Kisah Sains dan Agama dalam “2012”

Oleh Djauharul Bar
Siapa yang sangka kalau Film 2012 begitu banyak dibicarakan, mulai dari media cetak, elektronik, sampai warung kopi ikut membicarakan 2012, dan mungkin merasa lebih cerdas dari kritikus film. Dampaknya sudah bisa ditebak, film ini laku keras di bioskop-bioskop, bahkan penjual DVD bajakan mengakui bahwa 2012 banyak yang mencarinya, terlepas politik pasar yang dibuat, namun ada yang jauh lebih dahsat dari itu, perang antara sains dan agama dimulai kembali.
Di dalam negeri, belum sempat tayang film ini sudah diultimatum oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia), dari awal film 2012 diisukan menceritakan ramalan yang terjadi di tahun 2012, sebuah film yang menceritakan unjung dari umur bumi, mereka menafsirkannya dengan kiamat. MUI memang tak pernah memfatwakan secara resmi pelarangan film 2012, sikap yang dilontarkan hanya sebatas personal saja, alasan yang dikembangkan pertama adalah sentimen agama-ada kesan berlebihan terhadap peran kristiani-, namun jika ditilik dari sutradara 2012 Rolland Emmerich firasat itu memang salah, karena secara jelas Rolland adalah seorang agnoistik. Alasan MUI yang lain adalah film 2012 telah mendahului ketentuan Tuhan-siapa yang bisa menjamin bahwa kiamat benar terjadi tahun itu, kecuali Tuhan-, karena kiamat adalah bagian dari rahasia terbesar Tuhan kepada manusia, jelas ini adalah perbuatan yang secara tidak langsung mengancam ke-Esa-an Tuhan.
MUI jelas berkomentar, karena tugas MUI adalah membimbing umat untuk tidak terjerumus kepada perbuatan syirik, termasuk mengakui adanya kekuatan lain selain Tuhan. Ia!!!, kepercayaan terhadap ramalan sama saja dengan keyameyakini adanya kuasa lain selain Tuhan, dalam dalil “segala jalan yang menuju kepada kemusyrikan bisa dianggap syirik”, dalam Usul al-Fiqh dikenal denga istilah saad al-dzirai’, mencegah kepada perbuatan yang haram bias difatwakan haram, sebagai bentuk kehati-hatian, apa lagi ini menyangkut urusan aqidah. Maka patut bagi MUI mengultimatum film tersebut, walaupun agak berlebihan dilihat dari sensor yang dilakukan sudah memenuhi standar perfilman nasional, apalagi pemuka agama sudah terwakili dalam anggota LSI (Lembaga Sensor Indonesia).
Mengenai isi Film, 2012 tidak banyak menceritakan mengenai ramalan Suku Maya, tapi lebih banyak menceritakan gejala alam, dan teori sains. Sepanjang jalan cerita perdebatan banyak mengenai fenomena bumi seperti, udara, air, tanah, dan api, dari mulai teori sains kosmos inilah kehancuran bumi bisa diprediksi, sains bisa mengetahui sebab dan akibatnya, lalu menyimpulkan hasil penemuannya, dengan demikian sains tanpa agama bisa tahu apa yang akan terjadi, dibandingka agama yang tidak tahu dengan apa yang terjadi di masa mendatang-klaim sains- itulah bagian dari dominasi sains di abad modern.
Dalam sejarahnya, dahulu-masa kegelapan yaitu sebelu abad ke12 di eropa-kaum agama sangat dominan, lihat saja bagaimana gereja masa kegelapan mengancam para ilmuan, Galeleo, Bruno, dan Darwin dengan segala macam teori mereka, yang kebanyakan mengancam otoritas kepausan. Kaum agama pada saat itu selalu mencari sebab kejadian alam sebagai kehendak Tuhan, seperti penyakit yang saat itu belum bisa dideteksi penyebabnya menurutnya adalah bagian dari kehendak Tuhan. Namun, kemudian sains mampu mengungkapkan sebab-akibat kejadian yang ditimbulkan oleh alam, dan ketika penyebab sudah diketahui, maka runtuhlah alasan bahwa Tuhan adalah penyebab itu. Perkembangan pengetahuan seperti ini yang akhirnya mengancam kekuasana gereja, mereka takut pengaruhnya dan kepercayaannya dilunturkan oleh kecanggihan pengetahuan. Istilah ini-klaim sains atas agama- sering disebut God of the Gaps, yaitu Tuhan dalam celah. Kini God of the Gaps muncul dalam film 2012.
Selama ini, kita sering menyikapi segala sebab alam yang tidak diketahu sebagai “tangan” Tuhan, namun ketika sebab itu terjawab oleh sains lunturkah kepercayan kita terhadapa Tuhan(?), karena penyebab yang kita tidak ketahui sudah bisa dijawab. Jika Tuhan dipahami sebagai kausal saja, sama saja kita hanya enjadikan Tuhan sebagai “pelarian” semata. Jika Tuhan yang kita pahami seperti ini, dengan sendirinya akan runtuh jika sebab itu bisa diketahui secara saintifik. Prediksi kiamat adalah bagian dari kemajuan sainsi, tidak masalah jika ramalan-bukan hanya kiamat -itu tak benar adanya, namun bagaimana jika benar sikap kita(!), masihkah kita percaya dengan Tuhan(?). Saintis memang mempunyai jawaban mengenai kejadian alam, namun agama juga harus mempunyai jawaban yang jauh lebih rasional dari saintis.
Ian Barbor, dan agamawan lain selalu berkata, bahwa kejadian alam yang seperti itu harusnya malah menguatkan sisi keagaman kita, karena ilmu Tuhan melalui manusia bisa menjawab itu semua, atau mungkin penggunaan majaz akal bahwa secara harfiah kita maksud sains, namun secara makna itu karena Tuhan juga. Kalau boleh mengambil contoh dari Ibn Taymiah menegnai kebenaran ganda, Filsafat(akal) dan agama(wahyu) sama-sama memilki sumber kebenaran, sains benar agama juga benar. He he he bagain dari postmodern barangkali!!

2 thoughts on “Kisah Sains dan Agama dalam “2012”

  1. intinya film itu fiksi tapi bisa jadi mungkin benar terjadi..
    tapi logika tidak akan pernah melampaui logis.
    saran ana tuk pembaca sekalian : “carilah ilmu seakan-akan kau akan hidup selamanya, dan carilah amal seolah-olah kau akan mati besok karna kemarin adalah sejarah, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah misteri”

    1. Tapi banyak hal yang fiksi di ambil dari penelitian ilmiah, artinya sang sutradarapun meneliti terlebih dahulu beberapa aspek yang ilmiah dari film tersebut. tidak semua fiksi itu tidak ilmiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s