IKAAD saya, IKAAD anda, dan IKAAD kita

Perjumpaan antar alumni podok Pesantren al-Awwabin memang jarang, namun kesempatan langka seperti Buka bersama tak disia-siakan mereka. Diskusi tentang masa depan IKAAD pun tak terlewatkan, sebagai organisasi yang lekat dengan sejarah dan konflik internalnya IKAAD dibentuk bukan hanya sekedar fasilitator silaturrahmi almuni, namun lebih dari itu sebagai abdi masyarakat. Keberadaan organisasi yang kecil ini memang sangat tertantang dengan tren budaya sosial kebanyakan organisasi pemuda, tapi perlu diingatkan bahwa dua tahun belakangan ini IKAAD hanya baru bisa merealisasikan beberapa program kecil mereka. Mau diakui atau tidak IKAAD sekarang ini terbelah menjadi dua kubu, mereka yang berorintasi pada persatuan IKAAD dan mereka yang berorientasi pada kinerja sosial IKAAD.
Memang IKAAD tidak lepas dengan sejarah bahwa dahulu pembentukan organisasi ini hanya direspon oleh kawan-kawan mukim, dan memnag tidak pernah sam sekali ada sangkut pautnya PP dilibatkan, satu tahun yang lalu IKAAD masih kaku dengan masalah pemisahan Banin dan Banat, namun karena banyak desakan dari beberapa pihak akhirnya terealisasi dengan hadirnya beberapa alumni banat. Dalam kasus PP dan Mukim memang ini faktor sejarah dimana istilah ini dikeluarkan, yaitu al-Awwabin. Sayang sekali istilah itu sampai saat ini belum bisa dipisahkan di al-Awwabin bahkan IKAADpun menyerah denga keadaan ini.
Ada beberapa alasan bagi mereka yang ingin merangkul PP dalam IKAAD, pertama logika dasar bahwa sebagai organisasi yang menamakan diri sebagai Ikatan Alumni al-Awwabin Depok harusnya bisa mengikat dan mempersatukan seluruh komponen alumni al-Awwabin Depok. Karena bagaimana pun sesuatu itu identik dengan namanya, maka sebagai sebuah Ikatan mestinya IKAAD bisa mengikat PP dan mukim begitupun halnya dengan Banin dan Banat. Kedua Sudah sewajarnya sebagaimana organisasi yang berpusat di Depok mau tidak mau amat bergantung dengan mereka yang berdomisili di Depok, dan tidak menutup kemungkinan bahwa natinya PP bisa ikut memimpin dalam kursi teratas. Ketiga sebagai Organisasi yang berorentasi bukan hanya skala al-Awwabin tapi juga skala sosial masyarakat seharusnya bisa lebih memobilisasi masa guna mensukseskan dan perlancar program dan sistem organisasi.
Namun bagi mereka melihat sejarah Ikaad memilki pendapat lain, bahwa jika persoalan ini terus dibincangkan dan diperdebatkan dalam tubuh IKAAD, kapan kita bisa bergerak. Karena perdebatan ini hanya mengulur waktu saja, masi banyak pekerjaan yang jau lebih penting di IKAAD. Cita-cita IKAAD sebagai organisasi sosial harus direalisasikan dan juga tanpa PP sebenarnya IKAAD sudah harus lebih maju, dan mungkin ini sebuah bentuk dari pendewasaan IKAAD priode sekarang yang berlum terlihat kinerjanya. Sekali lagi, sebenarnya permasalahan PP bisa ditangani atau menjadi tangung jawab angkatan masing-masing, bukan permasalah dalam keorganisasisn IKAAD. Memang harus diakui pengurus harian tidak bisa menagani seluruh permasalah yang ada di IKAAD semua butuhkerjasama, pekerjaan apapun dan kepada siapapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s