Mencari Makna Sekularisme Abdul Karim Soroush

Oleh Djauharul Bar
Pengantar
Di kalangan muslim, sekularisme memang selalu menjadi pembicaraan yang tidak kunjung habis, termasuk di Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir semakin banyak intlektual muslim dunia yang mengajukan pemikirannya tentang sekularisme. Di Indonesia ada Prof Nurcholis madjid, di Sudan ada Abdullah al-Na’im, dan di Iran ada Abdul Karim Soroush. Ketiga orang tadi adalah contoh kecil dari tersebarnya sekularisme di negara-negara mayoritas muslim, dan memang stigma mengenai sekularisme adalah padangan yang dianggap negatif oleh mayaoritas muslim. Di indonesia misalnya, sekularisme dianggap pandangan yang di luar Islam dan tak jarang figur sekular seperti Nurcholis madjid dianggap sebagai kafir, sesat dan sebagainya. Termasuk Abdullah al-Na’im hidup di Sudan dan melarikan diri akibat keritikan dia terhadap pemerintahan Islam Sudan, begituppun dengan tokoh yang akan kita bicarakan sekarang ini. Abdul Karim soroush dalam beberapa tulisannya mengkritik pemerintahan Islam ala Wilayat al-Faqih. Kemudian pandangannya mengenai demokrasi religius dan sekularisme mendapat tantangan dari umat Islam Iran, sehingga ia harus hijrah ke negeri paman Sam.
Menurut orang yang sering meneliti Soroush yaitu Sadri, bahwa filsafat politik soroush bercokol pada kebebasan, rasioanalitas dan demokrasi. Yang Soroush lakukan bukanlah semata-mata membangun nilai-nilai kebebasan, rasionalitas dan demokrasi, tapi yang ia bangun adalah “Primary Values” sebagai kebaikan yang independen (as a independent virtues), juga bukan sebagai ekspresi politik dan dogma agama.
Kondisi politik di Iran membawa Soroush untuk terlibat dalam ralitas sosial yang ada. Pasca revolusi Iran Soroush sering menyindir pemerintah Islam Iran melalui esai-esainya, namun keterlibatannya dengan politik praktis saat itu membuat Soroush di tahun 2000 berhasil memenangkan Khatami sebagai presiden Iran. Dan di masa pemerintahan Presiden Khatami, Soroush ikut melakukan pembersihan, termasuk berhasilnya melaksanakan demokrasi yang diinginkan paling tidak rakyat bisa bebas berpendapat melalui koran. Sebenarya pekerjaan Soroush yang sangat berpengaruh bukan lah pada tataran polotik praktis, tapi proyek dia mengenai Muhammad Iqbal dan penelitian modernisme dan sekularisme Barat. Penelitian yang terakhir ini berpengaruh besar pada revolusi dan kebangkitan kembali di dunia Islam, yang menurut Soroush bukan hanya sekedar penjelasan dan retorika saja, tapi juga mampu merevolusi teologi dan religiusitas umat muslim.
Satu tahun terakhir ini Soroush sibuk dengan proyek risert yang ia lakukan di ISIM (International Institute for the Study of Islam in the Modern World), Leiden Belanda. Disamping itu Soroush juga menjadi dosen filsafat politik di Universitas Amsterdam. Mendekati hari-hari pemilu di Iran, Soroush sering diwawancara menegani system demokrasi religious yang ia usung.
Seputar definisi sekularisme
Webber berpendapat bahwa bahasa mencirikan budayanya, kiranya inilah yang ingin dikatakan oleh Soroush ketika ingin mendefinisikan sekularisme. Soroush menjelaskan bahwa bahasa sekularisme bukan berasal dari daratan persia atau pun timur tengah, tapi sekularisme muncul di Eropa. Karena kalau dilaihat dari beberapa bahasa, seperti dalam bahasa persia sekularisme tidak ada pandanan katanya, ada yang hampir medekati yaitu donyafiat yang menunjukan sesuatu yang diperoleh dari kosmos atau alam ini. Dalam bahasa Arab sekularisme sering diartikan dengan ilmaniyat, yaitu kata yang memiliki pengertian “science” yang lebih kepada hal yang bersifat profan. Yang paling tepat adalah mencari akar kata asalnya, sekularisme berasal dari kata seculum, berasal dari bahas latin yang berarti “di sini” dan “sekarang”, kalimat ini bisa berarti alam ini bukan alam setelah ini, buni bukan di luar bumi. Secara luas sekularisme bermakna kehidupan dunia, buka kehidupan yang asketis dan bukan kehidupan supranatural.
Dr. Soroush mengatakan dalam litelatur Islam pengertian sekularisme seperti ini bisa disamakan dengan; yang pertama dahr, sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an surat al-Jastiyah:24
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿٢٤﴾
Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
Al-Qur’an menggunakan kata dahr untuk menjelaskan bagaimana orang kafir yang menyatak bahwa mereka hidup dan mati karena masa dahr. Ini menunjukan kepada kita bahwa dahr adalah sesuatu yang bukan supranatural atau kekuatan gaib, lebih jauh lagi Sorush mnambahkan karakterisik nature dan supranatural. Alam natural karakteristiknya yang kita tinggali sekarang, ada ruang dan waktu. Sedangkan supranatural beyond time dan space, dengan kata lain temporal nya alam natural, dan kekalnya supranatural. Maka bisa berarti sekularisme itu sifatnya sementara, dan tidak salah juga bila diartikan dengan material karena dalam teologi biasanya waktu bagian dari material. Juga memang supranatural tidak menunjukkan dua hal tadi, maka sekularisme bercirikan dunia material yang temporal.
Kedua yaitu kata asr dalam surat al-Asr
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
Menurut Soroush kata asr menunjukkan waktu tertentu, di mana Tuhan bersumpah atas nama waktu. Bahkan Allah SWT bersumpah dengan kekuatan waktu, dan boleh disadari bahwa waktu bisa mereformasi masyarakat. Hal yang bersifat profan dan bukan hal yang supranatural.
Pendefinisian sekularime yang soroush pakai memang sudah banyak yang mengetahui, dan kebanyakan intelektual muslim mengartikan sekularisme dengan dua pengertian terakhir ini. Termasuk yang sering Nurcholis madjid paparkan dalam beberapa makalahnya mengenai sekularisme. Dan sepertinya tanpa disengaja para intelektual muslim seperti bersepakat untuk memberikan model sekularisme mereka berbeda dengan sekularisme yang ditafsirkan oleh intelektual barat umumya.
Pendekatan sekularisme
Pondasi yang selalu dipakai oleh Soroush untuk menerangkan teori politiknya adalah reason. Reason adalah alasan yang melatarbelakangi manusia modern untuk melakukan segala tindakannya. Bagi Soroush yang membedakan manusia tradisional dengan manusia modern adalah keaktifan manusia modern, yaitu menggunakan segala kemampuannya untuk mengubah dunia. Manusia tradisonal lebih pasif dan deterministik, sehingga mereka pesimistis menghadapi kehidupan dunia ini. Reason tidak akan bisa langgeng jika tidak ada kebebasan, beriman di bawah tekanan dan paksaan agama adalah hal tidak rasional. Orang tidaka akan dianggap beragama jika dia tidak rasional karena itu rasional dan reason akan terwujud jika tidak adanya paksaan dan kekangan dari agama. Kebebasan dalam pemerintahan sekularisme adalah rakyat bebas mengkritik, menilai, dan mendebat pemerintahan.
Pemahaman ini yang akhirnya menjadi pendekatan yang dipakai oleh Abdul Karim Soroush untuk menjelaskan sekularisme. Hasil wawancara Robin Wrigt dengan Soroush, menghasilkan sebuah definisi sekularisme , menurut sorush adalah “It means to look at things scientifically and behave scientifically, which has nothing to do with hostility to religion. Secularism is nothing more than that.” Landasan sainstifik adalah rasional, maka melihat sesuatu dengan cara rasional adalah sekularisme. Bukan yang selama ini banyak ditasirkan sebagai lawan dari agama. Orang yang memberi label sekularisme dengan lawan agama boleh jadi benar, karena agama menurut dia adalah jauh dari kesan rasional dan sesuatu yang berlawanan dengan ketidakrasionalan sama dengan lawan dari agama.
Selain itu saintifik adalah kepanjangan dari empirik, di mana empirik hanya mempercayai segala hal bisa diujicoba secara indrawi. Objeknya adalah alam fisik bukan di luar yang fisik, tau metafisik. Sehingga akhirnya sekularisme adalah pergulatan antara ilmu fisik dengan metafisik, fisiklah yang akhirnya dikaui sebagi pendapat sekalarisme. Metafisik tidak bisa diandalkan dalam memecahkan permasalahna sekularism, metafisik adalah segala hal diluar alam dunia ini, sehingga segala apa yang menjadi keputusan pemerintahan sekular bukan dari hal yang beyond the world. Sekularisme bisa juga didefinisikan dengan pemerintahan yang tidak memilki nilai-nilai dan kaidah-kaidah di luar verifikasi manusia.
Modernisme bagi soroush adalah representasi atas keberhasilan rasional mengalahkan kediktatoran agama, artinya sejak abad ke 16 agama dan rasio saling mengisi dan menguntungkan. Era ini menunjukan kedatangan postmodernisme yang memadukan pertentang agama dengan akal. Ketepisahan agama dengan rasio yang akhirnya diasimilasikan dengan pemisahan agama dengan politik. Alasan lain juga bisa dilihat dari cara filsafat dan teologi mendekati issu agama, menurut soroush filsosof dan teolog memakai dua cara yaitu narativ dan rasional. Narativ adalah pendekatan yang melihat kesamaan kata dalam teks-teks agama dan pembawa agama, sedangkan rasional adalah reason yang tidak ada kaitanya dengan teks-teks maupun pembawa risalah.
Perjalanan Sejarah Sekularisme
Mengapa sekularisme bisa muncul pada abad 16 dan kenapa sekularisme timbul di Eropa? Soroush menjawab pertanyaan ini dengan simple, bahwa sekularisme muncul dengan cara yang alamiah, tanpa paksaan, tanpa sekenario, dan tanpa kesengajaan. Sekularisme lahir di Eropa adalah hal yang tidak direncanakan oleh siapapun atau tidak juga dipaksakan oleh siapa-siapa. Paling tidak ada dua sebab yang melatarbelakangi munculnya sekularisme di Barat, pertama karena pertentangan antara science dan agama. Pertentangan antara sains dan agama merupakan sejarah besar peradaban Eropa, kemajuan di segala bidang ilmu membuat gereja dan injil tak dipercayai oleh penganutnya. Akan tetapi semakin lama pihak gereja memberi angin segar kepada mereka untuk menyebarkan buah pemikiran mereka. Darwin, Newton, Copernicus, dan Galelio adalah pelaku sejarah pada waktu itu, Copernikus mungkin yang lebih beruntung karena bukunya yang berjudul The Revolution of the heavenly Spheres diterbitkan oleh gereja. Pihak gereja mengatakan “Apa yang tercatat dalam buku ini hanyalah teori dan bukan sebuah kebenaran yang absolut.”Memang sebagian dari mereka adalah orang yang mengerti tentang agama, Copernicus adalah seorang pendeta, Galelio seorang yang terkenl religius, dan Kepler adalah juga termasuk yang biasa memberikan alasan kepada para pemeluk agama. Dan ini adalah kejadian yang sangat alamiah, saat agama tak lagi kuat di mata masyarakat. Namun ini juga bukan berarti bahwa agama terusir dari panggung politik.
Kedua, perpecahan di tubuh agama kristen juga menjadi sebab atas munculnya sekularisme di barat. Perpecahan menimbulkan kristen protestan yang dipimpin oleh Luther, ketidak percayaan Luther terhadap manipulasi akhirat yang dilakukan kaum gereja menjadi sebab pemisahan Luther dengan kristen katolik. Kedua kejadian di atas adalah akibat kesewenang-wenangan agama mengeluarkan kebijakan yang tidak sesuai lagi dengan rasio manusia. Gereja menjadi isu sentral atas kemunculan sekularisme, yang akhirnya memisahkan konstitusi gereja dengan politik, sama artinya dengan pemisahan agama dengan politik.
Dua Bentuk Sekularisme
Ada dua bentuk sekularisme yang kita kenal yaitu Philosophical Secularism dan Political Secularism. Political secularism adalah pemisahan agama dan negara, atinya agama tidak boleh ikut campur dalam keputusan negara, berpolitik hanya membicarakan hal-hal yang mengenai dunia bukan hal di luar dunia, dan negara netral dari pegaruh-pengaruh agama. Philosophical secularism berbeda dengan pengertian awal tadi, bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada dunia supranatural dan tidak ada kehidupan setelah ini. Ini lebih besifat naturalisme dan materialisme. Di Political secularism kita tidak harus mengabaikan Tuhan, tapi dalam politik kita tidak boleh mendirikan keputusan berdasrkan Tuhan dan agama.
Militan Secularism
Militan secularism juga bisa disebut dengan sekularisme ekstrem. Dibeberapa negara sekular, sekularisme diberlakukan secara ekstrem diberlakukan di beberapa negara Barat sebagiman yang terjadi belakangan ini di Turki, Inggris, dan Prancis. Di Turki pemerintahan benar-benat melarang rakyatnya menggunakan simbol-simbol keagamaan, di dalam institusi mereka simbol keagamaan dilarang dipergunakan seperti penggunaan jilbab di sekolah dan universitas negeri dan yang terbaru PM Abdullaah Gul dilarang berfoto bersama istrinya lantaran si istri memakai jilbab. Inggris melalui Tony Blair pernah berkata bahwa “jika mereka tidak setuju dengan nilai-nilai nya maka tinggalkan Inggris,” begitu juga yang terjadi di Prancis yang melarang pemakaian jilbab di sekolah. Menurut Soroush inti sekularism sebenarnya adalah kebebasan berkehendak, berpendapat serta Toleransi, negara tidak ikut campur dalam urusan agama seseorang dan bersifat tidak mendukung dan melarang kegiatan-kegiatan agama (abdullah al-Na’im). Ihsan Ali Fauzi menyebut sekularisme Inggris, Prancis dan Turki sebagai sekularisme yang norak.
Menurut Soroush militan sekularisme muncul karena dua hal, pertama sekularsime hanya diartikan sebagai pemisahan negara dengan agama saja, kedua adanya kekeliruan dengan memaksakan sekualarisme dari bawah lewat negara dan militer. Padahal sebenarnya keduanya memprediksikan bahwa agama akan mengalami perkembangan yang lambat, kenyataannya justru sebaliknya Agama semakin populer ketika ditekan dan dilarang. Menurut penelitian, pemaksaan sekularisme pada rakyat membuat mereka merasa kehilangan identitas dan beralih mencari solusi dalam bentuk agama.
Hak dan kewajiban
Permasalahan hak dan kewajiban adalah hal yang mesti dibahas dalam konteks sekularisme, perkembangan dunia membawa manusia modern lebih menghormati hak-hak daripada kewajiban. Perbedaan ini bisa dijelaskan melalui “bahasa agama” yang berbeda dengan bahasa sains dan filsafat. Bahasa agama khususnya agama Islam sering menggunakan bahasa kewajiban dalam al-Qur’an dan Hadist. Dalam dua hal ini manusia diperintah oleh peguasa yang tertinggi dengan mengunakan bahasa perintah, karena gambaran manusia dalam agama adalah manusia yang memiliki kewajiban. Mereka diperingati untuk shalat, zakat, puasa dan lain-lain, jika mereka melangar maka akan menerima konsekuensi dari yang telah dia lakukan.
Lewat syari’at manusia dipaksa untuk menjalankan kewajiban-kewajiban, mereka lebih menjelaskan manusia sebagai subjek yang berkewajiban dan kemudia menggambarkan kewajiban mereka. Tidak ada yang pernah menyatakan menangani hak-hak tertentu. Perbedaan yang jelas antar hak dan kewajiban manusia modern dengan manusia tradisonal, kewajiban dalam hukum modern adalah marjinal dan sebaliknya tradisional menggapnya sebagai hak. Ini adalah bagian dari keretakan dunia modern dengan dunia tradisional. Manusia yang dahulu hanya sebagai tamu didunia kini menjadi tuan rumah yang mendisen sendiri dunia.
Pada perkembangannya, hak asasi berubah menjadi dua tahap .Yang pertama hak diartikan dengan kebebasan, sebagai contoh seseorang yang ingin memperoleh pengetahuan mereka boleh melakukannya dan tidak ada seorang pun yang berhak menghalang-halanginya. Akan tetapi hal ini pelan-pelan berubah menjadi tuntutan. Rakyat menuntut hak-hak mereka dari pemerintah, dengan tuntutan itu,pemerintah memikul tugas dan tanggung jawab baru. Dalam teori pemerintahan masa lalu, raja-raja sering diasumsikan bahwa dia adalah represenatasi Tuhan di dunia, sehingga apa yang dilakukan raja adalah samadengan yang dilakukan Tuhan. Tuhan dalam pemahaman orang banyak adalah hanya memilki hak-hak tanpa sedikitpun meliki kewajiban, makanya raja dipandang dalam pandangan yang sama yaitu memilki hak yang penuh dan mempunyai kewajiban yang sedikit.
Maka pemerintahan sekular adalah pemerintahan yang tidak lagi menuntut kewajiban-kewajiban kepada rakyat, akan tetapi lebih mementingkan hak-hak mereka sebagai rakyat. Karena Pemerintah merupakan wakil dari rakyat, maka wakil bertugas melaksanakan tuntutan tuntutan yang diwakilinya. Hal in berbeda sekali dengan pemerintahan agama wilayat al-Faqih, pemerintah yang berdasarkan perwaliyan fuqaha hanya didasarkan pada kewajiban saja dan bertentangan dengan mentalitas sdunia modern maupun filsafat politik modern yang mendasarkan atas konsep Negara dan hak asasi manusia. Istilah ini disebut oleh Haidar Bagir dengan anakronisme, yaitu penempatan kejadian pada waktu yang salah.
Hal ini membawa pengertian kepada kita bahwa pemerintah harus lebih mendahulukan hak-hak rakyatnya, maka peran pemerintah diartikan sebagai pelayan dibandingkan dengan penguasa. Sekularisme yang sebenarnya ialah mengajarkan kepada pemerintah untuk lebih bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Rakyat juga harus merasa sebagai pemilki hak. Agama tidak dipahami dengan aturan hukum yang lebih menunjukan kepada kewajiban bukan hak. Begitupun halnya dengan pemerintah yang menjadi wali akan lebih bijaksana jika mengganti menjadi perwakilan. Wakil lebih menunjukan pemimpin yang lebih memperhatikan hak-hak rakyatnya, dibandingkan dengan kewajiban rakyat untuk pemimpinnya.
Agama melarang kita mengambil posisi seperti Tuhan. Agama juga memerintahkan kita untuk mengabdi kepada Tuhan, Meskipun demikian pada posisi positif , manusia modern melarang kepongahan posisi seperti Tuhan. Hal ini berlaku dalam politik dan pemerintahan dimana kekuasan negara dibatasi, dan doktri pengendalian dan keseimbangan diterapkan untuk mencegah akumulasi kekuasaan yang dapat menimbulkan klaim ketuhanan. Meskipun dunia modern telah meringankan beban kewajiban, tapi juga telah menghapuskan hak untuk bertindak sebagai raja yang menyerupai Tuhan. Sekularisme menolak potensi menyerupai Tuhan, sebab sekularisme tidak menghendaki pemerintahan sebagai kepanjangan dari kekuasaan Tuhan.
Jalan Tengah
Konteks abdul Karim Soroush mengenai agama dan akal dimulai dari pemahaman dia mengenai sejarah manusia. Pramodern agama dipahami sebagai ritual, dan akhirnya mereka menuhankan ritual dan agama, bukan menuhankan Tuhan. Berpindah kedunia modern segala sesuatu dianggap benar apabila bisa diujicoba, empirik, dan rasional, sehinggga metafisik yang tidak bisa dibuktikan dengan rasional dibuang jauh-jauh oleh mereka. Yang terjadi adalah ketidak percayaan manusia modern terhadap agama, bahkan yang mereka Tuhankan adalah rasio. Posmodern adalah hal yang berbeda dengan keduanya mereka tidak seperti pramodern yang menuhankan agama juga tidak pula dengan manusia modern yang dengan rasionya membuang agama. Tapi dunia postmodern berada di antara kedunya, atau dengan kata lain reconciliation between them. Memadukan antara yang pra dan yang modern, bukan malah menghancurkan keduanya.
Reconsiliasi antara yang dogmatis dengan yang rasionalis adalah jalan keluar untuk memahami dunia sekarang ini. Hal yang demikian ini dipraktekkan dalam seluruh kehidupan, termasuk dalam pemerinahan. Pemerintahn bukanlah bentukan dari seratus persen agama atau seratus persen rasion, seratus persen agama akan menolak segala bentuk yang bersifat non agama dan pemerintahan yang seratus persen rasio akan menghilangkan kesakralan agama. Teokrasi akan seluruhnya berpegang pada Tuhan dan liberal demokrasi akan berpegang seluruhnya pada kebebasan manusia sama pada keterasingan agama. Yang diperlukan manusia adalah tidak seperti itu, manusia sekarang bisa menelan sendri apa yang diinginkanya, yaitu mengakui agama dan mengakui rasio. Agama dan rasio harus diperlakukan dengan lumrah dan wajar, dan tidak dengan cara ekstrim dan memaksa.
Teokrasi dan demokrasi liberal bukan solusi dan sekularisme lebih baik dari keduanya, namun yang paling sempurna adalah bukan ketiganya. Domokrasi religiuslah yang harus menjadi landasan Negara, kebebasan manusia dan rasional adalah bagian dari yang sakral. Ini yang kemudian ia sebutkan dalam wawancarnya dengan RobinWrigh dengan ideal Islamic State.
Kesimpulan
Abdul Karim Soroush dengan sekularismenya mencoba menjelaskan bentuk pemerintahan yang tidak secara emosional sebagai kekuasan yang paling bisa dan paling benar mengurusi rakyat, tapi bentuk pemerintahan yang rasional sesuai dengan mentalitas dan tuntuta manusia modern. Upaya yang dia lakukan adalah usaha keras untuk mepositifkan sekularisme dan menawarkan alternative baru yang tidak kalah dengan model-model lain.
Dan menurut saya, sekularisme adalah cara lain untuk memberikan manusia akan kebebasan individualnya, karena kebebasan individual tidak akan tercapai jika tidak diakui oleh orang lain/masyarakat sosial. Sebagaimana Sadri katakan bahwa teory politik Soroush dimulai dari filsafat antropologi mengenai Human Nature, dan juga Soroush lebih kelihatan religious setelah setiap kali ia akan memberi kesimpulan selalu kembali ke agama. Maka apa yang di hasilkan seterusnya merupakan perpaduan dia mengenai sejarah manusia dari kehendak bebas dan rasional yang kemudian dia padukan bahkan terkadang dia benturkan dengan agama.
Maka kesimpulan dia mengenai pemerintahan sekularisme adalah masih kurangnya sekularisme bisa dipadukan dengan agama, dan alternatifnya adalah demokrasi religious. Namun demikian pengetahuan kita tentang sekularisme Soroush sangat membantu kita memahami inti suatu pemerintahan, paling tidak wacana sekualrisme bangunannya adalah orosinil dan menabjubkan. Menyesuaikan dengan proses sejarah dan pengaruh mentalitas manusia sekularisme Abdul Karim Soroush adalah bentukan pelengkap dari sekularisme Cak Nur. Kesimpulan saya tidak lantas menyatakan bahwa ada pengaruh di antara keduanya.
Sekularismenya adalah termasuk bagian dari kekayaan intelektual muslim sekarang ini. Berbeda dengan sekularismenya Cak Nur yang fokusnya adalah desakralisasi dan Abdullah al-Naim yang berfokus pada kekuasaan pemerintah, sekularisme Soroush lebih pada tataran kemanusiaan. Tataran kemanusiaan ini yang ia ambil dari Human Naturenya filsafat antropologi, yaitu landasan teori politik soroush.
Sumber Bacaan
Soroush, Abdul Karim. Menggugat Otoritas Agama, Bandung: Mizan. 2001 cet 1
http/drsoroush.com
Millitant Secularism, Abdul Karim Soroush ,Prancis agustus 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s