//
you're reading...
Uncategorized

Mudharat dalam Al-Qur’an Sebuah Tafsir mini Tematik

Oleh Djauharul Bar
Pendahuluan
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً
Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).(Q.S al-Kahfi:110)
Secara implisit, jelas ayat ini menunjukan kehebatan al-Qur’an dari aspek kata. Jika seandainya kita mencoba menafsirkan kata-kata dalam al-Qur’an, maka tinta tidak akan cukup untuk menafsirkanya sekalipun tinta itu sebanyak air di laut. Banyak sekali rahasia yang terkandung dalam al-Qur’an, ini bisa dibuktikan oleh perkataan Imam Ali “Seandainya Basmalah itu aku tafsirkan, maka tidak cukup 100 unta untuk mengangkut lembaran-lembaran basmalah tadi.” Penafsiran terhadap al-Qur’an sudah dimulai pada abad pertama hijriah, yang terkenal adalah ibn Mas’ud. Dalam sejarahnya Ibn Mas’ud pernah didoakan oleh nabi untuk paham maksud dari kandungan al-Qur’an, termasuk sampai saat ini banyak sekali perkataan Ibn Mas’ud yang sampai pada kita dalam interpretasinya terhadap al-Qur’an.
Al-Qur’an juga ditafsirkan melalui bermacam disiplin Ilmu, tafsir al-Mizan karangan allamah Tahbathabai’ dalam bidang filsafat, tafsir Jalalain karangan jalaluddin al-Suyuthi dan jalaluddin al-Mahalli dalam bidang bahasa, tafsir Ibn Kasir dalam bidang Hadist, tafsir Futuhat al-Makkiyah Ibn Arabi dalam bidang Mistik, dan tafsir al-Manar karangan Muhammad Iqbal dalam bidang sains. Semua itu adalah sedikit contoh dari usaha-usaha mufassirin menafsirkan al-Qur’an dalam berbagai macam disiplin ilmu. Mereka yang mencoba untuk menafsirkan al-Qur’an juga banyak datang dari Negara non Arab, di Indonesia saja ada tafsir al-Munir karangan syekh Nawawi Banten, Tafsir al-Azhar karangan Buya Hamka, dan yang paling akhir Tafsir Al-Misbah karangan Prof. Quraisy Shihab, kesemua penafsir mencoba untuk menggali makna dibalik firman-firman Tuhan.
Apa yang saya lakukan kali ini adalah sebuah usaha kecil untuk ikut mengungkapkan makna per kata dalam al-Qur’an. Walaupun sedikit, namun saya berharap bisa menjadi bukti di akhiarat bahwa saya pernah ikut melestarikan firman-firman Allah SWT. Dan sebagai tugas akhir mata kuliah tafsir al-Qur’an, mudah-mudahan makalah ini bisa diterima dengan baik dan mendapatkan nilai yang cukup. Denagn mengucap syukur serta hamdalah saya ucapkan Jazakallah Khairan Kasiran.
Mudharat dalam kajian bahasa
Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita, kata mudharat sering kita dengar. Mudharat sering kali diasosiasikan oleh masyarakat kita dengan sesuatu yang memilki akibat buruk setelah kita melakukannya. Akibat buruk itu bisa saja bagi diri kita atau orang lain, dan ini sejenis marah bahaya yang menimpa kita sesudah kita melanggarnya, bisa berbentuk bencana alam atau kesialan-kesialan lain, dan umumnya ini terjadi ketika kita melanggar adat dan tradisi setempat. Mudrarat biasanya diucapkan untuk hal-hal yang bersifat agamis dan formalistik. Setidaknya ini yang saya pahami dari tradisi yang biasa dialami sehari-hari.
Dalam al-Qur’an kata-kata mudharat banyak disebutkan, kurang lebih ada sekitar 50 kata yang diulang-ulang seperti ضارٌّ – يضارّ ء – ضررٌ- ضُرٌّ- ضرّا ضَرَّ- يضرُّ- , yang memilki arti mebahayakan dan merugukan. Dalam beberapa kamus yang saya lihat kata ّ ضرّ bisa memunculkan مضار ضرورة yang keduanya memilki arti terpaksa atau dalam bahasa indonesianya sering disebut darurat. Kata-kata tersebut biasanya bersanding dengan dhomir untuk menunjukan subjek (tunggal-jama’) dan objek (tunggal-jama’). Lalu ada fenomena lain dari kata tadi, bahwa kata modern menurut sebagian orang berasal dari kata مضار yang memilki arti dari asal kata ضر bahaya, atau dengan kata lain modern berarti mudharat.
Dimensi Mudharat dalam al-Qur’an
Pertama kita harus mengerti dahulu mudharat termasuk dalam kata apa, transitif atau intransitif. Ternyata dalam al-Qur’an banyak menyebutkan mudharat memiliki objek (transitif), dan objeknya bisa satu dan bisa dua. Objeknya juga bervariasi, terkadang lafaz jalal (Allah), manusia (nabi dan orang mu’min), dan alam (bentuk kemudharatan Allah). Begitu pula dengan subjek kata Mudharat bisa berupa lafaz jalal, orang musyrik, dan orang munafik. Aspek-aspek tersebut saya kategorikan ke dalam ayat-ayat yang berdimensi Ubudiyah, yang memiliki arti umum sebagai ayat yang bergendre keimanan. Dan di lain dimensi saya juga menemukan beberapa ayat yang dipakai dalam bentuk hubungan antar manusia, yang saya kategorikan dalam dimensi Mu’amalah. Mu’amalah yang berarti hubungan antar manusia dengan manusia biasanya terjadi dalam ayat mudharat adalah bersifat syari’ dan formalistik. Kedua dimensi tadi bisa kita lihat di ayat berikut.
Ubudiyah
Objek ayat 1, Allah SWT
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللّهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ ﴿١٤٤﴾
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(Q.S Ali Imran)
Ayat ini biasanya ada yang disandingkan dengan isu akan kematian Nabi Muhammad, sebagaimana dikutip dalam beberapa tafsir. Isu kematian Nabi pernah datang saat berkecamuknya perang Uhud, pada saat itu umat muslim kocar-kacir karena tidak mematuhi perintah Nabi untuk tetap dalam posisinya masing-masing karena banyaknya harta kafir yang bergelimpangan di depan mata mereka kaum muslim tidak menghiraukan kata-kata Nabi, sampai datang pasukan Khalid bin Walid mengacaukan posisi kaum muslim dari balik bukit Uhud. Sehingga disitu umat muslim terjebak dan diisukan bahwa Nabi Muhammad telah wafat, posisi ayat ini memang jatuh setelah ayat yang menerangkan mengenai perang uhud. Yang lebih populer lagi mengenai kisah Umar bin Khatab yang tak percaya bahwa Nabi telah wafat, sampai akhirnya dibacakan ayat ini Umar baru percaya bahwa Nabinya telah wafat. Dari dua kisah ini menunjukan bahwa ayat ini tidak diturunkan di kota Mekkah yang belum memiliki iman kuat, tapi ini turun setelah Nabi Hijrah yang umat muslimnya sudah memilki iman yang mantap. Maka bisa disimpulakan dimesi keimanan ini ditafsirkan dengan “ jika umat muslim انقَلَبْتُمْ kembali kemasa lalu (kafir), maka kekafirannya tidak akan memberikan sedikitpun mudharat kepada Allah”. Karena dalam tafsir al-Misbah disebutkan انقَلَبْتُمْ bermakna “berbalik kebelakang” yang memilki konotasi sangat buruk, dalam hal ini tentunya masalah keimanan umat muslim yang berpindah kepada kekafiran.
Ayat berikutnya juga masih dalam dalam konteks ubudiyah
إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُاْ الْكُفْرَ بِالإِيمَانِ لَن يَضُرُّواْ اللّهَ شَيْئاً وَلهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١٧٧﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. (Q.S Ali Imran)
إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوهُ شَيْئاً وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٣٩﴾
Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Q.S Al-Taubah)
Ayat di atas juga menunjukan bagaimana Allah sebagai Objek dari kata verbal menegasikan kemudharat orang-orang yang menjual keimanan dan orang-orang yang menukar diri mereka dengan orang lain (orang-orang munafik yang enggan ikut dalam perang). Mereka orang musyrik dan orang munafik tidak akan memberi mudharat sedikitpun kepada Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan diawal dimensi ubudiyah diisi oleh subjek orang-orang kafir dan objek Allah swt, bisa memberi petunjuk bahwa dalam ubudiyah kata Mudharat dipakai oleh konteks pertentangan (kontra) antara yang negatif (orang kafir) dan yang positif (Yang Maha Benar Allah). Lalu setiap ayat ubudiyah menceritakan keimanan selalu ada kata yang menunjukan pertukaran, pembalikan, dan menggadaikan agama yaitu dari kata وَيَسْتَبْدِلْ اشْتَرَوُاْ dan انقَلَبْتُمْ. Terakhir, kesemua ayat ini, kemudharatan yang orang musyrik dan munafik lakukan sama sekali tidak memberikan sedikitpun kemudharatan kepada Allah SWT, artinya kemudharatan yang mereka lakukan sia-sia.
Objek ayat 2, Nabi dan orang-orang Mu’min
وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّت طَّآئِفَةٌ مُّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاُّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً ﴿١١٣﴾
Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.(Q.S Al-Nisa)
لَن يَضُرُّوكُمْ إِلاَّ أَذًى وَإِن يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الأَدُبَارَ ثُمَّ لاَ يُنصَرُونَ ﴿١١١﴾
Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan. (Q.S Ali Imron)
Surah al-Nisa ayat 113 menjelaskan kebesaran rahmat Allah yang dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, seperti upaya jahat orang-orang munafik. Salah satu bentuk rahmatnya ialah dengan menjaga Nabi dari mudharat/bahaya yang dibuat oleh orang-orang munafik kepada Nabi. Surat ali Imran agak berbeda sedikit, ayat ini ditunjukan untuk kaum muslimin, termasuk Nabi. Gangguan-gangguan yang datang dari kaum fasik kepada kaum munafik tidak akan membahayakan kaum muslim kecuali celaan-celaan saja. Ini juga bisa ditafsirkan bahwa orang munafik bisa memberi mudharat kepada umat muslim, paling tidak mudharat yang kaum kafir lakukan kepada umat muslim hanya أَذًى yaitu ganguan-ganguan saja.
Berbeda dengan Allah dan Rasulnya, mudharat orang musyrik dan munafik tidak bisa sedikitpun datang kepada Allah dan Rasul, malah kemudharatan yang seseunguhnya adalah diri mereka yang munafik dan musyrik. Di sisi lain juga bisa dikatakan bahwa sifat dan karakteristik orang musyrik, kafir, dan munafik adalah mudharat bagi diri mereka dan bagi orang di luar golongan mereka. Mudarat itu bisa berupa mental atau fisik, sebagaimana yang berlaku dalam ayat-ayat tadi.
Mu’amalah
Prilaku antar sesama manusia bisa disebut dengan mua’malah. Mudharat dalam dimensi kata-katanya juga banyak diletakan dalam ayat-ayat Mua’malah. Kali ini kita tidak akan membagi kelompok ayat mudharat dalam kategori subjek dan objek, karena sudah jelas bahwa tidak ada subjek yang berbeda seperti yang ada di Ubudiyah. Mu’amalah dalam konteks mudharat juga tidak lepas dari segi formalistik agama, yaitu syariat. Dimensi ini tidak akan mejelaskan dikotomi keimanan atau inter iman, tapi lebih kepada intra iman antar muslim. Prilaku yang membahayakan antar muslim yang satu dengan yang lain, seperti apakah model-model ayat tersebut.
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النَّسَاء فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلاَ تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَاراً لَّتَعْتَدُواْ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلاَ تَتَّخِذُوَاْ آيَاتِ اللّهِ هُزُواً وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٢٣١﴾
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma`ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma`ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah ni`mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُواْ أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿٢٣٣﴾
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Ayat yang pertama akan jelas bahwa seorang suami dikatakan zhalim jika merujuk istri dengan cara yang tidak baik, ini disebut dengan ضِرَاراً mudharat. Dan perlakuan seorag suami kepada istri dengan mudharat atau tidak baik, maka termasuk mempermainkan hukum Allah. Mudharat juga bisa diartika dengan mempermainkan hukum Allah, yaitu perlakuan terhadap sesama manusia dengan cara yang tidak baik. Ayat ini memberi contoh dengan perlakuan suami terhadap istrinya, tapi bisa kita luaskan dengan prilaku-prilaku lain yang tidak baik terhadap orang lain. Prilaku tidak baik terhadap orang lain disebut mudharat, dan termasuk perbuatan yang zhalim. Perbuatan yang zalim adalah sama dengan mempermainkan hukum Allah, maka Mudharat bisa juga mempermainkan hukum Allah.
Ayat yang kedua, mengenai mudharat akibat memaksakan kehendak sendiri. Ini dicontohkan oleh Allah dengan prilaku ibu yang membahayakan dirinya karena jika memaksakan menyusui anaknya selama dua tahun. Jadi bisa dikatakan jangan lah dilakukan bila sesuatu itu baik, tapi memberi mudharat kepada kalian. Ini lah bisa dikatakan dari dimensi muamalat tibul kaidah usul fiqh لا ضرر ولا ضرار فى الإسلام
Tidak ada yangmembahayakan dan tidak memberi bahaya di dalam islam.
Dimensi lain ayat Mudharat
Di balik ayat-ayat mudharat ternyata ada dimensi lain, yang tak kalah pentingnya dari dimensi ubudiyah dan mua’malah. 1. Dimensi ubudiyah, Dimensi yang menyandingkan dua kata ضرّ ونفع , lalu ayat tersebut bisa dimasukan dalam dimensi Tauhid lain dari Ubudiyah. Seperti surat Yunus dibawah ini,
وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ ﴿١٠٦﴾
Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa`at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”. (Q.S Yunus)
Menyembah selain Allah adalah sembahan yang tidak memberikan manfaat jika menyembahnya, dan tidak akan mudharat jika tidak menyembahnya. Sesuatu yang selain Allah itu ditunjukan dengan kata ما, dalam tata bahasa Arab ما adalah sesuatu yang tidak berakal, maka apa yang mereka sembah selain Allah adalah sesuatu yang tidak berakal. Jika menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan juga tak memberi mudharat, maka termasuk orang yang zhalim.
Termasuk ayat dibawah ini, yang menerangkan perintah untuk meninggalkan sembahan selain Allah dan beralih hanya mengabdi kepada Allah.
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ ﴿٣٨﴾
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Q.S Al-Zumar)

2. Dimensi yang memiliki makna hakiki sama dengan sifat mudharat, seperti فسد, خسر, إثم
وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ ﴿٧٣﴾
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.
Ayat ini menunjukan kemungkaran yang dilakukan oleh orang kafir membawa kekacauan di bumi dan kerusakan besar. Penjelasan sebelumnya orang-orang kafir selalu memberikan mudharat kepada dirinya dan orang lain, dan salah satu ciri orang kafir adalah membuat mudharat di muka bumi. Maka Fasad bisa dimasukan dalam dimensi ayat mudharat.

الَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيْباً كَأَن لَّمْ يَغْنَوْاْ فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُواْ شُعَيْباً كَانُواْ هُمُ الْخَاسِرِينَ ﴿٩٢﴾
(yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu`aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu`aib mereka itulah orang-orang yang merugi.
Pendustaa yang mirip dengan tragedi yang sebelumnya yaitu kesialan dan kerugian yang diderita oleh orang-orang yang mendustakan agama. Seperti yang tertulis sebelumnya.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبيِّنُ اللّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ ﴿٢١٩﴾
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.
إِثْمٌ bisa berarti mudharat karena pemakaiannya yang bersifat negatif. Mudharat karena memberi mudharat kepada para pemakainya, sekalipun di dalamnya terdapat manfaat. Maka ada dua hal yang persis dengan arti ini, di kasus penyusuan ibu kepada anaknya menjelaskan bahwa sesuatu yang ada manfaat tapi ada mudharatnya harsu ditinggalkan.
Kasih sayang Mudharat
وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿١٠٧﴾
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Yunus)

وَإِذَا مَسَّ الإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِداً أَوْ قَآئِماً فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَّسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿١٢﴾
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.(Q.S Yunus)
Ayat di atas akan menerangkan kepada kita bahwa sesungguhnya Allah member mudharat kepada manusia, tapi mudharat yang Allah tujukan kepada kita hanya sebatas “sentuhan”Nya saja. Sentuhan mudharatNya bisa ditunjuka dari kata يَمْسَسْكَ dan مَسَّ di dua ayat tersebut. Lalu ada beberapa ayat yang menjelaskan mengenai yang Allah ingin kan hanyalah kebaikan dalam ayat lain disebutkan dengan rahmat. يُرِدْكَ yang dikehendaki Allah bukan lah mudharat untuk manusia, tapi melainkan kebaikan dan rahmat untuk manusia. Al-Quran tidak pernah meyebutkan أراد, tapi memakai مس yaitu tidak lebih dari menyentuh manusia dari kemudharatan. Dan penggandengan مس dengan رحمة خير bisa juga menunjukan bahwa bentuk dari rahmat Allah termasuk menyetuh manusia dengan mudharatNya. Karena di ayat lain di sebutkan bahwa sengsara dan bahaya diberikan kepada manusia agar mereka tunduk.
وَلَقَدْ أَرْسَلنَا إِلَى أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ ﴿٤٢﴾
042. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.(Q.S Al-An’am)
Manusia disuruh oleh untuk merendahkan diri, tidak sombong. Kesengsaraan dan kemudharatan diberikan oleh Allah lantaran manusia masih menuhankan dirinya, bukan menuhankan Allah. MudharatNya sangat dekat dengan orang-orang tidak mengimani dan tidak mentauhidkannya, berhala yang ada dalam diri kita adalah salah satu penyebab dari turunnya mudharat. Maka jika ingin terhindar dari mudharatNya mestilah kita menundukan diri dan mengakui Allah Tuhan pencipta alam semesta.
Sumber Bacaan
Quraisy, Syihab. Tafsir al-Misbah, Jakarta: Penerbit Lentera. 2003 Cet 8

About Ka Akbar

Jakarta, 28 maret 1988. Anak kedua dari empat bersaudara. Besar di ciledug tangerang. Sedang membangun keluarga idaman bersama Evi Arista.

Diskusi

2 thoughts on “Mudharat dalam Al-Qur’an Sebuah Tafsir mini Tematik

  1. surat al-Kahfi yg di atas bukan ayat 110 tetapi ayat 109 *

    Posted by IF | Desember 13, 2010, 5:29 pm

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: