Nabi Muhammad SAW, Manusia ½ TuhanTelaah terhaadp ayat-ayat Nubuwwah

Catatatn Pinggir Pelantikan Rasul
لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعاً مُّتَصَدِّعاً مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٢١﴾
“ Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”
Sebagai pembuka surat al-Hasr ayat 21 tersebut jelas menerangkan bagaimana kedahsyatan al-Quran yang mengidikasikan hanya Muhammad-lah yang paling sanggup menerima risalah wahyu. Kejadian Di Gua Hira yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad merasa takut dan bingung adalah bukan karena Nabi Muhammad menghadipi sosok yang belum pernah ia lihat, akan tetapi beliau sadar bahwa memang apa yang diperintahkan Malaikat tak sanggup untuk beliau laksanakan. Demikian Malik bin Nabi menjelaskan bahwa dengan kesadaran akan keummiannya Nabi meras Takut dan binggung, bukan lantarana beliau kaget melihat sosok Ruh Wahyu.1
“Iqra!!!”
“Ma ana Bi Qaari’.”
Daialog ini membuka era baru sehubungan dengan alam ini. Kemudian ayat-ayatnya turun melengkapi kejadian yang akan dihadapi Nabi, karena sebelumnya hati beliau sudah ditasbitkan oleh Allah “ Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,” (26 : 193-194). Dalam ayat tersebut pula dinyatakan bahwa ruh yang dalam ayat disebutkan adalah min amr rabbi dengan tegas harus memiliki kaitan dengan ayat Nazala bihi Ruuh al-amin. Fazlur Rahman dalam bukunya Major theme’s of the qur’an mengatakan amr diartikan kewajiban dan ruh itu masuk ke dalam hati Nabi Muhammad, atau boleh berati juga dari amr lah ruh dibawa oleh malaikat kedalam hati Nabi dalam penafsiran tersebut kedudukan ruh lebih tinggi daripada malaikat.2
Namun pada dasarnya Nabi dan ututsan-utusan Allah yang lain menerima kekuatan luar biasa yang didapat dari sumber manapun, dan mengisi hati para Nabidenagn cahaya pengetahuan apas-apa yang manusia tidak mengetahuai. Ruh dan kekuatan ini merupakan perantara semua makhluk dan kehidupan.
Inklusif dan Esklusif Muhammad Saw
Manusia secara pasti selalu mencari-cari sesuatu kekuatan lebih dari manusia yang kekuatanya bsia melindunginya dari sesuatu yang menakutkan. Wujud itu bisa berupa benda mati, makhluk aneh, syetan, jin atau bahkan binatang. Namun yang pasti bahwa mereka itu semua dicitakan oleh sang pencipta, ini terkadang yang kurang mereka sadari. Ketakutan manusia juga bisa menjadi indikasi akan keharusan mereka mencari zat absolut yang bisa menyelematkan mereka dari rasa takut, seperti takut akan kematian, marabahaya, sampai hukum karma. Dari keduanya bisa dijelaskan bahwa sesungguhnya manusia membutuhkan seseorang yang bisa menjelaskan itu semua, melihat yang baik sebagai sesuatu yang benar-benar baik dan begitupun yang buruk.
Tentunya harus ada makhluk yangs sejenis yang bisa menyampaika hal tersebut, manusia pilihan. Sayangnya tidak semua manusia mampu melakukana hal itu, maka dengan berdasarkan rasa kasihsayang Tuhan atas ketidakdewasaan manusia diutuslah beberapa Rasul. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ghafir ayat 78.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ فَإِذَا جَاء أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ ﴿٧٨﴾

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu`jizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.”
Siapakah Muhammad bin Abdullah yang diutus sebagai Rasul terakhir. Sekalipun ia seorang Rasul pilihan ia sama sekali tidak pernah mempersiapkan diri secara khusus untuk bercita-cita menjadi Nabi, Beliau juga tidak pernah berkeinginan dan tidak tahu jika nanti ia akan menjadi Nabi. Al-Quran menjelaskan
وَمَا كُنتَ تَرْجُو أَن يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيراً لِّلْكَافِرِينَ ﴿٨٦﴾
“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.” (al-Qashas : 86)
Atau di ayat lain Allah berfirman bahwa Sesungguhnya Muhammad tidak mengetahuai sebelumnya akan al-Kitab dan iman, namun kemudian Allah memberikan cahaya petunjuk dan itu semua terjadi karena kehendakNya (al-Syuura : 52). Maka jelas sekali bahwa pengalaman religius Nabi Muhammad terjadi secar tak terduga.
Didalam al-Quran jelas sekali bahwa Allah SWT menggunakan ungkapan naturalis dan religius dalam perumpamaan-perumpamaan ayat-ayat Nya. Seperti rumusan ilmiayah dalam al-Quran seebagai contoh naturalis, dan rumusan ilmiyah tersebut bias terjadi karena adanya kekuasaan Allah dan inilah ungkapan religius al-Quran. Dimana ungkapan religius adalah ungkapan yang lebih tinggi setelah keinginan untuk mengetahui sebab musabbab. Dan apa yang terjadi oleh Nabi Muhammad bias dilihat dari dua kacamata tersebut. Naturalis, karena memang secara tidak disadari Muhammad telah mempersiapkan dirinya sebagai Nabi, dengan indicator sejak kecil bahwa Muhammad begitu peka terhadap masalah-maslah moral yang dihadapi manusia, dan kepekaan ini semakin tajam karena masih belia sudah menjadi yatim piatu.3
Peristiwa kematian dua orang yang ia cintai -paman Nabi yang melindunginya dari kaum Quraisy dan istri tercintanya sebagai tameng bagi kehidupan pribandi Nabi- tidak pernah dituliskan secara pribadi dalam al-Quran, begitupun penderitaan-penderitaan lain juga tidak bernah dikumandangkan didalam al-Quran. Indikasi ini, tentang tidak adanya kesan kepribadian Muhammad dalam al-Quran, kecuali hanya dalam bentuk kata ganti orang kedua tunggal.
Turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad patut dijelaskan. Bagaimana ketika zat yang menyampaikan risalah bisa menyatu dalam satu pribadi, Nabi Muhammad. Dan belakangan diketahuai memang Zat pertama tidak pernah bercakap-cakap dengan Muhammad saw. Berdiam unsich, harus diperhatikan ketika rasul diam, karena berdiam beliau menunjukan kesadaran definitf terhadap suatu fenomena. Dan yang demikia itu Rasul selalu menerima dan berserah diri dalm kebisuan beliau bercakap bersama turunya wahyu. Dengan analisis apaun sulit untuk menjawabnya, semua karena adanya pertimbangan bahwa semua sifat terpuji yang istimewa telah ditasbitkan untuk pribadi Muhammad.
Maka dengan posisi wahyu yang sudah berbeda level dari diri manusia, maka haruslah kita melihatnya sebagai sebagai kepastianyang berada dalam suatu zat metafisik yang tidak terkait dengan dengan apapun, kecuali kaitan “wahyu.”
Globalisasi pencerahan: The last Propeth

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٥٨﴾
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”
Surat al-‘Araf,: 158 diatas menceritakan fungsi Nabi sebagai Pemberi risalah yang bersifat universal dan mengglobal. Awalnya rasul-rasul diutus hanya untuk kaumnya saja, namun pada akirnya risalahnya tidak terbats kepada kaumnya saja. Ajaran mereka universal dan mesti diyakini oeh semua umat, inilah yang dimaksudkan bahwa kenabian itu tidak dapat dipecah-pecah.
Rasul Muhammad SAW sejak awal kedatangan beliau memang diyakini sebagai the last messenger, baik al-Quran sediri maupun, kitab-kitab sebelumnya. Dalam al-Quran al-Ahzab : 40.
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً ﴿٤٠﴾
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Masih meurut al-Quran bahwa mereka (ahlul kitab) lebih mengnal Nabi Muhammad ketimbang anak-anak mereka. Al-Baqarah : 146
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ وَإِنَّ فَرِيقاً مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴿١٤٦﴾
“ Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
Benar saja apa yang dikatan al-Quran, Abdullah bin salam muallaf Yahudi zaman Rasul pernah berkata “Kami lebih mengenal dan yakin tentang kenabian Muhammad SAW daripada pengenalan tentang anak-anak kami. Boleh jadi pasangan kami menyeleweng.”
Perjanjian lama kitab ulangan 33 ayat 2:
…bahwa Tuhan telah datang dari Torsina,dan telah terbit untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlap cahanyanya dari gunung Paran.4
Atau dalam sebuah catatan dari penagarah Sirah Nabawiyah al-Dibaa’i. Diceritakan bahwa seorang anak pernah mendengar ayahnya menaruh sebuah catatan rahasia dalam peti (sunduuq), maka ketika ayahnya wafat ia membukanya dan ia melihat dalam catatn itu akan kedatangan rasul terakhir bernama Ahmad.
Kesemua bukti tersebut berlebihan jika hanya dikatakan sebagai keistimewaan Nabi Muhammad dibanding nabi-nabi lain, karena betapapun realitas tersebut benar adanya, namun kerasulan terakhir merupakan sebuah tanggung jawab yang berat dan kewajiaban bagi kaum muslim sejauh mana bisa menjaga keaslian agama mereka.
Lalu bagaimanakah Nabi Muhammad bisa diutus sebagai Nabi terakhir untuk semua umat??. Yang jelas pertanyaan tersebut mestilah bukan karena si Muhammad bin Abdullah yang menyebabkan dia menjadi Rasul terakhir, tetapi karena yang ia bawa yang menyebabkan menjadi terakhir dan universal.
Beberapa modernis mencoba untuk menjawab itu, karena bagaimanpun klaim-klaim sebagai nabi terakhir dalam al-Quran bersifat dogmatis dan kurang rasional, setidaknya ada tiga alasan apa yang dibawanya sebagai sesuatu yang final. Yang pertama: Evolusi agama, Islam sebagai bentuk yang terakhir. Kedua: penelaahan terahdap kandungan agama-agama yang ada menunjukan Islam adalah agama yang yang paling memadai dan sempurna. Ketiga : Melalui Islam dan Kitabnya manusia telah mencapai kedewasaa rasional, karenanya cukuplah al-Quran menjadi petunjuk hidup manusia.
Terakhir dengan dan berdasarkan ketiga argument tersebut bahwa perjuangan manusia belum berhenti dengan kitb terakhir, tetapi sejauh mana perjuangan manusia untuk mencari petunjuk-petunjuk di dalam Kitab Allah. Dan kemudaian kita harus berpandangan bahwa petunjuk Allah tidak tergantung lagi oleh sesok manusia pilihan lagi, tetapi memilki fungsi kolektif.
Akhir semua pembuktian
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى ﴿٤﴾
“ dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),“(Q.s al-Najm : 3-4)
Meliahat ayat tersebut banyak yang akan menyangka bahwa perkataan pastilah perkataan Nabi SAW menunjukan kebenaran dan memiliki posisi yang sederajat dengan wahyu. Namun banyak juga yang menyangkal bahwa tak semua yang disampaikan Nabi itu mengandung kebenaran yang mutlak, kecuali yang berkaitan dengan urusan agama dan risalah keimanan. Jika kita kembali kemassa Nabi, maka kita akan menemukan kisah Nabi memperediksi pencangkokan buah kurma. Tenyata prediksi Nabi meleset, diriwayat bahwa Nabi berkata “anata a’lam bi umuur dunyakum” kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian. Seraya diakhir beliau menambahkan bahwa “jika datang perintah dariku tentang agama janganlah kalian menghianatinya.”
Imam al-Syafii’ pernah berkata “ Rasullullah tidak pernah berkata selain apa yang diwahyukan, karena wahyu mencakup yang dibaca dan juga yang digunakan Rasul membuat Sunnah.”5 Maka dalam sebuah kesimpulan fiqh beliau membenarkan adanya ayat Quran yang dinasakh oleh sunnah.
Berbeda dengan yang disampaikan oleh al-Syafi’i, beberapa kelompok tradisional Sunni menganggap adanya dua cara berfikir dalam pandangan Nabi, pertama, dimensi pribadi yang berakar dari unsur manusiawi. Kedua wahyu al-Quran yang ditunkan kepadanya.
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحاً مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُوراً نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٥٢﴾
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
Kedua ayat tersebut setidaknya ada indikasi yang mengarah kepada pemisahan antara pribadi Nabi dan wahyu al-Quran. Seperti ayat pertama yang memiliki kecenderungan bahwa yang disampaika oleh Allah pada waktu itu jauh sesudah Nabi dibaiat. Ayat ini turun sebagai sasaran kesadaran subkjektifnya, memisahkan antara pribadi dan wahyu. Begitupun dengan ayat yang dibawah ini adanya teguran langsung oleh Allah kepada Nabi sesaat setelah dibacakanya wahyu.
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً ﴿١١٤﴾
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
Sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Nabi apa yang dibicarakan Nabi memiliki unsue eksternal yaitu redaksi yang khas bagi Hadist “seseorang bias dilihat dari gaya bahasa pribadinya” adalah pasti jika hadis dan wahyu memiliki dua gaya bahasa, dan masing-masing dari dua gaya bahasa itu memilki wataknya sendiri dan redaksi yang khas. Tidaklah berlebihan jika “gaya bahasa al-Quran itu mengi’jazkan”, dan tidak seorangpun mampu membawakanya seperti al-Quran.
Dibuat penasaran
Jika kita membahas apa yang disampaikan oleh al-Quraan kita akan dibuat begitu penasaran, karena jelas bahwa apa yang al-Quran sampaikan melalui Nabi sangatlah menajubkan.
Seandainya wahyu turun tanpa seorang utusan, maka setiap orang akan saling berseliasih pandang mengenai al-Quran. Bahkan boleh jadi kitab yang semestinya menjadi mu’jizat tidak akan terlihat ketika tidak adanya utusan unutk menjelaskan itu.
Maka jika dikatan dalam hal ini keterlibatan dan perjuangan Nabi menerima al-Quran, dengan dua kalimat “Al-Quran lebih membutuhkan Sunnah, ketimbang Sunah membutuhkan al-Quran.” Atau bisa juga “Allah lebih membutuhkan Muhammad, ketimbang Muhammad lebih membutuhkanNya.”
Daftar Pustaka
Bin Nabi, Malik. Fenomena al-Quran. Bandung: PT Alma’arif. cet pertama, 1983
Brown, Daniel W. Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern. Bandung: Mizan. Cet Pertama, 2000
Rahman, Fazlur. Tema Pokok al-Quran. Bandung: Penerbit Pustaka. Cet pertama, 1983
Syihab, M Quraisy. Wawasan al-Quran: Tafsir maudui atas berbagai soal. Bandung; Mizan.cet xv, 2004

2 thoughts on “Nabi Muhammad SAW, Manusia ½ TuhanTelaah terhaadp ayat-ayat Nubuwwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s