Tradisi dalam IKAAD

Dahulu, ada yang menganggap tradisi sebagai penyebab ketidaksiapan IKAAD menyertakan Banat, istilah traaisi memang begitu mengakar di benak kita, bagaimanapun kita semua dibentuk oleh tradisi. Tapi benarkah tadisi itu selamanya dinilai positif oleh kita, atau meungkin tradisi itu bentukan suatu zaman yang harus berganti-ganti sesuai dengan tuntutan kehidupan. Lalu bagaimanakah IKAAD bisa sejalan dan jalan dengan tradsi. Tulisan ini adalah bagian kedua dari IKAAD saya, IKAAD anda, dan IKAAD kita.
Dalam disiplin ilmu Islam istilah tradisi sering disebut-sebut dan memiliki makna yang berbeda-bdda sesuai dengan disiplin ilmu tersebut. Dalam ilmu Fiqh al-Sunnah sering dianggap sebagai tradisi yang telah dilakukan oleh Nabi SAW dan jelas kata al-Sunnah memang sudah ada sebulum Nabi SAW diutsus, seperti misalnya memakai pakaian gamis, igel, jilbab dll, walaupun ada pembagian lain mana yang tasyri’ dan mana yang ghair al-Tasyri’. Tentu anda sekalian lebih tahu masalah ini daripada saya. Usul al-fiqh menganggap bahwa trdisi harus diberi tempat dalam pengambilan hokum, dalam hal ini istilah al-Urf sering diartikan dengan tradisi bahwa setiap apa yang tidak ada dal istilah dan bahasa dalam kamus maka kembali kepada al-Urf/tradisi.
Berbeda dengan halnya Filsafat yang menganggap tradisi sebagai bentuk yang menyimpang dari kehidupan zaman modern, artinya pijakan orang-orang tradisional sering sekali tidak berlandaskan pada system berfikir logika, irasional, dan tidak bisa dijadikan landasan kebenaran. Dalam Tasawuf dan Misticism Tradisi biasa diartika dengan sesuatu hal yang origin, asli,suci dan divine, dalam hal ini tradisi juga bias berarti wahyu . Budaya bias mengartikan trdisi dengan hal yang sering dlakukan oleh penduduk setempat, tau kebiasaan yang mencirikan akan suatu masyarakat, biasa berbentuk perkataan seperti bahasa, atau kelakuan yaitu ritual atau adat.
Di islam Indonesai kaum yang sering dianggap masih memegang tradisi (kaum tadisional) sering ditujukkan kepada NU, atau luasnya ahlussunnah wal Jamaah. Dan tadisi yang dianggap IKAAD adalah kurang lebih tradisi pesantren NU, yang sami’ina wa athoina dengan kyai, sarungan, cium tangan dll. Belakangan tradisi itu hilang dari diri para santri seusai mondok, namun tradisi yang baik-baik yang sesuai dengan lagi-lagi tradisi ahlussunah “al-Muhafazoh ala’ qodim al-Shalih wa al-Aktzu min jaded al-Aslah” dan meninggalkan tradisi yang tidak baik juga diajurkan. Namun jika trdsi itu masih dijalankan bukan atas kesadaran akan malah menjadi “balangkon” setuju di depan dan menentang di belakang., yang seperti inilah yang hanya menjadikan tradisi sebagai symbol. Dan tradisi juga tidak menganggap diriya paling benar paling tidak ini bisa dilihat dari prinsip dasar kaum tradisional “al-Muhafazoh ala’ qodim al-Shalih wa al-Aktzu min jaded al-Aslah”, mengambil sesuatu yang modern yang lebih baik menegaskan bahwa hal-hal kebaikan dan kebenaran bisa diambil dari sesuatu yang modern. Maka jangan merasa sebagai pelaksan tradisi jika masih menganggap modern itu buruk, dan ternyata orang yang bisa mengahargai modern juga ternyata tradisonal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s