//
you're reading...
Uncategorized

RESPON MASYARAKAT ARAB INDONESIA TERHADAP SISTEM KOLONIAL BELANDA

I

Pendahuluan

Bangsa Arab adalah salah satu bangsa dengan kebudayaan tertua di dunia,[1] tidak salah jika Bangsa Arab sangat berperan sejak dahulu di dunia internasional. Bangsa Arab bukan hanya terkenal karena penyebaran Islam berawal dari sana, namun juga bangsa Arab sejak lama dikenal sebagai bangsa yang masyarakatnya gemar berlayar.[2] Sehingga pengaruh Arab bukan hanya melekat di kawasan semenanjug Timur Tengah saja, akan tetapi sampai juga pengaruhnya di ujung benua Asia, yaitu asia tenggara.

Sudah menjadi kesepakatan yang hampir tidak dinafikan bahwa penyebar agama Islam di Nusantara adalah bangsa Arab.[3] Keyakinan tersebut dikuatkan dengan banyaknya artefak dan peninggalan-peninggalan baik itu tulisan atau prasasti yang berasal dari sana. Penebaran itu pula lah yang menjadikan Arab menjadi salah satu bagian dari mayarakat Nusantara.

Indonesia dengan jumlah penduduk Islam terbanyak di dunia mejadi salah satu hunian yang cocok untuk kalangan Arab, masyarakat Arab sejak lama hidup di Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Tentunya, kontribusi yang ditorehkan oleh masyarakat Arab kepada Indonesia juga bukan hal yang sedikit dan remeh, melainkan hal yang sangat bermakna bagi kemajuan bangsa Indonesia. Apa lagi komunitas Arab Indonesia punya peran yang besar dalam mengisi hari-hari dalam merealisasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ada dari mereka yang mendirikan pusat pendidikan, organisasi masyarakat, dan perkumpulan lainya. Karenanya sejarah mengenai Respon Masyarakat Arab Indonesia terhadap Sistem Pendidikan Belanda penting dibahas menjadi sebuah makalah.

 

 

 

II

RESPON MASYARAKAT ARAB INDONESIA TERHADAP SISTEM KOLONIAL BELANDA

  1. A.    Sistem Pendidikan di Masa Kolonial Belanda

Salah satu yang menjadi program penting Belanda dalam mempertahankan penjajahanya di Indonesia adalah dengan menanamkan nilai dankebudayaan barat di Nusantara, mereka mengemasnya dalam bentuk pendidikan. Tindakan ini adalah sebuah upaya Belanda untuk membendung fanatisme masyarakat Islam yang dicurigai akan memacu bahaya besar bagi Belanda, sebagai mana yang disampaikan Snouck Horgonje  bahwa penelitiannya menyipulkan komunitas Muslim jawa yang berada di Mekkah lahyang harus diwaspadai oleh Belanda, karena ketika kembali ke tanah air akan membawa ideologi dan semangat untuk memerdekakan diri.[4]

Belanda membangun sekolah dengan memasukkan murid-muridnya dari kalangan ningrat dan bangsawan. Upaya yang dilakukan pemerintahan Belanda di Indonesia merupakan hasil dari kajian Snouck Horgronje dalam menjembantani antara Belanda dan Indonesia yang berharap bahwa upaya mendirikan sekolah dengan segala westernisasinya akan menjadi patner yang baik dalam urusan sosial dan budaya. Oleh karena itu dalam lembaga pendidikan Belanda tersebut, bangsa Indonesia dituntut untuk bisa berasosiasi dengan kebudayaan Belanda.[5]

Tujuan sebenarnya pihak Belanda mendirikan sekolah untuk orang pribumi adalah untuk mempekerjakan mereka di instansi-instansi milik Belanda dengan gajih lebih murah dibanding mendatangkan orang dari Belanda.[6] Kenyataan ini juga diperkuat dengan sistem tanam paksa pemerintahan Belanda yang membutuhkan orang-orang pandai membaca dan menulis.[7] Sekalipun demikian Belanda sebenarnya telah berhasil memberikan pendidikan kepada pribumi sebanyak apa yang dinyatakan dalam sebuah catatan:  “Dan pemerintah (Belanda) berhasil dalam hal ini, terbukti jika pada tahun 1870 ada 266 anak pribumi sekolah di sekolah Untuk anak Eropa, maka pada tahun 1900 menjadi 2000 orang ( Furnivall,1944).”[8]

Selain itu kebijakan dan misi khusus pemerintahan Belanda di Indonesia adalah juga karena motif westernisasi dan kristenisasi, yaitu untuk kepentingan Barat dan Nasrani. Kedua motif ini mewarnai kebijaksanaan penjajah Barat di Indonesia selama kurang 3,5 abad. Belum lagi menurut Andewi Suhartini dalam bukunya sejarah Pendidkan Islam menuliskan:

“Sebagai bangsa penjajah mereka juga menganut pemikiran Machiavelli yang mengatakan agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah,  agama tersebut dipakai untuk menjinakkan dan menaklukan rakyat, setiap aliran agama yang dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus dibawa untuk memecah belah agar mereka berbuat untuk mencari bantuan kepada pemerintah, Janji dengan rakyat tidak perlu ditepati jika merugikan, dan tujuan dapat menghalalkan segala cara. [9]

 

Kesimpulan dari sitem Pendidikan di masa Belanda setidaknya memunculkan empat istilah yang dijelaskan sebagai berikut:

“Empat sifat yang menonjol dalam perkembangan kebijakan pendidikandi masa colonial Belanda yakni (1) dualistis, sekolah dibedakan anatara untuk anak pribumi dengan anak Belanda dan Tionghoa, juga dibedakan berdasarkan bahasa pengantarnya, ada yang berbahasa Belanda dan yang berbahasa Melayu dan daerah. Sangat diskriminatif; (2) gradualis, sistem sekolah dikembangkan sangat lambat dari level ke level lainnya, sehingga perlu seratus tahun lebih Indonesia memiliki sistem pendidikan yang lengkap; (3) konkordansi, kurikulum dan sistem ujian di samakan dengan sekolah di negeri Belanda; dan (4) pengawasan yang sangat ketat. Dan semua sifat- sifat tersebut lebih banyak merugikan bagi pendidikan kaum pribumi dari pada menguntungkan. Sekalipun demikian kita juga tidak dapat menafikan bahwa pendidikan Barat telah memberi peluang kepada orang–orang pribumi untuk mengisi jabatan yang dahulunya khusus dicadangkan bagi ”kasta” Eropa.”[10]

Diantara kebijakan Belanda soal pendidikan di Indonesia yang dianggap diskriminatif

  • Tahun 1882 Belanda mendirikan badan khusus untuk mengawasi kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam, yang isinya kurang lebih bahwa setiap pengajaran/pengajian harus meminta izin.
  • Tahun 1925 Belanda mengeluarkan peraturan yang berisi bahwa tidak semua pengajar Islam boleh mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.
  • Tahun 1932 Belanda mengeluarkan peraturan yang berisi mengenai hak menutup sekolah agama yang tidak memiliki izin atau pelajaran yang tidak disetujui oleh pemerintahan Belanda.[11]

Tindakan diskriminatif super ketat ternyata bukan malah membuat pendidikan Islam menyempit dan hilang, menurut Zuhairini peraturan yang dibuat pemerintah Belanda tidak memapu menghilangkan minat pada pendidikan Islam, malah justru pendidikan Islam semakin ditekan maka akan semakin meluap pengaruhnya.[12]

  1. B.     Respon Masyarakat Arab terhadap Sistem Belanda

Tidak banyak yang bisa pemakalah temukan seputar respon pasti masyarakat Arab terhadap sistem yang dibuat oleh Belanda, yang jelas di masa pendudukan Belanda, pemerintahan kolonial membuat kelas dan strata sosial, suku Arab bersama dengan cina dan India masuk pada strata tengah, sedangakan Belada masuk strata atas, dan pribumi masuk pada strata terbawah. Upaya Belanda dengan adanya perbedaan kelas dimaksudkan untuk membuat jarak agar tidak terjadi interaksi sosial antar kelas, terutama pribumi yang ditakutkan mampu menghabat kolonialisme. Jadilah pemukiman yang dikhusunkan untuk setiap kalangan, misalnya Arab Jakarta ditempatkan di Pekojan, etnis Cina di Pondok Cina dll. [13]

Namun, upaya Belanda untuk membatasi interaksi antar kelas tidak menghalangi etnis Arab untuk membaur dengan masyarakat pribumi, setidaknya faktor ekonomi dan agamalah yang mendasari itu. Hal ini senada dengan pendapat M Subhi tokoh intelektual muda yang berpendapat bahwa

 “Etnis Arab adalah salah satu suku pendatang yang sukses melakukan adaptasi kultural dengan penduduk lokal di Nusantara. Karena, fakta historis menunjukka, warga keturunan Arab tidak pernah memicu konflik sosial dengan non keturunan Arab. Bahkan jasanya besar warga keturunan Arab adalah kontribusinya dalam penyebaran Agama Islam di Nusantra. Islamisasi Nusantara yang demikian xepat membuat kesenhajangan antara Arab dan ono-Arab menjadi tipis, karena memiliki modal kedekatan identitas agama. Faktor agama inilah yang menjadikan warga keturunan Arab tidak terlalu sulit dalam “mempribumisasikan dirinya” sebagai bagian dari anak bangsa.”[14]

 

Respon itu kemudian menjadi bagian yang serius dalam mebantu Indonesia keluar dari penjajahan, hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya Konferensi Pemuda Arab Indonesia 4-5 Oktober 1934 di Semarang, yang dikenal dengan “Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab” dengan pengakuan bahwa Indonesia adalah tanah air mereka, meniggalkan kehidupan menyendiri, dan membela kepentingan rakyat Indonesia. Dari sinilah lahir Persatuan Arab Indonesia yang kemudian di tahun 1940 menjadi Partai Arab Indonesia.[15]

Pemakalah menyimpulkan bahwa respon yang diberikan masyarakat Arab terhadap sitem yang dibuat  Belanda tidak membuat mereka ikut begitu saja, justru etnis Arab meras bahwa kemerdekaan Indonesia adalah kemerdekaan mereka juga.

  1. C.    Organisasi Arab dan Kontribusinya terhadap Pendidikan di Indonesia

Melihat respon yang terjadi di masyarakat Arab Indonesia terhadap sistem yang dibuat Belanda sangat positif buat Indonesia, apa lagi dibuktikan dengan berdirinya Persatuan Arab Indonesia, sehingga membuat beberapa kalangan Arab berani untuk membuat organisasi-organisasi. Bahkan jauh sebelum cetusnya Persatuan Arab Indonesia, secra individual dan kelompok etnis Arab sudah memiliki sarana perkumpulan, seperti yang terkenal di Nusantra adalah al-Irsyad dan Jamiat al-Khair.

  1. 1.      Al-Jamiat al-Khair

Al-Jamiat al-Khair adalah organisasi yang didirikan leh Muslim keturunan Arab, di tahun 1905. Jamiat al-Khair adalah organisasi yang memperkenalkan sistem pendidikan dasar dengan basis stuktur dan kurikulum modern. Sehingga tak salah jika Jamiat al-Khair disebut sebagai organisasi Islam modern pertama di Nusantara.[16]

Di bidang kegiatan yang menjadi perhatian organisasi ini adalah pertama, pendirian dan pembinaan sekolah dasar. Kedua, mengirimkan lulusan mereka ke Turki untuk melanjutkan studi. Sekolah ini memberkan pengajaran materi-materi umum seperti sejarah Islam, berhitung, ilmu bumi, dan bahasa inggris. Pengajarannya disampaikan dengan menggunakan bahasa Melayu dan Indonesia. Di antara kelebihan  yang lain adalah Jamiat al-Khair mampu mendatangkan pengajar-pengajar dari luar Nusantara, seperti Syekh Ahmad Syurkati dari Sudan, Syekh Muhammad Thoib, dan Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah.[17]

Jamiat al-Khair berkembang dengan cukup luas, bukan hanya mengembangkan sekolah dasar, ia juga mendirikan penyiaran Islam seperti surat kabar dan perpustakaan, bahkan di tahun 1913 Jamiat al-Khair mampu mendirikan percetakan bahasa Arab Setia Usaha yang dipimpin Umar Said Tjokroaminoto.[18] Tak salah jika kemudian Van Neil menyebutkan dalam The Emergence of Indonesian Elite bahwa Jamiat al-Khair siap mengeluarkan bantuan kepada setiap organisasi Indonesia yang berjiwa Islam.[19]

  1. 2.      Al-Irsyad

Al-Irsyad adalah organisasi yang berlatar konflik internal antar pemimpin di Jamiat al-Khair. Mereka yang tidak lagi mempertahankan hak istimewa sayyid akhirnya mendirikan organisasi al-Irsyad. Di tahun 1913 Syek Ahmad Syurkati keluar dari Jamiat al-Khair dan mendirikan Al-Irsyad, seperti halnya Jamiat al-Khair, al-Irsyad juga memiliki konsentrasi dalam bidang pendidikan, bahkan energi dan daya hidup yang lebih dari Jamiat al-Khair, organisasi ini mampu mendirikan sekolah Islam dengan berbagai cabangnya di pulau Jawa,[20] seperti Cirebon, Bumiayu, Pekalongan, dan Surabaya. [21]

Lembaga yang pendidikan yang dimiliki oleh al-Irsyad meliputi sekolah dasar, sekolah guru (Islamic School for Guidance 1914), dan sekolah Takhasus agama.  Pada awal mulanya sekolah al-Irsyad tidak dibatasi usia, namun di tahun 1924 al-Irsyad membatasi penerimaan murid tingkat pertama sekolah dasar hanya dari kalangan usia 10 tahun ke bawah. Begitupun dengan kelas dan penjurusan ditentukan dengan kemampuan mereka saat mengikuti ujian masuk. Selain sekolah sebagai sarana dakwah, Oraganisasi ini juga memanfaatkan penyebaran pamflet dan penerbitan buku.[22]

  1. 3.      Al-Khairat

Madrasah al-Khairat didirikan oleh Sayyid Idur beberapa bulan setelah kedatanganya di Palu. Sebelum mendirikan madrasah, dia menggunakan waktunya untuk kegiatan dakwah Islam dan pengajaran sejumlah murid di rumahnya. Tidak lama setelah itu ia membangun bangunan khusus untuk para santrinya yang diresmikan pada 14 Muharram 1349 H/30 Juni 1930 M, dengan nama resmi al-Khairat al-Islamiyyah.

Pada awalanya, Pengajar di madrasah tersebut hanyalah sayyid Idrus namun karena semakin banyak muridnya yang tersebar bukan hanya di Palu tapi juga dari luar Palu maka ia memutuskan untuk memanggil dua orang keponakannya, Sayyid Muhammad bin Syekh al-Jufri dan sayyid Saggaf bin Seikh al-Jufri. Dalam waktu empat tahun, madrasah al-Khairat suDah dapat menghasilkan banyak alumni sehingga dengan cepat mereka membangun dan mendirikaan cabang al-Khairat di daerah mereka masing-masing sebagai media dakwah dan pendidikan.

Karena sebagian besar wilayah Nusantara masih dikuasai oleh kolonial Belanda maka keberadaan dan perkembenagan perguruan ini sedikit tersendat terutama pada dekade 1942. Ketatnya pengawasan Belanda dan tidak kondosifnya suhu politik pada saat perang dunia II dipastikan menjadi penyebab lambanya perkembangan perguruan ini. Jadi, hanya setelah revolusi Indonesia pada priode kedua 1940-an al-Khairat dapat berkembang dengan sangat pesat.

Menurut catatan kongres pertama al-Khairat pada tahun 1956 sudah memiliki cabang mencapai 45 madrasah, kongres kedua yang diadakan pada tahun 1963 bertambah menjadi 246 madrasah. Total pada kongres ke tujuh tahun 1996 sudah berjumlah sekitar 1.268 madrasah yang tersebar antara lain 891 madrasah di Sulawesi Tengah, 167 madrasah di Sulawesi Utara, 19 madrasah di Silawesi Tenagh, 2 madrasah di Sulawesi Tenggara, 28 madrasah di Kalimantan Timur, 1 Madrasah di Kalimatan Selatan, 146 madrasah di Maluku, dan 11 madrasah di Irian Jaya.

Dapat digambarkan dari keterangngan tersebur bahwa al-Khairat memiliki dua jenis lembaga pendidikan, pertama yang berbasisi keIslaman, dibawah pengawasan Departemmen Agama dan yang kedua berbasis pendidikan umum, berada di bawah pengawasan Departemen Pendidikan Nasional. Sebagai mana yang kita ketahui bersama bahwa pendidikan di Indonesia ada dua bentuk, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam dan pendidikan yang berlandaskan umum, keduanya diadopsi dari perguruan al-Khairat. Namun, tidak ada catatan mengenai berapa banyak madrasah al-Khairat yang menggunakan kedunya. Akan tetapi, pada umumnya memiliki tiga jenjang pendidikan, Pertama Madrasah Ibtidaiyah dan yang kedua Madrasah Tsanawiyah dan yang terakhir Madrasah Aliyah.[23]

  1. 4.      Persatuan Arab Indonesia

Organisasi ini berdiri secara resmi di tahun 1940, cikal bakal berdirinay adalah pertemuan pemuda keturunan Arab pada tanggal 4-5 Oktober 1934 di Semarang, mereka mendengungkan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab. Berdirinya Persatuan Arab kemudian meluas menjadi Partai Arab Indonesia di tahun 1940. Tertulis dalam konferensi Peranakan Indonesia: Indonesia adalah tanah air, Hadramaut adalah tanah nenek moyang.[24]

III

Penutup

Di antara ketiga organisasi tadi sebenarnya masih banyak ratusan tokoh Arab yang menorehkan sejarah pendidikan Islam di Indonesia, sebut saja wali sanga yang mayoritas keturunanya masih berdarah Arab. Syekh Nurudin al-Raniri Aceh yang terkenal dengan kitab-kitab melayunya, atau Syekh Abdushomad Palembang pengarang kitab Hidayat al-Salikin juga pensyarah kitab Bidayaah al-Mujtahidin merupakan keturunan Arab Hadrami dari pihak ayah dan melayu dari pihak ibu. Belum lagi Sayyid Usman bin Yahya yang terkenal dengan Mufti Betawi adalah keturunan asli dari Yaman yang bermukim lama di Jakarta pengarang ratusan kitab melayu, sekalipun menjadi bagian dari pemerintahan Belanda Sayyid Usman di Nilai pantas sebagai ulama Arab yang mendedikasikan dirinya kepada pendidikan Islam di Indonesia. Kesmuanya dalah keturunan Arab yang tidak lagi memikirkan identitas asalnya, namun bersama bertahan meperjuangkan Pendidikan Islam guna mengisi dan berdedikasi kepada tanah air Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Azra. Azumardi, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, Bandung: Penerbit Mizan, 2002.

Erlina Wiyanarti, Hand Book: Sejarah Pendidikan, _____

Miri. Sayyid Mohsin, Sang Manusia Sempurna, Bandung: Penerbit Mizan, 2007.

Suhartini. Andewi, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Direktorat Jenderal    Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2005.

Yatim. Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.

Jurnal

Surat Kita, Jejak Rekam Hadarami Indonesia, ICAS- Jakarta, No 6/1/Juni 2009.

Website

Yulia Putri, Perkembangan Masuknya Islam di Indonesia., http://yuliaputri94.blogspot.com 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Sayyid Mohsin Miri, Sang Manusia Sempurna, (Bandung: Penerbit Mizan, 2007), hlm. 8.

[2] Yulia Putri, Perkembangan Masuknya Islam di Indonesia., http://yuliaputri94.blogspot.com  diakses pada tanggal 7/12/2012.

[3] Azumardi Azra, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, (Bandung: Penerbit Mizan, 2002), hlm. 29.

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 253.

[5] Ibid., hlm. 254.

[6] Andewi Suhartini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal    Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2005), hlm.146.

[7] Erlina Wiyanarti, Hand Book: Sejarah Pendidikan, _____

[8] Erlina Wiyanarti, Hand Book: Sejarah Pendidikan, _____

[9] Suhartini, Op.Cit., hlm.146.

[10] Ibid.,

[11] Suhartini, Op.Cit., hlm.147

[12] Ibid., hlm.148

[13] Ali Zainal Abidin, “Transformasi Identitas Tanah Air Peranakan Arab di Indonesia,” Jurnal Surat Kita, No 6, 2009, hlm. 9-10.

[14] M Subhi Ibrahim, “Sekat Sosial Masyarakat Arab Indonesia,” Op.Cit.,, hlm. 19.

[15] Ali Zainal Abidin, Op.Cit., hlm. 10.

[16] Wa Ode Zainab, “Catatan Seputar Hadrami,” Jurnal Surat Kita, No 6, 2009, hlm. 13

[17] Suhartini, Op.Cit., hlm. 157.

[18] Ibid

[19] Wa Ode Zainab, Op.Cit., hlm. 13.

[20] Azra, Op.Cit., hlm. 165.

[21] Suhartini, Op.Cit., hlm. 158

[22] ibid

[23] Azra, Op.Cit., hlm. 176-179         

[24] Wa Ode Zainab, Op.Cit., hlm. 13.

About djauharul88

Jakarta, 28 maret 1988. Anak kedua dari empat bersaudara. Besar di ciledug tangerang. sehari-hari kuliah di ICAS Jakarta, kegiatan selain menuntut ilmu di icas adalah sebagai pelatih marawis.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: