Renungan Menuju Tuhan

oleh Djauharul Bar
Gempa bumi dua hari lalu di Padang dan sekitarnya sudah memakan lima ratus lebih korban jiwa, banyak dari kita berkata dalam hati bahwa itu adalah cobaan, ujian, dan azab. Sebagian yang lain juga berkata bahwa itu memang musibah, taqdir yang seharusnya kita syukuri, lain halnya dengan orang berikut, ia malah bersyukur lantaran daerahnya tak terkena gempa , menurutnya masih dilindungi Gusti .
Gempa adalah suatu kejadian alam berupa pergeseran materi tanah yang datang secara tiba-tiba, pergeseran materi tanah itu mengakibatkan goncangan yang terasa di permukaan tanah, baik skala kecil atau besar. Di atas permukaan tanah itulah segala bangunan akan bergoyang yang bisa mengakibatkan pergesaran tanah yang kemudian membentuk runtuh, bahkan gempa bisa memicu tsunami sewaktu-waktu. Bayangkan saja jika seandainya pergeseran materi tanah itu membentuk materi tanah di tempat lain, seperti di laut yang memaksakan air laut mencari tempat yang lebih rendah di darat misalanya.
Kejadian gempa seperti di atas yang pada akhirnya mampu merenggut nyawa manusia , kerusakan infrastuktur, dan kerugian materil lainya, disikapi oleh seperti orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga tadi. Saya jadi teringat saat menyaksikan Film Lari dari Blora yang salah satu pemerannya WS Rendra memerankan tokoh yang dikhormati di adat Samin, “ Si mbah” begitu orang samin menyebut tokohnya berdialog dalam salah satu cuplikannya dengan seorang guru “mbah! desa ini kan dulu pernah ditimpa longsor”, mbah menjawab “Oh ya!!!alamkan memang begitu selalu menyesuaikan, kamu saja yang menganggapnya bencana”, atau dalam dialog lain si mbah menjawab laporan warga bahwa ada yang mencuri nasi bungkus ketika bekerja “Loh memang sudah semestinya nasi masuk keperut orang lapar toh”…he he he
Diaog tadi sejenak akan mengingatkan kita suatu hal yang dilhat sepele, padahal sangat dalam dan filosofis. Selama ini manusia memang egois, mereka merasa hidup sendiri tanpa mau memikirkan kehidupan amkhluk yang lain di alam jagad ini. Pernahkah kita berfikir saat tangan ini memotong rating pohon, saat kita membuang sampah ke subuah kali yang tidak pernah tahu bahwa air yang menyebabkan segala makhluk di dalamnya merasa pengap, atau ketika kita dengan sengaja memisahkan anak ayam dari iduknya. Itu sedikit contoh prilaku manusia terhadap makhluk lain. Bagaimana dengan mereka(tumbuhan, hewan, dan alam)pernahkah membalas prilaku kita dengan kembali memotong-motong tubuh ketika kita memotongnya, atau ikan membuang samapah di pekarangan rumah sesat setelah kita membuang sampah di kali, atau ayam yang melaporkan kita ke polisis karena danggap telah mencuri anaknya…mereka menganggap bahwa perpisahan, kematian, kehancuran pasti akan terjadi, cepat ataupun lambat dan kerena nya tak heran mengapa alam bersikap demikian tawakalnay dengan takdir.
Dalam diskusi yang lain saya mendengar Pa Bagir –Mr Master Tasawwuf- bahwa tsunami yang melanda Aceh adalah Bentuk Zahir dari Tuhan, begitupun gunung meletus, banjir, gempa dan lain-lain, bukan bencana yang menjemput mereka, tapi Tuhan. Tuhan sangat sayang kepada mereka, karena ia harus menjauhkan kekasihnya dari kemewahan dunia yang sementara, dan menunjukkan mana kemewahan yang sebenarnya, yaitu bersama Yang Kekal. Kita yang tidak termasuk dalam sekenario Tuhan adalah orang-orang yang telah diistidrojkan olehnya, bahwa “senang-senanglah kalian di dunia-tempat yang sangat terbatas-berbuat zhalimlah kalian sesama, agar kalian nanti menjadi penghuni tetap neraka” prekataam Tuham kepada kita yang hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s