Istiqâmah bi al-Hasanah Istiqamah dalam Kebaikan

Oleh Djauharul Bar
Istiqamah dalam bahasa kita sering disebut dengan teguh pendirian (consistence), teguh pendirian dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Misalnya ketika mengulang pelajaran dianggap sebagai suatu pekerjaan yang tidak perbah dilewatkan tempat dan waktunya, walaupun aral melintang, sesusah apapun tugas itu, dan seburuk apapun suasana hati kita pekerjaan yang istiqamah pasti dilaksanakan. Istiqamah jika memiliki lawan kata memang sulit dicari, inconsistence mungkin bisa diartikan sebagai lawan istiqamah, kalau memang istiqamah diartikan consistence. Nah, istiqamah bagi sebagain besar orang memang sangat sulit dilaksanakan, ada saja hal yang akhirnya membuat kita bosan, yang parahnya lagi keistiqamahan yang kita pegang adalah keburukan dan maksiat.
1اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾, Tunjukilah kami jalan orang-orang yang istiqamah. Siapa orang-orang yang istiqamah itu[?]صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ﴿٧﴾, jalan orang yang kau beri nikmat dan bukan orang yang dibenci, lagi sesat. Mustaqim diartikan lurus, istiqamah juga bisa beratri lurus-mustaqim dan istiqâmah berasal dari akar kata yang sama-, lurus menjalankan segala perbuatan, lurus bisa berarti perbuatannya atau lurus berarti sifat pekerjaannya, atau kedu-duanya, sifat dan perbuataanya lurus. Perbuatan itu lurus[baik] dan mengerjakannya bersifat lurus[terus-menerus], maka ini yang disebut dengan istiqamah. Maka, wajar jika kita manusia harus memohon diberikan keistiqamahan, karena banyak dari kita yang mengerjakan kebaikan, tapi sedikit yang terus menerus[istiqamah], atau banyak dari kita yang terus-menerus, namun perbuatannya tidak lurus[buruk]. Akhirnya istiqamah dicontohkan sebagai orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.2
Orang-orang yang diberi nikmat, maksudnya adalah orang-orang yang mengerjakan kebaikan dengan rasa nikmat, maka orang yang melaksanakan kebaikan tidak merasakan kenikmatan itulah orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Sebuah kaidah tafsir berbunyi al-madzkûr yadull alâ al-matrûk(yang disebutkan mengindikasikan yang tidak disebut) jika diperhatikan, ayat ini tidak menjelaskan tentang siapa yang Allah maksud dengan dimurkai dan yang sesat, maka dengan kaidah tersebut orang yang tidak merasakan nikmat adalah orang dimurkai dan sesat. Al-‘Allamah Thabathaba’I mengatakan bahwa al-qur’an menafsirkan ayat satu dengan yang lain(yufassir âyât bi al-Ayât).
Orang yang sudah merasakan kenikmatan dalam beibadah tentu dia akan istiqamah, atau sebaliknya istiqamah membawa kepada kenikmatan. Kenikmatan beribadah jelas melaksanakan segala sesuatu dengan rasa ketulusan dan keikhlasan, buka karena mengaharap surga, takut neraka, atau karena mengharapkan sesuatu cita-cita, tapi karena ibadah3 adalah termasuk hakikat Allah SWT. Jika perbuatan dan ibadah didasarkan dengan kecintaan, maka kita tidak lagi termasuk orng-orng yang dimurkai dan sesat. Perbuatan ibadah yang didasarkan ketulusan akan mendapatkan kenikmatan, dan yang mendapat kenikmatan termasuk golongan Shirâth al-Mustaqîm, jalan orang yang istiqamah. Maka doa yang selalu kita panjatkan dalam râtib al-Haddâd “Allahhumma Hithnâ bittaqwâ wal istiqâmah”ya Allah libatkan kami dalam ketakwaan dan keistiqamahan. Takwa yang istiqamah dan istiqamah yang takwa [amin].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s