Ulama Jakarta dan Fenomena Keagamaan Masyarakat Betawi

Fenomena keagaaman masyarakat Jakarta sampai kapanpun tidak bisa dilepaskan dari peran agamawannya. Sebelum dikenal sebagai Betawi, masyarakat Jakarta sebelumnya juga disebut kaum Selam(orang Islam), dan memang mereka sangat akrab dengan agama Islam. Segala catatan mengenai masuk islamnya jakarta hanya bisa dilihat dari beberapa tulisan-tulisan kuno peninggalan kerajaan Banten, yang dahulu sempat menguasi Jakarta. Memang diakui banyak oleh sejarahwan bahwa masuknya Islam di Jakarta agak terlambat dibanding Sumatra, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Catatan dan bukti tertua masuk agama Islam di Jakarta hanyalah makam pangeran Jayakarta dan pengikutnya di Masjid Kampung Pulo Kecil Jakarta Timur, diperkirakan pangeran Jayakarta hidup di abad ke 16. Situs lainnya adalah makam ulama tertua jakarta yaitu al-Habib Ahmad al-Idrus di Kramat Kampung Bandan yang bertuliskan abad ke 18, walau demikian fenomena keagamaan masyarakat Jakarta banyak dilihat sebagai sesuatu yang unik, seperti Buya Hamka yang menyebutnya sebagai bentuk keislamaan yang berbeda dengan masyarakat muslim pada umumnya, bahka sumber Belanda menuliskan bahwa masyarakat muslim Jakarta terlihat ta’at beribadah ketimbang masyarakat muslim di daerah lain.
Fenomena keagamaan mereka begitu terasa seperti saat ini bisa dilihat dari keramaian saat majlis-majlis ta’lim. Majlis ta’lim adalah budaya warisan para ulama dan habaib terdahulu yang hidup sampai saat ini, perkembangan majlis ta’lim yang kemudian menjadi penyebab berkembangnya pemahaman agama Islam mereka. Bisa dilihat misalnya bagaimana majlis-majlis ta’lim itu membuat Kolonial Belanda sangat ketakutan, begitu juga dengan Orde Baru yang meresa was-was dengan kehadiran majlis-majlis ta’lim ini.
Kini Jakarta bukan hanya dipenuhi majlsi ta’lim, tapi juga majlis dzikr,dan majlis shalawat yang dibanjiri oleh ratusan bahkan ribuan jamaah setiap minggunya, dan siapa lagi kalau bukan aktor-aktor yang berperan selain Ulama dan Habaib. Aktor-aktor seperti inilah yang selanjutnya mempengaruhi fenomena keagamaan masyarakat Jakarta sedemikian rupa, oleh karenanya pantas bila Ulama dan Habaib di Jakarta memiliki posisi yang patut dikhormati. Istilah Ulama di masyarakat Betawi dibedakan menjadi tiga macam sebutan, pertama Guru yaitu ulama yang dianggap berhak mengeluarkan Fatwa, seperti Guru Marzuki dan Guru Salma, kedua Mua’llim yaitu ulama yang memiliki pengetahuan agamayang sangat dalam-walaupun menurut saya sama saja dengan Guru, karena arti muallim dalam bahasa indonesia adalah Guru-, yang terakhir adalah Ustaz yaitu sebutan bagi para penyampai/pengajar ilmu agama yang sering dikaitkan dengan muridnya Mua’llim.
Sedangkan Habaib adalah sebutan mereka yang mempunyai darah keturunan sampai Nabi Muhammad, yang dimuliakan sebagaimana halnya memuliakan Nabi Muhammad sendiri. Banyak yang mengakui bahwa para Habib-bentuk tunggal Habaib- sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Jakarta, peran dan jejak mereka yang hingga kini meninggalkan banyak sekali kebiasaan serta tradisi, di antaranya tradisi mauled, yasinan, tahlilan, ratiban,dan manaqiban.
Majlis ta’lim di Jakarta bukan hanya sebagai pusat da’wah, melainkan juga sebagai media interaksi dan silaturrahmi muslim kota dan muslim desa. Misalnya Majlis Ta’lim Kwitang, sebagai majlista’lim tertua di Jakarta tempat ini menjadi ajang tukar informasi muslim perkotaan dan muslim pedesaan, di masa al Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi banyak kyai yang jauh dari perkotaan hadir dalam majlis ini ,seperti KH Abdullah Syafii Matraman, KH Hasbiallah Klender, dan KH Muhajirin Bekasi. Interaksi mereka berupa perbincangan mengenai maslah keilmuan. Jumlah Majlis Ta’lim di Jakarta diperkirakan sampai ratusan, termasuk majlis-majlis Ta’lim skala kecil. Dalam setiap kali pengajiannya mereka mengkaji kitab-kitab Fiqh, tasawwuf, Tafsir, dan Hadist, namun fiqih adalah tema utama dalam setiap Majlis Ta’lim. Seperti Majlsi Ta’lim asuhan al Marhum Muallim Syafii Hazami-beliau setiap minggunya mengajar 40 Majlis Ta’lim di Jakarta dan sekitarnya-yang masih eksis sampai saat ini mengkaji al-Hikam, Ibn Katsir, dan kitab-kitab fiqh. Begitupun di Majlis Ta’lim Kwitang. Majlis-masjlis Ta’lim-pengajian- seperti ini lah yang sejak dahulu sampai sekarang tetap berlangsung, dan banyak didatangi oleh mayoritas para orangtua.
Perkembangan selanjutnya dari majlis ta’lim ialah majlis dzikir dan majlis shalawat, majlis Dzikir biasanya memakai pegangan dzikir yang sudah diijazahkan secara umum-Ijazah Ammah- seperti Ratib al-Haddad, Ratib al-Attas, wird al-Latif, wird al-Sakran. Walaupun menggunakan nama Majlis Dzikir, dalam setiap pertemuaannya dibahas pula kajian Kitab klasik, namun majlsi dzikir tidak sesering majlsi Ta’lim. Di Majlis Dzikir al-A’syiyatal Khomis misalnya, majlis ini dipimpin KH Abdurrahman Nawi-Kyai asli Betawi- yang diisi dengan pembacaan Maulid ,Tahlil, Ratib al-Haddad, dan dzikir-dzikir mu’tabaroh karangan Beliau sendiri, ini hanya dilaksanakan setiap Kamis minggu pertama saja setiap bulannya. Majlis dzikir seperti ini juga dilakukan oleh al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Seggaf di masjlisnya al-Affaf Tebet yang bisanya menggunakan Yasin Fadhilah, mengenai jumlah jamaahnya majlsi dzikir hampir sama banyaknya denganmereka yang hadir majlsi ta’lim.
Terakhir yang sekarang ini sekarang ini banyak dikomandani habib-habib muda Jakarta, dan keberadaan mereka banyak digandrungi oleh kaum muda Jakarta, Habib-Habib muda ini banyak mendirikan Majlis dzikir dan shalawat. Para Habib ini menyebut majlis mereka sebagai Majlis Shalawat, seperti majlis Rasulullah dan Masjlis Nurul Mustofa . Di tahun 1997 misalnya al-Habib Hasan al-Seggaf hanya menghimpun beberapa pengajian remaja di rumah-rumah saja, di sekitar Cawang dan Ragunan, dalam rentan waktu cukup pendek kini jama’ah majlisnya yang dinamakan Nurul Mustofa sudah berjumlah ribuan –sekitar enam ribu lebih setiap minggunya- para pemudanya terlihat sangat fanatik dan ta’zim kepada Habib. Pengajian beliau diawali dengan Maulid dan seterusnya diisi oleh shalawat-shalawat Munajat, diakhir acara para Ulama dan Habaib memberikan ceramahnya. Sama halnay seperti Majlis Nurul Mustafa, pimpinan Majlis Rasulullah al-Habib Munzir al-Musawa adalah lulusan pertama Pesantren Darul Mustofa Tarim, Yaman, beliau awal pertama datang ke Indonesia merasa prihatin dengan kaum muda, untuk menarik masa yang lebih banyak beliau tidak lagi mengajarkan kitab-kitab Fiqh saja, namun maulid dan shalawat yang diiringi dengan hadroh akhirnya bisa menarik ribuan jamaah remaja tiap selasa malam. Kedua-duanya sama yaitu bershalawatan hingga larut malam-sekitar sebelas/dua belas malam.
Belakangan banyak habib-habib muda yang mengikuti jejak mereka dengan mendirikan majlis-majlis shalawat, mereka melantunkan syair-syair keagungan ilahi dan keagungan Nabi. Majlis-majlis shalawat yang belakangan muncul ini memang banyak dirasakan oleh sebagain kalang menjadi semacam ladang rijeki bagi mereka. Latahan seperti itulah yang banyak tidak disukai oleh para orangtua, mereka mengaanggap Habib-habib muda itu hanya mencari popularitas dan tidak mengejar keihklasan seperti yang diajarkan oleh ulama dan habaib terdahulu. Selain majlis-majlis tadi ada majlis-majlis lain yang sama ramainyadengan ribuan jama’ah, seperti masjlis Subuh Gabungan dan majlis Manaqiban, yang kesemuanya ini merupakan bagian dari fenomena keagamaan masyarakat Betawi dan ulama-ulama Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s