God of the Gaps

Oleh Djauharul Bar

Abstraksi

Mencari Tuhan memang tak segampang apa yang dikira, dahulu kita sering berkesimpulan bahwa segala sessuatu yang tidak diketahui sebab musababnya merupakan kreasi Tuhan, misalnya seorang bayi bisa selamat dalam kecelakaan maut, atau fenomena tempat ibadah yang tetap kokoh berdiri ketiaka bencana besar dll. Lalu apa yang terjadi jika sebab-sebab itu bias dicari jawabannya! Ternyata dengan kecanggihan ilmu pengetahuan sains semua contoh keajaiban yang lain bisa dilacak penyebabnya, bukan Tuhan tapi ada kesatuan mekanik teorotis yang mengakibatkan bayi selamat dari kecelakaan maut, atau bangunan ibadah yang masih uuth walau ditipa stunami.
Pendahuluan
Apa yang terjadi dengan Tuhan, alam, dan manusia sekarang!, keterpisahan, keterceraian, dan pembedaaan antara mereka. Tuhan dan segala pembenarannya sudah bisa dibantah oleh ilmu pengetahuan, alam dan sekitarnya sudah terjawabkan oleh manusia, dan manusia sudah merasa tahu segalanya di alam jagat raya ini. Apa yang terjadi di abad modern ini, kemajuan ilmu pegetahuan dan pengusaan teknologi hanya membuat manusia makin sombong dan merasa paling hebat di antra makhluk lain. Antroposentris, ya manusia-lah yang bisa melakukan dan tahu segalanya, dan akhirnya segalanya sudah diketahuai manusia secara empiris, saintifik, dan ilmiah yang membuat Tuhan dan agama ditinggalkan mereka.
Tuhan dan agama yang dahulu menjadi keharusan bagi manusia, karena keajaibannya kemu’jizatannya bisa mengahantarkan pengetahuan, yang sebenarnya pengetahuan ini membuat manusia menyalahkan Si Pemberi pengetahuan, mereka tidak sadar pengetahuan yang mereka dapatkan adalah hasil dari kreasi dan kemampuan manusia, bukan hasil kereasi dari Tuhan. Tuhan terpental jauh dan diasingkan oleh sains, kini Tuhan sudah kita ikat, semua yang tidak kita ketahui sudah kita ketahui, maka masihkah dibutuhkan Tuhan untuk kita. Inilah yang akhirnya membuat marah kalangan agama, mereka telah dilangakahi oleh saintis, apa yang dilakukan saintis adalah perbuatan yang secara jelas memisahkan agama dari sains menjadi sebuah peperangan dahsat abad modern.
Peperangan antara sains dan agama sekarang ini bisa dibaca dari film super kontroversi 2012. Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia sebagai representative kaum agamis melarang tergas pemutaran film 2012, karena dianggap telah mendahulukan Tuhan dan menggantikan posisi Tuhan. Film 2012 menceritakan akhir umur bumi, ramalan ini diawali oleh keyakinan suku Maya bahwa tidak lama lagi dunia akan hancur, dan kemudian para saintis mencari kebenaran metodis, ilmiah dan empiris untuk mengamati apa yang akan terjadi dengan alam dalam waktu dekat ini. Dengan segala teori dan pengetahuan yang dimilik oleh sains, dari hasil pengamatan dan gejala alam disimpulkan bahwa dalam waktu dekat bumi akan hancur dan manusia akan punah, tepatnya pada tahun 2012. Bagi agama akhir umur bumi-yang dimaksud kiamat-adalah rahasia Tuhan, yang tidak bisa siapapun tahu kapan itu terjadi, dan ketika itu diketahui oleh saintis sangkalan mengenai rahsia terbesar Tuhan pupus sudah, segala rahasianya sudah bisa diungkapkan dan diketahui oleh manusia, dan untuk apa ada Tuhan jika rahasianya sudah bisa dikenal, manusia yang mengungkapkan itu, dan akhirnya manusia tidak butuh lagi dengan Tuhan.
Benarkah seperti itu yang harusnya dipahami oleh manusia, cara berfikir dan logika seperti itukah yang paling benar, atau mungkin itu hanyalah kerancuan saintis memahami Tuhan dan alam saja. Jawaban memang tak segampang yanf dipikirakan, apa yang menyebabkan sains bisa berfikir dan mengancam agama sedemikian itu, bisakah kita manusia agama menjawab tantangan besar tadi. Makalah ini diharapkan bisa memberikan hasil yang maksimal dari pertanyaan tersebut.
God of the Gaps in History
Bila dilihat apa sebenarnya yang terjadi antara agama dan sains, jelas ini adalah perdebatana masalah theologi, sains banyak terjun di daerah ontological, sedangkan agama merasa diremehkan oleh sains dari ontologi sains yang menyangkal keberadaan Tuhan, alhasil para teolog dan sains sering lempar perdebatan. Christian Berg mencatatkan bahwa terlalu sering konflik antara sains dan thelogi, misalny saja bagaimana Bruno dibakar, Galileo ditangkap, dan bagaimana Darwin yang tidak diterima masyarakat akibat perdebatannya dengan kaun theolog.
Belakangan orang seperti Polkinghorne dan Holmes Rolston mencoba menjawab dengan gambaran yang jelas, bahwa penyangkalan tentang Tuhan lewat sains haruslah dijawab dengan sains pula. Polkinghorne mencoba menyangkal Gad of the Gaps dari dua realitas, yaitu kekacauan sistem kehendak bebas manusia dengan manusia sebagai “People of the gaps”, yang menurutnya bukanlah imbas dari “ketidak akuan God of the Gaps dalam makna kata yang pejorative”. yang disebut dengan istilah “intrinsic gaps”.
Holmes Roston mencoba mendekati pemahaman theology yang saintific, seperti Tuhan adalah sebuah keberadaan yang “Countercurrent to entropy, a sort of biogravity that lures life upward.”i
Sayyid Muthahari menjelaskan dengan singkat bahwa penyebab munculnya konflik antara theologi dan agama adalah kekuasan gereja yang otoriter, serta ketidakmampuan gereja menjelskan Tuhan secara metafisik. Akibat dua hal ini maka timbul perlawanan para saintis dengan para theology, perlawanan yang harus memunculkan yang menang dan yang kalah. Pihak saintis jelas banyak memunculkan theory yang dilalmatkan secara langsung oleh pemahaman agama.
Augusto Comte dan materialism Tuhan
Berbicara mengeani Tuhan dalam pandangan Comte bisa dilihat dari teori tahahap sejarah manusia, tahapan –tahapan tersebut adalah tahapan teologi, tahapan metafisik dan tahapan ilmiah. Manusia ketika memhami Tuhan melalui penafsiran-penafsiran alam gaib disebut sebagai tahapan teologi, alu kemudia manusia meningkat ketahapan metafisik memahami Tuhan dalam bingkai penyebab ala yang terjadi ada kaitanya dengan wujud yang kuat di alam, dan terakhir manusia mulai memahami sebab-sebab dari kejaidian alam, dan beralih dari dogmatis kepada paham yang lebih ilmiah dan empiris, tahapan ini adalah tahapan ilmiah.
Dari tahapan-tahapan tersebut Comte berkesimpulan bahwa Tuhan bukanlah penyebab dari kejadian yang ada di alam ini, karena apa yang diduga-duga dahulu sudah bisa dicari alasan ilmiahnya. Dahulu sebagian dari kita percaya penyembuh dan penyebab penyakit adalah Sang misterius, namun belakangan penyakit bisa diketahui sebabnya secara keilmuan dan terdeteksi akibatnya secara saintific, pengibarat selanjutnya ialah Tuhan sebagai pengusa tertinngi kini sudah bisa digeser karena kemampuan sebagai pimpinan sudah diangap tidak layak, ada yang lebih kompeten dalam masalah mengatur dunia.
Manusia bukan lagi sebagai makhluk-yang diciptakan-saja, tapi sekaligus manusia adalah khaliq-pencipta-. Merasa paling tahu dengan apa yang terjadi, kini manusia sudah merasa mandiri dan ragu dengan yang lain. Kepercayaan yang selama ini diberikan kepada Tuhan, sama saja ketika ketika mereka tidak mempercayai Tuhan, jadi untuk apa Tuhan bila tanpa Dia kita bisa mengetahui segalanya, dahulu kita percaya Tuhan karena banyak sekali yang tidak kita ketahui, namun sekarang apa yang tidak bisa diketahui oleh manusia?.
Konflik ini bermuara pada pemahaman manusia yang masih ontologi antroposentrik, sekarang kita lihat bagaimana Sayyid Murthada Muthahari menjelaskan ini. Bagi Muthahari, apakah Tuhan merupakan bagian dari alam ini?, jadi jelas Murtada Muthahari menerangkan, jika manusia masih menganggap Tuhan adalah bagian dari isi yang di alam ini, maka rancuah pemikran mereka tentang Tuhan. Tuhan tidak seperti yang kita pahami sama dengan alam, Tuhan independent dari alam, jadi Tuhan bukanlah bagian dari alam. Apa yang disampaikan oleh Comte bukanlah Tuhan, tapi Tuhan yang masih dalam persepsi manusia awam, yaitu antra Tuhan dan realitas alam merupakan satu bagian yang sama.
Sebagai contoh, Muthahari memberikan analisis lain, misalnya saat sang pembuat arloji ingin mencari si pembuat perangkat dalam arloji, bisakah ia mecari si pembuat perangkat arloji di di dalam arloji tersebut. Apakah jika tidak kita ketemukan si pebuat perangkat di dalam itu, lantas kita menjawab bahwa tidak ada yang menciptakan bagian dalam-roda dll-. Jadi menurut Muthahari antara Tuhan dengan sebab-sebab alamiah tidaklah terdapat hubungan yang sederajat.ii
Selanjutnya adalah ontologi, semua dalail yang menyatakan keterkaitan alam dan Tuhan adala relasi kausalitas, artinya sebab akibat dijadikan pijakan sesuatu itu benar atau tidaknya, dalam kasus pencarian Tuhan dinyatakan bahwa Tuhan membutuhkan sebab dan akibat. Murthada Muthahari mengatakan sebab akibat hanya akan terjadi pada mumkin al-Wujud, bukan wajib al-Wujud. Jika kita menganggap Tuhan juga menerima sebab, yang terjadi adalah tasalsul, dan tak akan selesai karena saling bergantung dan terkait. Maka pembuktian Tuhan tidak bisa jika berasal dari tasalsul, maka harus keluar dari term kausalitas. Muthahari mengatakan wajibul wujud tidaklah butuh kepada sebab, karena wajibul wujud terjadi karena diri nya sendiri. Tuhan adalah wajib al-Wujud, keberadaan yang mesti bukanlah keberadaan yang harus ditutntut oleh keberadaan lain. Sebab akibat yang ada di Barat memang sangat matrealistis, akibatnya segala sesuatu yang ada disangkakan memilki sebab dan akibat, jika sesuatu itu ada sebab namun tak ada akibat mereka tidak percaya, atau ada akibat namun tidak ada sebab. Bagi Muthahari Barat kehilangan kriteria mengenai kausalitas, di Islam kausalitas hanya untuk wujud mumkin, dan dibedakan dengan wujud al-Dzat.

Kesimpulan
Beberapa alasan yang disampaikan oleh Barat mengenai Tuhan dalam celah sains, sains dan theology adalah konflik yang bermuara pada pemahaman agama tentang Tuhan, Tuhan yangdipami sangat kaku dan simple. Pemahaman kaum greja tentang Tuhan masih belum bisa mencari alasan yang pas untuk menandingi alasan kaum sains, kata Muthahari pemahaman gereja tentang Tuhan yang dipersepsikan belum bisa menjelaskan keberadaan metafisik yang jelas. Bahkan bagi Muthahari Tuhan dalam anggapan greja masih sekedar Tuhan matrealis, maka dengan mudah rasa balas dendam saians menjadi sasaran empuk melumpuhkan otoritas agama.
Kausalitas memang menjadi trik yang dilakukan oleh sains, karena iu juga kaum agama mengawali pemahamana mereka terhadap Tuhannya. Tuhan yang mesti punya sebab dan akibat. Selanjutnya kausalitas belum cukup untuk menjelsakan keberadaan Tuhan, justru itu dijadikan kaum sains untuk menghatam agama. Kausalitas bagai saya hanya sebuah hukum yang menuntut kepastian, jika dibandingkan, maka kausalitas lebih berhak menjadi Tuhan dibandingkan Tuhan sendiri, karena Tuhan diatur oleh kausalitas, dan kausalitas menjadi landasan akan keberadan Tuhan, maka jika kita masih mengandalkan pemahaman Tuhan hanya dari hukum kausalitas, yang terjadi adalah penjajahan terhadap Tuhan atas kausalitas.
Jadi para teolog mestinya bisa mengahdirkan pemahaman yang canggih dan ilmiyah, jauh lebih ilmiah mestinya dari penjelasana sains. Bagi sainstis keberadaan Tuhan jangan selalu dikaitkan dengna kejadian alam, kejadiaan alam adalah salah satu dari bukti Tuhan saja, masih banayak bukti-bukti lain yang keberadaannya bukan hanya terdeteksi dari hukum alam. Manusia sebagai person yang jenius harus menempatkan dirinya sebagaimana wajarnya, wajar yaitu manusia pasti sadar atau tidak memerluka pelarian jiwa, pelarian jiwa kepada sesuatu yang lebih membahagiakan dan menentramkan. Manusia harus turun kepada hakikat kemanusaianya, bahwa ia diciptakan.

Daftar Pustaka

Muthahari, Murhada. Kritik Islam Terhadap Matrealisme, (Jakarta:alhuda)2001.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s