi dalam struktur sangat mendorong dalam upaya memperbaiki nasib mereka dengan ditunjukkan adanya klas borjuis dan klas buruh.
Dari penjelasan tersebut menurut sosiolog pendidikan beraliran Marxian menawarkan bahwa masalah pertentangan klas menjadi objek kajia (pendidikan). Dari mereka ada poin-poin yang diajukan, pertama bahwa pendidikan difokuskan pada perubahan yang dibangun dan tumbuh tanpa adanya tekanan dari klas dominan atau penguasa, yaitu dengan perubahan akan penyadaran atas klas dominan. Kedua pendidikan diarahkan sebagai arena perjuangan klas, mengajarkan pembebasan, kesadaran klas, dan perlawanan terhadap kaum borjuis.
Teori Konflik dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Masyarakat Pendidikan Prioritas Kebijakan Strategi Perencanaan
 Konflik dan eksploitasi
 Kekuasaan dan kekuatan untuk memelihara terib social
 Perjuanagan terus menerus antara kelompok dominan dan subordinat  Pendidikan sebagai kepanjangan kekuatan kelompok dominan
 Pendidikan terciptakan terti social yang hirarkis  Memutuskan hubungan antara organisasi /struktur sekolah dan kekuatan ekonomi
 Pengembagan kesadaran dan perlawanan diajarkan di sekolah  Ubah struktur sekolah/ap kerja/ masyarakat
 Bebaskan kurikulum dari ideology dominas
 Kembangkan pendidika sebagai embebasan

Dalam teori konflik ini begitu jelas dominasi kaum Borjuis pemegang kendali dan kebijakan, mereka dengan gampang memperoleh status sosial dalam masyarakat. Sebagai contoh ditahun 90-an ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa selama tahun 90-an kebelakang teryata pendidikan ditentukan o leh status ekonomi para orangtua. Sehingga paling tidak fakta bahwa teori konflik berlaku di Indonesia.
Di dalam buku “Sosiologi Pendidikan” juga disebutkan bahwa klas bawah tidak akan sama memperoleh pendidikan di banding dengan klas menegah dan atas, sebagai missal pembelajaran yang pernah dimiliki oleh klas tengah tidak akan pernah dimenegrti oleh klas bawah, karna adaya perbedaan pengalaman yang dia daaptkan. Kedua, dalam realitasnya klas bawah tidak akan semudah memperoleh pendidikan dibading klas menengah yang dengan gampang tanpa alih-alih taggung jawab lain dalam mempeolehnya. Ketiga, realitas Negara bahwa segala pengetahuan ditentukan oleh penguasa, karenanya klas proletar yang notabenya sebagai objek dari kebijakan mendapatkan keilmuan tidak sesuai dengan fakta yang ada, sekaligus merupakan bukan termasuk bukan bagain dari keinginan siswa dan keahliannya.
Kesimpulan
Teori konflik sangat berguna dalam rangka menjelaskan situasi yang meliputi konflik, namun sedikit sekali mengaitkan dalam masalah kurikulum dengan kapitalisme dan sedikit sekali data empirik yang bisa dijadikan landasan klaim teoritik yang diajukan. Teori ini tidak dapat menjelaskan sejumlah kenyataan yang terjadi di beberapa segmen masyarakat yang ternyata bisa membangun sistem sosial yang harmoni dan mengalami kesatuan yang begitu kuat. Menurut pengkritik teori ini bahwa teori konflik hanya mengajak masyarakat besifat pesimistik. Pandanganya bersifat deterministik yang seolah tidak ada ruang lagi bagi individu untuk meretas kendala yang bersifat struktural.

2 thoughts on “PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL KONFLIK

  1. tentang Asumsi Dasar teori Marx, Body and Mind dan implikasinya terhadap pendidikan. Anda mengutip di buku “Sosiologi Pendidikan” oleh Zainuddin Maliki (2008-2010)? hal 155-174…….?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s