Teori Freudian:Psikoanalisa dan Alam Bawah-sadar

oleh Djaharul Bar
Resensi from seven Theories
Membicarakan teori paling awal dari pemikiran freud tidak bisa dilepaskan dari bukunyaThe interpretation of Dream, buku ini menjelaskan mengenai pengalaman mimpi manusia. Teori ini dijelaskan melalui perasaan yang ada dalam diri manusia, pertama conscious thought yaitu alam sadar manusia, di saat manusia misalnya bermain bola, dia melakukannya dan pada saat yang sama sadar dengan apa yang dia lakukan, kedua Pre conscious, yaitu ide-ide yang tidak kita sadari namun bisa kapan saja kita panggil saat dibutukan, dan terakhir unconscious, yang disebut juga alam bawah sadar yaitu wilayah lain dari pikiran kita, yang sangat dalam, banyak, dan tersembunyi. Mimpi menurut Freud berada dipossisi terakhir, yaitu alam bawah sadar. Alam bawah sadar manusia sangat penting, pertama karena sumber dorongan jasmani yang paling dasar, kedua keterhubungan alam bawah sadar dengan keinginan akan menciptakan ide yang luar biasa yang bisa dikaitkan dari mulai penciptaan manusia sampai akhir manusia.
Apa yang dipaparkan oleh freud mengenai alam bawah sadar sebenarnya sudah ditemukan terlebih dahulu oleh sastrawan, yang sering menyebutnya dalam bentuk karya sastranya. Namun bentuk mereka masih sanagt intuitif. Freud ingin menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan oleh penemu sebelumnya, Freud ingin menggunakan cara yang rasional dan ilmiah. Melalui psikoanalisa yang Freud lakukan maka alam bawah sadar bisa dipahami melalui dua cara, pertama masuk dengan diam-diam melalui transkrip masa lalu, kedua transkrip tersebut dipaksa masuk karena alasan dan sebab tertentu.
Menurut Freud sesuatu yang terjadi di masa lalu yang tertekan dalam alam bawah sadar akan menghasilkan respon yang sangat kuat sehingga tidak bisa diungkapkan secara terbuka, dan keluar dari jangkauan mental. Semua ini dideskripsikan oleh Frued dengan istilah”neurosis”, termasuk mimpi yang menurut frued dalam beberapa hal tertentu mengindikasika manusia mengidap gejala neurosis. Mimpi diistilahkan oleh Frued dengan ”pelampiasan yang bijaksana”, mimpi adalah tingkat kesadaran yang dihasilkan oleh kenyayataan bahwa kita kadang merasakan dorongan yang kuat yang berakar pada keingin jasmani. Freud mencontohkan dengan melakukan hubungan seks, begitu besarnya hubungan ini maka ketika tidur kesadaran-kesadaran kita hilang dan menjelma menjadi bentuk mimpi basah. Interpretasi mimpi akan menghasilkan kesimpulan yang sama ketika kita menafsirkan gejala neurosis, sama-sama membentangkan jalan menuju gerbang misteri alam bawah sadar. Dan semua mitlogi, seni, sastra dan agama memilki kemiripan dengan subjek dan image yang selalu dikaitkan dengan mimpi manusia.
Kepribadian dalam konflik
Konflik dalam diri manusia muncul dari alam bawah sadar, alam bawah sadar adalah penengah antara mental dan jasmani. Manusia dikendalikan oleh prinsip kasar mereka yaitu insting biologis. Dan insting beroprasi berdasarkan “prinsip kepuasan”, seperti insting makan dan seksual. Kita akan puas ketika kedua hal tersebut telah terpenuhi, dan inilah yang mengakibatkan manusia mampu bertahan hidup. Dan ketika insting itu tidak terpenuhi, sama saja dengan tidak terpenuhinya kelangsungan hidup manusia. Makanya manusia akan berbuat dengan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, sekalipun melalui jalan konflik. Dan dorongan untuk mempertahankan hidup, menandakan adanya dorongan lain yang harus kita tekan. Karena dorongan tadi kita tekan maka akan masuk ke dalam alam bawah sadar manusia.
Dan dorongan apa yang sebenarnya ini, yaitu dorongan paling dasar dalam diri manusia. Awalnya Freud mengatakan hanya insting ego yang ditunjukan dengan rasa makan, dan libido yang diisyaratkan dengan seksualitas. Namun kemudian dia menyebut kedua dorongan ini dengan eros sebagai dorongan untuk hidup dan thanatos sebagai dorongan untuk mati.
Konflik yang dimaksud Freud adalah konflik antara kelompok dorongan dan dunia luar, dan dari konflik ini Freud memunculkan ide yang sangat terkenal dari teorinya yaitu, ego, superego, dan Id. Fase yang paling dasar dari ketiga hal tersebut adalah Id, sebagai fase hewaniyah dari evolusi manusia. Dia merupakan alam bawah sadar dan tidak menyadari dirinya sendiri. Ego adalah pusat penentu pilihan, sedangkan superego adalah dimensi sosial alam fisik. Freud menganggap ego sebagai penyeimbang kekuatan dan perlawanan dari jasamani dan realiatas sosial. Frued menambahkan “berprilaku dengan ego akan berhasil jika ego memenuhi Id, superego, dan realitas atau dengan kata lain bisa mendamaikan tuntutan masing-masing.
Seksualitas kanak-kanak dan Oedipus Kompleks
Trapan yang paling menarik dari konflik kepribadaian manusia adalah tentang perkembangan seksualitas anak dan Oedipus kompleks, menurutnya di usia enam tahun anak mulai merasakan realitas kehidupan, yang Frued maksud adalah superego. Tapi yang mencengangkan adalah disaat enam tahun pula masa kanak-kanak sangat dipengaruhi oleh hasrat seksual yang berasal dari Id,sehingga tidak ada bedanya dengan orang dewasa. Freud membuktikannya dengan pandangan bahwa dorongan seksual dan jasmani telah mengendalikan sebagian besar tingkah laku anak-anak. Di usal enam tahun anak-anak telah kenal dengan alat vital mereka, dan sumber kenikmatan lainnya. Setelah anak melewati fase ini anak akan tumbuh dan memperoleh tahapan yang baru, sekalipun tahapan-tahapan sebelumnya masih tetap ada.
Fase perkembangan seksual anak akan teras penting jika dikaitkan dengan agama, yaitu mencari tempat keyakinan beragama pada tahap-tahap emosional yang normal tadi. Dan hubungan seksual kanak-kanak dengan agama yang disebut oleh Freud dengan Oedipus kompleks, istilah ini muncul dari kisah laki-laki karya Sophocles, kisah mengenai seorang raja yang tanpa sadar membunuh ayahnya karena memilIki keinginan yang sangat kuat untuk menikahi ibunya. Namun niat ini tidak dilakukan karena si anak benci karena harus bersaing dengan ayahnya dan takut akan kekejaman ibunya yang ingin mengebiri alat vitalnya. Saat itu anak tak bisa membayagkan bagaimana dia tidak memilki organ vital, kejadian itu semua digambarkan oleh Frued sebagai trauma yang dialami semasa kanak-kanak. Sehingga dia memutuskan untuk menyerah dengan bapaknya dan berhenti mencari cinta sang ibu lalu mencari fantasi lain untuk memuaskan seksualitasnya. Freud mengatakan Oedipis Kompleks merupakan pengalaman inti masa kanak-kanak, era yang sangat penting dalam masa pertumbuhan dan sumber segala ketidakcakapan di masa-masa berikutnya.
Freud dan agama
Setelah mengembangkan studinya mengenai psikoanalisa, Freud merasa tertantang untuk meneliti studi lajutannya mengenai agama. Dari awal memang dikisahkan bahwa Freud merupakan penolak agama yang paling jelas, penulis biografinya mengatakan bahwa dia hidup sebagai seorang atheis. Freud tidak satupun mendapat alasan untuk percaya terhadap agama, sehingga dia menganggap agama tidak mempunyai arti dalam kehidupan ini. Sebagai mana Taylor dan Frezer menganggap agama sebagai suatu kekeliruan, Freud juga mengatakan hal yang demikian. Namun berbeda Freud menemukan gagasanya dari sudut pandang psikoanalisa yang ia lakukan.
Dalam Obsessive Action and religion Practices, Freud berkesimpulan bahwa pemeluk agama berkelakuan mirip dengan tingkah laku pasien neurosis. Misalnya kelakuan yang dilakukan oleh pasien neurosisnya hanya mementingkan hal-hal yang bersifat seremonial, dan sama-sama akan merasa bersalah jika seremonial yang ia jalankan tidak dengan sempurna. Kedua hal tersebut terjadi atas dorongan yang paling dasar, dalam psikologi ditandakan dari ketertekanan dorongan seksual dan dalam agama ditunjukan dari ketertekanan “ke-aku-an”, kontrol ego. Jadi kalau seksual direpresentasikan melalui dorongan mental pribadi, agama dikatakan sebagai gangguan mental universal. Dalam pandangannya alam lebih mirip dengan gangguan jiwa, dan paling tepat untuk menjelaskannya adalah dengan psikoanaisa.
Totem and Taboo
Totem adalah sesuatu yang sakral, yang berbentuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Taboo adalah hal yang terlarang. Bagi Freud Taboo ternyata tidak mengasih jalan keluar serta tujuan yang jelas, karena pada dasarnya yang dilarang seperti sex, berburu binatang. Totem adalah hal yang diiginkan oleh manusia, dan manusia merasa menderita untuk mematuhi larangan tersebut. Yang menjadi pertanyaan besar menurut Freud adalah mengapa masih ada orang yang mematuhinya?
Melalui Teori alam bawah sadarnya Freud mengungkapkan jawabannya, bahwa pengalamannya dengan neurosis menunjukan bahwa pengalaman pribadi manusia yang normal dan terganggu sama-sama ditandai oleh ambivalensi-pertentangan kuat antara hasrat, satu saat ingin melakukannya, tapi disaat yang lain ingin meninggalkannya. Misalnya saat ayahnya masih hidup dan mengingnkan untuk segera ayahnya wafat, namun setelah meningggal ia merasa bersalah karena berniat jelek terhadap ayahnya. Kemudian dalam perkembangannya kisah ini berlanjut dengan pembunuhan pertama, bahwa seorang ayah dibunuh oleh anaknya dan karena anak merasa bersalah, maka ungkapan penyesalannya dengan menyembah sang ayah, dan mengajurkan untuk tidak mebunuh apapun. Kedua ialah bahwa anak dilarang untuk mengawini istri dari ayah atau ibunya untuk menahan hasrat seksual sebagai bentuk bakti kepadanya. Ini diungkapkan Freud dengan “agama totem muncul dari rasa bersalah anak, dan untuk mnghilangkan perasaan itu dia mengabulkan keinginkan sang ayah, mereka kemudian menyembah sang ayah. Seluruh agama kelihatanya ingin memecahkan persoalan yang sama.”
Bagi Freud peristiwa pembunuhan pra sejarah merupakan hal yang paling penting dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia. Gabungan antara totem dan tabu akhirnya menjadi pondasi dasar bagi seluruh peradaban.
The Future of an Illusion
Dalam bukunya Totem and Taboo menceritakan kepada kita bagaimana manusia berusaha menundukan hasrat-hasrat mereka kepada hukum-hukum yang berlaku. Namun walaupun dengan pengekangan hasrat dapat menggapai ketenangan, nyatanya peradaban juga tidak bisa melindungi kita dengan sempurna. Yang diinginkan manusia adalah semua berakhir dengan baik, sebagaimana yang dialami selama masa kanak-kanak, dan menurut Freud masa kanak kanak bisa dialami lagi karena adanya bisikan agama. Dengan mengikuti masa anak-kanak, agama memproyeksi dunia eksteral tentang Tuhan, dan Tuhan dengan kekuatannya bisa menghilangkan kekuatan alam. Dengan syarat mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya, maka manusia bisa yakin bahwa nanti rohnya akan kembali kepada Tuhan.
Keyakinan itu semua adalah bagian dari illusi menurut Freud, illusi adalah keyakinan yang mesti benar. Maka dengan demikian agama bukanlah wahyu Tuhan dan bukan berdasarkan konklusi dari pembuktian ilmiah. Sebaliknya, agama merupakan pikiran-pikiran dengan ciri utama yang khas “kita menginginkan ajaran-ajaran agama itu bisa menjadi kenyatan.” Agama yang berasal dari awal sejarah manusia adalah pertanda dari sebuah penyakit, dan keinginan untuk meninggalkan agama adalah indikasi kesehatan peradaban manusia.
Moses and Monotheism
Alkisah menceritakan bahwa dahulu hidup seorang raja yang bernama Musa, dia berasal dari Mesir. Sebagai seorang pengikut Paraoh Akhenaton yaitu paham tentang satu Tuhan Musa meneruskan ajaran-ajaran monotaisme setelah ArkhEnaton wafat. Setelah mengalami kejayaan dan memerdekakan banyak budak, Musa mendapat kesialan. Seluruh pengikutnya memberontak dan akhirnya berujung pada kematian Musa. Agama monoteistik Musa kemudian dirubah dan berganti menjadi penyembahan terhadap dewa gunung api yaitu Yahweh.
Beberapa abad kemudian keyakinan terhadap dewa Yahwe menjadi hilang akiba kedatangan para penyiar Agama monotaisme, yaitu para Nabi-nabi. Seruan para nabi ini menandakan titik balik yang sangat penting bukan saja bagi sejarah bangsa Israil, tapi juga seluruh dunia. Dari akar monoteisme kemudian berakhir juga dengan monoteisme, yaitu agama nasrani. Dari penjelasan kisah tersebut bisa kita sandingkan dengan teori psikoanalisa Freud, bahwa pertama-tama masa kanak-kanak merasakan kisah yang traumatis yang dilupakan secara paksa untuk sementara. Kemudian priode selanjutnya dengan latency-pemendaman dan pada saat itu berjalan biasa-biasa saja. Kemudian munculnya gangguan metal dan irasioal yang menandakan gejala neurosis muncul. Kita menemukan kenyataan bahwa apa yang selama ini tertekan muncul kembali. Dan ini bisa kita bandingkan masalah ini dengan rentetan sejarah yang muncul di agama Yahudi.
Atau dalam kesempatan yang lain bisa juga kita samakan dengan peristiwa pembunuhan ayah oleh anaknya. Dalam bentuk ambivalence emosi, Musa sebagai figur ayah oleh bangsa Yahudi dibunuh oleh umatnya sendiri. Dan agama Yahwe sebagai bentuk rasa bersalah mereka karena membunuh Musa, bagi agama Musa yang asli Priode ini adalah bagian dari latency pemendaman dalam waktu yang sama dan hampir terlupakan oleh bangsa Yahudi. Dan segala yang tertekan pasti akan muncul kembali, dan Monoteisme muncul lagi dengan kekuatan besarnya.
Kesamaan dengan psikoanalisa yang disimpulkan oleh Freud bahwa kemunculan agama-agama tidak terletak pada kebenaran klaim agama tersebut tentang Tuhan, malaikat, dan mu’jizat. Semua doktrin ini omong kosong dan tidak dapat dibuktikan, berbeda dengan psikoanalisa. Bahwa kekuatan agama sebenarnya ditemukan dibalik doktrin-doktrin mereka, kebutuhan psikologi dan emosi bawah sadar yang mereka ekspresikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s