Sejarah keagamaan Masyarakat Jakarta

Tahun ini Jakarta memasuki usianya yang ke 482, sejarah kemerdekaan Jakarta adalah sejarah kemenangan Pasukan Demak melawan portugis yanga berhasil menguasai Sunda Kelapa dari Padjajaran pada tanggal 22 juni 1527i, dan seterusnya jakarta berganti nama menjadi jayakarta. Mengenai siapa yang menjadi jendral dalam penyerbuan ke sunda kelapa juga masih simpangsiur, karena lagi-lagi sumber hanya menyebutkn bahwa pasukan itu dipimpin oleh seorang panglima bernama Fatahillahii-orang Jakarta dulu biasa menyebut Falatehan-Apakah ia Sunan Gunung Jati atau bukan, yang jelas tak sampai dua abad Jayakarta berada dalam daerah kekuasan Banten. Kesultanan Banten yang pada saat itu masih berada dalam wilayah kekuasaan Sunan Gunung jati-selain Cirebon dan Citarum-menguasai daerah sampai Jakarta, dipimpin penguasa yang bernama Maulana Malik Hasanuddin anak dari Sunan Gunung Jati.
Jakarta pada priode awalnya memang dipimpin oleh Pangeran Fatahillah, namun setelah dirasa cukp kondusif kota ini diserahkan kepada menantu Hasanuddin yaitu Tubagus Angke, dan di teruskan sampai abad ke 17 oleh anaknya bernaman pangeran Jayakarta Wijayakrama.iii Namun karena proses perdaganagan dengan pihak asing (VOC) yang tidak banyak dimengerti oleh raja pribumi, akhirnya Jayakarta berhasil ditaklukkan oleh VOCiv dan mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia.v Selanjutnya di tahun 1942 Jepang berhasil menguasai Batavia dan mengganti nama menjadi Jakarta atas desakan kaum nasionalis.vi
Masyarakat Jakarta
Di Museum Nasional ada salah satu koleksi yang menunjukkan asal-usul warga Jakarta, yaitu Prasasi Tugu yang ditemukan di daerah Cilincing Marunda, Jakarta utara. Prasasti itu merupakan peninggalan kerajaan Hindu Tarumanegara yang berkuasa pada abad ke4 masehi, dalam prasasti itu diceritakan bahwa baginda raja Tarumanegara berpestapora dengan memotong seribu lembu, Drs Ridwan Saidi menafsirkan ini sebagai bukti bahwa warga jakarta sudah ada sejak dahulu jumlahnya sekitar 25 ribu orang, seandainya satu ekor lembu mampu dihabiskan oleh sekitar 30 orang, maka jumlah penduduk sekitar 30 ribu orang jika satu keluarga memilki empat orang anggota, maka sekitar seratus ribu orang pada saat itu sudah tersebar di daerah jakarta dan sekitarnya.
Asumsi di atas memang tidak pernah ada yang menyalahkan, namun perlu pertimbangan juga jika seandainya jumlah mereka seratus ribu lebih dan tersebar di wilayah kekuasan Taruma Negara. Ridwan Saidi sebenarnya mengeluarkan asumsi ini saat peneliti asal Australia Lance Castle mengatakan bahwa orang betawi berasal dari kaum budak. Sebenarnya yang ingin disampaikan adalah Jakarta sebelum masuknya Portugis bukanlah pulau tanpa penghuni, ini bisa dilihat dari thesis Ali Akbar Mahasiswa Pasca sarjana Fakultas Ilmu Kebudayaan yang menuliskan bahwa di daerah Condet, Pesanggrahan, Ulujami, Depok dan Tangerang banyak ditemukan sisa-sisa benda dari zaman prasejarah semisal grabah dan alat produksi yang ditemukan di kali Ciliwung di sekitar Condet dan kelapa dua merupakan indikasi bahwa sejak lama penduduk jakarta sudah mengenal peradaban, perbudakan baru terjadi ketika portugis masuk ke Jakarta yang pada saat itu banyak membawa budak dari melayu, ambon dan Asia Selatan.
Masalah populasi masyarakat Jakarta memang pada saat itu memang tidak ada data yang pasti, sensus penduduk jakarta baru ada sekitar abad 17 dengan jumlah sekitar 27.068 dari berbagai kelompok etnis seperti orang Belanda, Cina, Melayu, Bali, Moor, Jawa dan Marjikers. Kalau dilihat dari data ini memang jumlah Penduduk yang budak dengan non Budak seimbang yaitu 13.790 dan 13.278,vii dan sama sekali tidak menyebutkan penduduk Betawi. Baru pada abad ke 20 catatan kolonial menuliskan sekitar 419.900 adalah penduduk Batavians (Betawi) dan saat itu jakarta sudah dihuni oleh sekitar setengah juta penduduk.
Mengenai istilah Betawi menurut catatan sejarah baru didengar luas pada abad ke 20 saat geliat para nasionalisme merambah di berbagai daerah seperti Budi Utomo dlll, M H Thamrin tanggal 1 1923 mendirikan perkumpulan kaum betawi, dan di tahun 1928 Pemoda Kaum Betawi juga ikut dalam Kongres Sumpah Pemuda di Jakarta. Namun berbeda di luar negeri seperti Mekkah sejak abad ke 18 sudah ada yang menami diri mereka dengan sebutan betawi, seperti syeikh Abdurrahman al-Batawi sezaman dengan syeikh ahmad Banjar (1710-1812).
Ridwan Saidi dalam bukunya Ragam Budaya Betawi menyatakan bahwa betawi adalah sebutan terakhir bagi mereka di zaman Padjajaran sebagai orang langgar yang suka melanggar ajaran pusaka sunda, lalu di masa pemerintahan Banten disebut dengan orang jawa, dan setelah islam masuk disebut dengan orang slam. Terakhir sebutan betawi bagi mereka yang tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya. Namun kalau boleh saya berpendapat temuan dan catatan sejarah hanya berdasarkan apa yang terjadi di pusat kota, berbeda dengan yang terjadi di pinggiran Jakarta yang banayak mengakui bahwa sebutan betawi sudah muncul sejak dahulu, sebelum orang kota menemukannya.
Betawi Ora dan Betawi Illir
Pocong, kuntilanak, kuntilbaba, tuyul, kolongwewe adalah beberapa nama dedemit yang dipercayai beberapa orang betawi samapai sekarang. Job description mengenai mereka juga masing sering dipercayai, tidak banyak diketahui pengaruh dari mana, namun ini semua dengan jelas bisa dilacak di Betawi ora sebagai sebutan keturunan asli nenek moyang betawi. Hal-hal mistis lainnya memang banyak ditemui di daerah pinggiran jakarta, ini mungkin masih bisa didengar pada acara-acara kematian seperti tahlilan.
Kepercayaan kepada arwah leluhur juga masih sering dipercayai, dahulu saat rawa, sawah, kebun masih luas mereka akan meminta izin sebelum memasukinya lebih jauh. Bagi mereka yang sering digoda-godain maknanya tidak izin kepada penguasa tempat, maka akan muncul seperti penampakan setan, kuntil anak ataupun kuntil baba. Bagi mereka yang pernah hilang dari tempat asalnya adalah kelakuan si kolong wewe.
Di masyarakat pinggiran juga dahulu sering dijumpai makam didepan rumah mereka, bahkan ada yang sampai mengubur keluarganya di dalam rumah mereka sendiri, sebagai salahsatu bukti bahwa kepercayaan terhadap arwah masih kuat di kalangan betawi pinggiran, sekarang bentuk-bentuk sepeti itu sudah jarang dilihat, namun ritual mengkhormati arwah masih tetap ada, seperti bisa dilihat saat pembacaan al-quran selama satu minggu setelah lebaran yang hanya bisa ditemui di pinggiran kota jakarta saja.
Penyebaran masyarakat betawi pinggiran memang agak berbeda dengan yang terjadi di jakarta, pengaruh keagamaan mereka masih kuat dengan tradisi lama, Islam yang mereka dapat juga bukan berasal dari para pendatang seperti arab, yaman, dan kota islam lainya, mereka mendapatkan ajaran Islam yang berasal dari ulama local seperti Banten. Ritual ziarah yang biasa mereka lakukan adalah para ulama yang kebanyakan di daerah Banten, pengiriman doa yang bisa dalam tahlilan juga sering ditunjukan kepada penguasa Banten Maulana Malik Hasanuddin. Ini semua menjadi cirri khas keagamaan masyarakat Betawi lama atau Betawi Ora.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s